
...Negosiasi....
# Pertengahan hari 13.
Saat ini Agita sedang berhadapan dengan seorang negosiator manusia bernama Aisha.
"Maaf, atas sikap kami dan kedatangan kami yang tiba-tiba ini. Maksud kedatangan kami adalah kami ingin membentuk kontrak dengan anda."
"Kontrak? Apakah kamu yakin ingin menjalin kontrak dengan ku?" tanya heran Agita.
"Iya. Kami yakin," jawab tegas Aisha.
Agita pun tersenyum dan melipatkan kedua tangan nya.
"Jadi, kontrak apa yang ingin kamu jalin dengan ku?"
"Kami ingin Dungeon ini mengizinkan para petualang pemula untuk berlindung disini."
Agita pun mengerutkan keningnya, "Tempat berlindung?! Kalian yakin?"
Seusai mengatakan itu, Agita pun teringat akan peristiwa seorang petualang yang dikejar oleh serigala dan para bandit. Hal itu lah yang membuat para petualang salah paham bahwasanya Dungeon Master seorang yang pengasih.
" ... Meski, begitu aku tidak ingin terlibat masalah rumit manusia. Namun, jika tidak apakah Dungeon ku ini aman?" batin analisa Agita.
Lalu, tanpa diduga. Aisha menjawab nya dengan lantang.
"Iya, kami serius."
"Apa alasan nya?" tanya Agita.
"Alasan nya, Dungeon anda muncul dekat wilayah pemburuan petualang pemula.
Mendengar itu, terjawab lah semua pertanyaan yang ada dibenak nya. Alasan kenapa penyusup yang masuk merupakan monster yang lemah.
Memahami itu, Agita tersenyum kecil dan menyambung pertanyaan nya.
"Aku mengerti. Dan, apa keuntungan ku?"
"Pertama, kami tidak akan menaklukkan Dungeon anda," jawab Aisha.
Aisha pun terdiam mendengar jawaban Agita. Lalu, Agita tidak puas. "Dan?"
"Apakah itu belum cukup?" tanya balik Aisha.
Agita menghela nafas panjang, "Apa kalian bercanda? Aku sudah membiarkan musuh alami ku untuk berlindung disini, merawat musuh mereka dan memberikan janji untuk tidak menyerang kalian. Sebenarnya, aku bisa saja membunuh kalian semua ditempat ini dalam hitungan lima detik saja."
Mendengar ancaman Agita, Aisha dan para petualang lainnya menelan ludah nya bahkan ingin mengerakkan tangan ke senjata tidak bisa karena aura intimidasi dari Agita yang tinggi.
Aura Intimidasi itu juga merupakan skill yang dibeli oleh Agita di Market seharga 50 DP. Karena besarnya efek Aura Intimidasi itu tergantung pada jumlah Mana Poin dan Agita yang tidak memiliki batas energi mana tentu hal itu membuat seluruh Dungeon merinding ketakutan termasuk Rei yang sedang ada didapur.
"Mohon maaf. Kami mengerti. Jadi, persyaratan apa yang Nona inginkan?" tanya Aisha dengan coba menenangkan Agita.
Agita pun melepaskan skill Intimidasi nya dan berbicara normal kembali.
"Aku punya tiga persyaratan?"
"Pertama. Benar, kalian tidak diizinkan menaklukkan atau membunuh monster atau apapun di Dungeon Secret Garden ini. Kedua, aku akan menetapkan biaya bulanan dan berikan aku dan seluruh unit Dungeon Secret Garden untuk memasuki kota. Tentu, masuk ke kota bukan ini menghancurkan nya. Hanya saja, aku ingin membuka bisnis disana. Bagaimana? Kamu menyetujui nya?"
"Baiklah, aku akan mempertimbangkan nya dan untuk biaya nya, aku bisa mengajukan 300.000 Vale perbulan nya? Bagaimana?"
Mendengar mata uang, Agita pun terdiam lantaran selama ini dirinya belum mengerti apapun tentang mata uang yang digunakan oleh manusia. Maka, Agita pun bertanya kepada Alice.
"Alice, berapa jumlah nilai jika ditukarkan dengan mata uang rupiah di bumi?" tanya batin Agita.
Ding!
[Jawab. 30 juta rupiah.]
Memahami itu, Agita pun menaikan biaya nya.
"500 ribu Vale.
"Baik, aku mengerti." Aisha pun berbicara ke topik yang lain. "Permintaan selanjutnya tentang izin masuk kota. Bagaimana anda menyakinkan para penduduk desa?"
"Membangun rumah lelang di Dungeon? Bagaimana?" jawab Agita.
Agita pun berbicara seperti itu lantaran hobi nya mengikuti lelang baik dunia ini atau kehidupan sebelumnya.
Mendengar itu, para petualang saling bertukar pandang. Mereka merasa aneh bahwasanya sebuah lelang akan diadakan di dalam Dungeon.
Disisi lain, Aisha tersenyum kecil. "Ide yang bagus. Aku akan mempertimbangkan nya dan apakah Nona memiliki tempat untuk menyelenggarakan pelelangan?"
"Iya, aku akan membuat aula lelang di lantai yang baru dan disana lah akan lokasi lelang nya," jawab Agita.
"Lalu, apakah Nona akan ikut berpartisipasi?" tanya Aisha.
"Iya, aku akan ikut berpartisipasi dalam lelang nanti."
"Lalu, apakah ada peraturan tentang barang yang dilelang?"
"Apakah termasuk pelelangan manusia?"
Agita pun tersenyum kecut, "Kan sudah ku katakan sebelumnya. Kalian bebas menjual apapun yang kalian mau."
Aisha yang mendengar jawaban Agita, dia pun menghela nafas panjang.
"Aku kira nona sosok yang pengasih namun ..."
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Agita memotong nya.
"Jangan mengharapkan apapun dari seorang Dungeon Master yang mata pencahariannya adalah membunuh semua makhluk yang datang tanpa izin!"
Mendengar ucapan Agita itu, semua petualang terbujur kaku. Mereka seakan-akan ingin melawan namun, tubuhnya tidak mengikuti pikiran nya.
"Mohon maaf atas ketidaksopanan saya. Meski begitu, saya akan mencoba menghindari pelelangan manusia," ucap Aisha dengan menundukkan kepalanya.
"Semoga saja berhasil. Lalu, apakah masih ada pertanyaan yang lain?"
"Apakah setiap tamu diizinkan untuk membawa pengawal nya?"
"Aku izinkan satu pengawal untuk setiap tamu jadi, pilih lah yang terbaik!"
"Saya mengerti. Lalu, bagaimana dengan biaya penyimpanan barang?"
"Tidak ada. Anggap saja itu salah satu dari pelayanan ku."
"Saya mengerti dan pertanyaan terakhir. Kapan lelang akan diadakan?"
"Bagaimana jika hari pertama di setiap bulan nya?"
"Saya mengerti dan semua proposal Nona akan saya laporkan kepada Ketua Guild Dagang dan Guild Petualang. Terimakasih atas kerjasama, Nona ..."
"Agita. Nama ku Agita Putri.
"Baik, Nona Agita. Sekali lagi, terimakasih."
Perbincangan pun usai, Aisha dan petualang lain nya ingin beranjak diri dan pamit namun, Agita menghentikan nya.
"Sebelum kalian pergi, Ayo kita makan bersama!"
"Oh, Iya. Baik. Kami mengerti."
Aisha dan lainnya pun saling bertukar senyum kecil dan duduk kembali.
Lalu, Agita pun menoleh ke sisi samping.
"Rei, sajikan makanan!"
...****************...
Di ruangan berbeda, Rei yang mendapatkan tugas untuk membuat makanan. Dia pun bingung sendiri dan bimbang.
"Sebaiknya saya buatkan apa ya?"
Lalu, Rei pun teringat akan perkataan Mistress nya bahwa Operator System Dungeon diberikan izin untuk membantu para unit nya maka dari itu, Rei pun meminta bantuan nya.
"Nona Alice, Apakah saya bisa berbicara dengan anda?"
Ding!
[Jawab. Silahkan! Apa yang bisa saya bantu?]
"Nona Alice, saya sedikit bingung dengan sajian apa saja yang harus saya masak. Apakah Nona Alice ada ide?"
Ding!
[Solusi. Bagaimana jika masakan dunia lain? Masakan Bumi. Seperti Nasi goreng.]
"Apakah itu masakan lezat?"
Ding!
[Jawab. Dari semua review makanan. Itu salah satu makanan yang lezat.]
"Jadi begitu. Baiklah, saya akan memasak nya."
Lalu, Rei pun memasak nasi goreng sesuai petunjuk dari Alice.
Selain nasi goreng, Rei juga memasak sup cream dan sate serta puding sebagai penutup nya.
Tidak lama makanan semua selesai dimasak, Rei pun mendengar perintah dari Mistress nya.
"Rei, sajikan makanan!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...