REASONS FOR FALLING IN LOVE

REASONS FOR FALLING IN LOVE
RFFIL 5



...Update lagi nih!...


...Terima kasih buat vote, like dan love di part sebelumnya....


..._______...


...DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE ATAU MENYADUR CERITA INI!...


...CERITA INI HANYA FIKSI, JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH DAN TEMPAT HANYA KEBETULAN SEMATA....


...SEMUA YANG TERJADI DI DALAM CERITA INI MURNI KARANGAN PENULIS....


...______...


...SELAMAT MEMBACA!...


.......


.......


.......


.......


.......


...***...


“Ndoro putri semuanya sudah siap.” ujar Ningrum pada sang majikan.


“Bagus.” jawabnya.


Anin yang tengah membelitkan kain sedemikian rupa agar menyerupai celana.


Hari ini seperti biasanya, Anin berlatih panahan dan pedang dibantu oleh kepala prajurit dikediamannya. Awalnya mereka ragu, melihat betapa ringkihnya tubuh sang majikan.


Mereka takut jika majikannya terluka dan mereka dihukum, meskipun Anin atau Saraswati anak kedua dari seorang selir. Wiyasa Bhadrika dan istri pertamanya sangat menyayanginya.


Maka dari itu mereka tidak yakin mengajarkan Anin atau Saraswati ilmu beladiri pedang.


“Aku hanya ingin belajar untuk melindungi diriku sendiri, Paman.” Begitu ujarnya, ketika pertama kali meminta Jagabaya untuk melatihnya.


“Bukankah ada kami para pengawal yang akan melindungi keamanan, Ndoro.”


Anin tahu itu, tapi tetap saja ini bukan dunia modern. Nyawa manusia di zaman seperti ini bak lalat yang tinggal tepuk lalu mati ketika tak bisa melindungi diri sendiri. Terlebih jika kaum bangsawan, amit amit saja ketika suatu saat dia sedang jalan jalan lalu dihadang pencuri.


“Maaf paman, bukan bermaksud untuk meragukan paman dan pengawal lainnya. Aku hanya ingin bisa melindungi diriku di saat Paman atau pengawal lainnya suatu saat nanti tak bisa menjagaku karena sesuatu hal. Hanya itu, jika paman merasa tersinggung. Aku mohon maaf,” ujarnya.


Jagabaya sedikit terkejut dengan kalimat yang meluncur dari bibir Anin. Memang dirinya sempat tersinggung, tapi ternyata pikirannya saja yang sempit terlebih setelah melihat kesungguhan Anin atau Saraswati dan permintaan maafnya, Jagabaya merasa malu.


Dan pada akhirnya Jagabaya mengajarinya ilmu beladiri pedang. Meskipun awalnya ragu, tapi setelah melihat ketahanan fisiknya. Perlahan mereka terkagum-kagum.


Anin atau Saraswati juga menyuruh mereka untuk merahasiakan hal itu dari orang tuanya. Biarkan saja hal itu menjadi rahasia diantar dia dan para pekerja di sana.


Tak hanya itu, Anin juga mempelajari bagaimana pengobatan dan tentang segala jenis obat-obatan yang ada di sana.


Anin tetaplah Anin yang selalu menyukai hal hal baru dan jiwa dokternya terpanggil ketika melihat semua itu. Meskipun hanya dia dan Ningrum saja yang mengetahui hal tersebut.


“Keahlian berpedang Ndoro putri semakin hari semakin bertambah, hamba sungguh kagum bisa melihat kemajuan pesat ini.” Ujar Jagabaya kepada Anin.


Anindya tersenyum mendengar pujian itu.


“Ini semua berkat Paman, terima kasih sudah mau mengajariku.”


Anin memberikan salam hormat kepada Jagabaya.


“Ndoro putri selalu merendah, hamba hanyalah prajurit biasa.”


“Paman, sudah aku katakan jangan berbicara seperti itu. Aku tidak suka,”


“Maafkan hamba Ndoro.”


“Baiklah, sepertinya Ningrum sudah menyiapkan makanan untuk kita. Mari Paman, kita makan kudapan lebih dulu sebelum sore nanti paman berangkat ke Tumapel.”


“Baik, Ndoro.”


Keduanya lalu berjalan menuju pendopo tempat beristirahat.


...***...


“Bagaimana anak saya tabib?”


“Tidak perlu khawatir, anak hanya hanya demam karena tumbuh gigi. Jadi tidak perlu ada yang dicemaskan,”


“Terima tabib, terima kasih.” Ujar sang ibu muda tadi kepada Anin, kemudian ibu muda tadi berpamitan kepadanya.


Di sinilah Anin. Di sebuah rumah sederhana di ujung desa, menyamar sebagai seorang tabib untuk mengobati penduduk desa yang kurang mampu.


Anin tidak mengambil bayaran dari setiap orang yang datang untuk diobati, tapi ada saja dari mereka yang memberinya hasil kebun atau ternak dan juga makanan berupa kue kue tradisional.


Anin sangat menyukai hal itu. Dia sangat bahagia.


Kemampuannya memang belum dipakai di dunianya, karena dia masihlah seorang mahasiswi kedokteran.


Namun dia bisa mempraktekkan ilmu yang dia pelajari di bangku kuliahnya.


Anin berpikir, dirinya bisa menambah ilmu pengetahuan pengobatan tradisional sebelum dia bisa kembali ke dunia nyata.


“Ndoro putri, besok rombongan dari Majapahit akan kembali.”


Suara Ningrum menyadarkan Anin dari lamunannya.


Ningrum memberitahu Anin, jika Ayah dan ibunya akan kembali dari Tumapel. Anin segera membereskan kotak dan kendi yang berisikan ramuan serta bahan obat-obatan.


“Baiklah, ayo kita bersiap untuk pulang sebelum ayah tiba di rumah. Aku juga harus mempersiapkan diri untuk menyambut Ayah, bukan.”


...****...