Pick me, take me

Pick me, take me
Hati yang terluka



\=\=\=\=\=EPISODE 3\=\=\=\=\=


Suara butiran-butiran air yang jatuh terdengar di dalam kamar mandi. Nick sedang membasahi seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan air. Tak lupa ia menyabuni seluruh tubuhnya menggunakan sabun yang wangi. Ia tak mau bau sayur masih menghinggapi tubuhnya.


Gara-gara wanita itu. Aku harus menaiki mobil pick up yang berisi sayuran. Awas jika bertemu lagi.” Batin Nick


Nick keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit bagian pinggang ke bawah. Sisa-sisa air masih membasahi tubuh Nick yang kekar sehingga menambah daya tariknya.


Nick segera memasuki ruang pakaiannya. Di dalamnya tertata dengan rapi semua pakaian yang dimiliki Nick, mulai dari kemeja, celana, jas, kaos, jaket dan aksesoris seperti jam, pin dan tas. Semua pakaian dan aksesoris yang dimiliki Nick merupakan keluaran dari brand ternama dan tentunya mehong.


Nick memilih kaos berwarna abu-abu, jaket hitam, dan celana jeans untuk ia gunakan hari ini. Ia juga menyemprotkan parfum kesukaannya ke seluruh tubuhnya. Tiba-tiba terdengar bunyi perut Nick yang meminta untuk di isi.


“Ah aku lapar. Kayaknya disini enggak ada makanan.”


Nick berjalan ke dapur dan membuka pintu kulkas. Tebakan Nick benar di dalam kulkas tidak ada makanan. Kemudian Nick keluar dari apartemennya untuk mencari makanan. Ia mengendarai mobil sport merahnya.


***


Naya sampai di depan apartemen yang ia tinggali bersama Clara. Ia melihat sebuah pick up sedang menganggut barang-barang yang ia kenal. Naya segera mendekati pick up tersebut dan bertanya pada seorang bapak-bapak yang sedang mengangkut barang.


“Pak ini barang dari apartemen berapa ya?”


“Ini dari apartemen nomor 45 mbak.”


Naya kaget karena nomor 45 adalah apartemen yang di tinggali dirinya dan Clara. Naya berlari memasuki lift. Sesampainya di pintu apartemen nomor 45, Naya memasukkan kode apartemen namun tidak bisa terbuka padahal kode itu selalu digunakan untuk masuk ke dalam apartemennya. Nara menekan bel dan Clara keluar dari pintu apartemen. Clara berbicara dengan Naya di depan pintu apartemen.


“Clara kenapa barang-barangku ada di luar dan di angkut ke mobil pick up?” Tanya Naya.


“Aku tidak ingin tinggal denganmu lagi.”


“Kenapa? Aku sudah membayar setengah harga sewa. Aku mohon jangan seperti ini.” Naya memegang tangan kanan Clara berharap ia akan berubah pikiran. Namun Clara melepaskan tangannya dengan kasar.


Naya berdiri terpaku di depan pintu. Bertanya-tanya apa kesalahannya kepada Clara sehingga Clara tega mengusirnya. Rasanya Naya ingin menangis tapi tidak bisa.


Nara keluar dari apartemen dengan pikiran yang campur aduk.


“Mbak ini mau di bawa kemana?”


“Oh bawa ke alamat ini saja pak.” Nara mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan alamat orang tuanya.


“Baik mbak.”


“Pak. Maaf biaya pengirimannya berapa?”


“Oh sudah di bayar oleh mbak yang tinggal di apartemen nomor 45.”


“Kalau begitu terima kasih pak.”


Sore berganti malam. Naya masih berada di seberang apartemen yang sekarang menjadi milik Clara. Naya duduk di trotoar jalan. Ia masih bingung dengan perkataan Clara.


Sebenarnya Naya juga menunggu pesan atau telepon dari Jingga namun ia tidak kunjung memberi kabar. Naya sedikit kecewa terhadap Jingga, karena di saat ia kesulitan Jingga tidak ada di sampingnya. Tetapi Naya tetap berusaha berpikir positif. Mungkin Jingga sedang sibuk bekerja.


Mobil putih memasuki halaman apartemen. Naya ingat mobil itu adalah milik Jingga. Naya berusaha berdiri untuk memastikan yang keluar dari mobil adalah Jingga. Dan ternyata benar, Jingga keluar dari mobil. Naya tersenyum karena Jingga masih peduli padanya bahkan ia menyempatkan diri datang ke apartemennya. Namun yang di sangka Naya ternyata salah.


Clara keluar dari apartemen ketika Jingga keluar dari mobil. Mereka berdua berpelukan lalu berciuman bibir. Naya begitu syok melihat adegan ciuman yang dilakukan teman dan pacarnya. Naya tak percaya teman dan pacarnya melakukan hal yang begitu menyakiti hati Naya.


Bersambung.........^^


Salam Melankolis