
\=\=\=\=\=EPISODE 8\=\=\=\=\=
Nick membuka pintu apartemennya dan tak di duga pintu nomor 140 juga terbuka. Ia melihat seorang wanita keluar dari balik pintu itu sambil tersenyum ke arah Nick. Nick terkejut karena wanita itu adalah seseorang yang pernah membuat hari-harinya begitu hancur.
“ Hai Nick. Apa kabar?” Sapa wanita itu.
“ O anda rupanya.” Gumam Nick.
“Kenapa? Sepertinya kamu tidak senang.”
“Saya tidak terlalu suka basa-basi. Apa yang anda lakukan disini?”
“Aku baru pindah ke sini. Aku dengar pemandangan di sini lumayan bagus. Btw kenapa bicaramu formal sekali?”
“Saya hanya berbicara sopan saja kepada tetangga baru. Ehmm kalau begitu saya ucapkan selamat atas apartemen baru anda.” Nick meninggalkan Kirana.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini...Kita lihat saja nanti.” Gumam Kirana.
Nick masuk ke dalam mobil sport merahnya. Ia terdiam sejenak di dalam mobil.
Kenapa dia kembali? Batin Nick sambil menggebrak kemudi mobilnya.
Nick segera menyalakan mesin mobil dan berlalu pergi meninggalkan parkiran apartemen. Tiga puluh menit kemudian Nick sampai di kantornya. Ia memarkirkan mobil dan langsung turun dari mobil menuju lift untuk ke lantai 3.
“Bos Nick!” Sapa Putra ketika ia melihat Nick keluar dari pintu lift.
“Oh. Bro.” Jawab Nick.
Putra berjalan mendekati Nick.
“Bos jangan lupa hari ini rapat untuk menentukan siapa staf baru kita.”
“Oke. Aku tak lupa.” Nick meninggalkan Putra untuk memasuki ruangannya.
“Ada apa dengannya hari ini. Tidak seperti biasanya.” Gumam Putra.
------Di ruang rapat------
“Astaga kandidat nomor 2 lumayan. Bagaimana menurut kalian?” Tanya Putra.
“ Yes. Aku juga setuju. Cucok . Ini juga kandidat nomor 5 juga bagus. Aku memilihnya juga.”
“ Oke. Kandidat 2 dan 5 memang bagus dan sesuai dengan kriteria kita. Bagaimana Bos Nick?” Tanya Gina.
Nick tidak merespon pertanyaan Gina. Nick masih fokus dengan portofolio milik Naya. Putra dan Mr. Rain melihat ke arah Nick.
“Bos. Bagaimana dengan kandidat nomor 6? ” Tanya Gina dengan nada yang sedikit tinggi.
Nick terkejut.” Oh . Aku setuju.” Nick melihat kearah Gina, Mr. Rain dan Putra.
“Kau setuju dengan kandidat nomor 6?” Tanya Gina untuk memastikan.
“Apa nomor 6? Naya? Hahaha aku tidak setuju.” Nick menghempaskan portofolio milik Naya ke atas meja.
“Tadi bilang setuju, sekarang kok berubah lagi Bos.” Ucap Putra.
“Tadi aku bilang setuju dengan kandidat nomor berapa...2 dan...”
“Enam bos.” Sambung Mr. Rain
“Aihhh bukan. Ehmm 2 dan ... Haaaa 5. Aku setuju dengan kandidat 2 dan 5.”
“ Astaga. Tadi Bos melihat portofolio milik kandidat nomor 6 lama sekali.” Gumam Mr. Rain.
“ Hah aku menolaknya.”
“Tapi kami memilih kandidat nomor 6 Bos. 3 lawan 1.” Ucap Gina
“Aihhhh. Baiklah aku mengalah.” Nick melipat kedua tangannya di depan dadanya.
***
Seorang pria sedang menyiapkan hidangan untuk para tamu yang datang ke restorannya. Ia seorang Chef profesional yang handal dalam urusan memasak. Selain menjadi seorang Chef, ia juga merangkap sebagai pemilik restoran yang ia beri nama Food N Dav.
Ting ting .
“Pesanan siap.”
Seorang pelayan mengambil hidangan yang telah siap untuk disajikan kepada tamu. Ia berjalan ke meja nomor 2 dan meletakkan hidangan yang dipesan oleh tamu tersebut.
“Selamat menikmati Nyonya.” Ucap pelayan
“Terima kasih.” Jawab Nyonya itu.
Di meja lain sepasang suami dan istri sedang menikmati hidangan yang di sajikan.
“Ini sangat enak.” Ucap sang suami.
“Ya. Aku setuju.” Ucap sang istri.
“Pelayan?” Panggil sang suami kepada seorang pelayan.
“Ada yang bisa di bantu tuan.”
“Siapa chef yang memasak hidangan ini?”
“Chef Dava. Tuan.”
“Saya ingin bertemu dengan Chef Dava sekarang.”
“Tentu tuan. Akan saya panggilkan . Mohon tunggu sebentar.”
Pelayan itu segera menghampiri Chef Dava yang berada di dapur.
“Ya. Ada apa?”
“Ada tamu di meja nomor 6 yang ingin bertemu dengan Chef?”
“Dengan saya? Oh baiklah saya akan segera kesana.”
“Baik Chef.”
Dava berjalan meninggalkan dapur menuju meja nomor 3.
“Selamat pagi tuan dan nyonya.” Sapa Dava.
“Pagi. Oh Chef Dava ya. Saya sangat menikmati hidangan yang anda buat hari ini. Sungguh-sungguh lezat sekali. Istri saya juga sangat menikmatinya.”
“Ya memang sangat lezat. Saya sangat menyukai menu ini.” Ucap sang istri.
“ Terima kasih tuan dan nyonya atas sanjungannya. Jika ada hidangan yang kurang sesuai dengan selera tuan dan nyonya, bisa bilang kepada saya.”
“Tidak ada yang kurang. Saya sangat puas. Lain kali saya akan datang kesini membawa kolega-kolega saya.” Ucap sang suami.
“Saya akan menghidangkan menu yang terbaik di restoran ini untuk para tamu saya. Silahkan tuan dan nyonya menikmati kembali hidangannya. Saya permisi dulu.” Dava tersenyum kepada tamunya .
***
Naya masih berada di depan komputernya. Ia melihat ke layar komputernya dengan tatapan berharap. Ia menunggu pemberitahuan dari N-SON lewat emailnya.
“Ayolah.” Gumam Naya.
“ Naya. Cepat turun bantu ibu.” Panggil Ibu Nur.
“Tunggu sebentar bu, nanti Naya turun kok .Lagi tunggu sesuatu ini.” Jawab Nara.
Tiba-tiba satu pesan masuk ke email Naya. Naya segera mengklik pesan itu.
Kepada yang terhormat Nayara Gunadhya.
Selamat anda telah lolos seleksi wawancara dan dinyatakan diterima menjadi staf di N-SON Agency.
Sekian pemberitahuan dari kami. Terima kasih atas perhatian.
Smartphone milik Naya berbunyi tanda panggilan masuk.
“Halo.”
“Halo. Selamat siang. Kami dari N-SON Agency. Apakah benar ini dengan Nona Nayara Gunadhya?”
“Benar ini dengan saya sendiri.”
“Apakah anda sudah membaca email dari kami?”
“Saya sudah membacanya.”
“Kami mengucapkan selamat kepada anda atas diterimanya menjadi staf kami.”
“Terima kasih mbak.”
“Anda bisa mulai bekerja besok jam 8 pagi. Apakah anda telah siap?”
“Oh tentu saya siap. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya.”
“Sama-sama nona Naya. Kalau begitu kami tunggu kedatangannya besok . Terima kasih.”
“Baik mbak.” Nara menutup teleponnya.
“YEEEEEEEEEEEEE.” Teriak Naya keluar dari kamarnya sambil loncat-loncat kegirangan.
“ Hei kak. Kau kenapa? Kayak cacing kepanasan saja. Lagian sudah tua juga.” Tanya Nando
Naya menghentikan tingkahnya yang konyol. “ Apa masalah buat lo? Mau cacing kepanasan mau orang gila, terserah. Yang penting aku bahagia. Lagian kenapa kamu masih ada di sini. Bolos kuliah?”
“Memang masalah buat lo? Aku mau berangkat mau tidur terserah aku.” Jawab Nando.
“Dasar...” Gumam Naya.
“Naya. Kenapa kamu teriak-teriak sih. Kedengeran dari bawah.” Ibu Nur naik ke lantai atas sambil membawa satu tas berisi rantang dan botol minum.
“Ibu. Aku akan bekerja mulai besok.” Terang Naya kepada ibunya dengan wajah yang berbinar-binar.
“Selamat untuk putri ibu ini. Sekarang bantu ibu mengantar bekal ini kepada kakakmu sekarang.”
“Ibuuuu. Kan ada Nando. Lagian dia libur kok.”
“Kata siapa aku libur. Aku berangkat siang.”
“Itu adik kamu bentar lagi berangkat. Kamu yang antarkan ya Nay.” Pinta Ibu Nur.
“Hah. Baik ibuku sayang. Naya akan mengantarkan bekal ini.”
“Anak baik. Ibu turun dulu. Jangan lupa diantar ya.”
“Siap ibu.”
Baru saja bahagia. Eeeee malah disuruh anterin bekal buat Kak Nadine. Batin Naya
Naya menatap Nando. Nando yang tahu kalau Naya menatapnya langsung menjulurkan lidahnya dan kemudian masuk ke kamarnya. Naya gemas dengan tingkah adiknya yang kekanak-kanakan.
Bersambung.........^^
Salam Melankolis