REASONS FOR FALLING IN LOVE

REASONS FOR FALLING IN LOVE
RFFIL 2



...Update lagi nih!...


...Terima kasih buat vote, like dan love di part sebelumnya. ...


..._______...


...DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE ATAU MENYADUR CERITA INI!...


...CERITA INI HANYA FIKSI, JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH DAN TEMPAT HANYA KEBETULAN SEMATA....


...SEMUA YANG TERJADI DI DALAM CERITA INI MURNI KARANGAN PENULIS....


...______...


...SELAMAT MEMBACA!...


.......


.......


.......


.......


.......


...***...


“Anin, kamu udah baca belum novel ini. Ceritanya keren loh, setting-nya zaman zaman kerajaan tempo dulu gitu. Pakai setting zaman Kerajaan Majapahit kalau gak salah.”


Wanita yang dipanggil Anin tadi menoleh ke arahnya.


“Memangnya seru banget ya? Soalnya dari kemarin pada heboh gitu di grup, aku lihat si Sinta and the genk juga sampai pada gak berhenti berisik. Ngehalu.”


“He-em, seru. Sekaligus tragis gitu.”


“Kenapa?”


“Jadi, si protagonis wanita di cerita ini meninggal. Mati dihukum minum racun sama suaminya, karena difitnah gitu sama tokoh antagonis wanita yang merasa iri sama tokoh utama wanita.”


“Oh, tragis sekali.” Dengan bibir mencebik.


Ambar tahu betul apa maksud perkataan Anin. Sahabatnya ini memang begitu antipati terhadap makhluk berupa kaum Adam tadi. Entahlah, Ambar juga tidak tahu apa penyebabnya.


“Tapi seru loh, kamu coba deh, baca.”


“Gak ah, kan, tadi udah kamu kasih tahu.


“Ih, lebih seru kalau baca sendiri. Kami pasti ketagihan, aku saja sampai dua kali baca masih gak berasa bosan.”


“Yey! Giliran novel betah, tuh, tugas dari Pak Mahesa dikelarin.” cibir Anindya.


“Skip dulu deh, otakku mau meledak kalau sudah bahas tugas dari dia. Dosen killer, tapi aku tetap lope lope karena ganteng.” Ambar berkata dengan mata berbinar.


“Huh! Dasar.”


“Tapi, Nin. Kamu kok, biasa saja gitu?”


“Maksudnya?”Anindya mengerutkan kening tak mengerti.


“Iya, cewek cewek lain pada heboh atau mengagumi Pak Mahesa, meskipun killer tapi kamu biasa saja kalau lihat dia. Kamu normal, kan?”


Tuk!


Anindya memukul kepala Ambar dengan ujung busurnya.


“Sembarangan kalau ngomong. Gini, gini, aku masih doyan ya sama laki-laki.”


Ambar mengelus kepalanya sembari terkikik.


“Ya habisnya kamu_”


“Kalian mau terus mengobrol atau latihan, jika tidak tolong silakan menyingkir. Jangan menghalangi orang lain yang ingin berlatih atau kalian bersedia secara sukarela menjadi target latihan?”


Suara bariton menyela obrolan keduanya. Anindya dan Ambar langsung menoleh ke sumber suara.


Keduanya sedikit terkejut dengan kehadiran pria itu. Bagaimana tidak, pria itu adalah seseorang yang baru saja mereka libatkan dalam obrolan tadi. Wajah Ambar pucat, kerongkongannya bahkan tiba tiba saja kering.


Dalam hatinya berdoa, semoga dosen tadi tidak mendengarnya ketika menyebutnya sebagai dosen killer. Jika tidak, maka tamatlah riwayatnya. Membayangkannya saja membuat Ambar bergidik.


Sedangkan Anin. Biasanya saja, hanya sedikit terkejut karena kehadiran pria itu di tempat seperti ini.


Anindya tahu betul apa maksud kata terakhir tadi.


Nih, orang datang datang malah bikin kesel. Mana gak sopan menyela obrolan orang lain tanpa permisi.


Berbeda dengan Anindya yang menampilkan wajah datar, wajah Ambar sedikit memucat.


“Ma-maaf, Pak. Ka-kami gak tahu, kalau bapak mau pakai lapangan yang sebelah sini.” Ambar tergagap ketika menjelaskan pada pria di depannya, “Ka-kalau gitu, kami permisi dulu Pak.” Ambar menarik tangan Anindya, mengajaknya pergi dari sana.


Tapi Anindya menahannya. Seketika langkah Ambar terhenti.


“Tanpa bermaksud tidak sopan, tempat latihan ini kami berdua yang lebih dulu datang. Bukankah di sebelah sana masih ada yang kosong.” Ujarnya tanpa ragu menunjuk ke arah belakang pria itu.


“Tapi kalian tidak latihan.”


“Siapa bilang?”


“Saya melihat kalian_”


“Anda hanya melihat ketika kami sedang istirahat, setelah beberapa kali pemanasan.”


“Anda?” Alis mata Mahesa terangkat sebelah.


“Ya?”


“Bukankah kata itu sangat kurang sopan mengingat saya adalah dosen kamu di kampus.” Mahesa berkata dengan suara tegas dan wajah dingin, penuh dengan pandangan intimidasi.


Ambar berkeringat dingin melihat pemandangan itu. Berbeda dengan Anindya yang menampilkan wajah biasa saja.


“Di kampus, kan, bukan sini karena di sini anda bukan siapa siapa. Lagi pula anda dulu yang memulai semuanya, jika memang anda dosen. Bukankah seharusnya anda tidak asal bicara dan menilai sembarangan.”


Setelah mengatakan hal itu Anindya menarik tangan Ambar tanpa menunggu balasan dari pria itu dan kembali fokus berlatih.


Mahesa Ardi Langga menatap kepergian keduanya. Matanya menatap tajam ke arah kedua wanita itu, lebih tepatnya ke arah Anindya. Ini kali pertama baginya ada seseorang yang mentahkan segala ucapannya, bahkan berkata jika dirinya bukan siapa siapa.


Seperti kata Ambar, jika dirinya memang dikenal sebagai dosen killer diantara dosen dosen lainnya. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti kelasnya begitu sungkan atau takut karena sikap disiplinnya. Mahesa bahkan tak segan memberikan nilai E bagi mahasiswa atau mahasiswi yang tidak mengerjakan tugasnya.


Kakinya berjalan ke arah selatan, tempat kosong untuk latihan memanah. Tepat sejajar dengan Anindya.


Dari awal masuk sebagai dosen pengganti, Mahesa sudah mengamati wanita itu. Wajahnya biasanya saja. Tidak terlalu cantik. Tidak juga buruk rupa. Rambut hitam panjang, tubuhnya proposional. Mungkin sekitar 165 cm. Dengan berat badan pas. Dan ya, lekuk tubuh yang pas pula. Mahesa baru melihatnya hari ini. Baik, mungkin penjelasan ini lebih baik dilewatkan saja.


Saat Mahesa mengambil ancang-ancang melesatkan anak panahnya, ekor matanya masih bisa mengamati gerak gerik Anindya yang tengah membetulkan bracer¹ miliknya.


Jleb!


Arrow² yang ditembakkan miliknya sangat tepat sasaran seperti biasa.


Mahesa dapat melihat dengan ekor matanya, jika di ujung sana beberapa wanita berkumpul melihat ke arahnya. Bahkan terdengar suara sorakan dan cekikikan dari mereka. Berbeda dengan Anindya dan Ambar yang memang tengah fokus.


Jleb!


Jleb!


Arrow milik Ambar berhasil menembakkan bagian luar lingkar, sedangkan milik Anindya sama seperti Mahesa. Tepat berada di bagian dalam lingkaran. Keduanya kemudian ber-tos ria dan mengambil Arrow mereka dari target.


Mahesa melihat hal itu. Kini dia merasa bersalah karena berkata dengan sembarangan.


“Menarik.”


Bibirnya kemudian tersungging senyuman, matanya memandangi punggung Anindya yang kini berjalan keluar dari lapangan latihan hingga menghilang dari sana.


...****...


CATATAN KAKI :


¹ Bracer : pelindung dada


² Arrow : Anak panah


.......


.......


.......


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa vote, like, love, ataupun komentar....


...Sampai jumpa di part selanjutnya....