
...Hai, readers! ini merupakan tulisan isekai pertama aku. Setting tempat aku ambil dari zaman kerajaan Majapahit, aku sengaja ambil itu karena aku lihat kalau dari cerita isekai kebanyakan ambil setting kerajaan Inggris/Barat. So, semoga kalian suka....
...Jangan sungkan untuk memberikan saran atau kritik pada tulisanku....
..._____...
...DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU MENYADUR CERITA INI!...
...CERITA INI HANYA FIKSI, JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH DAN TEMPAT HANYA KEBETULAN SEMATA....
...SEMUA YANG TERJADI DI DALAM CERITA INI MURNI KARANGAN PENULIS....
...______...
...SELAMAT MEMBACA!...
...***...
Aku mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mataku. Pertama kali yang kulihat adalah langit langit beratap kayu tanpa plafon. Aku sedikit mengerang, karena tubuhku seakan remuk. Rasa pening seketika menghampiriku, dan rasa sedikit sesak di dada.
Aku mencoba bangun, tapi tubuhku seakan tak bertulang. Benar benar lemas. Seakan telah melakukan hal yang begitu berat, kemudian ku edarkan pandangan ke segala arah di ruangan ini. Ruangan dengan bata merah dengan empat pilar yang terdapat ukiran kayu rumit, beberapa perabot dari tanah liat, dan kendi kendi dari kuningan.
Ruangan tempatku berada saat ini benar benar asing, bahkan tempat yang aku duduki sekarang seperti dipan kayu. Namun, terlihat sedikit mewah. Ku bilang sedikit, karena aku tahu dipan seperti ini amat sangat mahal harganya. Kayu jati dengan ukiran rumit. Sama seperti tempat Eyang Putri. Meskipun dipan ini tak terlalu lebar, tapi cukup mewah.
Pertama. Ini jelas bukan kamarmu. Kedua. Ini di mana? Dan kenapa aku sampai berada di sini. Bukankah sebelumnya aku berada di kamarku? Kos kosan yang meskipun tak mewah, tapi nyaman itu.
Belum selesai rasa keterkejutan yang aku alami, pintu kayu itu terbuka dan seorang wanita yang sepertinya lebih muda dariku mengenakan sejenis kemben dan kain jarik batik berwarna coklat tua dengan rambut di sanggul membawa sejenis kendi di tangannya. Aku perkiraan usianya mungkin sekitar delapan belas atau sembilan belas tahunan.
Begitu mata kami saling bertatapan, dia menjatuhkan kendi itu.
Prak!
Dan otomatis kendi pecah itu berhamburan beserta isi di dalamnya.
Dia begitu terkejut melihatku, seakan habis melihat hantu. Dia berlari keluar dan tak lama kemudian dia datang dengan seorang pria paruh baya yang pakaian mirip seperti drama kolosal yang pernah aku tonton dulu.
Pria itu berjalan mendekatiku, kemudian memegang pergelangan tanganku untuk memeriksa denyut nadi. Sedangkan, wanita tadi berdiri tak jauh dari kami memandangku dengan raut wajah khawatir.
“Sang Hyang Widhi telah memperlihatkan kuasanya kepada kita semua.”
Aku memandangi mereka. Entah apa maksud perkataan pria tua itu?
“Hamba bertanya, apakah yang Raden Rara Saraswati rasakan saat ini?” Tanyanya.
Lidahku seakan kelu menjawab pertanyaan pria di hadapanku ini.
“Raden Rara Saraswati, hamba Ki Ageng. Tabib yang dipanggil untuk mengobati Raden Rara Saraswati, apakah yang Raden Rara Saraswati rasakan saat ini? Apakah kepala Raden Rara Saraswati masih sakit? Atau masih merasakan sesak?” Serentetan pertanyaan meluncur dari mulutnya.
“Siapa?”Jawabku dengan suara serak.
Ugh, tenggorokanku sedikit kering dan sakit.
“Maksud Raden Rara?” Tanyakan mengernyit keheranan.
Dia bukan berbicara kepadaku, kan? Karena namaku Indira Anarawati Anindya, bukan si Raden Raden tadi.
“Siapa yang anda panggil Raden Rara Saraswati tadi?” Tanyaku memastikan.
Pria yang mengenalkan namanya sebagai Ki Ageng tadi bertukar pandang dengan gadis di sampingnya, kemudian dia mengehala napasnya.
“Sepertinya benturan di kepalanya cukup keras, sehingga Raden Rara Saraswati tak mengenali dirinya sendiri.” Katanya berbicara pada gadis itu.
Sedangkan gadis tadi langsung melihat ke arahku dengan mata berkaca-kaca dan raut wajah begitu sedih, kemudian jatuh bersimpuh.
“Maafkan hamba, dayangmu yang tidak bisa menjagamu ini. Hamba pantas dihukum.” Katanya dengan suara penuh penyesalan disertai isakan.
Eh, maksudnya gimana ini? Dan, tunggu sebentar. Aku baru sadar, jika mereka menggunakan bahasa Jawa Halus serta aku bisa mengerti dan menjawab segala pertanyaan mereka? Aku tahu karena Eyang putri sering menggunakan bahasa ini sehari-hari, ketika bersama ibuku. Aku tidak begitu pandai, hanya mengerti setiap yang Eyang ucapakan.
Dan sekarang, mulutku begitu fasih menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari mulut Ki Ageng tadi.
Sebenarnya apa yang terjadi? Aku mencoba berpikir, mungkin ada sesuatu yang terlewatkan. Namun, bukannya menemukan jawaban atas segala rasa penasaranku. Aku mengerang karena kepalaku tiba-tiba sakit seolah ditusuk ribuan jarum, seketika semuanya menjadi gelap.
...****...
.......
.......
.......
.......
.......
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa vote, like, love ataupun komentar. Sampai jumpa di part selanjutnya....