
Mungkin orang-orang menyukai kepergiannya, tersenyum bahagia saat ia mengucap kalimat perpisahan pun permintaan maaf jika banyak salah yang diperbuat, pasti hari itu ditunggu-tunggu banyak orang, tapi mereka juga kehilangan bahan pembicaraan, setidaknya tiada lagi pemandangan yang menyesakan mata—padahal Karenina bukan seonggok sampah di tepi jalan, tapi sikap lain orang-orang di hari terakhir pekerjaannya sebagai sekretaris Zian cukup menyiratkan kalau mereka semua senang atas keputusan resign-nya.
Perempuan itu juga memberikan salam perpisahan terakhir—meski hanya seulas senyum, tapi bukankah Karenina tak pernah pertontonkan hal itu pada orang-orang di kantor? Lalu, pada Zian hanya bisa ia bagi sebuah pelukan nan hangat. Rega sendiri tak bisa berkata apa-apa, ia tak punya hak melarang kepergian Karenina yang tiba-tiba. Di antara banyaknya orang pagi itu, hanya Denial-lah yang absen dan Karenina tak ingin peduli tentang mengapa.
Setidaknya ia masih sanggup meloloskan uraian napas lega kali ini, bola matanya sedikit berkaca saat meninggalkan lobi kantor seraya memeluk sebuah kotak berisikan barang-barangnya. Beribu luka serta sejuta kenang telah ia bagi di sana, semua akan tersimpan di sudut memori dan berakhir usang.
Kaki jenjang yang terbalut wedges cokelat itu menapak paving block pelataran kantor hingga tiba di tepi jalan, rambut panjang yang diikat rendah bergerak tersapu embusan angin hingga sisakan beberapa helai surai yang sentuh wajah sendunya. Karenina takkan ingkar kalau ia rasakan sedih tinggalkan tempat itu.
Sekali lagi ia menoleh, angkat kepala perhatikan lantai tempatnya bekerja yang sebentar lagi mungkin akan menemukan penggantinya. Ia menunduk, fokusnya kembali pada jalan raya di depan mata, lalu-lalang kendaraan begitu ramai, tapi taksi yang ia tunggu belum juga datang.
Karenina tak menaruh curiga saat mobil Honda Civic hitam menepi di dekatnya, perempuan itu terus memperhatikan arah kiri jalan dari tempatnya berdiri, tapi sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahu kanan—membuat Karenina menoleh dan refleks bergeser.
"Kamu." Rasa tak nyaman seketika hinggap, bagaimana bisa laki-laki itu berdiri di sebelahnya sekarang—sedangkan di belakang mereka adalah kantor yang harusnya Denial datangi hari ini, bukannya bolos dan hampiri Karenina.
"Apa? Kok kayak ngerasa aneh gitu, baru masalah semalam—terus bikin elo resign?" Denial bertepuk tangan. "Kenapa pas putus sama Rega malah masih bertahan di sana, sesakit itu, ya?"
Karenina enggan memedulikan ocehan Denial, ia langsung melambai tangan kiri saat jarak dua meter darinya sebuah blue bird mendekat, tapi Denial enggan menyerah dan tarik Karenina hampiri mobil Yuda yang ia pinjam.
"Kamu mau apa!" Karenina melangkah terseok-seok saat wedges yang ia gunakan terlalu sulit dipakai melangkah tergesa-gesa seperti sekarang.
"Mau elo, lah!"
"Lepasin! Saya mau pulang!" Karenina terpaksa loloskan kotak miliknya hingga sentuh selasar dan berakhir buyar, tangan yang tak dicekal Denial berusaha memberontak, tapi apa daya, tenaga laki-laki yang dikuasai kekesalan itu jauh lebih kuat.
Denial buru-buru membuka pintu sisi kiri, ia dorong paksa Karenina agar masuk ke dalam, memaksanya duduk dan pasangkan seatbelt.
"Denial! Lepasin saya!" Karenina berusaha loloskan seatbelt yang telah membelit tubuhnya, tapi Denial menarik kedua tangan perempuan itu dan menahannya di atas kepala.
"Diam! Atau semuanya bakal lebih dari ini." Mata merah saga laki-laki itu benar-benar kobarkan agresi yang membuncah dalam dada, deru napas cepat Denial juga menyiratkan rasa emosi yang terus merambat kuasai sang jiwa.
Karenina bungkam, situasi memaksanya diam, ia mulai menyadari sesulit apa menghadapi singa kelaparan—bahkan lebih dari itu, lebih dominan pada singa yang beringas mengejar mangsanya.
Ketika tangan Karenina diloloskan, ia tak berkutik apa-apa, bibirnya terkunci rapat pun gerak tubuh yang sepertinya kehilangan daya. Denial menutup pintu, memutari kap mobil dan berakhir di balik kemudi.
Tak ada ucapan lagi, Denial kemudikan mobil tinggalkan tempat itu, sedangkan Karenina meremas ujung rok pencil putih yang mencetak lekuk pinggang hingga lutut, air hujannya mendobrak ingin diterjunkan. Matanya memanas, mati-matian Karenina menahan air matanya, ia tak ingin pamer kekalahan pada laki-laki yang tak bisa berpikir jernih seperti Denial.
Namun, tetap saja. Gelombang kepedihan terus membuncah hingga berakhir dengan meluruhnya air mata dari wajah melankolis itu. Karenina terus menatap keadaan di luar jendela, ia merasa familier dengan jalan yang mereka lalui sekarang.
Benar saja, mobil yang Denial kemudikan memasuki area apartemen Yuda seperti perkiraaan Karenina. Perempuan itu mencengkram erat seatbelt saat Denial turun dan bukakan pintu sisi kiri.
"Kenapa jadi kayak gitu? Tadi pas dibawa maunya lepasin sabuk pengaman, kenapa sekarang enggak mau turun."
"Mending kamu siram kepala kamu biar dingin, biar otak nggak waras kamu cepat pergi. Kita nggak ada urusan apa-apa lagi, harusnya bahkan sejak lama. Tolong biarin saya pergi, Denial."
Laki-laki yang hanya kenakan kaus serta ripped jeans itu tersenyum miring. "Nanti Nona Karenina Hasan boleh pergi setelah urusan kita selesai, matanya udah merah gitu masih aja ngeberontak. Demen banget enggak nurut."
"Kamu sinting, Denial!"
Lantai tiga puluh adalah tujuan Denial kali ini, untungnya Yuda yang sibuk dengan urusan pekerjaan masih berbaik hati meminjamkan mobil serta memberi tahu rangkaian kode agar bisa masuk unit apartemennya meski ia sendiri tak tahu jika alasan Denial adalah membawa seorang perempuan ke sana.
Sedetik pun Denial enggan lepaskan tangan Karenina, ia terus menariknya tanpa peduli jika kaki perempuan itu mulai rasakan perih saat terus tergopoh-gopoh dengan wedges yang membuat tungkai memperlihatkan ruam kemerahan.
Mereka berhenti di salah satu pintu apartemen lantai tiga puluh, tangannya sibuk merangkai kode—sebelum akhirnya ia leluasa menarik Karenina masuk tanpa penghalang lagi.
"Buat apa kamu bawa saya ke sini, Denial!" Sekali lagi pekikan Karenina mengudara, memperdengarkan rintihan hati yang kecewa.
"Emangnya kenapa! Apa tempat ini memorable buat elo? Sini, gue kasih lihat yang paling memorable." Lagi-lagi Denial menarik Karenina tanpa ampun hingga mereka tiba di satu kamar yang benar-benar membuat ingatan Karenina perihal tempat itu mengapung lagi.
Karenina mematung di balik pintu yang terbuka, ia ingat betul malam saat dirinya begitu goyah hingga datang ke diskotek dan meminum cukup banyak alkohol sebelum berakhir tumbang, mendengar bisik-bisik lelaki hidung belang yang menawarkan diri meski ekspresi dinginnya membuat mereka mundur, tapi ia sendiri tak tahu jika laki-laki dengan kepulan asap rokok di ujung meja bartender justru memperhatikan gerak-geriknya.
Karenina ingat saat ia bangun pagi hari di tempat yang sama, tempat asing yang membuatnya sempat bergeming sejenak seraya tatap laki-laki asing terbaring dalam lelap di sisinya. Pakaian mereka tercecer di lantai, sesal datang mencekik lehernya, tapi Karenina tak bisa berbuat apa-apa selain pungut semua yang harus melekat di tubuh dan menyingkir dari sana tanpa mengucap salam perpisahan.
Nyatanya, memang tak ada perpisahan setelah hari-hari berikutnya ada temu yang lahirkan kisah baru.
"Masih ingat tempat kita memulai semuanya di sini, kan?" bisik Denial terdengar magis, mengerikan sekaligus buyarkan lamunan Karenina. Laki-laki itu berdiri di belakang Karenina sebelum melewatinya dan membaringkan tubuh di ranjang seolah menikmati situasi mereka kali ini.
Ekspresi sendu Karenina berubah dingin, eboni itu terfokus pada gerak-gerik Denial.
"Kenapa? Tatapan elo menyiratkan kalau elo benci sama gue, bener nggak?" Denial beranjak, ia berdiri di depan Karenina. "Kalau lo bilang soal akhir, it's okey. Kita awali dari sini, jadi kita akhiri juga di tempat ini."
"Saya nggak sudi." Penuh keberaninan Karenina ingin memberontak saja, bukankah sikap Denial sudah sangat keterlaluan kali ini?
"Boleh tahu alasannya?"
"Kenapa kamu berubah Denial, kamu nggak pernah sejahat ini ke saya." Suara Karenina melemah, tatapan katatoniknya juga meredup, ia ingin merosot dan lenyap saja.
"Kenapa?" Denial membungkuk sejajarkan wajahnya dengan Karenina. "Gue sebenarnya enggak berubah, gue emang kayak gini orangnya. Kalau ada sesuatu yang salah di sini itu adalah elo, kenapa harus elo perempuan yang Rega cinta! JADI GUE WAJIB LAMPIASIN SEMUA DENDAM GUE KE ELO!"
"SAYA BUKAN SIAPA-SIAPA DIA LAGI!" Karenina juga berhak meninggikan suaranya, kembang kempis dada semakin cepat ketika emosi turut serta mengiringi rasa kecewa.
"Oh ya?" Tangan kanan Denial usapi puncak kepala Karenina. "Tapi dia masih sayang berat sama elo, kalau bukan Salma juga pasti elo masih sama dia. Nggak afdol kalau gue serang Salma, Rega nggak bakal peduli soal urusan cewek itu. Sedangkan elo—masih berlian buat dia."
"Kamu gila!"
"Biar gue kasih lihat yang namanya gila kayak gimana!" Denial cekal pergelangan tangan Karenina, memaksanya hampiri jendela. Kini tangan laki-laki itu membuka pengait dan dorong kaca hingga jendela terbuka, penampilan suasana Jakarta dari lantai tiga puluh cukup mengerikan, mereka bisa melihat gedung pencakar langit lainnya dari sana. "Ini bakal gila kalau gue paksa elo lompat dari sini, gimana?"
Plak!
"Dengan senang hati saya lebih pilih lompat dari sini ketimbang ikuti kemauan iblis seperti kamu!"
***