
Kepulan asap rokok membumbung tinggi oleh laki-laki yang masih bertengger di motor besarnya, ia menunggu Yuda di seberang jalan apartemen tempat Yuda tinggal. Jarum arloji bergerak mendekati pukul sebelas malam, tapi rasa lelah berkutat di kantor seharian ternyata tak membuat Denial urungkan jadwal pergi ke klub malam bertemu teman-teman lama meski siang tadi di kantor Denial telah mendapat teguran keras dari pihak HRD sekalipun ia adalah anak bos, tapi Denial tetap profesional mengakui kesalahannya yang telat masuk akibat pergi ke rumah Karenina dan terjebak hujan di jalan.
Lagipula, teguran bagi Denial hanyalah angin lalu yang masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan, numpang permisi. Selama mendapat teguran pun ekspresi Denial terlihat sangat tenang—bahkan sesekali tersenyum saat bayangan Karenina muncul di pelupuk mata, ia mulai dimabuk asmara.
Puntung rokok dibuangnya pada semak-semak sisi jalan, ia menoleh tatap Yuda yang baru keluar lewati lobi apartemen sebelum menyebrang dengan mudah kala kondisi jalan benar-benar sepi, suara lolongan anjing sesekali terdengar dari kejauhan pun binatang malam lainnya.
“Lo yakin? Besok bukannya kerja pagi,” tanya Yuda skeptis.
“Apa hubungannya? Kopi masih banyak kalau ngantuk.” Ya, kopi rasa cinta buatan Karenina mungkin obat paling ampuh kalau ngantuk, bisa jadi hanya bagi Denial saja, lagipula melihat Karenina di kantor rasanya sudah cukup membuat kerja Denial jadi lebih semangat. Bukankah begitu tanda-tanda manusia jatuh cinta? Ia akan semangat saat melihat seseorang yang disukai setiap hari.
“Ah, ya udahlah terserah elo. Gue mau ngikut aja, lagian anak sultan kayak elo kan bebas.” Yuda duduk di belakang Denial, ia tak bisa membawa mobil yang terparkir di basement karena posisi yang menyulitkan Yuda untuk keluarkan kendaraannya.
“Gue bebas.” Denial mulai putar gas hingga bising deru motor benar-benar menjadi nyanyian merdu bagi sepi malam itu, kini laju kencang menjadi sesuatu yang wajib Denial lakukan, terlebih jalanan cukup lenggang. Tinggal bagaimana keadaan mencekam yang akan Yuda alami setelah turun dari motor dengan pemilik kesetanan bernama Denial Nuraga.
—
Nathan enggan meladeni beberapa pelacur yang sempat menawarkan diri padanya sejak ia duduk sendirian selama sekitar lima belas menit di ujung ruangan yang penuh dengan euforia kerlap-kerlip lampu disko dan alunan musik disk jockey yang masih terus diputar menghibur para pengunjung klub malam.
Dua gelas sloki fortified wine dengan kadar alkohol tertinggi di antara varian wine lainnya telah meluncur mulus lewati kerongkongan Nathan sejak ia duduk di sana, sebatang rokok elektrik juga tengah dinikmatinya seraya bersamaan hiruk-pikuk keadaan sekitar.
“Lo di sini?” Suara itu terdengar jelas meski alunan musik DJ menggema cukup keras, terlebih pemilik suara kini ikut duduk di sebelah Nathan.
“Gue yang harusnya tanya, lo ngapain di sini? Nggak takut ketahuan Salma?” Nathan menjadi salah satu orang yang turut serta diundang pada acara pertunangan Rega dan Salma, bahkan hampir seluruh angkatan mereka diundang meski tak semua bisa hadir karena tinggal di kota yang berbeda setelah lulus SMA.
“Nggak usah dibahas, gue ke sini buat senang-senang tanpa dia,” aku Rega tanpa sungkan.
“Paling belum move on dari yang satu itu.” Nathan terkekeh pelan, ia menunduk tuangkan isi botol fortified wine ke gelas sloki miliknya sebelum ulurkan benda itu pada Rega. “Nih pembuka biar lega.”
Rega menerima dengan senang hati, ia habiskan hanya dalam beberapa teguk saja. “Saingan sama temen sendiri itu nggak enak, Nath.”
“Maksudnya—”
“Woi! Berdua aja lo pada!” Seruan Yuda alihkan pembicaraan Nathan serta Rega, mereka tatap Yuda dan Denial yang kini mendekat sebelum letakan pantat mereka pada sofa panjang di seberang posisi Nathan.
Denial sendiri hanya diam saat tatapannya berbalas dengan Rega, ia masih ingat betul sikap kasarnya di tempat yang sama beberapa waktu lalu, lagipula Rega-lah yang cari mati lebih dulu—bukan Denial yang memukul tanpa sebab.
“Sekarang jadi ber-empat, lengkap udah personelnya. Kita buat boyband aja gimana,” celetuk Nathan membuat Yuda tertawa, sedangkan dua teman lain sibuk dengan pendirian masing-masing bersama tatapan yang seolah perlihatkan kilat petir semu.
Nathan tatap ekspresi sama antara Denial dan Rega, ia sendiri belum tahu sama sekali masalah kedua sahabatnya itu pun dengan Yuda.
“Ngapain pada kayak gitu? Rebutan balon?” Bola mata Nathan bergerak lincah perhatikan Rega dan Denial bergantian, setelahnya beralih pada Yuda yang justru mengedik bahu sebagai perwakilan kalau ia juga tidak tahu ada apa di antara dua temannya. “Oh ya, Ga. Tadi elo ngomong apa, elo saingan siapa dan sama siapa?” Nathan rangkul bahu Rega.
“Bukan siapa-siapa.”
Nathan mengangguk. “Oke.”
Waktu terus berputar, mereka semua sibuk bercakap nostalgia tentang masa SMA yang cukup menyenangkan meski seseringnya Yuda dan Nathan saja yang terlihat menikmati obrolan mereka, sedangkan dua manusia lain sibuk menikmati momen canggung sejak kejadian terakhir.
Beberapa batang rokok telah disesap meski hanya sebotol fortified wine yang dinikmati hingga tak satu pun alami efek memabukan, mereka masih terbius dengan obrolan-obrolan sederhana tentang kisah SMA pun hal klasik perihal perempuan.
Denial yang paling terkenal playboy saat itu, jika dibandingkan dengan ketiga temannya memang hanya ia yang terlihat paling menonjol dalam segala aspek entah materi atau kepopuleran. Denial hanya diam pun sesekali tersenyum tipis saat Nathan singgung sikap menggelikannya terhadap perempuan saat itu, ia sama sekali tak tertarik dengan semua yang sudah dilontarkan bibir teman-temannya.
“Jangan-jangan di Korea juga banyak mantan, ya, Den?” tanya Nathan seraya meledek.
“Nggak usah ditanya kalau dia, baru nyampe di Jakarta aja udah perawanin anak orang di apartemen gue,” celetuk Yuda tanpa saring perkataannya sama sekali, keluar begitu saja tanpa penghalang seperti kereta yang melaju dengan mudah.
Denial enggan berkomentar, ia sandarkan tubuh nikmati batang rokok ke-empatnya.
“Gue juga nggak tahu, tapi—” Tiba-tiba pikiran Yuda terbuka akan sesuatu, ia menyadari sosok yang kini terasa tak asing meski tak sampai hitungan jari ke-lima mereka bertemu. Yuda mengernyit saat ia benar-benar familier dengan wajah perempuan itu sekarang, ia tatap Denial yang masih santai saja—lalu beralih pada Rega yang juga tak acuh. “Gue nggak yakin, kayaknya ada yang salah di sini.”
“Apa?” Nathan mulai bingung. “Ekspresi elo kenapa kayak gitu banget, Yud. Mikirin apa lo?”
Yuda menggeleng, ia tepuk bahu Denial beberapa kali. “Eh, lo serius tidur sama cewek yang waktu itu, kan? Lo nyadar, kan?” Yuda seperti tak mempercayai fakta yang benar-benar nyata. “Lo gila, Den!”
“Apa sih.” Denial sendiri tak mau ambil pusing jika memang Yuda tahu kebenaran perihal Karenina malam itu, ia telah lama simpulkan kalau hubungan Karenina dan Rega pasti juga diketahui dua sahabatnya mengingat mereka sama-sama di Jakarta pun bisa bertemu kapan saja. Jika kini semua benar-benar terungkap di depan Rega, Denial juga tak ingin mempermasalahkannya—saat yang terjadi memang tanpa sengaja, tanpa ia tahu siapa Karenina sebenarnya.
“Fix Denial gila!” Yuda menggeleng membuat Nathan semakin pusing.
“Apaan! Apa, anjing! Jangan bikin gue bingung gini, siapa emang perempuannya?” Ekspresi ingin tahu Nathan benar-benar kentara.
Yuda tertawa seraya memukul meja. “Parah lo, Den. Astaga! Gue punya teman masih aja kayak *******, heran gue.”
“Gue sebentar lagi mati konyol kalau Yuda cuma kasih omong kosong nggak jelas. Siapa cewek yang Denial tidurin, Yud?”
“Dia.” Yuda berbalas tatap dengan Denial seolah minta persetujuan untuk mengungkapkan, dan keterdiaman Denial adalah jawaban. Yuda beralih tatap Rega yang seolah tak memahami apa pun situasi mencekam sekarang. “Dia mantan pacar Rega, Karenina.”
Prang!
Gelas sloki dan botol alkohol kosong kini pecah berkeping-keping di dekat meja usai disapu oleh tangan Rega setelah ungkapan Yuda membuat emosinya merambat hanya dalam beberapa detik.
Rega beranjak seraya cekik pelan leher Denial di depan banyak orang, euforia malam itu telah digantikan suasana tegang yang diperankan dua orang sahabat.
Rega mendelik. “APA LO MASIH WARAS! LO PERKOSA KARENINA!”
“Jangan bikin ribut di sini, Ga,” ucap Nathan berusaha menarik Rega agar lepaskan cekikannya, tapi ia didorong kasar oleh Rega hingga terduduk lagi di sofa.
“Ga, ini pasti ada salah paham,” tutur Yuda berusaha cairkan suasana, “nggak mungkin Denial lakuin itu sengaja, dia pasti enggak kenal Karenina.”
“NGOMONG, ********!” Cekikan Rega meluruh menjadi sebuah cengkraman di kerah jaket yang Denial gunakan, ia paksa temannya berdiri, beberapa orang terus memperhatikan interaksi mereka sejak suara jatuhnya gelas sloki serta botol wine mengusik.
Denial tersenyum miring, ia tak gentar sama sekali jika harus hadapi amuk Rega sekarang. “Apa yang musti gue jelasin? Yuda ngomong benar, gue nggak kenal dia waktu itu. Lagian elo yang udah buang dia—”
Bugh!
Satu tinju mendarat keras di pelipis kiri Denial hingga empunya tersungkur ke lantai, segera Nathan beranjak tarik mundur Rega sebelum keadaan makin parah, Yuda juga beranjak bantu Denial berdiri.
Ruam kebiruan menghiasi pelipis Denial, ia justru tertawa tanggapi pukulan Rega barusan.
Denial tepuk pipinya sendiri. “Pukul aja di semua bagian, sampai gue mati kalau bisa. Toh nggak akan ubah keadaan kalau Karenina udah gue tidurin, gue yang pertama buat dia.”
“Bangsat!” Rega hendak maju, tapi Nathan terus memeganginya sekuat tenaga. “Lo emang nggak pantas hidup! Jangan manfaatin dia!”
Denial bertepuk tangan. “Wah, wah, wah. Gue nggak nyangka kalau elo bakal secepat itu sadari sesuatu.”
“LO BENERAN MANFAATIN DIA! MATI AJA LO, ANJING!” Rega mendorong Nathan hingga terjatuh dan kembali serang Denial dengan pukulan bertubi-tubi hingga temannya kembali tersungkur, Rega duduk di perut Denial seraya pukuli wajahnya dengan ganas, ia meraih pecahan botol seraya mendelik penuh amarah. “Gue bunuh lo sekarang!” pekik Rega seraya arahkan pecahan botol ke dada Denial, beruntungnya ia masih selamat saat pihak keamanan akhirnya turun tangan tarik paksa Rega keluar dari sana.
“Lo manfaatin apa, Den?” tanya Nathan yang kini bantu Denial berdiri.
“Apa masalah lama itu masih bikin lo dendam sampai sekarang?” tanya Yuda skeptis.
Denial yang kini kembali duduk di sofa menerawang sebelum akhirnya berucap, “Iya.”
—