
...Update lagi nih!...
...Terima kasih buat vote, like dan love di part sebelumnya....
..._______...
...DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE ATAU MENYADUR CERITA INI!...
...CERITA INI HANYA FIKSI, JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH DAN TEMPAT HANYA KEBETULAN SEMATA....
...SEMUA YANG TERJADI DI DALAM CERITA INI MURNI KARANGAN PENULIS....
...______...
...SELAMAT MEMBACA!...
.......
.......
.......
.......
.......
...***...
“Akhirnya sebentar lagi akan tiba di rumah, aku sudah tidak sabar untuk berbaring di tempat tidurku.”
“Hei, bukan kau saja. Kita semua juga sama,”
Begitulah percakapan antara para pelayan yang ikut dalam rombongan dari Majapahit. Mereka sama lelahnya seperti para pengawal yang juga ikut menjaga keamanan di dalam perjalanan sekembalinya dari Tumapel.
“Sepertinya para pelayan kita sangat merindukan rumah, Kang mas.” Ujar Gusti Ayu.
Wiyasa Bhadrika hanya tersenyum mengiyakan, karena dirinya pun sama seperti mereka. Merindukan rumah dan juga putri keduanya. Saraswati.
Di pendopo tempat beristirahat atau tempat menjamu para tamu, Saraswati mengatur beberapa pelayan untuk menyiapkan segala kebutuhan rombongan yang akan tiba sebentar lagi.
Saraswati juga memasak untuk mereka, dari yang dia dengar. Rombongan itu bukan hanya berisikan ayah dan ibunya saja, melainkan juga putra mahkota kerajaan Majapahit yang baru saja dilantik.
Maka dari itu Saraswati menyiapkan makanan dan minuman untuk disajikan kepada tamu mereka, dia tidak ingin jika sang Ayah dipandang tidak becus mengurus perjamuan bagi tamu kehormatan wilayahnya ini.
“Ndoro, apakah masakan ini sudah siap untuk disajikan? Mengingat sudah beberapa jam berlalu.”
Pelayan bagian dapur menyadarkan lamunan Anin.
“Ya, kau siapkan seperti yang sudah aku ajarkan.”
“Baik Ndoro,”
Pelayan tadi langsung pergi melaksanakan perintah Anin.
“Ningrum,”
“Ya, Ndoro putri. Apakah ada lagi yang Ndoro perlukan?”
“Jika sudah siap semuanya, tolong sajikan. Kau awasi para pelayan lainnya, bantu mereka menyiapkan semua dengan baik. Ingat, nama baik ayahanda dan wilayah kita ini yang akan menjadi taruhannya jika kita gagal dalam menjamu putra mahkota kerajaan Majapahit.”
“Baik, Ndoro. Saya akan mengawasi dan membantu yang lainnya.”
“Baiklah, kalau begitu aku pergi sebentar ke kamarku. Jika ada hal yang penting, baru kabari aku. Sekarang aku mau bersiap-siap terlebih dahulu.”
“Apakah Ndoro putri butuh bantuan? Hamba bisa memanggil pelayan lain untuk membantu.”
“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Terima kasih atas tawaranmu, kalian sudah cukup kerepotan sekarang. Jadi aku tidak ingin membuat kalian lebih repot lagi.”
“Baik Ndoro.”
Setelah berpamitan ke kamarnya, Anin segera berganti pakaian. Bukan pakaian bagus untuk menyambut Ayahanda dan rombongan kerajaan, melainkan untuk pergi memantau rombongan itu dari jauh. Anin ingat betul jalan cerita di dalam novel itu, jika di tengah jalan rombongan mereka dicegat oleh perampok.
Beberapa pengawal meninggal dunia, beberapa mengalami luka parah termasuk sang ayah. Oleh karena itu Anin bermaksud untuk mencegah hal itu terjadi. Kalau pun masih terjadi, setidaknya korban jiwa tidak terlalu banyak.
Setelah menggunakan pakaian tertutup dan menutup setengah wajahnya dengan cara, Anin membawa busur dan panahnya yang dia sembunyikan di balik bilik pakaiannya.
Dia tidak ingin ayahnya tahu jika dirinya berlatih panahan atau senjata lainnya, karena Anin tahu. Wiyasa Bhadrika sangat menyayangi Saraswati, tubuh yang sekarang ditempati oleh jiwa Anindya. Para pelayan dan pengawal di rumah ini pun semuanya disuruh untuk tutup mulut akan hal itu.
...***...
“Ada apa pangeran?” tanya Raden Jayakarsa kepada putra mahkota itu.
“Apakah kau tidak merasakannya?”
“Apa?"
“Mereka.”
“Hamba tahu, mereka sudah mengikuti kita saat diperbatasan tadi.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan, karena sepertinya hanya kita saja yang menyadari keberadaan mereka.”
“Tidak, pangeran. Bukan hanya kita, kepala pengawal Wiyasa Bhadrika pun menyadarinya sejak tadi. Hanya saja, dia tidak bertindak gegabah. Dia tahu jika hal itu justru akan menimbulkan kepanikan, beberapa anak buahnya sudah diberitahu. Maka dari itu mereka sudah terlihat sudah siap dan waspada.”
Wikramawardhana menganggukkan kepala tanda memahami yang dikatakan oleh Raden Jayakarsa.
Mereka yang dimaksud oleh keduanya adalah gerombolan para perampok yang akan berniat menjarah barang barang yang mereka bawa, beberapa dari mereka bisa dikatakan lumayan karena memiliki ilmu kanuragan dan pandai dalam beladiri tapi itu semua tidak berarti dihadapan Raden Jayakarsa selaku Patih yang dilatih langsung dibawah pimpinan Gajah Mada.
Syut!
Sebuah anak panah meluncur, Raden Jayakarsa langsung menangkisnya dengan mudah.
Para pelayan berteriak histeris melihat hal itu.
Para pengawal bersiap untuk melawan dan melindungi majikan mereka.
“Ha ha ha sepertinya kita panen besar Kakang Kala.”
Pria bertubuh besar dengan bekas luka di wajahnya keluar dari balik pohon dan tertawa keras.
“Benar sekali Cakil, kita akan berpesta besar ditemani gadis gadis itu.” Ujarnya pria yang penampilannya tak kalah urakan serta memandang bengis ke arah para pelayan yang tengah ketakutan.
Rombongan itu kini terkepung melihat sekeliling mereka banyak sekali anak buah perampok.
Wiyasa Bhadrika turun dari kereta kudanya menghampiri kereta kuda milik
Wikramawardhana.
“Tidak apa-apa Paman Wiyasa, ini kan memang tidak dikehendaki oleh Paman. Aku justru minta maaf karena Paman harus terlibat semua ini karena diriku.” Ujarnya, “mereka memang sudah mengikuti sejak kita keluar dari perbatasan Majapahit, lagi pula mereka memang orang orang suruhan. Dari wilayah lain untuk datang ke sini, jelasnya lagi dengan santai.
Wiyasa Bhadrika tentu terkejut, dirinya sampai tidak menyadari hal itu. Ditambah mendengar ucapan putra mahkota tentang ‘orang suruhan’ Wiyasa Bhadrika tentu tahu hal itu.
Putra mahkota kerajaan ini baru saja dilantik, pasti ada saja yang tidak setuju dan bermain trik kotor untuk menjatuhkan dirinya dari tahta yang akan diserahkan kepadanya.
Wiyasa Bhadrika kembali ke kereta kudanya untuk menenangkan istri dan juga putri pertamanya.
“Apa sudah selesai berbasa - basinya? Jika sudah, kalian sekarang serahkan semua barang bawaan itu kepada kami dan juga para gadis gadis cantik itu. Agar kami segera pergi dan berpesta ha ha ha ....”Tawa Cakil menggema di keheningan hutan.
“Tunggu apa lagi kalian? Ayo serang mereka!” perintah pria bernama Kala itu.
Anak buah perampok tadi maju, terjadi pertarungan sengit antara para pengawal kerajaan dan juga pengawal milik Wiyasa Bhadrika.
Jagabaya membantu melindungi rombongan majikannya. Beberapa anak buah perampok itu menyerangnya secara bersamaan.
Sedangkan Raden Jayakarsa masih diam mengamati dari atas kudanya.
“Wah, wah, sepertinya kita bertemu seseorang yang tak takut mati Kakang.” ujar Cakil dengan nada mengejek.
Ketua perampok bernama Kala itu tengah mengamati Raden Jayakarsa yang tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
Sedangkan pria bernama Cakil yang tidak tahan melihat betapa sombongnya Raden Jayakarsa, langsung maju menghadapi pria itu dengan parangnya yang besar.
Sedangkan Wikramawardhana mengawasi di dalam kereta kuda miliknya.
“Dasar bodoh, mereka salah memilih lawan. Sepertinya informasi yang diterima oleh mereka tidak lengkap, sampai sampai nekat menyerang. Mereka tidak tahu jika dalam rombongan ini ada Kakang Jayakarsa, jika tahu mungkin mereka tidak akan menerima upah yang diberikan. Tapi ini menarik, perjalanan yang kebosanan menjadi lebih seru karena pertujukan ini,” gumam Wikramawardhana disertai senyuman.
Dzing!
Bugh!
Srattt!
Bugh!
Bugh!
Trang!
Trang!
Trang!
Bunyi adu senjata antara para pengawal dan perampok itu menjadi latar yang mengiringi kesenyapan di hutan tersebut.
Beberapa pengawal terlihat kerepotan dan lelah. Ada juga yang sudah terluka, tapi anak buah para perampok itu pun sama. Meskipun mereka masih belum menyerah juga.
Syut!
Tak!
Raden Jayakarsa menangis panah yang melesat ke arah kereta kuda milik anak pertama Wiyasa Bhadrika.
Pria bernama Cakil itu yang tadinya bertingkah sombong, kini mulai terengah-engah menghadapi Raden Jayakarsa.
Srettt!
“Argh!” suara teriakan kesakitan karena lengan Cakil terkena sabetan pedang milik Raden Jayakarsa.
“Sialan! Berani sekali kau melukaiku, akan kubuat kau menanggung akibatnya.” Maki Cakil yang terlihat geram, wajahnya merah padam karena marah.
Begitu dia maju kehadapan Raden Jayakarsa, Kala yang tadi hanya diam juga ikut maju menebaskan gadanya.
Raden Jayakarsa masih terlihat tenang. Mereka tidak tahu jika ada salah seorang anak buah perampok itu tengah mengincar Raden Jayakarsa dengan anak panah beracun.
Syut!
Tak!
Raden Jayakarsa sedikit terkejut dengan anak panah yang hampir mengenainya, tapi jatuh karena dihantam anak panah lainnya.
Matanya mengedar melihat ke arah pohon untuk menemukan siapa pemanah itu.
Jleb!
Jleb!
Jleb!
“Argh!”
“Akh!”
Bugh!
Suara teriakan dan bunyi gedebuk disertai jatuhnya sosok pemanah yang hampir mengenai Raden Jayakarsa tak lagi bernyawa.
Raden Jayakarsa mengerutkan keningnya.
Siapa yang tengah membantunya?
Anak panah lain meluncur menumbangkan beberapa anak buah Cakil dan Kala, sedangkan ketua mereka juga terluka karena ilmu kanuragan yang beradu dengan milik Raden Jayakarsa.
Dan akhirnya mereka memutuskan untuk kabur karena sadar kekuatan yang mereka miliki tak sebanding. Bisa - bisa nyawa mereka melayang jika diteruskan. Ketua perampok itu menarik mundur anak buahnya.
Beberapa pengawal ada yang terluka parah, tapi ada juga yang hanya kelelahan.
Sedangkan untuk para pelayan hanya ketakutan saja.
Wiyasa Bhadrika pun tampak kelelahan karena usianya yang tak lagi muda ikut bertarung melawan banyaknya anak buah perampok yang hendak mendekati kereta kuda milik anak gadisnya.
“Kakang, di atas.” Ujar Wikramawardhana.
Raden Jayakarsa langsung melihat ke arah di mana terdapat sosok yang mengenakan pakaian biru tua melompat turun dan berlari menjauh dari mereka.
Saat anak buahnya akan menyusul sosok itu, Raden Jayakarsa melarangnya karena dia sangat yakin jika sosok itu bukanlah musuh mereka.
Raden Jayakarsa sempat mengambil anak panah yang mengenainya dan dia cukup bersyukur karena anak panah itu gagal, jika iya bisa dipastikan dirinya terkena racun yang ada di ujung anak panah tersebut.
Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak, agar tenaga kembali pulih dan setelah cukup beristirahat kedua rombongan itu kini melanjutkan perjalanan mereka dari kejauhan tampak gapura masuk wilayah Wirabhumi.
...****...