REASONS FOR FALLING IN LOVE

REASONS FOR FALLING IN LOVE
RFFIL 3



...Update lagi nih!...


...Terima kasih buat vote, like dan love di part sebelumnya....


..._______...


...DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE ATAU MENYADUR CERITA INI!...


...CERITA INI HANYA FIKSI, JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH DAN TEMPAT HANYA KEBETULAN SEMATA....


...SEMUA YANG TERJADI DI DALAM CERITA INI MURNI KARANGAN PENULIS....


...______...


...SELAMAT MEMBACA!...


.......


.......


.......


.......


.......


...***...


Seingatnya, dia tengah membaca sebuah novel yang dipinjamkan oleh Ambar kepadanya. Setelah sesi latihan panahan, Anindya dan Ambar pergi untuk makan mie ayam di kedai tak jauh tempat mereka latihan. Keduanya mengobrol tentang segala hal, mulai dari lomba yang akan mereka ikuti, tugas kuliah dan juga yang menjadi topik utama sahabat. Siapa lagi kalau bukan si dosen killer. Mahesa Ardi Langga.


Pria yang kehadirannya mengejutkan sekaligus menyebalkan bagi Anindya. Entahlah, Anin hanya kurang begitu suka atas sikap dosen tersebut. Dengan sembarangan mengatakan, jika dirinya dan Ambar tak ada niatan untuk berlatih tapi hanya mejeng di sana. Padahal dia tidak tahu yang sebenarnya.


Saat di kelas mungkin Anindya akan mengacungi jempol dan mengakui, bahwa pria itu mumpuni dalam menerangkan pelajaran. Bahkan buku buku sumber referensi yang pria itu miliki sangat banyak, Anindya dapat melihat itu saat tak sengaja ke ruangan dosen dan menaruh absensi kehadiran di samping meja milik Mahesa.


Tapi karena sikap menyebalkan dan angkuh pria itu, sepertinya Anindya harus menarik kembali jempolnya.


Tunggu sebentar. Mengapa menjadi membahas masalah itu, ada hal yang lebih penting. Di mana dan bagaimana dia bisa di sini?


Setelah kembali tak sadarkan diri, Anindya dapat mengetahui jika dirinya tak lagi berada di dalam kamar kos kosan ataupun bermimpi. Dia sudah memastikan itu dengan mencubit sendiri lengannya dan ternyata sakit.


Yang jadi permasalahannya adalah, mengapa namanya juga ikut berubah? Tapi wajahnya masih sama, hanya terlihat lebih kucel. Kusam. Atau buruk rupa dengan berbagai jerawat menghiasi wajahnya. Jangan lupakan juga, tubuhnya yang sedikit mengeluarkan aroma tidak sedap. Hanya rambutnya saja yang masih bisa dikatakan hampir mendekati baik.


Dia sempat melihat ke arah luar jendela, pemandangan sekitarnya sama. Tak jauh berbeda. Seperti lingkungan pada film kolosal zaman dulu.


Dia tak tahu apa dan bagaimana, caranya dia berada di sini. Bahwa dia tak tahu juga berada di mana dan bagaimana caranya untuk pulang kembali ke tempatnya berasal. Anindya berpikir keras, hingga memukuli kepalanya.


Dan saat tengah memukul kepalanya,


Ningrum—wanita yang lebih muda darinya itu yang tak lain adalah pelayannya menjerit ketakutan karena melihat Anindya akan melukai dirinya.


“Ndoro putri, tolong jangan seperti ini jika memang Ndoro putri merasakan sakit hamba akan memanggil kembali tabib.”


Anindya menggelengkan kepalanya.


Sudah cukup. Dia tak mau lagi mencium aroma dan rasa pahit dari obat yang diberikan Tabib itu, ya dia berhasil tapi dia ingin lagi mencobanya. Mengingat rasanya, Anindya bergidik.


“Apa ada yang Ndoro putri butuhkan? Biar hamba yang ambilkan.”


Anindya menggelengkan kepala.


“Apakah Ndoro merasa lapar atau haus?”


Lagi lagi Anindya menggelengkan kepalanya menjawab setiap pertanyaan Ningrum.


“Boleh aku bertanya?”


“Hamba siap menjawab pertanyaan dari Ndoro putri.” Ujar Ningrum menangkupkan kedua telapak tangannya.


Ningrum menghela napasnya. Ki Ageng, tabib yang mengobati tuannya itu mengatakan jika benturan di kepala tuannya ini yang membuatnya lupa segala hal tentang dirinya dan juga orang orang di sekitarnya. Maka dari itu tugasnya sebagai pendamping sekaligus pelayannya harus menjelaskan perlahan lahan hingga tuannya dapat kembali seperti sediakala.


“Ini ada di wilayah Wirabhumi¹ lebih tepatnya di kediaman Wiyasa Bhadrika yang merupakan seorang Watek² wilayah kadipaten Wirabhumi. Raden Rara Saraswati adalah anak kedua dari selir Raden Bhadrika yaitu, Gusti Ayu Sekar Arum.”


Anindya mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan dari Ningrum.


Oke, jadi aku ini merupakan anak kedua dari seorang selir.


“Lalu, apa yang terjadi kepadaku?”


Ningrum menundukkan pandangannya, tapi Anindya tahu jika pertanyaannya tadi membuat Ningrum gelisah.


“Aku bertanya, kenapa kamu seperti ketakutan?”


“Hamba mohon maaf Ndoro, seandainya hamba ini tidak pergi meninggalkan Ndoro putri seorang diri ke pasar. Mungkin hal itu tidak akan terjadi. Hamba pantas dihukum.”


Lagi lagi seperti itu, maksudnya apa coba?


“Bisa kau jelaskan lagi apa yang terjadi kepadaku, karena aku benar benar tidak mengingatnya sama sekali.”


“Raden Rara Utari yang menyebabkan ini semua,” ujar Ningrum lirih.


Siapa itu Utari?


“Siapa dia?”


“Beliau adalah anak pertama dari Raden Bhadrika dan istri pertamanya yaitu, Gusti Ayu Larasati sekaligus kakak perempuan Ndoro putri.”


“Mengapa dia melakukan hal itu kepadaku?”


“Hamba tidak tahu sebab pastinya, tapi dari yang hamba tahu sedari kecil Raden Rara Utari selalu menganggu Raden Rara Saraswati. Begitu yang selalu hamba ingat, tapi setelah beranjak dewasa ketidaksukaan kepada Ndoro semakin parah. Ndoro putri Utari bahkan tak segan segan untuk menyiksa atau mengambil paksa apapun yang dimiliki oleh Ndoro putri Saraswati.


Seperti kejadian tiga hari yang lalu, Raden Rara Utari mendorong Ndoro ke dalam kolam ikan yang ada di taman. Bahkan kepala Raden Rara Saraswati sempat terantuk batu.”


Jadi, aku punya saudari tiri dan ternyata dia tidak menyukaiku.


Anindya mengehala napasnya. Terbangun jadi putri bangsawan, tapi malah punya saudari yang suka bully. Mana penampilan kacau begini.


Eh, tunggu deh, kok aku baru sadar ya. Nama nama yang dia sebutkan tadi gak asing gitu ditelingaku.


Ningrum melihat ke arah majikannya yang tengah mengerutkan kening. Seperti sedang berpikir keras.


Puk!


Anindya memukul keningnya.


Aku pikir cerita semacam ‘begitu bangun ada di dalam novel’ hanya ada di cerita cerita fiksi yang ku baca. Hal seperti itu, tentu saja tidak akan pernah ada. Sampai sebelum aku mengalaminya sendiri.


“Ndoro putri, tolong jangan memukul kepala lagi. Nanti kalau Raden Rara Saraswati pingsan lagi bagiamana? Kata Ki Ageng, jangan memaksakan diri untuk mengingat. Pelan pelan saja.” Ujar Ningrum memandang Anin dengan wajah khawatir.


Lagi-lagi Anindya mengehala napasnya. Gadis di depannya berpikir jika dia kehilangan ingatan, tapi sebenarnya bukan seperti itu. Bagaimana bisa dirinya bisa masuk ke dalam cerita novel yang sedang dibacanya. Lebih sialnya lagi novel itu berakhir tragis dengan kematiannya.


Setelah hari menyebalkan yang merusak moodnya karena pria itu, sekarang dia harus terdampar di dunia novel. Tidak adakah kesialan yang lainnya.


Lalu, bagaimana caranya dia kembali ke dunianya?


...****...


CATATAN KAKI


¹Wirabhumi : Lokasinya kini berada di Blambangan, Banyuwangi, dan dipimpin oleh Bhre Wirabhumi yang merupakan salah satu pangeran Majapahit atau putra Hayam Wuruk.


²Watek : Untuk wilayah setingkat kabupaten disebut Watek dengan pemimpin seorang wiyasa atau tumenggung.