Pick me, take me

Pick me, take me
Terpesona



\=\=\=\=\=EPISODE 9\=\=\=\=\=


-----Rumah Sakit Rekan Sehat-----


Naya menunggu di kursi tunggu sambil menelepon Nadine.


“Halo” terdengar suara Nadine dari sambungan telepon.


“Halo kak.”


“Ada apa Nay?” Tanya Nadine.


“Ini aku sudah di rumah sakit tempat kakak kerja. Aku membawa sesuatu untuk kakak.”


“Oh oke. Aku segera kesana.” Nadine menutup teleponnya.


Nadine menghampiri Naya yang duduk di kursi tunggu di paling pojok belakang. Nadine duduk di samping Naya.


“ Apa yang kau bawa?” Tanya Nadine.


Naya menyerahkan tas yang berisi rantang dan botol minum.


“Ini dari ibu kak. Khusus buat kakak.”


“Oh. Terima kasih. Seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini.”


“Sepertinya ibu merindukanmu kak. Kakak sudah jarang pulang satu tahun ini. Apa kakak sesibuk itu?”


“Aku sibuk tak ada waktu untuk pulang. Lagian ibu sehatkan? Jadi aku tak perlu bolak balik pulang hanya untuk menjenguk ibu.”


“Kenapa kakak bicara seperti itu. Sekalipun ibu tidak sakit setidaknya luangkan waktumu untuk ibu. Kita hanya punya Ibu kak.”


“Kamu tahu apa sih? Jangan sok nasehatin kakak.” Protes Nadine.


“Terserah kakak sajalah. Aku pamit.” Naya meninggalkan Nadine dan keluar dari rumah sakit. Ia tak ingin berdebat dengan kakaknya itu.


Nadine berusaha menahan emosinya. Tiba-tiba ada yang memanggil namanya.


“Nadien.” Panggil Raka.


Nadien menoleh ke sumber suara.


“Dien tadi siapa? Apa dia adikmu?” Tanya Raka.


“Memang kenapa?” Tanya Nadien ketus.


“Dia sangat cantik. Eh ngomong-ngomong itu yang kamu bawa apa dien?”


“Nih ambil saja. Aku sudah kenyang.” Nadien menyerahkan tas yang di bawanya ke tubuh Raka. Raka dengan sikap memegang tas itu.


“Wah ini buat aku?”


“ hmmm.” Jawab Nadine sambil berjalan menjauh dari Raka.


“Thanks Dien. Kayaknya enak ini.” Seru Raka kegirangan.”


Tapi adik Nadien memang cantik benget. Nadien juga cantik sih.” Sambung Raka.


***


♫♫♫ Kau tak tahu betapa rapuhnya aku


Bagai lapisan tipis air yang beku


Sentuhan lembut kan hancurkan aku♫♪♫♫♫


Naya duduk di taman dekat rumah sakit sambil mendengarkan lagu milik Joeniar Arief yang berjudul Rapuh.


Kenapa kakak begitu egois. Apa kakak tidak mempunyai perasaan? Kasihan Ibu. Batin Naya.


♫♫♫ Dan ku terluka, luka membekas


Bekas membuat, buat selamanya


Selamanya ku, ku kan selalu rapuh♪♪♪


***


-----Restoran Food N Dav-----


Seorang pelayan wanita memasuki dapur restoran.


“Iya. Ada apa?”


“Ada seorang tamu yang meminta Chef Dava yang menghidangkan menu yang dipesannya.”


“Meja nomor berapa?”


“Nomor 12 Chef.”


“Oke. Akan segera saya antarkan.”


Dava dengan sigap dan terampil mengolah bahan-bahan makanan yang ada di hadapannya. Ia terlihat begitu tampan dengan seragam Chef berwarna putih. Walaupun keringat membasahi wajahnya, Dava tetap terlihat tampan dan maco karena kulitnya yang eksotis. Setelah hidangan selesai di buat, Dava dan pelayannya membawa pesanan seorang tamu yang berada di meja nomor 12.


“Permisi Nona. Ini pesanan anda, pasta saus carbonara dan Ice lemon tea. Selamat menikmati” Dava tersenyum ramah.


“ Terima kasih Chef Dava. “ Kirana menatap wajah Dava sambil tersenyum.


“Kirana?”


“Kamu masih ingat aku.”


Akhirnya Kirana dan Dafa duduk berhadapan di meja nomor 12.


“Apa kabar Dav?” Kirana membuka percakapan.


“Aku baik. Bagaimana denganmu?”


“Seperti yang kau lihat. Aku baik. Emm maafkan aku sedikit terlambat datang kesini. Aku baru tahu kau membuka restoran 5 bulan yang lalu.”


“Tak apa. Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk datang ke restoranku. Aku mengerti kamu sangat sibuk.”


“Aku tak sesibuk itu. Btw apakah kamu masih suka bermain piano?”


“Maaf. Seperti banyak pesanan yang menunggu jadi aku permisi dulu. Selamat menikmati makan siang mu.” Dava pergi ke dapur meninggalkan Kirana di meja sendirian.


Kirana menikmati santap siangnya.” Enak. Ternyata Dava jago masak juga.”


***


Jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Terlihat langit mulai mendung. Dava menutup restorannya dan karyawan-karyawannya sudah pulang.


“Bang?” Panggil Pram


“Oh kamu Pram. Kenapa?”


“Hari ini aku enggak lihat Bang Dava bawa motor ataupun mobil.”


“Ah hari ini aku ingin naik bus kota Pram.”


“Owalah. Pantas. Mau bareng aku enggak bang, naik motor? Ini sudah mendung lho bentar lagi kayaknya mau hujan.”


“Enggak ah. Ntar ban kamu kempes lagi.” Canda Dava.


“Ah elah bang Dava tahu saja wkwk. Ya sudah bang, aku pamit ya . Sampai jumpa besok.”


“Oke Pram. Sampai jumpa. Hati-hati kalau ada tikungan lurus saja.”


“Apes amat bang diriku hahaha.” Pram menghidupkan motornya dan melaju ke jalan raya.


Dava berjalan menuju halte. Tiba-tiba rintik-rintik air hujan mulai turun. Dava berlari kecil ke halte agar tubuhnya tidak basah. Sesampainya di halte ia duduk di kursi tunggu. Bus yang di tunggu-tunggu Dafa tidak kunjung datang sampai hujan reda. Setiap bus yang datang bukan jurusan yang ingin di tumpangi Dava. Dava mulai bosan dan memasang handsfree nya dan mulai memutar lagu. Terdengar alunan lagu milik afgan yang berjudul dia dia dia.


♫♫♫ Akhirnya akhirnya aku temukan


Wajah yang mengalihkan duniaku


Membuat diriku sungguh-sungguh


Tak berhenti mengejar pesonanya


Kan ku berikan yang terbaik


Tuk membuktikan cinta kepadanya.♫♫♫


Ketika lirik itu terdengar di telinga Dava, sebuah bus berhenti tepat di depan halte. Dava melihat seorang wanita sedang duduk di kursi penumpang sambil mengelap embun di kaca bus dengan tangannya. Saat itu Dava begitu terpesona dengan wajah wanita itu yang begitu cantik.


Wajah cantik itu seperti pernah melihatnya. Tapi dimana ya? Batin Dava.


Bersambung.........^^


Salam Melankolis