
\=\=\=\=\=\=EPISODE 4\=\=\=\=\=
Mobil sport merah melaju di jalanan ibu kota. Nick menikmati hembusan angin yang menerpa wajah tampannya. Selesai mengisi perut, Nick berkeliling kota untuk menghilangkan beban pikirannya. Nick selalu mengingat wajah wanita yang membuatnya sial hari ini.
“Ah kenapa memikirkan dia lagi?” Seru Nick.
Tiba-tiba Nick melihat sesosok wanita di pinggir jalan yang dikiranya hantu. Nick kaget dan segera menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan. Nick memberanikan diri untuk melihatnya lagi. Ketika dilihat lebih detail ternyata sesosok wanita yang dikiranya hantu itu memiliki kaki. Nick lega karena ia tidak melihat hantu sungguhan.
Ah pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku kira hantu ternyata wanita itu. Kebetulan sekali. Batin Nick.
Wanita yang dilihat Nick adalah Naya. Nick melihat apa yang dilakukan Naya. Naya berdiri terpaku sambil melihat sesuatu di seberang jalan. Nick yang ingin tahu apa yang terjadi , juga melihat ke seberang jalan. Nick melihat sepasang wanita dan pria sedang asyik berciuman.
“Apakah pria yang di seberang itu adalah kekasih wanita itu?” Gumam Nick di dalam mobil.
Naya yang sudah di khianati oleh teman dan pacarnya, masih belum percaya. Naya berharap ini adalah sebuah mimpi buruk.
Setelah berciuman Clara dan Jingga masuk ke dalam apartemen. Naya mengikuti mereka dari belakang. Nara melihat ke atas pintu lift yang terdapat layar yang menunjukkan lantai 7.
Apartemen Clara ada di lantai 7. Apakah? Batin Nara.
Nara memberanikan diri untuk naik ke lantai 7. Sesampainya di lantai tujuh Naya mencari kamar Nomor 45. Nara masih ragu- ragu untuk menekan bel. Naya baru yakin untuk menekan bel setelah 30 menit berlalu.
Naya menekan bel dan beberapa detik kemudian pintu terbuka.
“Siapa?” Tanya Jingga ketika membuka pintu.
Naya berdiri di depan pintu apartemen. Jingga kaget melihat Naya berada di depan pintu.
“Na..Naya.” Ucap Jingga kaget.
Clara juga kaget melihat Naya ada di depan pintu apartemennya.
“Jingga, mari kita akhiri segalanya. Aku harap kita tidak akan bertemu lagi di masa depan. Selamat tinggal.”
Ketika Jingga mendengar perkataan Naya yang ingin memutuskannya, hati Jingga begitu teriris. Namun apa daya Jingga sudah memilih jalannya untuk berpaling dari Naya.
Setelah Naya mengatakan apa yang ada di hatinya, ia segera meninggalkan apartemen dan menaiki motornya. Nick yang menunggu Naya sejak 30 menit yang lalu melihat Naya keluar dari apartemen dan menaiki Motor. Nick mengikuti arah motor yang di kendarai Naya.
Hujan pun turun dari langit untuk membasahi bumi. Langit seperti mengerti kesedihan Naya. Naya menghentikan motornya di pinggir jalan dan berteduh di emperan toko. Naya sudah tidak bisa menahan air matanya. Ia memegang bagian dadanya yang sesak karena terus menahan rasa sakit. Nara menangis tersedu-sedu, mengeluarkan rasa sakit di hatinya.
“Terkadang apa yang kita cintai tidak selamanya bisa kita miliki.
Melepaskan yang kita cintai, mungkin begitu berat.
Namun ikhlas adalah hal yang begitu melegakan.
Dan percayalah suatu saat nanti pasti ada kebahagiaan yang menanti.
Jangan menyerah dan teruslah melangkah.”
Nick hanya bisa melihat Naya dari dalam mobil. Nick merasa iba pada Naya namun ia tidak ingin menjadi pahlawan kesiangan. Ia juga tidak mengerti cara menghibur seorang wanita. Jadi Nick hanya berusaha memahami situasi yang ada di hadapannya.
Bersambung.........^^
Salam Melankolis