REASONS FOR FALLING IN LOVE

REASONS FOR FALLING IN LOVE
RFFIL 10



...Lama gak update karena lagi ngerjain dua cerita sebelumnya....


...Semoga bisa update setiap hari ya....


...______...


...Happy reading!...


...***...


Pagi - pagi sekali Raden Jayakarsa bangun dari tidurnya. Saat hendak berkeliling kediaman Wiyasa Bhadrika, dia melihat beberapa pelayan yang mondar mandir dengan wajah cemas.


Ada juga yang pelayan yang dipapah oleh pelayan lainnya dengan tubuh lemas, wajah pucat dan terlihat menahan rasa sakit.


Raden Jayakarsa segera berlari menuju kamar, tempat di mana putra mahkota berada.


Sesampainya di sana, tak ada tanda - tanda yang mencurigakan.


“Apakah ada sesuatu atau seseorang yang mencurigakan di sekitar sini?” Tanya Raden Jayakarsa kepada bawahannya.


“Tidak ada Raden, baik saat penjaga malam dan pergantian penjaga. Tidak ada hal yang mencurigakan terjadi di sini.”


Raden Jayakarsa menganggukkan kepalanya.


“Terus waspada dan awasi keadaan sekitar, jika terjadi sesuatu langsung laporkan kepadaku.”


“Baik, Raden!”


Raden Jayakarsa memutar tumitnya untuk kembali ke ke arah dapur, di sana kini tampak Anin yang menggulung rambutnya. Penampilan yang menarik mata Raden Jayakarsa untuk memandang leher jenjang nan putih itu.


Tapi Raden Jayakarsa sedikit heran melihat bagaimana penampilan Anin atau Saraswati, wanita itu tidak mengenakan riasan atau mengenakan pakaian mewah seperti putri bangsawan lainnya.


Dia menggunakan pakaian yang tertutup seperti para pelayan yang sudah sepuh, dengan kain yang dililit menyerupai celana.


Hal itu tentu saja membuat Raden Jayakarsa keheranan.


Mau apa wanita ini di pagi buta dengan tampilan seperti itu, dan untuk apa dia ada di dapur?


Semua pertanyaan Raden Jayakarsa akhirnya terjawab.


Anin atau Saraswati memerintahkan beberapa pelayan yang ada di sana untuk membeli sesuatu ke pasar ditemani oleh pengawal.


Lalu memerintah lagi kepada seorang pelayan untuk membantunya membungkus makanan dan memasaknya.


Sedangkan dirinya sendiri pun tak tinggal diam, dia ikut memotong memasak dan menyiapkan segala keperluan untuk memasak.


Raden Jayakarsa juga mendengar tentang sakitnya beberapa pelayan yang seharusnya bekerja di dapur.


Bahkan dia dapat mendengar Anin atau Saraswati memerintahkan untuk merawat para pelayan itu dengan hati-hati.


Dari balik pohon, dia dapat dengan jelas melihat bagaimana Anin atau Saraswati bergerak begitu lincah menyelesaikan semua tugas memasak pagi ini, bahwa tak segan untuk mengucapakan rasa terima kasih kepada para pelayan dan pengawal yang turut membantunya.


Setelah selesai, dia pergi. Rupanya bukan untuk menuju kamarnya, melainkan untuk melihat bagaimana kondisi para pelayan yang sakit.


Bahkan tak lupa pula dia memerintahkan agar tidak seorang pun boleh masuk ke sana kecuali pelayan dan pengawal yang ada di situ, yang membantunya saat itu. Serta ibunya sendiri.


Anin atau Saraswati pun ikut merawat mereka.


Jadi dia juga tahu tentang ilmu pengobatan? Menarik sekali.


Raden Jayakarsa langsung menyembunyikan tubuhnya lagi di balik pohon begitu melihat Anin atau Saraswati berjalan mendekat ke arahnya dan berbelok menuju dapur, tapi karena terlalu tergesa - gesa wanita itu jatuh tersungkur.


“Aduh!”


Raden Jayakarsa dapat melihat hal itu, dia juga mendengar suara ringisan kesakitan dari bibir Anin. Raden Jayakarsa ingin sekali membantunya, tapi belum sempat menghampiri Anin, tubuh wanita itu langsung bangkit dan berjalan dengan cepat meskipun cara berjalannya sedikit pincang.


Raden Jayakarsa keluar dari tempat persembunyiannya.


Dia melihat sebuah tusuk konde terbuat dari bahan kuningan dengan batu berwarna hijau di ujungnya. Aksesoris yang sangat sederhana bagi seorang putri bangsawan.



*sumber gambar : Pinterest


Raden Jayakarsa menyimpan itu. Dia kemudian berjalan secara perlahan agar tidak diketahui siapa pun.


Begitu sampai di dapur kediaman Wiyasa Bhadrika, dia melihat istri pertama dari Wiyasa Bhadrika terkejut dengan penampilan Anin atau Saraswati.


Dan segera memeluk putrinya, Anin menanyakan kepada pelayan dan pengawal di sana. Apakah makanan sudah siapa semuanya, dan mereka menjawab sudah.


Dia bahkan memerintahkan untuk mereka yang sudah membantunya makan lebih dulu, tak lupa mengingatkan agar mengirimkan makanan di balai pengobatan juga.


Istri Wiyasa Bhadrika memerintahkan agar pelayan pribadi putrinya membantu sang putri yang tidak bisa ikut makan bersama membersihkan diri.


Dirasa cukup melihat semuanya, Raden Jayakarsa pergi diam - diam dari sana tanpa seorang pun mengetahuinya.


...***...


Begitu tiba di saat perjamuan pagi, semua masakan terhidang. Berbagai macam lauk pauk disediakan. Jajanan berupa kue - kue pasar, dan juga nasi putih hangat yang mengepul. Serta buah - buahan segar dan juga minum hangat.


Semua itu disajikan dengan sangat rapi dan menarik. Siapapun yang melihat akan langsung tergiur, tapi tidak untuk pejabat sombong dihadapannya.


Merek bahwa melakukan protes meskipun dengan cara menyindir.


Dengan anggun istri Wiyasa Bhadrika menyampaikan maksud dari sajian tersebut.


Agar Putra mahkota tahu, jika makanan sederhana ini adalah hasil bumi dari Wirabhumi.


Kekayaan daerah yang hidup makmur di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Mereka juga ingin menunjukkan, bahwa makanan ini juga pantas disajikan untuk calon raja berikutnya.


Mereka berhara raja mereka tetap membumi meskipun kedudukannya sebagai pemimpin negeri, dan berharap agar nantinya raja juga mencintai rakyatnya.


Tentu saja hal itu membuat pangeran Wikramawardhana yang menyandang gelar putra mahkota sangat kagum dan menghargai niat baik Wiyasa Bhadrika dan juga istri, serta seluruh orang yang sudah menyiapkan jamuan makan untuknya.


Seluruh pejabat yang tadi sempat protes akhirnya bungkam. Diam tak berkutik begitu mendengar pujian yang dilontarkan putra mahkota.


“Apakah di antara makanan ini ada yang Yang mulia pangeran putra mahkota tidak sukai, atau tidak bisa makan makanan tertentu?” tanya Ayu Larasati


“Tentu tidak, Bibi. Aku bisa makan apapun, dan sepertinya semua ini enak. Ini udang? Dan sepertinya aku baru tahu, jika udang bisa dimasak seperti ini. Apa nama jenis masakan ini, Bibi?”


Ayu Larasati tersenyum mendengar ucapan Wikramawardhana.


Hamba sebenarnya pun tidak mengetahui apa jenis masakan ini Yang mulia, tapi jika hamba bilang seperti itu. Putri hamba akan datang kemari, padahal dia sedang terluka.


Seorang pelayan mendekat setelah mendapatkan kode dari Ayu Larasati.


“Itu namanya udang asam manis, Yang mulia pangeran putra mahkota.”


“Wah, begitu rupanya. Kalau begitu, mari kita mulai makan, aku benar - benar tidak sabar untuk menikmati makanan ini.”


Mereka pun makan dengan khidmat. Semua orang sangat menikmati makanan lezat itu, meskipun awalnya beberapa pejabat itu sempat mencibir tapi kemudian justru pujian yang mereka berikan.


Sedangkan untuk Raden Jayakarsa sendiri memuji bagaimana terampilnya wanita itu. Wanita yang akan menjadi istrinya di kemudian hari.


Seulas senyum tipis terulas dari bibirnya saat mencicipi makanan yang tersaji.


...****...