
Banyak frasa yang dilangitkan setiap detiknya, terutama dari mereka yang mengalun doa meski terkadang awan menyembunyikan banyak rayuan pun cakrawala yang sodorkan sejuta pilihan.
Baskara masih tidak baik-baik saja saat gumpalan awan kelabu menggantung di angkasa, Desember masih harus dijalani selama sepuluh hari ke depan bersama kubik air hujan yang belum menemukan titik akhirnya. Sedangkan bayu sibuk menyapa orang-orang yang singgah di luar ruangan, menjatuhkan banyak dedaunan kering yang merapuh, meluruh meski tak pernah berharap akan jatuh.
Bandara adalah tempat yang baru saja Karenina kunjungi usai mengantar sang oma yang hendak pulang ke Palembang--tanah kelahirannya--selama beberapa waktu, Karenina tak bisa memastikan kembalinya wanita paro baya itu. Lagi, Lili jelas tak sudi membicarakan sesuatu yang bisa membuatnya akrab dengan perempuan itu, sebab yang bisa Lili katakan pada Karenina hanyalah hunjaman kata sarkas nan menyakitkan, persis seperti sikap Lili terhadap menantunya semasa Liana masih hidup, nyaris tak ada kalimat merdu, hanya sekat-sekat sendu yang mengharu biru.
Angka jarum jam mendekati pukul sepuluh, jalanan ibukota tak ada kekosongan meski hujan deras siap diluncurkan bersamaan gelagar yang pongah akan kehadirannya.
Mobil terhenti di balik zebra cross saat lampu merah berkuasa, pada akhirnya waktu seolah mundur bersamaan rintik gerimis yang gugur.
Karenina masih nikmati waktu senggang seraya perhatikan sosok gadis berhijab berusia sekitar sepuluh tahun tengah duduk di selasar sisi tiang lampu merah, sekranjang bunga mawar penuh warna berada di pangkuan si gadis, ia terlihat tak peduli dengan gerimis yang terus menyerbu tanpa ampun.
Bola mata Karenina beralih tatap detik mundur ke-dua puluh sebelum lampu hijau menyala, saat bola matanya kembali pada gadis kecil tadi--rupanya ia sudah bangkit bergerak menghampiri mobil Karenina.
Jendela sisi kiri diketuk hingga pemiliknya menurunkan kaca, gadis berwajah pucat itu tersenyum tulus sebelum merogoh note kecil serta bolpoin dari keranjang, ia menuliskan sesuatu dan menyodorkannya di depan Karenina.
Kakak yang cantik ini mau beli mawarku enggak?
Karenina ikut tersenyum, ternyata gadis itu tunawicara. "Bunga kamu warna-warni, bunga yang cocok buat kakak ini kira-kira apa, ya?" Tatapannya beralih pada lampu merah, sepuluh detik menjelang pergantian warna.
Gadis itu kembali menulis pada note.
Kakak bisa pilih warna putih yang artinya ketulusan, pink yang artinya keberkahan, atau merah sekaligus putih yang artinya satu cinta.
Karenina sudah lebih dulu membuka pintu mobilnya seraya sodorkan beberapa lembar ratusan ribu pada gadis tunawicara itu, ia ambil alih keranjang berisikan tangkai mawar penuh warna.
"Kamu pulang sekarang, gerimis, nanti bisa sakit. Hati-hati di jalan, ya." Tangannya usap lembut kepala berhijab itu sebelum suara klakson mobil di belakangnya menyadarkan Karenina perihal lampu hijau yang menyala.
Gadis berhijab itu sekadar membungkuk seraya tersenyum, ia letakan kertas tadi pada keranjang sebelum melambai ke sisi jalan meninggalkan Karenina yang kini masuk ke mobil dan buru-buru lajukan kendaraan, ia masih sempat menoleh pada gadis berhijab itu--yang kembali bergeming di sisi tiang lampu merah seraya melambai tangan pada Karenina.
Keranjang berisi berbagai macam mawar kini tergeletak di jok sisi kiri, tangan kiri Karenina meraih kertas yang belum sempat dibacanya seraya kemudikan mobil dengan tangan kanan.
Rasa senang sekaligus kekaguman hanya bisa tersalurkan lewat lengkungan bibir, gadis tunawicara itu juga tak bisa melihatnya. Andai Karenina miliki waktu yang bisa ia atur sendiri, berbicara lewat selembar kertas mungkin terasa lebih berharga.
Hujan masih saja berguguran pun dentum petir yang mengancam, sebuah kedai kopi menjadi pilihan paling bijak untuk Karenina saat ini.
Mobil memasuki area parkir hingga terhenti pada posisi paling ujung, ia simpan kertas tadi pada dashboard sebelum keluar seraya berlari kecil hampiri beranda kafe.
Basah menguliti, dingin mendekap erat, tapi tidak lebih mengerikan daripada terkena cipratan air lumpur di tepi jalan.
Rambut yang sedikit basah tak berati apa-apa, tak menyurutkan niat Karenina agar tetap masuk dan memilih kursi kosong di dekat kaca tebal dengan pemandangan lalu-lalang kendaraan diterpa air hujan.
"Saya mau segelas flat white sama chocolate croissant ya," ucap Karenina tanpa membuka buku menu sama sekali, waiterss yang berdiri di sebelahnya kini mencatat pesanan sebelum beranjak pergi.
Paha kiri bertumpu di atas paha kanan, satu tangannya menopang dagu, eboni cerahnya memperhatikan riuh rintik hujan di luar kafe.
Sebuah taksi blue bird menepi di sisi jalan, sosok perempuan seusia Karenina turun seraya tutupi kepalanya dengan sling bag saat tak ada tempat perlindungan lain di sekitarnya, terlihat ia menoleh ke segala arah sekadar memastikan jalan yang hendak ia sebrangi sepi dari kendaraan. Hujan yang terjun tanpa mengurangi kubik airnya semakin membuat perempuan berambut pirang sebahu itu basah, decak serta umpat kekesalan berulang kali terlontar.
Kaki yang kenakan heels setinggi sepuluh centi itu kini bergerak cepat menyebrang jalan hingga berakhir di beranda kafe, sekarang ia lebih mirip anjing yang terkena cipratan air lumpur pinggir jalan.
Bagus sekali!
"Gue bener-bener sekonyol ini!" gerutunya seraya rapikan rambut yang lepek oleh sentuhan air langit, "pokoknya besok gue nggak mau ketemu Nathan lagi kalau dia enggak antar pulang, fix!" Ia melangkah dorong pintu kaca tebal dan bergeming di balik pintu saat perhatian para pengunjung kafe tertuju padanya. Oke, Jesslyn bukanlah seorang badut yang tengah menghibur pengunjung, bukan juga seorang pengemis yang membuat semua orang menatapnya dengan kerutan dahi, tapi satu ekspresi lain justru diperlihatkan Karenina saja yang tersenyum menimpali kehadiran perempuan tadi.
Sial, kenapa orang-orang ngelihatin gue kayak gitu, Nathan sialan! Batin Jesslyn yang begitu dongkol dengan kesialan pagi ini, jika Nathan tidak manja dan menyebalkan pasti kondisi Jesslyn tak seburuk seperti sekarang: basah dan mengerikan saat mascara yang digunakannya luntur. Pada akhirnya beberapa pengunjung kafe menahan tawa ketimbang pamer penghinaan mereka.
Jesslyn memberengut kesal tanggapi ekspresi orang-orang, ia putuskan melangkah seraya edarkan pandang berharap temukan kursi kosong untuknya, tapi lengkung Karenina bersama wajah yang cukup familier membuat Jesslyn kerutkan dahi, ia melangkah ragu hampiri perempuan yang enggan alihkan tatap darinya.
Lengkung Karenina semakin diperlebar, ia beranjak hingga tubuhnya hampir tersungkur saat Jesslyn memeluk erat tiba-tiba.
"Astaga! Ini beneran Karenina Hasan yang bisu pas kuliah itu, kan?" celetuk Jesslyn tanpa peduli perkataannya bisa melukai Karenina atau tidak, ia memang tipikal gadis yang suka bicara sesukanya.
"Iya, ini Karenina." Perempuan itu turut mengusap punggung Jesslyn, tak masalah kalau basah tubuh Jesslyn kini menyentuh tubuhnya.
"Nggak nyangka bisa ketemu elo lagi, dari lulus kuliah kita pisah." Jesslyn lepas pelukannya, ia cengkram pelan lengan Karenina. "Udah berapa lama enggak ketemu coba?"
"Mungkin tujuh tahunan."
"TUH KAN! LAMA BANGET!!!" Pekikan Jesslyn membuat beberapa pengunjung kafe sedikit terganggu sampai menatap keduanya, tapi tak ada yang berkomentar.
Karenina tertawa kecil. "Ya, kan kamu yang nggak di Indonesia lagi. Kapan pulang? Duduk dulu." Ia hempas lagi pantatanya di tempat semula pun Jesslyn yang ikut duduk di sisi Karenina.
Seorang waiterss keluar dari pantry seraya membawa nampan berisi pesanan Karenina, ia letakan di meja tanpa lupa memasang senyumnya. "Selamat menikmati."
"Makasih," sahut Karenina, ia beralih pada Jesslyn. "Kamu mau pesan apa? Sekalian aja saya bayar."
"Asyik! Baru ketemu langsung dapet gratisan." Jesslyn tatap makanan Karenina. "Mau sama kayak dia aja, Mbak."
"Oke, tunggu ya." Waiterss itu tinggalkan keduanya bersama deras hujan yang masih bercucuran di selasar Jakarta. Setelah itu akan banyak saga yang terlontar saat kenang masa lalu kembali mengudara.
***
Tangkai-tangkai mawar telah Karenina tata di tiap vas kaca futuristik yang sengaja dibelinya usai bertemu Jesslyn di kafe, kini bunga yang dibelinya pada gadis kecil berhijab telah tertata rapi di balik jendela kamar, aroma mawar yang cukup khas telah membaui indra penciuman Karenina.
Robekan kertas yang sempat Karenina simpan dalam dashboard pun turut serta ia masukan nakas, seolah benda itu cukup berharga, mungkin sedikit mengingatkannya pada redup bola mata yang dipaksa harus berbinar.
Hujan telah berhenti, permukaan dedaunan penuh dengan embun, jalanan basah serta aktivitas manusia kembali ramai di luar ruangan.
Karenina masih diam di dekat jendela tatap keadaan jalanan depan rumahnya, terlihat beberapa kendaraan hilir-mudik pun pejalan kaki beserta payung mereka yang masih basah.
"Kapan nikah? Gue bentar lagi mau nikah lho." Dialog Jesslyn saat pertemuan mereka tadi tiba-tiba menelusup di kepala Karenina tanpa izinnya.
Ia loloskan setangkai mawar dari vas kaca, menatapnya dengan sorot meredup, setitik rasa nyeri menjalar ke mana pun sesukanya. Jika saja Karenina bisa sembunyikan segala pelik hidup pada kapas-kapas di angkasa, atau biar saja tersapu gelombang dan menariknya ke ujung paling dalam. Di mana saja asal Karenina bisa singkirkan bilur yang masih tersisa, atau mungkin menunggu lanjutannya.
Tangan lain terangkat mengusap kelopak mawar putih yang dipilihnya, ia ingat dalam kertas yang dibagi penjual bunga pagi tadi kalau mawar putih mengartikan ketulusan.
"Ketulusan? Oke, ini soal ketulusan. Kamu tulus atau enggak?" gumam Karenina saat jemarinya bergerak melepaskan satu kelopak sebelum terjatuh di permukaan sisi jendela.
"Tulus." Kelopak berikutnya kembali ia loloskan. "Enggak."
"Tulus."
"Enggak."
"Tulus."
"Enggak."
Karenina terlihat seperti anak SD yang meramal sesuatu lewat kelopak bunga, ia sedikit menikmati kekonyolan itu sekarang meskipun tanpa sebuah mantra, tapi dua kosa kata berulang-ulang ia lontarkan hingga kelopak mawar terakhir.
"Enggak." Karenina mengernyit. "Kenapa enggak tulus?" Ia mendesah seraya letakan sisa tangkai di vas semula. "Apa benar kamu enggak tulus sama saya, Denial Nuraga?"
***