
...Update lagi nih!...
...Terima kasih buat vote, like dan love di part sebelumnya....
..._______...
...DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE ATAU MENYADUR CERITA INI!...
...CERITA INI HANYA FIKSI, JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH DAN TEMPAT HANYA KEBETULAN SEMATA....
...SEMUA YANG TERJADI DI DALAM CERITA INI MURNI KARANGAN PENULIS....
...______...
...SELAMAT MEMBACA!...
.......
.......
.......
.......
.......
...***...
“Silakan Yang mulia,” Wiyasa Bhadrika mempersilakan makan malam jamuan yang sudah mereka siapkan untuk disantap oleh putra mahkota.
“Wah, aromanya sungguh menggugah selera. Sepertinya ini benar - benar enak, apakah nama makanan ini paman, karena baru pertama kali aku melihatnya?”
Wiyasa Bhadrika melihat ke arah istrinya.
Sedangkan sang istri hanya tersenyum.
“Nama makanan ini adalah ayam betutu, sate lilit, rujak bulung dan juga lawar.” Jawab Ayu Larasati.
“Baru pertama kali aku mendengarnya, apakah ini resep baru?”
Lagi - lagi Ayu Larasati tersenyum mendengar pertanyaan pria bergelar putra mahkota tersebut.
“Tidak pangeran, ini resep lama yang memang bukan berasal dari sini. Lebih tepatnya bukan berasal dari kerajaan Majapahit ataupun wilayah sekitarnya.”
Semuanya orang di sana tampak keheranan.
“Maksud bibi ini bukan resep dari kerajaan kita? Bukan dari leluhur kita?”
“Ya, Yang mulia.”
“Lalu, dari mana resep masakan ini?”
“Kerajaan seberang, Yang mulia.”
Wikramawardhana menoleh kepada Raden Jayakarsa.
“Biar hamba dulu yang mencicipi makanan ini Pangeran.”
Wikramawardhana mempersilakan, sedang Wiyasa Bhadrika dan Ayu Larasati tersenyum maklum. Memang mereka harus berhati - hati dengan hal itu, terlebih pangeran di hadapan mereka sudah menyandang status sebagai putra mahkota yang tak lain suatu saat nanti menggantikan posisi raja yang saat ini berkuasa. Hayam Wuruk.
Raden Jayakarsa mencicipi semua makanan itu, dan hasilnya tidak terjadi apapun. Justru dia dibuat terkejut dengan rasa masakan itu, begitu enak dan menggugah selera.
Raden Jayakarsa berdehem, “Silakan pangeran.”
“Wah, Kakang. Sepertinya kau sendiri juga menikmatinya bukan, ayo jangan malu - malu. Kita semua lapar, dan makanan ini enak. Aku yakin siapapun yang memasaknya benar - benar terampil.”
Raden Jayakarsa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanakan sepupunya itu. Sedangkan Wiyasa Bhadrika dan Ayu Larasati dan semua orang di sana hanya tersenyum.
Seluruh makan yang disajikan di atas meja, habis tak tersisa. Mereka mengakui jika itu adalah makanan terenak yang pernah mereka makan.
Mereka kira daging ternyata sayuran yang dibuat sedemikian rupa layaknya daging, ada juga makanan yang terlihat biasa saja tapi begitu dimakan justru sangat segar di mulut. Apa lagi semua masakan itu tersaji saat dalam keadaan mengepulkan uap panas.
Wikramawardhana bahkan tak malu menambah beberapa kali, begitupun dengan Raden Jayakarsa yang diam - diam juga begitu memuja makanan tersebut.
Hidangan utama lainnya seperti, Jukut Harsyam, sup bebek yang dimasak dengan pisang muda. Semuanya membentuk citarasa gurih segar.
Selain itu ada juga Ayam Kuning yang diracik dengan bumbu betutu tradisional Bali. Sebagai makanan pokok, ada Weas Paripurna, kombinasi nasi hitam, kuning, merah, dan putih yang harus disusun sesuai mata angin.
Dan tak lupa hidangan terakhir yaitu Srebad yang terbuat dari jahe, cengkeh, serai, kayu manis, secang, dan gula. Minuman ini berwarna merah kecokelatan dengan rasa manis dan hangat dan wajik dari beras ketan yang merupakan jajanan kuno Majapahit.
...***...
“Paman terima kasih atas jamuan makan malam ini, makan yang tadi aku makan sungguh benar - benar nikmat.” Ujar Wikramawardhana.
Kini semuanya tengah duduk santai menikmati minuman hangat yang disajikan dan semua peralatan makan sudah dibawa ke dapur karena mereka sudah selesai makan.
“Hamba merasa terhormat, karena bisa menjamu Yang mulia di kediaman hamba yang sederhana ini dan juga dengan makanan yang apa adanya.”
Wikramawardhana tergelak tawa mendengar ucapan rendah hati Wiyasa Bhadrika.
“Boleh aku bertanya, siapakah yang memaksa semua masakan itu Paman?”
Wiyasa Bhadrika lagi - lagi menoleh ke arah istrinya.
“Apakah bibi? Tapi bukankah bibi juga baru tiba bersama kami.”
“Memang bukan hamba Yang mulia pangeran.”
“Lalu siapa?”
“Itu adalah putri hamba, Yang mulia.”
Semua orang yang di sana mengeryitkan alisnya dan bersamaan menoleh ke arah sisi kiri Ayu Larasati. Di sana ada Utari yang tengah duduk.
Merasa diperhatikan, Utari menunduk malu - malu.
Sedangkan Ayu Larasati lagi - lagi tersenyum.
“Bukan putri hamba Utari Yang mulia Pangeran, melainkan putri hamba yang lainnya.”
“Siapa?”
“—tunggu sebentar, maksud bibi adalah Saraswati?”
“Benar Yang mulia Pangeran.”
Sontak semua orang di sana dibuat terkejut. Suara bisik - bisik terdengar di antara orang yang hadir di sana. Para pengawal, pelayan dan juga para pejabat lain.
Bagaimana tidak? Merek tahu betul jika putri kedua Wiyasa Bhadrika adalah seorang wanita yang buruk rupa, jarang terlihat keluar dari kediaman Wiyasa sendiri. Bahkan kabar terakhir dari yang mereka dengar, sang putri keduanya itu kini tengah kehilangan kewarasannya lalu bagaimana bisa orang yang menderita hal itu bisa menyajikan makanan seenak ini.
Beberapa pejabat tersebut miring, dari mereka yang hadir di sana memang tak semuanya menyukai Wiyasa Bhadrika yang begitu dekat dan dihormati oleh Wikramawardhana. Bahkan setelah salah seorang anaknya terpilih menjadi anggota keluarga kerajaan Majapahit.
Lihatlah, dalam hati mereka diam - diam menertawakan wajah pucat Wiyasa Bhadrika.
Mereka tahu betul, secara tidak langsung Wiyasa Bhadrika tengah menghina anggota keluarga kerajaan yaitu putra mahkota.
Dan semua orang tahu hukuman apa yang pantas mereka dapatkan, adalah hukuman mati.
Tapi berbeda dengan Ayu Larasati yang tampak biasa saja, wajahnya justru berseri - seri. Berbeda lagi dengan Utari yang sedari tadi nampak raut wajah berubah keruh, tangannya terkepal erat menahan amarah di dalam dadanya. Dia merasa dipermalukan oleh Saraswati.
Wanita sialan! Lihat apa yang akan aku lakukan nanti. Umpatnya dalam hati.
Sedangkan Raden Jayakarsa pun sama terkejutnya.
Wanita itu bisa memasak? Batin Raden Jayakarsa.
Wikramawardhana tertawa bahagia.
“Dan, di mana keberadaan saudari iparku sekarang itu bibi, mengapa dia tak ada di sini?”
“Ampun Yang mulia pangeran, hamba akan memanggilkan putri hamba ke sini.”
Pelayan yang mengerti ucapan majikannya itu, segera berlari menuju tempat di mana Saraswati atau Anin berada.
Anin lalu berpapasan dengan pelayanan tersebut. Ketiganya bergegas menuju ke sana, mereka tidak ingin membuat putra mahkota menunggu terlalu lama.
Kedatangan Anin di sana seketika menjadi pusat perhatian.
Bahkan tatapan memuja terpancar dari lawan jenisnya.
“Terimalah salam hormat hamba Yang mulia putra mahkota, maafkan atas keterlambatan hamba dalam memberikan hormat dan kedatangan hamba kehadapan Yang mulia putra mahkota.”
Anin bersimpuh di hadapan Wikramawardhana.
Begitupun dengan Ningrum.
“Aku terima sembahmu.”
“Kakanda, bolehkah aku memanggilmu begitu?”
Anin nampak terkejut mendengarnya.
Ternyata pria ini tahu sopan santun, patut diapresiasi karena kerendahan hatinya.
“Silakan Yang mulia, Yang mulia boleh memanggil hamba demikian.”
“Ya, aku akan memanggilmu Kakanda karena kau akan akan menikah dengan sepupuku ini bukan?” Wikramawardhana mencoba menggoda Raden Jayakarsa.
Semuanya orang berdehem dan ada pula yang tersenyum. Namun hal itu tidak berlaku untuk Utari yang mungkin kini kepalanya akan meledak karena amarahnya.
“Baiklah kakanda, apa benar kau yang memasak semua makanan yang tadi kami nikmati?”
“Benar Yang mulia, mohon maaf hamba menanyakan ini. Apakah makanan tadi tidak sesuai dengan selera Yang mulia? Jika ya, hamba memohon maaf” ujar Anin masih dalam posisi bersimpuh.
Lebih baik minta maaf deh, daripada leherku digorok. Tapi masa iya sih, gak enak? Soalnya si Ambar kalau aku masak bisa lupa diri, bisa nambah berapa kali dia. Ningrum juga, dari tadi muji - muji terus. Masa iya, gak enak?
“Kakanda,”
Suara Wikramawardhana membuyarkan lamunan Anin.
“Ya, Yang mulia.”
“Masakan tadi sungguh nikmat, terima kasih. Aku tidak menyangka jika kakak bisa memasak makanan seenak itu—” kemudian menoleh ke arah Kakak sepupunya, Raden Jayakarsa.
“—bahkan Kakang Jayakarsa sampai lupa diri, beberapa kali menambah nasi.” Tersenyum penuh arti.
Wiyasa Bhadrika dan beberapa pejabat di sana berdehem mendengar hal itu.
“—ah, bukan hanya Kakang Jayakarsa. Melainkan kami semua, termasuk aku.” Kemudian dia tertawa.
Jantung apa kabar? Tolong muka kondisikan Anin. Masa dipuji gitu aja kamu baper, astaga.
Anin semakin menundukkan kepalanya karena malu.
“Oh, Jagad Dewa Bathara. Maaf membuat kakak tersipu dengan pujianku, aku hanya mewakili Kakang Jayakarsa yang tak bisa seromantis itu memuji pasangannya. Buka. Begitu Kakang?” ujar Wikramawardhana menaik turunkan alisnya.
Semua orang di sana menyembunyikan senyum mereka.
Sedangkan Raden Jayakarsa sendiri hanya bisa menghela napasnya. Dia tahu ini akan terjadi. Mengingat sifat jahil adik sepupunya itu.
...***...
Malam semakin larut, semuanya telah kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.
Begitu pun dengan putra mahkota yang kini sudah tertidur nyenyak dengan perut kenyangnya.
Sedangkan Raden Jayakarsa diam - diam kini tengah mengamati sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang kini tengah berada di taman belakang.
Orang itu mencurigakan, Raden Jayakarsa mengikutinya.
Anin yang tak tahu dirinya tengah diikuti tetap berjalan menikmati semilir angin malam, langit cerah dengan hamparan bintang - bintang yang menghiasi kegelapan malam.
Mendengar seseorang datang, Raden Jayakarsa bersembunyi di balik pohon.
“Ndoro, ini sudah malam ayo masuk. Angin malam tak baik untuk kesehatan.”
Ningrum dengan napas terengah - engah menghampiri Anin. Sejak tadi dia mencari keberadaan majikannya itu. Barulah dia tahu, jika kebiasaan Anin pergi ke taman saat malam hari.
“Baiklah, baiklah, kau ini cerewet sekali seperti nenek - nenek.” Gurau Anin
“Ndoro,” wajah Ningrum bertekuk karena mendengar cibiran Anin.
Sedangkan Anin tergelak tawa melihat raut wajah pelayannya.
Keduanya berjalan kembali ke kamar, tapi berhenti saat Raden Jayakarsa menampakkan dirinya.
Keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat, tapi tak lama karena Ningrum segera menghaturkan salam hormat kepada Raden Jayakarsa.
“Bukankah ini sudah larut malam? Tidak baik bagi seorang wanita keluar di malam hari.”
“Saya hanya keluar di taman ini saja, lalu apakah itu juga tidak baik Raden?”
Anin berusaha tersenyum semanis mungkin. Meskipun sebenarnya dia ingin mengumpat kepada sosok yang ada dihadapannya.
“Aku hanya mengingatkan, Adinda.”
Pfft— apa katanya tadi, adinda? Telingaku gak salah dengar, kan?
“Terima kasih atas perhatian Raden, tapi seperti yang Raden lihat. Taman ini ada di dalam kediaman ayahanda ku, jadi tidak akan terjadi apa - apa. Lagi pula saya juga sudah terbiasa berjalan - jalan saat malam hari.”
“Begitukah?”
“Ya,” jawab Anin singkat.
“Musuh bisa berada di mana saja.”
“Itu benar, dan terkadang tanpa kita sadari musuh itu sendiri adalah orang yang dekat dengan kita. Kalau begitu saya mohon undur diri, Raden.”
Hati Anin seketika sakit. Sakit kala mengingat pemeran utama di novel ini mati karena hukuman yang dia terima dari suaminya atau pemeran utama pria yang tak lain adalah Raden Jayakarsa sendiri. Ditambah wajah pria itu mirip dengan dosen killer menyebalkan itu. Maka amarahnya berkali - kali lipat yang dia rasakan.
Menyebalkan.
Raden Jayakarsa hanya menatap kepergian wanita yang tak lain adalah calon istrinya.
Untuk pertama kalinya keduanya bertemu dan berbicara secara langsung.
Wanita itu, sejenak pipinya bersemu lalu dalam beberapa saat matanya berubah bagaikan api yang siap melahap apa saja yang ada dihadapannya.
Aku jelas -jelas melihatnya tadi, apakah dia marah kepadaku?
Raden Jayakarsa melangkahkan kakinya kembali berjalan ke arah kamarnya.
Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya melayang mengingat pertemuan pertamanya pada sosok wanita itu.
Masakan Anin yang membuatnya makan berkali - kali, parasnya yang menawan kala pertama kali dilihatnya.
Bagaimana ketika dia datang semua mata pria memandanginya.
Wajah ayu rupawan. Bibir mungil, kulit kuning langsat, rambut hitam bak pualam yang tergerai indah sepinggang, tubuh ramping dililit kain bercorak warna kalem serupa warna kulitnya. Alis rapi berjejer bak semut. Serta senyumnya yang memikat.
Sungguh berbeda dengan kabar burung yang beredar selama ini. Bahkan tutur katanya lembut tapi menyimpan ketegasan di dalamnya.
Seperti tadi ....
terkadang tanpa kita sadari musuh itu sendiri adalah orang yang dekat dengan kita
Begitu katanya.
“Sebenarnya apa yang dia bicarakan? Menyindirnya kah? Atau apa?” gumam Raden Jayakarsa.
Malam ini pikirannya tak berhenti memikirkan tentang Anin atau Saraswati calon istrinya itu.
...****...