REASONS FOR FALLING IN LOVE

REASONS FOR FALLING IN LOVE
RFFIL 4



...Update lagi nih!...


...Terima kasih buat vote, like dan love di part sebelumnya....


..._______...


...DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE ATAU MENYADUR CERITA INI!...


...CERITA INI HANYA FIKSI, JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH DAN TEMPAT HANYA KEBETULAN SEMATA....


...SEMUA YANG TERJADI DI DALAM CERITA INI MURNI KARANGAN PENULIS....


...______...


...SELAMAT MEMBACA!...


.......


.......


.......


.......


.......


...***...


Anin berjalan mondar-mandir, kepalanya pusing karena memikirkan bagaimana caranya dia kembali ke dunianya.


Sial. Kenapa aku harus terjebak di novel begini, sih!


Anindya menjambak rambutnya kuat. Kenapa dari sekian cerita novel, dia harus terjebak di novel zaman kerajaan Majapahit dan lebih sialnya lagi, cerita di dalam novel itu berakhir tragis untuk dirinya.


Pemeran utama wanita itu memanglah anak seorang bangsawan, tapi sayangnya wanita ini begitu kurang beruntung. Selain memiliki saudari yang jahat kepadanya, pria yang menjadi suaminya pun enggan tinggal bersamanya. Bahkan setelah hari pernikahan keduanya, pria itu tak pernah lagi menemuinya.


Hingga suatu hari utusan pria itu datang, bukan ingin mengajak wanita ini untuk tinggal bersama. Melainkan untuk memberinya hukuman mati, karena dirinya dinyatakan bersalah telah mencoba melakukan pengkhianatan. Berselingkuh dan percobaan pembunuhan.


Namun, setelah satu bulan berselang kematiannya semua itu terbukti salah. Semuanya adalah fitnah, dan yang lebih mengenaskan adalah seseorang yang melakukan hal itu. Tak lain adalah saudari satu-satunya.


Bangsat banget, kan, mereka—suaminya dan kakak tirinya.


Semenjak dia sadar, belum ada orang tuanya menjenguk ke tempat tinggalnya. Ningrum memberitahunya, jika sang Ayah dan ibu tirinya memang sedang berada di kerajaan Majapahit. Pengangkatan putra mahkota kerajaan ini akan berlangsung bulan depan, maka dari itu ayahnya selaku pejabat setempat juga ikut terlibat di istana.


Begitu pun dengan saudari tirinya. Jadi hanya dia yang tersisa di rumah ini ditemani oleh para pekerja di sana.


Anin duduk sebentar, dia mulai berpikir. Bagaimana caranya dia bertahan di sini. Itu hal yang pertama dia lakukan. Kedua, hal yang harus dia lakukan dengan tubuh ini. Meskipun wajah mereka sama, tapi Anin sadar betul jika tubuh ini adalah milik Saraswati. Tubuh yang merupakan cangkang kosong diisi oleh jiwa seorang Anindya.


“Oke, sudah aku putuskan.” kedua tangannya terkepal.


Matanya penuh dengan kobaran semangat. Pasti dia harus menyelesaikan misi, kan, sama seperti di cerita cerita isekai atau time traveler gitu. Harus menyelesaikan tugas dulu, barulah dia bisa kembali lagi ke dunianya.


Pertama, kita urus wajah dan tubuh penuh bintik merah ini dulu. Rambut ini juga. Barulah lainnya menyusul rencana lainnya.


“Ningrum,”


Wanita itu tergopoh-gopoh masuk mendengar namanya dipanggil.


“Ya, Ndoro putri.”


“Tolong siapkan air mandiku, usahakan ada taburan bunga atau wewangian.”


“Baik, Ndoro. Apakah ada lagi?”


“Tidak usah, sementara itu saja dulu.”


“Baik, Ndoro putri.”


Ningrum pamit dan menyiapkan segala keperluan mandinya.


Anin memandang cermin usang di depannya.


“Ciri-cirinya seperti alergi yang aku derita kalau habis makan udang. Apakah si Saraswati ini juga punya alergi yang denganku? Seingatku di novel enggak disebutkan kalau aku punya alergi udang.” Ujarnya bergumam.


Berarti kalau benar, aku harus mengkonsumsi obat. Barulah fokus menghilangkan semua jerawat ini. Harus beli bahan-bahannya dulu atau ada di sini ya kalau mau buat masker. Puji Eyang putri dengan segala pelajaran yang beliau kasih sama aku, beruntung meskipun sempat menggerutu tapi berguna juga sekarang. Nanti kalau udah pulang ke rumah, aku mau belajar tentang etiket putri bangsawan barat, ahh ... Siapa tahu bisa masuk ke dalam novel kerajaan barat gitu.


Anin terkikik membayangkan kehaluannya itu.


“Ndoro putri, air mandi sudah siap.”


Anin berjalan menuju tempat pemandian diikuti oleh beberapa pelayan dan juga Ningrum.


“Ehh, kalian mau kemana?”


“Membantu Ndoro Saraswati mandi,” jawab Ningrum dengan wajah polos.


“Tidak perlu, aku bisa lakukan sendiri.”


“Ta—tapi, Ndoro_”


“Aku bilang tidak perlu! Kalian tunggu di sini saja jika aku meminta bantuan, baru kamu masuk.” Tegasnya


“Ba—baik, Ndoro putri.”


Anin masuk ke bilik mandinya, melepaskan semua kain yang melekat pada tubuhnya. Suhu air yang sedikit hangat menyapa kulitnya. Wangi bunga dan dupa wewangian yang di bakar membuatnya rileks.


“Ningrum,”


“Ya, Ratih. Ada apa?”


“Apa tidak apa-apa kalau Ndoro Saraswati mandi sendiri?”


“Kamu lihat, kan, tadi bagaimana Ndoro bilang.” Ningrum menghela napasnya. “Kita tunggu saja di sini, jika memang Ndoro butuh bantuan kita. Pasti Ndoro Saraswati memanggil kita.”


Ratih dan dua orang temannya menganggukkan kepala mereka.


Sebenarnya Ningrum ragu, tapi melihat tatapan dan suara tegas dari majikannya. Ningrum mau tidak mau menuruti perintah itu.


Sedangkan di dalam bilik mandinya, Anin mulai membersihkan tubuhnya dari ujung rambut sampai kakinya. Perasaan tidak nyaman, aroma kurang sedap dan juga lengket hilang seketika. Kini tubuhnya menjadi lebih bersih dan wangi. Selesai mandi, Anin segera mengenakan kain yang dililitkan ke tubuhnya sedemikian rupa.


Terpujilah Eyang putri.


Berkat ajaran Eyangnya yang tidak pernah sekalipun meninggalkan tradisi leluhurnya, Anindya yang memang masih ada keturunan darah biru selalu diajarkan untuk mengenal kebiasaan para leluhurnya dulu.


Entah itu cara berjalan, berpakaian, bertutur kata, membatik, menyulam dan *****-bengek perkejaan wanita. Bahkan hingga perawatan tubuh. Dasarnya memang Anin adalah anak yang pintar, jadilah dia dengan mudah menyerap semua ajaran Eyangnya.


Meskipun begitu, Eyang putrinya tidak pernah sekalipun mengekang kebebasan anak anaknya serta cucu dan cicitnya. Termasuk Anin.


Eyang putrinya percaya, jika mendidik seorang anak harus mengikuti zaman tapi tetap tegas dan juga tak melupakan darimana kita berasal. Makanya, meskipun Anin yang awalnya selalu menggerutu seiring berjalannya waktu menghormati Eyang putrinya.


“Ah, akhirnya selesai juga.”


Anin melangkahkan kakinya keluar dari bilik mandinya, dan yang terjadi semua abadinya tercengang melihat penampilan Anin.


Bagaimana mana mungkin majikan yang selalu tampak murung dan suram, tak banyak bicara serta tak bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain atau abdinya, kini malah berdiri dengan penampilan rapi dan wangi.


Hanya bintik merah dan jerawat saja masih menghiasi wajah dan tubuhnya. Rambut panjang Anin kini sedikit digulung dengan kain, karena masih basah.


“Apa? Kenapa?”


“Ti—tidak Ndoro.”


“Ningrum, tolong bantu aku untuk menatap rambutku.” pintanya.


“Baik, Ndoro.”


Ningrum dan ketiga temannya mulai mendadani Anin. Memberikan wewangian pada rambutnya. Kemudian menata rambutnya sedemikian rupa berupa kepangan kecil dan sisanya dibiarkan terurai.


Setelah selesai Anin meminta kepada teman Ningrum untuk pergi dari sana, sebelum itu dia mengucapkan terima kasih kepada mereka dengan senyuman lebar di wajahnya.


Lagi lagi mereka dibuat ternganga. Pasalnya, tidak pernah sekalipun Saraswati—majikan yang mereka kenal– mengatakan hal itu dengan wajah yang berseri-seri. Biasanya Saraswati akan berkata lirih, atau malah diam seperti patung.


Namun, sekarang berbeda. Semuanya tampak keheranan dibuatnya, apa yang membuat majikan mereka begitu bahagia hingga menampilkan wajah seperti itu.


“Ningrum, Ningrum ....”


“Ah—ah i—iya Ndoro ....”


“Kamu melamunkan apa? Sampai sampai dipanggil dari tadi malah diam.”


“Tidak Ndoro,”


“Jangan bohong.”


“A—anu Ndoro, hamba hanya terkejut karena Ndoro beda dari biasanya. Maafkan hamba yang lancang ini,” Ningrum menangkupkan kedua telapak tangan dan menundukkan kepalanya.


Anin mengehala napasnya, dia tahu ini semua memang tidak mudah. Tapi mau bagaimana lagi, dia bukanlah wanita lemah yang klemar klemer.


“Aku mau bertanya, apakah aku memiliki uang?”


“Ada Ndoro_”


“Ta—tapi_”


“Tidak ada tapi-tapi.”


“Baik, Ndo—Saras.”


“Bagus.”


“Sekarang mari tunjukkan di mana pasar berada.”


“Kita mau pergi kemana Nd—Saras?”


“Ke pasar.”


“Mau apa?”


“Beternak.”


“Hah!”


“Ya mau membeli sesuatu, jadi kamu temani aku. Ayo pergi,”


“Baik, hamba panggilkan pengawal dan siapkan kereta kuda.”


“Baiklah.”


Bukan hanya Ningrum yang terkejut dengan perubahan sikap majikannya, tapi pengawal di sana juga sama. Meskipun mereka penasaran, tapi tak ada yang berani bertanya langsung.


Paling paling hanya menerka terka, atau Ningrum yang akan dibombardir pertanyaan oleh mereka.


Sesampainya di pasar, Anin minta ditunjukkan tempat membeli rempah-rempah, tempat menjual ramuan obat dan pandai besi tempat membuat senjata.


Dia membeli beberapa rempah untuk membuat obat alerginya, serta masker wajah. Dan juga membuat busur serta anak panah.


Pengawal dan pelayannya saling bertukar pandang, penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh majikan mereka.


Mereka berkeliling cukup lama di sana, meskipun Anin jadi bahan perhatian karena kulitnya yang terdapat bintik-bintik merah. Dia tidak peduli sama sekali.


Bukankah dia putri kedua dari Wiyasa Bhadrika, untuk apa dia di sini?


Lihatlah tubuh dan wajah jeleknya. Belum lagi tubuhnya yang gendut itu.


Pantas saja dia tidak pernah sekalipun ikutan menghadiri pesta di manapun, rupanya memang benar-benar buruk.


Meskipun Raden Rara Saraswati memiliki wajah buruk rupa, tapi sepertinya dia baik karena melihat betapa dia memperlakukan abdinya dengan layak


Iya, benar.


Dia juga tersenyum. Wajahnya tidak tampak murung.


Begitulah kira-kira pembicaraan orang orang yang melihatnya.


...***...


Anindya memutuskan untuk pulang ke rumah setelah berhasil mendapatkan apa yang dibutuhkan.


Begitu sampai dirumahnya, Anin meminta kepada pelayan lain untuk menyiapkan segala sesuatunya yang dia butuhkan untuk membuat ramuan obat.


Dia juga meminta untuk dipersiapkan makan siang, sadar sejak pagi tadi belum ada makanan yang masuk kecuali buah dan kue yang dia beli di pasar tadi.


Begitu makanan disiapkan, Anin mengernyitkan dahi.


Eh, udang?


“Kenapa kalian menyajikan makanan ini padaku?”


“Ampun Ndoro, bukankah itu memang makanan kesukaan Ndoro Saraswati?”


“Siapa yang mengatakan hal itu?”


“Ha—hamba tahu itu da—dari Ndoro Utari.”


Sialan. Si Utari, Utari ini memang minta dicocol sambal petis mulutnya.


“Buang! Atau kalian saja yang makan.” titahnya.


“Ta—tapi Ndoro_”


“Tidak ada tapi tapi, mulai sekarang apapun yang berhubungan dengan udang. Baik makanan atau apapun jangan pernah sajikan padaku, karena aku memiliki alergi!”


“A—apa aler?”


“Keracunan makanan, aku tidak bisa memakan makanan yang di dalamnya terdapat udang.” jelasnya kepada mereka.


Mata mereka terbelalak karena terkejut, mereka benar-benar tidak tahu hal itu.


Sedangkan pelayan yang menyajikan makanan tadi duduk bersimpuh dengan tubuh gemetar ketakutan, karena dirinya sudah melakukan kesalahan selama ini.


“Hamba mohon maaf Ndoro Saraswati, hamba tidak tahu jika Ndoro memiliki pantangan itu."


“Tidak apa-apa, kalian kan, memang tidak tahu. Sekarang sudah tahu, jadi mulai sekarang jangan pernah lagi menyajikan atau membuat makanan ini. Katakan juga pada juru masak di dapur.”


“Baik Ndoro.”


“Sekarang ayo makan.” Ajaknya pada pelayan itu, termasuk Ningrum.


Mereka takut dan terkejut.


“Kenapa? Kalian menolak. Mau aku berikan hukuman baru menuruti perintahku?”


Semua dari mereka langsung berjalan mendekat ke arah Anin meskipun ragu-ragu.


“Ayo makan.” ujar Anin dengan semangat.


Mereka berlima akhirnya makan bersama-sama dengan lahap, sesekali bercanda meskipun awalnya nampak kaku karena sungkan. Namun, lama kelamaan suasananya jadi mencair.


...***...


Pertama, si Utari ini tidak menyukaiku. Kedua, dia sengaja memberikan makanan yang tidak bisa aku makan. Ketiga, dia sengaja memberikan porsi makanan yang banyak agar tubuhku gendut.


“Jadi sekarang, tugasku adalah merubah semua kebiasaan jelek itu. Dan mengambil langkah untuk melawan wanita ular itu.” Gumamnya.


Dia teringat saat makan siang tadi, begitu banyak makanan disajikan. Cukup untuk tiga sampai empat orang untuk menghabiskan semuanya. Maka dari itu Anin meminta para pelayannya untuk makan bersama, Anin memang doyan makan tapi tak sebanyak itu.


Tugasnya sekarang perawatan diri. Mengobati alergi dan jerawatnya, lalu menurunkan berat badan yang terlanjur naik beberapa kilo. Ditambah dia juga harus rajin-rajin olahraga dan berlatih panahan.


Beberapa hari lalu panah yang pesan datang. Awalnya berat karena staminanya berbeda dari tubuh aslinya dulu, tapi setelah beberapa hari ini dia mulai terbiasa. Ini sudah hampir tiga minggu dia di sini.


Awalnya dia pikir akan buruk masuk ke dalam cerita ini, tapi Anin sudah bertekad untuk mengubah jalan takdirnya. Meskipun nantinya dia akan tetap meninggal, setidaknya dia sudah berusaha melakukan apapun untuk bertahan. Tidak hanya diam dan pasrah dengan keadaan.


Sementara itu.


Trang!


Trang!


Trang!


Suara pedang beradu keras, perkelahian antar dua pemuda tampan itu masih berlangsung. Kini keduanya bermandikan keringat, napas salah satu diantara mereka mulai tidak teratur.


“Pangeran sepertinya mulai mahir memainkan pedang.”


“Kakang Patih sepertinya bukan memujiku tapi mengejekku, tapi terima kasih.”


“Bagaimana mungkin hamba berani mengejek yang mulia.”


“Aku masih belum sehebat kakang, buktinya sekarang aku masih kewalahan.”


Yang dipanggil kakang Patih tadi hanya tersenyum sedikit.


“Wah, apakah matahari terbit dari sebelah timur hari ini? Karena kakang Patih baru saja tersenyum, sering seringlah seperti itu kakang karena akan banyak wanita yang akan langsung jatuh cinta pada kakang. Ah, ya ... Aku lupa jika kakang sudah memiliki calon istri.” Sindir pria yang dipanggil pangeran itu.


Trang!


Pedang yang berada di tangan pria yang dipanggil pangeran tadi terpental jauh.


“Cukup untuk hari ini pangeran, hamba mohon undur diri dahulu karena masih ada pekerjaan yang harus hamba lakukan.”


“Baiklah kakang, silakan.”


Pria yang dipanggil kakang Patih itu berbalik dan melangkah kakinya pergi dari area pelatihan.


Pria yang dipanggil pangeran sendiri hanya menatap punggung pria itu lalu terkekeh melihat wajah datar sang Patih, meskipun dia tahu sebenarnya pria itu kesal ketika diingatkan dengan pernikahannya dalam beberapa bulan setelah hari penobatannya sebagai putra mahkota kerajaan ini.


“Pangeran selalu menggoda Kakang Panji, jika nanti dia merajuk kita semua akan susah Pangeran.” Gerutu Wirya.


“Menggoda kakang Jayakarsa merupakan hal menyenangkan bagiku Wirya,” kekehnya.


...****...