
Powerman tidak mempedulikan ancaman tentara itu. Ia melangkah menerobos masuk. Dua orang tentara yang berjaga di pintu memegang lengan powerman untuk menahan Powerman.
"Buukk...! Buuukkk...!" Powerman memukul kedua tentara itu. Kedua tentara itu roboh dan pingsan.
"Treeetttt... teeett... teeettt...!" Seorang tentara langsung menghujani Powerman dengan peluru begitu meihat kedua temannya pingsan.
Powerman yang kebal peluru, langsung menyerang tentara itu.
"Buuukkk...!" Powerman memukul kepala tentara itu dengan tendangan memutar. Tentara itu terpental dan pingsan.
Powerman bergerak memasuki istana di bawah hujan peluru dari para tentara penjaga istana.
Menyadari bahwa Powerman tidak bisa dibunuh dengan peluru, komandan pasukan mengerahkan para robot untuk menghadang powerman.
"Treetteeettt... teeetttt...teeettt...!" Para robot itu menembaki Powerman.
"Whuuussss....!" Kedua mata Powerman menembakkan sinar laser merah ke arah robot-robot itu.
"BLAAAMMM...! BLAAMMM...!" Robot-robot itu meledak terkena tembakan laser Powerman.
Powerman berhasil menembus pertahanan istana. Ia telah berada di dalam istana. Di istana, profesor Haris sedang duduk di kursi dengan santai.
"Powerman, akhirnya kita bertemu," kata profesor Haris, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku?" tanya profesor Haris, lalu meyerang Powerman dengan jurus sinar hijau. Sebuah bola cahaya meluncur dengan cepat dari tangan profesor Haris.
"Duaaaarrrr....!" Bola cahaya itu menghantam dada Pwerman dan menimbulkan ledakan.
Powerman terpental dan membentur dinding hingga jebol.
Powerman segera bangkit. Namun, baru saja dia berdiri, sebuah tendangan mendarat di dada Powerman. Powerman kembali terpental dan menembus beberapa dinding hingga terlempar ke luar istana.
Profesor Haris menyusul Powerman dan menginjak dada Powerman.
"Sebaiknya kau menyerah. Bergabunglah denganku. Aku akan memberimu kedudukan yang tinggi," tawar profesor Haris.
"Tawaran bagus. Tapi, aku tidak tertarik," jawab Powerman, lalu menembakkan sinar laser dari kedua matanya ke kepala profesor Haris.
"DUAAARRRR....! Terjadi ledakan ketika sinar laser itu mengenai kepala profesor Haris. Profesor Haris terpental ke belakang.
Profesor melompat ke udara menghindari tembakan Powerman.
"BLAAARRR...!" Jurus cahaya biru Powerman mengenai gedung menimbulkan ledakan.
Dari udara, profesor Haris menembakkan sinar putih dari tangannya. Powerman menangkis dengan jurus sinar hijau. Sebuah sinar hijau memancar dari tangan Powerman. Kedua jurus itu saling bertemu dan beradu kekuatan.
Profesor Haris tidak mampu menahan sinar hijau Powerman yang memiliki kekuatan dua kali lipat dari kekuatan jurus sinarnya.
"DUAAARRR...!" Jurus sinar hijau Powerman menghantam tubuh profesor Haris yang membuat tubuhnya meledak.
Powerman menarik nafas lega. Ia segera masuk ke dalam istana. Di dalam istana, ia melihat profesor Budi, tangan kanannya profesor Haris.
"Di mana senjata pemusnah masal itu?" tanya Powerman.
"Aku tidak tahu," jawab profesor Budi berbohong.
Powerman memegang tangan profesor Budi dan memelintirnya ke belakang.
"Aku akan mematahkan tanganmu jika kau tidak mau mengatakan di mana senjata itu," ancam Powerman sambil menekan tangan profesor Budi ke atas.
"Aaaa...!" teriak Budi kesakitan. "Baik. Aku akan mengatakannya. Senjata itu ada di ruangan rahasia di dasar samudra Atlantik," jawab Budi.
"Kita akan pergi ke sana. Kau akan menjadi penunjuk jalan," kata Powerman.
Powerman membawa profesor Budi ke luar istana. Sesampainya di luar istana, Powerman meminta profesor Budi naik di punggunnya. Ia berjongkok agar ia bisa menggendong profesor Budi.
"Kau akan menggendongku?" tanya profesor Budi ragu.
"Ya."
"Aku punya ide yang lebih baik. Bagaimana kalau kita naik helikopter saja?"
"Ide bagus."
Mereka berjalan menuju helikopter yang terparkir di halaman belakang istana.