REASONS FOR FALLING IN LOVE

REASONS FOR FALLING IN LOVE
RFFIL 7



...Update lagi nih!...


...Terima kasih buat vote, like dan love di part sebelumnya....


..._______...


...DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE ATAU MENYADUR CERITA INI!...


...CERITA INI HANYA FIKSI, JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH DAN TEMPAT HANYA KEBETULAN SEMATA....


...SEMUA YANG TERJADI DI DALAM CERITA INI MURNI KARANGAN PENULIS....


...______...


...SELAMAT MEMBACA!...


.......


.......


.......


.......


.......


...***...


Kedua rombongan itu akhirnya sampai di wilayah kabupaten Wirabhumi saat sore menjelang.


Rombongan kereta kuda milik putra mahkota dan Wiyasa Bhadrika menarik perhatian penduduk desa sepanjang perjalanan yang mereka lewati.


Mereka begitu penasaran dengan sosok putra mahkota, tapi sosok tampan yang berjalan di samping kereta kuda milik putra mahkota begitu menarik par gadis gadis dan wanita muda. Membuat mereka terpesona saat melihat paras Raden Jayakarsa.


“Sepertinya penggemar Kakang akan bertambah lagi, tapi sayang mereka kalah dengan yang sedang menanti di Kediaman paman Bhadrika.” Ujar Wikramawardhana menggoda Raden Jayakarsa.


Sedangkan yang digoda hanya mendengkus, dia seakan sudah terbiasa mendengar tingkah jahil pangeran Wikramawardhana.


Begitu tiba dikediaman Wiyasa Bhadrika, semua rombongan turun dari kereta kuda. Para pengawal dan pelayanan segera menyambut kedua rombongan itu.


Para pelayan dengan sigap memberikan wadah berisi air bersih dan kain, serta kendi untuk menuntaskan dahaga dan membersihkan debu yang melekat pada tubuh mereka.


Para pengawal yang terluka dan ikut serta diberikan waktu untuk beristirahat, begitupun dengan para pelayan juga.


Anin yang mengetahui kedatangan ayahandanya segera berbenah untuk mempersiapkan segala keperluan mereka.


Ayah dan ibunya belum tahu jika semuanya sudah dipersiapkan oleh Anin.


“Mbok, mengapa masih di sini? Bukankah seharusnya Mbok ke belakang untuk mempersiapkan makan malam. Ingat, kita kedatangan tamu terhormat yaitu putra mahkota negeri ini.”


“Ampun Gusti putri, saat hamba ingin memerintahkan para pelayan. Ternyata semuanya sudah dipersiapkan, termasuk keperluan putra mahkota dan juga Patih serta para pengawal dan pelayan yang ikut serta bersama dengan rombongan ini Gusti putri.”


Ayu Larasati mengeryitkan alisnya heran.


“Benarkah, begitu?”


“Benar, Gusti putri. Hamba pun sudah mengeceknya sendiri, dan semuanya lebih dari yang hamba perkirakan.”


“Maksudnya bagaimana, Mbok?”


“Makanan dan minuman untuk perjamuan malam nanti, benar - benar luar biasa. Dan sejujurnya, hamba juga terkejut karena beberapa makanan yang disajikan nantinya adalah makanan yang hamba ketahui merupakan makanan dari kerjaan seberang yang jauh sekali dari sini. Hamba tahu itu, karena saat muda hamba pernah bertemu dengan salah seorang teman hamba yang berkerja di kerajaan tersebut.”


Ayu Larasati semakin dibuat terheran.


“Apakah ada pelayan baru yang bekerja di Wiradesa ini? Mengapa aku sampai tidak mengetahuinya?”


“Bukan Gusti putri,”


“Lalu?”


Ayu Larasati terkejut mendengar hal itu. Bagaimana mungkin anaknya melakukan hal itu. Terlebih saat sebelum keberangkatan mereka menuju Tumapel, Saraswati jatuh sakit hingga tak bisa ikut ke kerajaan Majapahit.


“Sekarang di mana Saraswati, Mbok?”


“Ndoro Rara sedang berada di kamarnya.”


“Baiklah, bantu aku bersiap untuk membersihkan diriku. Nanti temani aku ke kamar anakku.”


“Baik, Gusti putri.”


Ayu Larasati segera mandi dan berganti pakaian, dia juga ingin segera menemui anak tirinya. Dirinya benar - kebenar penasaran atas apa yang dilakukan oleh Saraswati.


Setelah selesai, Ayu Larasati didampingi oleh pelayan setianya berjalan menuju kamar Saraswati yang letaknya jauh dari bangunan utama, lebih dekat dengan taman.


Ayu Larasati memerintahkan kepada pelayan anaknya agar memberitahukan kedatangannya.


“Ndoro putri, Ndoro Gusti Ayu datang berkunjung."


“Ibunda ku?”


“Benar, Ndoro. Ndoro Gusti Ayu sudah menunggu di pendopo.”


Anin berjalan menuju pendopo untuk menemui sang ibunda di dampingi oleh pelayan setianya— Ningrum.


Sesampainya di sana, Anin dapat melihat sosok yang tengah duduk menikmati keindahan taman dan kolam di sana. Paras wanita itu begitu cantik dan anggun meskipun usianya tak lagi muda.


“Ibunda.” Anin mencoba memberanikan diri untuk menyapa wanita itu.


Begitu wanita itu berbalik, betapa terkejutnya ia saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya dan memanggilnya dengan sebutan ‘ibunda’.


“Jagad Dewa Bhatara, mbak Yu! Apakah ini benar dirimu?”


Tubuh Ayu Larasati sedikit bergetar, matanya berkaca - kaca melihat Anin.


Dia berjalan mendekati Anin yang masih keheranan dengan perkataannya.


Ayu Larasati langsung memeluk tubuh Anin dan tak lama terdengar suara isakan. Bahunya bergetar karena menangis.


“Aku sangat merindukanmu, Mbak Yu. Sangat.” Ujarnya disela - sela tangisannya.


“Ib—ibunda, ini aku Saraswati.”


Tubuh Ayu Larasati menegang, dia kemudian melepaskan pelukannya.


“Benarkah ini kau, nak? Putriku?”


Anin menganggukkan kepalanya.


Ayu Larasati semakin menangis tergugu. Beberapa saat kemudian setelah tangisannya reda, barulah Ayu Sekar Arum menjelaskan pada Anin jika dirinya begitu mirip dengan mendiang ibu kandungnya ketika masih muda. Ayu Sekar Arum.


Maka dari itu Ayu Larasati sempat terkejut ketika melihat Anin yang sekarang berubah, padahal sebelum berangkat ke Tumapel Anin atau Saraswati sedang sakit. Dan juga yang Ayu Larasati ketahui selama ini adalah bahwa anak tirinya itu menderita penyakit kulit yang tak kunjung sembuh sampai tabib terbaik di kadipaten Wirabhumi ini mengobatinya dan tidak menghasilkan perubahan apapun.


Barulah Anin bercerita, jika selama ini dia mengkonsumsi makanan yang memang seharusnya tidak dimakannya. Itu yang mengakibatkan kulitnya menjadi rusak.


Kau sama seperti ibumu, mbak Yu pun sama tidak bisa bisa memakan udang. Maafkan aku, ibumu ini nak yang tidak tahu jika selama ini kau menderita karena ulah kakakmu. Aku harus menghukumnya nanti.


“Sudahlah, Ibunda. Tidak apa, mungkin saudariku memang tidak tahu.”


Ayu Larasati tersenyum mendengar pembelaan Anin.


“Kau persis seperti ibumu.”


Keduanya bercerita sejenak sebelum akhirnya pergi ke pendopo utama untuk menyiapkan perjamuan makan malam.


...****...