
\=\=\=\=\=EPISODE 2\=\=\=\=\=
Nick berjalan ke arah panggung untuk mengambil penghargaannya. Saat di panggung pembawa acara saat itu melihat ada potongan daun bawang di kepala Nick. Nick yang malu langsung mengambilnya. Untuk menutupi rasa malunya, ia membuat sebuah lelucon sehingga membuat seluruh tamu tertawa.
Setelah menerima penghargaan, ia memanggil timnya untuk maju ke atas panggung. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dan mendukungnya. Tak lupa Nick juga berterima kasih kepada seorang wanita yang telah membuatnya harus bersusah payah untuk datang ke acara. Nick melihat kearah Naya yang duduk di antara para tamu sambil tersenyum sinis. Nara langsung menutupi mukanya dengan tas dan beranjak pergi dari kursinya
Nara pergi ke kamar mandi dan membasuh mukanya.
Bagaimana ini? Batin Nara.
“Aku harus kembali ke acara dan berpura-pura tidak mengenal pria itu. Hah oke. Ayo lakukan Naya.” Seru Nara bersemangat.
Nara segera kembali ke ruang acara namun di pertengahan jalan Naya melihat Nick berdiri.
Oh tidak. Batin Naya
Sebelum Naya berbalik arah untuk melarikan diri, Nick sudah melihat Naya duluan.
“Kamu....jangan lari.” Seru Nick.
Nara segera berlari menuruni tangga. “Maafkan saya.” Seru Naya
“Tunggu .....jangan cepat-cepat.”
Nick terjatuh karena kelelahan mengejar Naya. Namun Nick kembali berdiri dan berusaha mengejarnya.
Nara berlari ke jalan yang buntu. Ia tidak bisa kemana-mana lagi. Nick tersenyum dan mulai mendekati Naya.
“Apa apa yang akan anda lakukan?”
“Kamu pikir saya akan melakukan apa?”
Nick mendengar suara langkah kaki orang yang akan melewati jalan itu.
Wah gawat kalau ada orang yang lihat aku dengan wanita ini. Batin Nick.
Nick mendekatkan tubuhnya ke tubuh Naya agar orang yang lewat itu tidak tahu keberadaan mereka. Naya ingin memberontak namun tidak bisa. Tubuh mereka terlalu dekat.
Naya mendengar nafas Nick yang tidak beraturan. Ia juga mencium wangi tubuh Nick yang maskulin. Tanpa sadar pipi Naya memerah karena sebelumnya dia tidak pernah sedekat ini dengan pria manapun termasuk pacarnya.
“Jangan bergerak dulu, kalau enggak mau ketahuan orang.” Bisik Nick.
Beberapa detik kemudian orang itu telah melewati jalan itu tanpa menghiraukan sekitarnya
“Dengarkan saya baik-baik. Kamu mungkin akan di pecat oleh bosmu dan kariermu akan leyap. Boom.” Bisik Nick ke telinga Naya.
Naya yang tidak terima dengan perkataan Nick langsung menginjak kaki Nick dan berusaha pergi. Namun Naya berhenti dan berbalik ke arah Nick
“Aw aw.” Keluh Nick sambil memegangi kaki yang diinjak Naya.
“ Sekalipun saya di pecat, saya tidak akan menyerah. Saya sudah sampai sejauh ini. Jadi tolong tarik kata-kata Anda.” Nara meninggalkan Nick yang kesakitan.
“Tapi Kirana tak akan memberi ampun pada mu.” Gumam Nick
***
Smartphone Naya bergetar tanda panggilan masuk. Nara melihat layar smartphonenya dan tertera nama CEO Kirana. Nara segera mengangkatnya. Kirana menyuruh Naya untuk datang ke kantor sekarang. Naya menyetujui perintah bosnya itu.
Beberapa menit kemudian Naya sudah berada di kantor. Naya segera memasuki ruangan Kirana. Kirana sangat marah kepada Naya karena hasil karya Nara beserta timnya tidak memuaskan. Kirana tidak mau tahu alasan yang di jelaskan Naya.
“Saya tidak pernah melihat kamu melakukan kesalahan seperti ini, namun kali ini kamu sangat mempermalukan perusahaan.” Seru Kirana
“Tapi sungguh saya dan tim sudah bekerja keras untuk membuat video itu. Tapi...”
“Saya tidak ingin mendengar alasan kamu Naya. Saya sudah tidak bisa memberi kamu kesempatan lagi.”
“Tolong saya Bu Kirana.”
“Baik jika kamu tidak ingin di pecat. Kamu bisa pilih tim kamu yang di pecat atau kamu yang di pecat?”
Nara terdiam karena kaget mendengar penawaran Kirana.
Nara keluar dari ruangan Kirana dan berusaha tersenyum. Nara langsung di kelilingi timnya yang berjumlah 3 orang.
“Mbak Naya bagaimana? Apakah kita akan di pecat?” Tanya seorang wanita berambut panjang bernama Cinta
“Tenang saja. Kalian tidak akan di pecat. Oh ya apakah kalian sudah makan siang?”
“Kami belum makan mbak.” Jawab Pria bertubuh tinggi bernama Tomi.
“Iya mbak kami tidak bisa makan karena mimikirkan hal ini.” Sambung pria berkulit putih bernama Vano.
“Kalian bisa makan sekarang. Nanti saya menyusul. Kalian tinggal shareloc tempatnya saja. Oh ya kalian harus menjaga kesehatan kalian. Karena ke depan akan banyak pekerjaan yang menanti. “
“Oke mbak.” Mereka bertiga meninggalkan Naya.
Naya segera memasukkan barang-barang yang ada di meja kerjanya ke dalam box. Naya meninggalkan ruangannya dan memasuki lift. Ketika pintu lift akan tertutup Jingga berlalu di depan lift. Namun Naya tidak melihat Jingga.
Naya menaiki bus untuk pergi ke pos polisi. Di dalam bus Naya mengirimkan pesan melalui smartphonenya kepada timnya. Ia menulis permintaan maaf dan berpamitan kepada timnya untuk yang terakhir kalinya.
Sampai di pos polisi Naya mengakui pada polisi bahwa motor yang tadi disita adalah miliknya. Naya menyerahkan bukti berupa STNK. Polisi melihat STNK milik Naya dan meminta Naya untuk meminjamkan SIM nya. Polisi mengecek SIM dan STNK Naya. Polisi mengembalikan SIM Naya dan memberikan surat tilang kepada Naya.
“STNK kami bawa dulu dan mbak harus datang ke persidangan yang telah tertera di surat tilang.”
“Baik Pak. Tapi apakah motor boleh saya bawa?”
“Tentu boleh mbak. Lain kali jangan lupa memakai helm. Ingat keselamatan di jalan.”
“Siap pak. Terima kasih.”
Smartphone Naya bergetar tanda panggilan masuk. Naya mengangkat teleponnya
“Apakah benar ini dengan Mbak Naya?” Suara di seberang telepon.
“Benar. Ini dengan siapa ya?” Sahut Naya.
“ Ini dengan kantor polisi. Adik Anda yang bernama Nando Gunadhya sedang berada di kantor polisi karena melakukan penganiayaan. Apakah Mbak Naya selaku wali bisa datang ke kantor polisi?”
“Bisa. Saya akan segera kesana.”
-----Kantor Polisi-----
“Tolong jaga adik anda dengan baik. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali. Untung pihak penggugat sudah memaafkan.”
“Baik pak saya akan menjaga adik saya dengan baik. Saya hanya bisa mengucapkan maaf.”
“Baiklah. Anda dan adik anda bisa meninggalkan ruangan.”
“Terima kasih pak.”
Naya mengajak sang adik keluar dari kantor polisi.
“Ini. Belilah obat untuk mengobati luka di wajahmu.” Naya mengeluarkan selembar uang.
“Aku tahu, adikku ini tidak bermaksud melakukannya. Kau pasti ingin berbuat baik kan dan membela yang lemah.” Sambung Naya .
“Bagaimana kakak bisa tahu?” Tanya Nando.
“Aku kakakmu. Mana mungkin aku tidak tahu.”
“Aku selalu membuat masalah untuk kakak.” Ucap Nando.
“Aku sudah biasa. Terimalah uang ini. Aku tidak ingin ibu mengomelimu.”
Nando menerima uang pemberian Naya. Naya berpamitan pada Nando karena harus pergi duluan. Nando melihat bagian belakang motor Naya yang peok dan lampu belakangnya pecah.
Motor kakak kenapa ya? Batin Nando.
Bersambung.........^^
Salam Melankolis