Powerman

Powerman
Ke Kota



Panen jagung telah selesai. Setelah panen jagung selesai, Jarso akan menanam jagung kembali. Sebelum menanam jagung, ladang harus dibajak terlebih dahulu. Jarso tidak memiliki traktor. Oleh karena itu, ia akan membayar orang untuk membajak ladangnya.


"Saya akan membeli traktor. Jadi, Bapak tidak perlu menyewa traktor untuk membajak ladang," kata Ari.


"Memangnya Mas Ari punya uang?" tanya Jarso.


"Punya."


"Ya sudah kalau begitu. Kapan Mas Ari akan membeli traktor?"


"Besok."


Malam telah berganti menjadi pagi. Pagi ini, Ari akan berangkat ke kota untuk membeli traktor.


"Mas Ari mau ke kota?" tanya Dinda ketika mereka sedang sarapan.


"Iya. Kamu mau ikut?"


"Boleh."


Selesai sarapan, mereka segera berangkat ke kota naik motor. Satu jam setengah kemudian, mereka telah sampai ke kota. Mereka segera ke toko alat pertanian untuk membeli traktor.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko dengan ramah.


"Saya mau membeli traktor," jawab Ari.


"Mau beli traktor jenis apa?"


"Boleh saya lihat-lihat dulu?"


"Boleh. Ini brosurnya," kata pelayan sambil memberikan brosur.


Ari dan Dinda melihat-lihat brosur itu. Di dalam brosur, terdapat berbagai macam jenis merek traktor.


"Mas, apa nggak kemahalan beli traktor jenis ini?" tanya Dinda.


"Kamu mau yang seperti apa?"


"Aku mau handtraktor aja, lebih murah."


"Oh, yang seperti ini, ya?" tanya Ari sambil menunjuk sebuah gambar handtraktor.


"Iya."


"Kalau pakai traktor ini, kita mudah capek. Jadi, kita beli traktor yang ini saja. Mbak, saya mau membeli yang ini saja," kata Ari kepada pelayan toko seraya menunjuk gambar traktor berwarna hijau.


"Baik."


Ari segera melakukan pembayaran. Setalah melakukan pembayaran, Ari dan Dinda berbelanja di mall. Ari membelikan Dinda beberapa pakaian. Ari juga membeli beberapa kue untuk oleh-oleh.


Profesor Haris mengerahkan pesawat SC 17 untuk menyerang kota. Pesawat itu membombardir kota. Setelah kota dibombardir, profesor Haris mengerahkan tentaranya untuk menyerang kota.


Baku tembakpun terjadi antara tentara profesor Haris dengan tentara Indonesia.


Selain mengerahkan tentara, profesor Haris juga mengerahkan robot-robot canggih utuk menyerang kota.


"Treeetteeeettt.... teeetttt... teeeeetttt....!" Para robot menembaki para tentara Indonesia.


"Ada robot yang menyerang kita!" Teriak sersan Narto.


"Treeteeetttt.... treeeteeeeetttt... teeettt... teeettt....!" Sersan Narto menembaki robot itu. Namun, robot itu terbuat dari baja anti peluru sehingga tidak bisa ditembus oleh peluru.


Tentara profesor Haris berhasil memukul mundur tentara Indonesia. Sekarang, kota Jakarta telah dikuasai oleh profesor Haris.


Di rumah Jarso, Ari berpamitan kepada Jarso untuk pergi ke Jakarta.


"Pak, saya mau ke Jakarta," ujar Ari.


"Ada keperluan apa Mas Ari ke Jakarta?" tanya Jarso.


"Saya akan membebaskan kota Jakarta dari profesor Haris."


"Tapi, kekuatan mas Ari sekarang sudah berkurang."


"Kekuatan saya sudah pulih."


"Syukurlah. Semoga Mas Ari berhasil merebut kota Jakarta dari profesor Haris."


"Ya. Saya pergi dulu," pamit Ari sambil menyalami Jarso, Trinah dan Dinda.


"Hati-hati, Mas," kata Dinda.


"Ya."


Setelah bersalaman, Ari berjalan keluar rumah, lalu terbang menuju kota Jakarta.


Setengah jam kemudian, Ari telah berada di kota Jakarta. Ia langsung menuju istana presiden. Menurut informasi dari media, profesor Haris berada di istana.


Istana itu dijaga oleh para tentara dan para robot.


Ari yang telah berubah menjadi Powerman, mendekati tentara yang sedang berjaga.


"Ada apa?" tanya seorang tentara.


"Aku mau menemui profesor Haris," jawab Powerman.


"Tidak bisa. Cepat menjauh dari sini atau aku akan menembakmu!" ancam tentara itu.