
\=\=\=\=\=EPISODE 7\=\=\=\=\=
Nick mengendarai mobilnya sambil mengacak-acak rambutnya. Ia menyadari kelakuan konyolnya dan berusaha menutupi rasa malunya dengan bertingkah sok cool.
Ah kenapa aku ini. Masak aku menatapnya. Apa tadi dia melihatku menatap dirinya. Ah tidak-tidak jangan di pikirkan. Oke . Batin Nick.
Mobil milik Nick telah memasuki kawasan elit apartemen. Ia memarkirkan mobilnya di basement dan menaiki lift ke lantai 18.
Sesampainya di depan pintu apartemennya ia menoleh kebelakang. Ia melihat ada gantungan bertuliskan welcome menempel di pintu bernomor 140 yang berseberangan dengan pintu apatemennya. Nick merasa mungkin ada tetangga baru yang menempati apartemen depannya. Nick segera membuka pintu apartemennya.
-----Apartemen nomor 140----
Seorang wanita sedang melihat pemandangan ibu kota dari balik jendela apartemennya. Ia memegang secangkir teh hijau sambil berdiri di depan jendela.
“Pantas Nick memilih apartemen ini. Pemandangannya memang lumayan indah.” Wanita itu tersenyum.
***
Naya mengendarai motornya di jalan raya. Namun tiba-tiba ban motor belakang Naya bocor sehingga membuat ia kehilangan keseimbangan. Naya tidak ingin mengambil risiko yang lebih parah sehingga ia menghentikan motor.
“Ya bocor ban nya. Gimana ini. Ya sudah di dorong dulu saja kalik saja nanti ada tambal ban.” Naya mendorong motornya sampai di persimpangan jalan karena ia melihat ada tempat untuk tambal ban.
“Permisi pak. “
“Ah iya neng, ada apa ya?”
“Pak . ini motor saya ban belakangnya sepertinya bocor.”
“Waduh neng ini mau tutup tambal bannya. Bagaimana neng?”
“Yah pak.”
“Gini saja neng. Motor nya taruh sini dulu . Bsk pagi baru saya tambal bannya. Bagaimana neng. “
Naya masih berpikir.
“Tenang neng di sini aman. Saya bisa jaga amanah.”
“Ya sudah pak. Besok pagi saya ambil ya pak. Terima kasih pak.”
“Sama-sama neng.”
Naya segera membuka smartphonenya untuk memesan ojek online. Tak butuh waktu lama ojek online yang di pesan Naya sudah datang.
Wah cepat juga ya datangnya. Batin Naya.
“Mas ke jalan ini ya.”
“Tapi mbak saya.....”
“Tenang mas nanti saya bayar. Saya orang yang bertanggung jawab.”
Naya mengambil sendiri helm yang berada di belakang jok motor. Sebenarnya pria yang menaiki motor gede itu bukan ojek online yang di pesan Naya. Pria itu hanya berhenti sebentar untuk mencari alamat namun di kira Naya, dia adalah pengemudi ojek online karena hari sudah gelap jadi warna jaket pria itu tidak terlihat oleh Naya. Pria itu pasrah dan mengikuti perintah Naya.
Sesampainya di depan rumah Nara. Nara turun dari motor dan melepas helm yang dipakainya.
“Mas kok ini enggak muncul harganya?”
Nara memperlihatkan layar smartphonenya ke pada pria itu.
Pria itu melepaskan helmnya dan berkata. “ Maaf mbak saya bukan ojek online yang dipesan mbak. Saya juga tidak pakai jaket ojek online.” Sambil menunjuk jaket yang dikenakannya.
Nara tercengang dengan ucapan pria itu. Tiba-tiba smartphone nara berdering. Nara segera mengangkat telepon masuk.
“Hallo?”
“Hallo mbak. Saya Wargino ojek online yang dipesan mbaknya. Mbak sekarang dimana? Kok enggak ada di tempat?”
“ Ah maaf pak. Tadi saya dijemput teman saya. Jadi lupa ngencancel. Sekali lagi maaf ya pak.”
“Oh ya sudah mbak kalau begitu. Saya tutup ya.”
Wajah Naya memerah karena malu. Ternyata ia salah orang. Naya segera meminta maaf kepada pria itu
“Aduh maaf ya mas saya enggak tahu. Saya salah fokus sepertinya. Biasalah mas kalau kurang minum kayak saya gini.”
Pria tertawa kecil karena mendengar ucapan Naya yang lucu.
“Iya enggak apa-apa. Saya senang bisa membantu sesama manusia.”
“Ah ini mas uang untuk mengganti bensinnya.” Naya menyodorkan uang 20 ribu.
“Tidak perlu repot-repot. Saya senang bisa membantu mbak. Tapi ngomong-ngomong panggil saya Dava saja jangan mas.” Pria itu tersenyum pada Naya.
Naya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia mengerti.
“Kalau begitu saya pamit dulu.” Dava segera memakai helmnya dan menyalakan motornya.
“Sampai jumpa” Sambung Dava.
“Sampai jumpa .Hati-hati Dava. Terima kasih banyak.”
“Iya sama-sama.” Dava melaju dengan motor ke jalan raya .
Naya baru sadar kalau helm milik Dava masih di bawa di tangannya.
“Yah helmnya. Dava!” Teriak Naya.
Percuma. Dava sudah jauh. Ya lain kali kalau ketemu lagi ntar aku balikinlah. Batin Naya.
***
-----Alam mimpi-----
“Hahaha di kepalanya ada apa itu? “ Ucap MC
“Apa dia habis dari pasar?” Tanya peserta lainnya
“Hahahahahaha. Mungkin dia abis naik truk yang ngangkut sayuran.”
“Mana mungkin orang kaya naik truk Wkwk.” Ejek Naya
----Mimpi selesai---
“Tidakkkkkkkkkkkkkkkkk!” Teriak Nick. Ia terbangun dari mimpinya.
“Ini gara-gara NAYARAAAA.” Teriak Nick lagi di atas ranjangnya.
Ayo bos bangun...ayo bos bangun...Ayo bos bangun. Smartphone Nick berbunyi tand panggilan masuk.
“Hallo.”
“Hallo Bos. Bos dimana? Ini sudah jam set 8 pagi lho bos.” Sambungan telepon dari Putra.
“APA!!!” Teriak Nick dengan suara beratnya.
Putra menjauhkan smartphone dari telinganya. Takut ia budek mendadak.
“Kenapa baru bilang sih. Sudah ku tutup dulu teleponya. Tuttt tuttt.” Tutup Nick di sambungan telepon.
Nick segera bersiap-siap untuk ke kantor. Kali ini Nick mengenakan kemeja polos warna biru muda untuk menutupi body sixpack nya dan celana kain warna abu-abu tua. Tak lupa ia memakai jam tangan keluaran paris dan sepatu pantofel.
Nick membuka pintu apartemennya dan tak di duga pintu nomor 140 juga terbuka. Ia melihat seorang wanita keluar dari balik pintu itu sambil tersenyum ke arah Nick. Nick terkejut karena wanita itu adalah seseorang yang pernah membuat hari-harinya begitu hancur.
“ Hai Nick. Apa kabar?” Sapa wanita itu.
Bersambung.........^^
Salam Melankolis