Pick me, take me

Pick me, take me
Kehidupan Dava



\=\=\=\=\=EPISODE 10\=\=\=\=\=


♫♫♫ Dia dia dia, cinta yang ku tunggu-tunggu


Dia dia dia , lengkapi hidupku


Dia dia dia, cinta yang kan mampu mampu


Menemaniku mewarnai hidupku.♫♫♪


Masih terdengar alunan lagu milik penyanyi Afgan.


Kedua bola mata Dava tak hentinya menatap wanita yang berada di dalam bus, hingga bus melaju meninggalkan halte. Ia tersenyum hingga badan bus sudah tak terlihat lagi.


Ah dia yang kemarin malam. Aku ingat. Batin Dava


Akhirnya bus yang di tunggu Dava datang juga.


Beberapa menit kemudian Dava sudah berada di kawasan elit perumahan. Rumah Dava bisa di bilang lumayan besar dan bergaya modern. Dahulu Dava tinggal bersama sang ayah di rumah itu setelah ibu kandungnya meninggalkan dia dan ayahnya untuk mengejar karir sebagai seorang artis. Sekarang Dava harus tinggal sendiri karena sang Ayah sudah berpulang 5 tahun yang lalu. Namun Dava beruntung ada Bi Lasih dan Mang Tohir yang selalu berada di sampingnya dikala susah maupun duka. Bi Inah adalah asisten rumah tangga Yang sudah lama mengabdi pada keluarga Dava. Sedangkan Mang Tohir adalah penjaga rumah sekaligus sopir dadakan.


Sesampainya di halaman rumah, Dava di sambut oleh Mang Tohir.


“ Walah mas Dava kok jalan to? Padahal tadi pagi sudah mang siapin motor buat mas.”


“Olahraga mang, biar sehat dan kuat mang. Tapi makasih lo mang sudah disiapin.”


“Sudah tugas saya mas Dav.”


“Mas Tohir jangan lupa jaga kesehatan. Saya tak masuk dulu mang.” Dava tersenyum ramah.


“Siap mas Dav. “ Mang Tohir senyum sambil memamerkan gigi-gigi besarnya.


Dava memasuki ruang tamu dan di sambut oleh Bi Lasih.


“Den Dava sudah pulang.” Sapa Bi Lasih.


“Iya Bi. Oh ya Bi malam ini saya enggak makan malam bi. Ingin istirahat langsung.” Dava tersenyum pada Bi lasih.


“Baik Den. Den ini ada kiriman paket.” Bi Lasih menyerahkan sebuah paket kepada Dava.


Dava menerima paket berukuran sedang.


“Selamat beristirahat den. Bibi permisi dulu.”


“Iya Bi. Makasih Bi.”


Bi Inah menganggukkan kepalanya.


Dava berjalan sambil membuka bungkus paket. Langkah Dava terhenti ketika ia melihat isi paket yang berisi majalah The Big Star yang sampul utamanya terpampang foto seorang artis yang ia kenal.


“Apa lagi ini? “ Dava berjalan lagi kearah gudang dan meletakkan majalah itu di sana.


Dava membuka pintu kamarnya dan menaruh jaketnya di kursi dekat meja kerjanya. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil membuka dua kancing di bawah kerah.


Dava masih teringat dengan wajah cantik itu. Ia bahkan tidak bisa melupakannya sedetikpun.


“Ah ada apa denganku.” Gumam Dava


***


Keesokan harinya Naya bangun lebih awal untuk berangkat kerja. Ia tak ingin terlambat di hari pertamanya bekerja di N-SON Agency.


Naya turun ke lantai satu untuk berpamitan kepada ibunya dan segera meluncur dengan sepeda motornya. Seperti biasa jalan ibu kota terlihat begitu padat. Nara dengan lihainya melewati mobil dan motor yang berlalu lalang di jalan. Ia seperti pembalap motor yang sudah ahli dalam lintasan yang berliku-liku. Setengah jam kemudian Naya sampai di kantor dengan selamat dan tidak terlambat.


----Di apartemen Nick------


Nick sedang berlari di atas Treadmill Elektrik sambil mendengarkan musik. Keringat membasahi tubuh Nick yang begitu berotot. Ia selalu meluangkan waktunya untuk berolahraga.


Sebenarnya Nick memiliki tubuh yang begitu bagus seperti seorang model. Ia memiliki tinggi 189 dan berkulit putih. Dengan wajahnya yang belasteran membuatnya semakin menawan.


Nick menyudahi sesi olahraganya dan mengelap keringatnya menggunakan handuk.


Ting tong, terdengar suara bell berbunyi.


Nick melihat di layar LCD yang terkoneksi dengan kamera dekat pintu apartemennya.


“Apa yang dia inginkan.” Gumam Nick.


Nick membuka pintu apartemennya.


“Ada yang bisa di bantu?”


Kirana terpesona dengan penampilan Nick yang mengenakan kaos sedikit basah karena keringat serta rambut yang acak-acakan. Ia melihat otot lengan Nick yang begitu kekar.


Bagaimana ini? Dia begitu mempesona. Batin Kirana.


“Helo?”


Suara Nick memecahkan lamunan Kirana. “Oh ini aku ada sedikit buat kamu Nick. Ehm buat sarapan.” Kirana menyerahkan kue yang ia bawa.


“Oh oke. Terima kasih.” Nick menerima kue itu dan menutup pintu.


“Oh dia masih begitu tampan dan mempesona. Aku bahkan tidak bisa melupakannya.” Gumam Kirana.


Kirana kembali ke dalam apartemennya.


Nick menaruh kue pemberian Kirana di atas meja makan. Ia tidak berselera untuk memakannya.


Nick bersiap untuk mandi karena ia harus berangkat kerja pagi ini. Selesai mandi ia memasuki ruang ganti yang terdapat berbagai pakaian, celana, jas, dll. Nick memakai kemeja berwarna coklat tua dan celana pajang berwarna cream. Ia juga mengatur rambutnya agar rapi. Tak lupa sentuhan terakhir Nick adalah menyemprotkan wewangian khasnya.


Nick berangkat ke kantor menggunakan mobilnya. Jarak kantor dan apartemennya tidak begitu jauh, hanya butuh beberapa menit sampai di kantor.


Nick memasuki kantornya melalui pintu utama dan melewati meja resepsionis.


“Pagi Pak Nick.” Sapa resepsionis dengan ramah.


“Pagi.” Jawab Nick sambil menganggukkan kepala.


“Ya ampun CEO kita memang sangat tampan.” Ucap resepsionis


Di ruang tim kreatif, Mr. Rain memperkenalkan Naya, Tiara dan Ferdi sebagai tim kreatif yang baru menggantikan staf yang telah mengundurkan diri. Nara bekerja sebagai desainer sedangkan Tiara bekerja sebagai copywriter dan Ferdi bekerja sebagai web desainer. Mereka sudah dipersilahkan untuk duduk sesuai dengan meja yang telah di tentukan.


Nara masukan di tim A yang terdiri dari Steven dan Ringgo. Ringgo menyapa Naya dengan ramah sedangkan Steven hanya tersenyum singkat.


Nick melewati ruangan tim kreatif yang dibuat open space. Ia berhenti dan menoleh ke tim kreatif. Semua staf yang berada di tim kreatif berdiri sambil membungkukkan badan dan menyapa Nick dengan sopan. Nick tak sengaja menatap Naya. Nick sedikit salah tingkah. Kemudian ia mempersilahkan para stafnya untuk duduk.


Bersambung.........^^


Salam Melankolis