Powerman

Powerman
Mengalahkan Para Perompak



Powerman sama sekali tidak terlihat takut dengan todongan pistol pimpinan perompak itu. Sebaliknya, ia tampak tenang dan percaya diri. Pimpinan perompak itu heran dengan sikap Powerman. Biasanya, orang yang ia todong akan merasa sangat ketakutan dan memohon agar tidak ditembak. Namun, Powerman tampak tidak takut sedikitpun. 'Apakah ia kebal peluru?' tanya pimpinan perompak itu di dalam hati. Tapi, meskipun Powerman kebal peluru, pimipinan perompak itu tidak khawatir karena peluru pistolnya bukan peluru sembarangan. Peluru pistolnya adalah peluru yang memiliki kekuatan supranatural. Bahkan, peluru itu juga memiliki nama, yaitu peluru 'Setan Naga'.


Manusia sekebal apapun, pasti akan mati jika tertembak peluru itu. Dan itu bukan isapan jempol belaka. Beberapa tahun yang lalu, ia pernah terlibat masalah dengan pimpinan mavia. Mavia itu kebal peluru dan senjata tajam. Pimpinan perompak itu mencari cara agar bisa membunuh pimpinan mavia itu. Temannya menyarankan agar ia meminta bantuan seorang ahli bela diri untuk mengalahkan pimpinan perompak itu. Pimpinan perompak itupun menemui orang itu di sebuah desa terpencil. Orang itu bersedia membantunya asalkan pimpinan perompak itu sanggup membayar harganya. Pimpinan itu menyetujui harga yang ditawarkan orang sakti itu.


Orang hebat itu memberinya sepuluh butir peluru 'Setan Naga' kepada pimpinan perompak itu dengan harga satu milyar rupiah.


Setelah mendapatkan peluru - peluru itu, pimpinan perompak itu membunuh pimpinan mavia hanya dengan satu tembakan. Ia yakin, orang yang beridiri dengan sombong di hadapnnya, juga akan mengalami nasib yang sama.


"Bagaimana kau akan menghajarku? Aku punya pistol. Sedangkan kau tidak. Sepertinya kau tidak takut dengan pistolku. Apakah kau kebal peluru?"


"Kau akan tahu setelah kau menembakku," jawab Powerman.


"Jadi, kau memang kebal peluru. Tapi, peluruku adalah peluru yang terbuat dari emas dan memiliki kekuatan magis sehingga mampu menembus kulit manusia sekebal apapun," kata pimpinan perompak itu, lalu menarik pelatuk pistolnya.


"Dooorrr...!" Terdengar letusan keras begitu pelatuk pistol ditarik.


Powerman roboh seketika.


"Ternyata kau hanya menakutiku saja," ujar pimpinan perompak itu, lalu menyelipkan pistolnya di pinggang. " Buang mayatnya," perintahnya kepada anak buahnya.


Empat orang anak buahnya mendekati mayat Powerman. Namun, tiba-tiba Powerman berdiri dan menyerang mereka.


"Buuukkk....! Buuukkk...!" Pewerman memukul dan menendang mereka. Para perompak itu terpental terkena pukulan dan tendangan Powerman. Para perompak itupun pingsan.


Pimpinan perompak terkejut. Ia segera menembak Powerman dengan senjata otomatis.


"Treeet... teeet... teeeet....!" Senjata pimpinan perompak memumantahakan peluru. Peluru-peluru itu menghujani tubuh Powerman. Namun, peluru-peluru itu tidak bisa melubangi tubuh Powerman. Peluru-peluru itu terpantul ke berbagai arah. Terjadi percikan api ketika peluru-peluru itu mengenai tubuh Powerman karena tubuh Powerman sangat keras bagaikan baja.


Pimpinan itu terus menembak Powerman hingga pelurunya habis. Ia mencabut pistolnya dan menembak Powerman. Namun, pistolnya tidak mampu membunuh Powerman.


Powerman maju mendekati pimpinan perompak itu dan... "Duuuakkk...!" Sebuah pukulan mendarat di kepala pimpinan perompak itu. Pimpinan perompak itu roboh dan tidak sadarkan diri.


"Treeet... teeet... teeet....! Treet... teeet...!" Para perompak menghujani Powerman dengan tembakan.


Powerman meluncur ke arah para perompak itu dan melumpuhkan mereka satu persatu hingga mereka terkapar tidak sadarkan diri.


"Kalian amankan mereka," kata Powerman kepada para penumpang.


Para penumpang segera mengikat mereka, lalu menghubungi polisi.


"Terimakasih, Powerman," kata salah satu penumpang.


Beberapa orang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka mengambil foto Powerman.


"Boleh kita foto selfi?" tanya gadis itu malu-malu.


"Boleh."


Gadis itu berdiri di samping Powerman, lalau menghadapkan kamera HPnya ke wajah mereka.


"Cekrek." Gadis itu telah mengambil foto.


Ia melihat hasilnya jepretannya sejenak. Ia tersenyum puas melihat hasil jepretannya.


"Kenalkan, aku Jessica," kata gadis itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


"Powerman," kata Powerman sambil menyambut uluran tangan Jessica.


"Bagaimana kalau kita makan siang bareng?" tanya Jessica.


"Maaf, aku tidak bisa. Aku harus segera pergi. Mungkin lain kali," tolak Powerman.


"Boleh minta nomor HPmu?"


"Maaf aku tidak bisa memberikan nomor HPku. Aku harus pergi," kata Powerman, lalu melangkah keluar kapal.


Setelah berada di luar kapal, Powerman terbang menuju rumahnya.


Di Planet Osarus, berjarak tiga ribu tahun cahaya dari bumi, Nefix sedang melalukan rapat dengan para menteri. Nefix adalah pimpinan tertinggi di planet Osarus.


Planet Osarus dihuni oleh bangsa alien dengan rupa yang menyeramkan. Kulit wajah mereka tebal dan berkerut. Mulut mereka seperti mulut belalang.


"Bumi adalah target kita selanjutnya setelah planet Vilan kita hancurkan," kata Nefix. "Dofsat, siapkan pasukan untuk menyerang Bumi," perintah Nefix.


"Baik, Yang Mulia," jawab Dofsat.


Beberapa hari kemudian, ratusan pesawat alien meluncur menuju bumi dengan kecepatan cahaya.


Di Bumi, profesor Haris sedang berada di tempat tersembunyi. Ia berada di ruang pembuatan senjata. Di ruangan itu, terdapat sebuah rudal dengan panjang 2 meter dan sebesar pohon kelapa.


"Apakah pembuatan senjatanya sudah selesai?" tanya profesor Haris kepada Budi.


"Sudah tujuh puluh persen, Pak," jawab Budi.


"Bagus. Dengan senjata itu, aku akan menguasai dunia," kata profesor Haris senang.