REASONS FOR FALLING IN LOVE

REASONS FOR FALLING IN LOVE
RFFIL 9



...DOUBLE UPDATE!...


...JANGAN LUPA BIAT TINGGALKAN JEJAK KALIAN SETIAP PART NYA YA....


..._______...


...HAPPY READING!...


...***...


Brakkk!


“Sialan! Dasar wanita sialan!”


Utari membanting kendi - kendi hingga hancur berantakan. Dia begitu marah saat dirinya dipermalukan oleh Anin atau Saraswati.


Bagaimana bisa wanita itu berubah secepat ini, bahkan hanya dalam kurun waktu sebulan.


Penampilan, caranya bicara dan apa tadi memasak?


“Akan kubuat perhitungan dengan wanita sialan itu!”


Utari mengepalkan tangannya.


Dia sengaja berdandan cantik dibantu oleh pelayan, mengenakan pakaian terbaiknya untuk memikat hati Raden Jayakarsa. Namun, lagi dan lagi dia harus menelan pil pahit. Jangankan mengajaknya mengobrol atau tergoda dengan penampilannya. Pria itu bahkan tak meliriknya sama sekali saat perjamuan tadi.


Saat beberapa orang melontarkan kata - kata pujian untuk penampilannya, tapi hal itu tidak dia dapatkan dari Raden Jayakarsa.


Hatinya semakin marah ketika pria yang begitu didambanya justru melirik adik tirinya. Wanita yang begitu Utari benci, saat masih kecil Utari belum memiliki perasaan itu. Tapi seiring berjalannya waktu, ibu dan ayahnya ikut menyayangi Saraswati dan memberikan hadiah untuknya adiknya itu, dari situlah kebencian hadir.


Terlebih Saraswati memiliki paras yang cantik rupawan, bertutur kata lembut dan lebih pintar darinya. Semua orang memuji adiknya. Berbeda dengan Saraswati yang periang, Utari justru lebih pendiam kala itu. Makan dari itu, semua penduduk yang tinggal di Wirabhumi lebih mengenal adik tirinya daripada dia.


Kasih sayang kedua orang tuanya pun seolah hanya untuk adiknya itu. Padahal dia pun ingin dipuji - puji sama seperti Saraswati.


Untung saja dia bertemu dengan sang bibi, adik dari ibu kandungnya. Bibinya memberitahukan kepada Utari jika ibu kandung Utari memiliki pantangan memakan udang. Jika dia nekat memakannya, maka kulitnya akan berubah menjadi bintik - bintik merah.


Sang bibi juga berkata, jika ibu kandung Saraswati adalah wanita penggoda. Dia menggoda ayahnya untuk menikah dengan ibu kandungnya. Hingga sempat melupakan Utari dan ibunya.


Kebencian terhadap Saraswati semakin bertambah dari hari ke hari dan semakin besar. Hingga hampir setiap hari Utari selalu menyiksa adik tirinya diam -diam tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya.


...***...


“Apakah kalian sudah kalian laksanakan tugas dariku.” tanyanya kepada salah satu dari mereka.


“Su-sudah Ndoro putri.”


“Baiklah, sekarang kalian boleh pergi.”


Usir Utari kepada pelayannya.


Senyum jahat terbit di bibirnya.


“Kita lihat, bagaimana wanita sialan itu akan mengatasi semua ini.”


Di waktu yang sama terjadi kehebohan di dapur, para pelayan menderita sakit perut secara bersamaan.


Makanan yang akan disajikan belum ada yang siap satu pun.


Beberapa bahan makanan bahkan ada yang rusak. Entah itu karena tikus, atau serangan serangga.


Bahkan tempat penyimpanan beras terdapat banyak sekali kutu.


Kepala pelayan begitu cemas, karena sebentar lagi matahari akan terbit dan makanan untuk sarapan pagi putra mahkota belum siap.


Kyra yang tengah tertidur merasa tak nyaman karena di luar begitu berisik.


Akhirnya dia memutuskan untuk bangun dari tempat tidurnya. Tak didapatinya Ningrum di tempatnya.


“Ningrum,”


Pintu terbuka.


“Ya Ndoro.”


“Mengapa diluar berisik sekali, ada apa?”


“Maaf Ndoro putri, bukan bermaksud untuk mengganggu tidur Ndoro tapi ada hal gawat yang sedang terjadi.”


“Hal apa?”


“Para pelayan yang bekerja di dapur tiba - tiba saja mengalami sakit perut dan juga bahan makanan yang seharusnya dimasak untuk hidangan pagi ini malah rusak karena hama dan beras juga tiba - tiba saja terdapat banyak sekali kutu.”


“Apakah sebelumnya pernah terjadi hal seperti ini?”


“Tidak Ndoro, belum pernah.”


Anin berpikir keras tentang peristiwa pagi ini.


“Aku akan bersiap, tapi sebelum itu tolong sampaikan kepada para pelayan lainnya untuk menyiapkan beberapa hal.”


“Baik Ndoro putri.”


“Potong beberapa bebek, petik buah nangka muda, telur ayam, daun pisang. Dan bahan lain untuk membuat jurkut harsyam, serta minuman yang semalam—”


“— persiapkan juga singkong, ubi, kelapa parut, dan gula. Jika buah - buahan juga rusak, utus pengawal kita ke pasar untuk membelinya. Pilih buah yang terbaik, jangan ditawar harganya.


Satu lagi, buang semua air yang ada di dapur. Untuk beras, taruh semuanya di atas tampah. Taruh beras itu di luar, diangin - anginkan. Beri kayu manis pada setiap nampak.


Siapkan juga daun pandan. Dan yang terakhir, siapkan rebusan air daun jambu biji dengan air yang baru diambil. Bukan air yang disimpan di dapur. Mengerti?”


“Ya, Ndoro. Hamba mengerti.”


“Sekarang pergilah, aku bersiap dulu.”


Sebelum pergi, Anin memberikan dua kantung uang kepada Ningrum.


Ningrum segera berpamitan menyiapkan segala sesuatu yang tadi diucapkan oleh Kyra.


Sedangkan Kyra sendiri bersiap untuk mencuci wajah dan lainnya sebelum pergi ke dapur menyusul Ningrum.


Beberapa saat kemudian, tibalah dia di dapur yang tampak lengang.


Karena hanya ada tiga pelayan termasuk Ningrum.


“Apakah sudah kalian siapkan yang aku perintahkan tadi?”


“Su—sudah Ndoro.” jawab pelayan itu takut - takut.


“Panggil beberapa pengawal, dan suruh mereka mencabuti bulu bebek itu.”


Satu pelayan pergi ke luar.


“Ningrum, bawa semua rebusan air daun jambu kepada mereka yang mengalami sakit perut.”


“Baik, Ndoro.”


Tersisa satu pelayan lagi di sana.


“Kau, tolong kupasi semua bumbu ini.”


“Baik, Ndoro.”


Tak lama datang para pengawal yang mengangkut air bersih, dan juga pelayan serta pengawal yang dari pasar untuk membeli buah dan bahan lainnya.


Anin menyuruh satu pelayan untuk membersihkan daun pisang dan menaruhnya di dekat tunggu agar lagi dan mempermudahnya untuk membungkus makan.


Sial, dia melupakan sesuatu.


“Tolong kalian pergilah ke pasar lagi. Belilah beberapa ikan kecil. Apakah di sini ada ikan yang diasinkan?”


“Ah, ada Ndoro.”


Anin menggulung rambutnya sedemikian rupa, dia sengaja mengenakan pakaian yang dililit seperti celana untuk mempermudahnya bekerja di dapur.


”Mari kita bersiap!” Ujarnya penuh semangat.


Kelapa dan singkong diparut, termasuk gula merah pun di potong - potong. Ubi dan singkong direbus, lalu di tumbuk.


Singkong yang diparut dicampur dengan gula merah dan sedikit parutan singkong kemudian dibungkus menggunakan daun pisang. Pelayan dan pengawal tadi memperhatikan cara kerja majikan mereka. Semuanya ternganga melihat betapa cepatnya Anin melakukan itu semua.


“Lanjutkan ini, setelah siap. Kukus.”


“Apakah buah nangka muda tadi sudah kau kupas.” Anin bertanya kepada pengawal itu.


“Sudah Ndoro,” jawabnya.


“Tolong olesi ini dengan minyak kelapa agar tidak lengket, kau juga bersihkan tanganmu dengan minyak kelapa sebelum mencucinya menggunakan air.”


Pengawal tadi menganggukkan kepalanya.


Setelah itu Anin memotong buah nangka tadi. Dan juga mengupas telur ayam yang sudah direbus. Dia akan memasak gudeg.


Entah sudah berapa lama dia berkutat di dapur itu, panas dari masakan dan api bahu dari bumbu dapur melekat pada tubuh dan rambutnya.


Semua makanan yang sudah matang segera disiapkan di wadah - wadah yang sudah bersih.


Tinggal memasak nasi yang belum dia lakukan.


“Cepat cuci bersih semua beras itu.”


“Tapi Ndoro, beras itu banyak kutunya.”


“Sudah kau lihat?” Anin menatap pelayan tadi dengan tatapan mata tajam.


Pelayan tadi takut, tubuhnya gemetar.


“Ma—maaf, Ndo—ndoro. Hamba belum melihatnya lagi.”


“Sekarang lihat dan cuci.” Perintahnya tegas.


Pelayan tadi bergegas ke sana.


Dia kemudian melihat tampah berisikan beras tersebut dan alangkah terkejutnya dia, tidak didapatinya kutu - kutu tadi.


Segera dia mencuci bersih beras itu dan memasaknya. Tak lupa Anin memberikan daun pandan, daun salam dan batang serai ke dalam beras tadi.


“Setelah nasi ini matang, tolong sajikan. Aku akan melihat semua pelayan yang sakit tadi. Jangan lupa untuk siapkan makanan juga untuk mereka.


Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepada kalian, para pengawal yang gagah berani harus mencabuti bulu bebek dan mengangkut air. Terima kasih atas bantuan kalian.”


“Ndoro, jangan seperti ini. Kami merasa terhormat dan juga senang bisa membantu.”


“Benar, Ndoro.”


“Iya, itu benar.”


“Terima kasih,” mata Anin berkaca - kaca.


“Para pelayan juga pasti lelah. Setelah siap kalian makanlah lebih dulu, aku pergi. Tolong siapapun jangan biarkan masuk ke dalam dapur sebelum aku kembali. Kecuali ibuku atau kalian yang ada di sini”


“Baik, Ndoro.” Semuanya serempak mematuhi perintah Anin.


Anin bukan tanpa alasan berkata demikian, dia tahu betul siapa yang melakukan hal itu.


Pastilah dia. Itu pasti.


Semua hal itu tak luput dari pengawasan Raden Jayakarsa yang sedari tadi sudah mengamati segala hal yang dilakukan oleh Anin dan para pekerjanya.


Anin berjalan dengan langkah terburu - buru, matahari sudah mulai naik kepermukaan. Cahaya pagi menyinari rerumputan yang basah oleh embun.


Dia berjalan menuju kamar para pelayan untuk mengecek kondisi mereka.


“Apakah kalian semuanya baik - baik saja, atau masih mengalami sakit perut?” Tanya Anin.


Para pelayan itu hendak bangun, tapi Anin menyuruh mereka berbaring saja.


Dia kemudian memeriksa satu persatu denyut nadi dan perut mereka.


Kemudian menyuruh pelayan yang sehat untuk menyiapkan beberapa rempah dan bahan - bahan untuk membuat ramuan.


Setelah itu dimasak dan siap, Anin menyuruh mereka meminumnya.


Dan menyiapkan makanan juga untuk mereka.


“Jaga teman kalian, jika ada yang demam kabari aku. Perbanyak minum air, pastikan wadah air itu bersih. Kamar kalian dan juga diri kalian sendiri.”


“Baik, Ndoro.”


Anin terburu - buru lari ke dapur hingga tak sengaja salah satu kakinya terantuk kaki lainnya.


Bruk!


“Ah, sial.” umpatnya.


Dia segera bangun.


“Aduh!” pekiknya tertahan.


“Sepertinya terkilir, tapi gak apa-apa deh.” Dengan tertatih dia berjalan, meskipun sedikit meringis menahan sakit.


Dia membenahi rambutnya terurai, tapi tak menemukan tusuk konde itu. Terpaksa rambutnya dia gelung seadanya.


Sesampainya di dapur, seluruh pelayan yang tersisa menyiapkan makanan itu. Dia juga melihat sang ibunda berada di sana.


“Ibunda.”


“Jagad Dewa Bathara, apa yang terjadi kepada putriku ini?”


Melihat Anin yang berjalan tertatih.


“Tidak apa - apa Ibunda, maaf. Hanya ini yang bisa aku lakukan, semoga putra mahkota kerajaan ini tidak merasa tersinggung dengan hidangan sederhana yang sudah kami buat.”


Ayu Larasati memeluk tubuh anaknya.


“Terima kasih, sayang. Ibumu ini begitu bersyukur karena kau sudah melakukan semua ini.”


“Sepertinya aku tidak bisa makan bersama, kakiku sakit.”


“Tak apa, biar ibunda yang menjelaskan kepada semuanya.”


“Kau mandilah,” perintah Ayu Larasati kepada anaknya lalu menoleh ke arah Ningrum. “Bawalah putriku untuk membersihkan dirinya.”


“Baik, Gusti putri.”


Semua makanan itu dihidangkan.


Sempat terjadi kehebohan, beberapa orang pejabat mencibir sajian yang sederhana itu. Mereka mengatakan hal itu adalah penghinaan terhadap keluarga kerajaan, sedangkan beberapa lainnya tidak mengatakan apapun.


Pangeran Wikramawardhana awalnya dibuat heran, tapi kemudian Raden Jayakarsa membisikkan sesuatu kepadanya. Dia hanya menganggukkan kepala saja.


Semuanya makanan itu habis tak tersisa, bahkan pejabat yang sempat mencibir ikut menikmatinya. Termasuk istri - istri dan anak mereka.


...****...


...1602k kata akhirnya diupload....


...Wah, gila. wkwkwkkw...


...Jangan lupa vote dan like kalian ya readers yang budiman....