
"Sebaiknya mas Ari tinggal di rumah saya saja," kata Jarso.
"Apa tidak merepotkan Bapak?" tanya Ari.
"Sama sekali tidak. Saya malah senang kalau mas Ari mau tinggal di rumah saya."
"Terimakasih, Pak."
Sekarang, Ari tinggal di rumah Jarso. Ia membantu Jarso bercocok tanam.
Pagi ini, Jarso, isteri, anaknya dan Ari pergi ke ladang. Hari ini mereka akan memanen jagung.
Mereka telah tiba di ladang. Di ladang, tampak pohon-pohon jagung berwarna coklat karena telah mengering yang menandakan bahwa jagung siap dipanen.
"Cara memanennya bagaimana, Pak?" tanya Ari kepada Jarso.
"Caranya tongkol jagung dipetik dulu. Kemudian di kupas seperti ini," kata Jarso seraya memperagakan cara memetik tongkol jagung. "Tongkol yang sudah dikupas dimasukkan ke dalam karung," lanjutnya.
Ari mengambil sebuah karung, lalu mulai memetik buah jagung.
Ari bekerja dengan sangat cepat. Hanya dalam waktu satu jam, ia sudah mendapatkan satu karung. Sedangkan Jarso, baru mendapatkan sperempat karung. Padahal, Jarso sudah sangat mahir memetik jagung.
Lima meter di depan Ari, Ari melihat Dinda, putri Jarso, yang sedang memetik jagung. Ari mempercepat pekerjaannya agar bisa menyusul Dinda. Sepuluh menit kemudian, Ari berhasil menyusul Dinda.
"Mas Ari cepet banget metik jagungnya," kata Dinda sambil memetik jagung.
"Iya. Biar cepet nyusul kamu," seloroh Ari.
"Ih, mas Ari bisa aja. Memangnya kenapa mas Ari pengin cepet nyusul Dinda?"
"Biar bisa ngobrol sama kamu." Wajah Dinda merona.
"Mas Ari nggak capek?"
"Enggak."
"Mas Ari, ayo kita istirahat dulu!" terdengar suara Trinah, ibu Dinda, memanggil Ari.
"Iya, Bu," jawab Ari.
"Mas, ayo kita istirahat dulu," ajak Dinda.
"Ayo."
Mereka segera berjalan menuju pohon gamal. Mereka akan beristirahat di bawah pohon itu. Jarso dan Trinah telah lebih dulu duduk bawah pohon itu. Mereka duduk di tanah tanpa alas.
"Minum dulu, Mas," kata Jarso.
Trinah menuangkan kopi dari dalam tremos ke dalam gelas. Lalu, menyuguhkannya kepada suaminya dan Ari.
"Sialahkan diminum kopinya," kata Jarso.
Ari meraih gelas di depannya dan menyeruputnya sedikit. Panas.
"Ini kuenya," kata Trinah seraya menyuguhkan baskom berisi kue-kue basah.
"Kamu nggak capek, Mas?" tanya Jarso.
"Enggak, Pak," jawab Ari seraya mencomot kue paes.
"Mas Ari 'kan manusia super. Jadi, dia nggak capek meski bekerja berat," tukas Dinda.
"Oh, iya. Dia 'kan manusia super. He... he...," kekeh Jarso.
"Mas Ari kenapa bisa sampai ke bumi?" tanya Trinah seraya membuka pembungkus kue paes yang terbuat dari daun pisang.
"Ceritanya panjang," kata Ari. "Planet saya dihancurkan oleh alien dari planet Osarus. Saya berhasil menyelamatkan diri dari serangan itu, lalu tinggal di bumi."
"Kenapa alien ingin menghancurkan planet Mas Ari?" tanya Dinda.
"Itu memang sudah menjadi pekerjaan mereka, menghancurkan setiap planet berpenghuni."
"Apakah Mas Ari tau siapa yang menghancurkan pesawat induk alien?" tanya Trinah.
"Saya tidak tahu."
Tanpa terasa satu jam telah berlalu. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
"Mas Ari kalau capek, istirahat saja dulu. Tidak usah dipaksakan," kata Jarso.
"Saya masih kuat, Pak," ujar Ari, lalu beranjak dari duduknya. Ari berjalan masuk ke ladang jagung untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia bekerja di dekat Dinda.
"Mas, apakah Ari itu nama asli mas Ari?" tanya Dinda sambil mengupas jagung.
"Bukan. Nama asliku adalah Nerfa."
"Apakah keluarga mas juga selamat dalam penyerangan itu?"
"Aku tidak memiliki keluarga. Kedua orang tuaku bercerai ketika aku masih balita. Aku dititipkan di panti asuhan."
"Selain Mas Ari, apakah penduduk planet Vilan tidak ada yang selamat?"
"Tidak ada. Semua penduduk planet Vilan telah dimusnahkan."