
"Namanya Benaya, mantan pacar Rega sekaligus perempuan yang mati-matian Denial kejar waktu SMA. Jadi, pas Rega putusin Benaya gitu aja—malah Denial yang ngamuk, dia enggak terima. Desas-desus mereka kuliah di universitas sama waktu di Korea, nggak mungkin dong nggak ada kisah asmara. Terus, waktu itu Nathan cerita kalau Rega nebak Denial mau balas dendam ke dia."
Terkadang setiap orang memerlukan waktu agar bisa mencerna sebuah kejadian pun perkataan yang melintas dalam hidup masing-masing, sebab menerka-nerka juga bukanlah jawaban pasti.
Mungkin saja kali ini Karenina berhasil lolos dari kejatuhan yang lebih dalam, tak lebih dari kejatuhan sebelumnya meski kadar rasa sakit tak bisa dibedakan. Sakit hati pasti ada meski ia tak pernah mengaku perihal rasa, perempuan mana yang takkan melambung jika terus ditinggikan dengan jutaan retorika rasa dari lawan jenisnya, apalagi sebuah tawaran tentang uluran tangan—yang mana pemiliknya mengaku akan mengeluarkan dari kubangan luka, toh kenyataannya bisa Karenina hadapi sekarang. Semua lebih jelas pada ungkai omong kosong, menggelikan.
Sekali lagi, guyuran hujan masih jatuh di wajah sekadar mengungkapkan isi hati pemiliknya. Ketika Karenina berpikir bilur lama hanya meninggalkan bekas, ternyata bilur baru menggores tanpa tuntas.
"Ke Apartemen Boulevard ya, Pak." Akhirnya suara serak Karenina memberi kepastian yang ditunggu supir taksi setelah lima belas menitan hanya diam tanpa berani mengusik tangis menyayat hati dari penumpangnya.
"Iya, Mbak." Lirikan matanya mengarah pada kaca di dekat kepala, ia menggeleng tak mengerti.
***
Ketukan di balik salah satu pintu unit apartemen milik Jesslyn di lantai 25 masih berlangsung, Karenina cukup sabar menunggu hingga pemiliknya keluar seraya menguap lebar.
"Karenina, elo—" Jesslyn baru mendelik usai melihat kondisi memperihatinkan sahabat lamanya, mulai dari wajah yang basah hingga plester di keningnya. "Elo kenapa!" Ia tarik Karenina dalam dekapan saat air mata lagi-lagi meluruh tanpa jemu. "Kita masuk dulu."
Kini keduanya sama-sama menghempas pantat di sofa putih ruang tamu apartemen Jesslyn, gadis itu menarik beberapa lembar tisu yang terletak di permukaan meja. Ia usapi wajah basah Karenina, kenapa pertemuan kedua mereka harus alami kesan menyedihkan.
"Berhenti dulu nangisnya, atau mau kelarin juga nggak apa-apa. Gue nggak akan maksa elo buat cerita, intinya lo ke sini pasti mau tenangin diri." Ia arahkan kepala Karenina agar bersandar di bahu kiri, beruntung ketika seseorang masih sudi membagi bahu meski banyak orang di luar sana yang justru sibuk menambah beban tanpa ampun. "Gue bikin chammomile tea, ya. Biar elo rileks dikit." Anggukan Karenina adalah jawaban, kepala perempuan itu pun terangkat biarkan Jesslyn melenggang hampiri dapurnya.
Tisu? Berapa lembar yang harus Karenina habiskan untuk air matanya kali ini, apa tak ada kata bosan?
Lucunya adalah kenapa Karenina harus percaya pada laki-laki yang baru datang dalam hidupnya selama beberapa hari, ia harus belajar bagaimana mengamati situasi, belajar menghadapi sebuah liku yang harus ia lalui di kemudian hari.
Beberapa lembar tisu kembali Karenina tarik, ia memaksa senyum saat Jesslyn datang seraya meletakan segelas chammomile tea di meja, gadis yang hanya kenakan kaus oversize abu-abu serta hot pants itu kini duduk di sofa yang lebih kecil, bukan di sebelah Karenina lagi.
Diminum biar agak legaan," tutur Jesslyn.
"Makasih. Maaf kalau saya ke sini malah nangis-nangis, bikin repot kamu."
"Kapan pun, cari gue kalau lo butuh—mumpung gue udah balik ke Jakarta lagi, kita harus sering-sering ketemu." Jesslyn lirik plester di kening temannya. "Itu kenapa? Lo jatuh?"
"Bukan, saya habis kecelakaan. Udah nggak apa-apa kok."
Jesslyn mengernyit. "Kok gue baru tahu? Kenapa enggak bilang, kan gue mau jenguk juga. Jahat lo." Ekspresi memberengut gadis itu membuat tawa hambar Karenina terdengar, setidaknya masih bisa seperti itu.
"Nggak apa-apa kok, besok juga sembuh." Mata yang merah serta sisa tawa membuat ekspresi Karenina terlihat janggal, ia memperhatikan sekelilingnya. "Kamu di sini sendirian?"
"Iya, kan orangtua gue nggak di Jakarta. Cuma Nathan yang sering ke sini." Kaki kiri Jesslyn bertumpu di atas paha kanan, tangan kanan menopang kepala di sisi sofa. "Gue nggak nyangka lo bakal sampai tempat ini, kan Karenina bukan tipikal orang yang suka keluyuran enggak jelas gitu, apalagi malam-malam." Ia lirik jam weker di permukaan nakas—tepat semeter di sisi kanan pintu. "Baru mau jam tujuh, belum malam juga sih."
Karenina raih cangkir teh miliknya, ia rasakan rileks sejenak saat uap teh merasuki pernapasannya, kini seteguk chammomile tea meluruh lewati kerongkongan, sedikit menenangkan. "Kayaknya kalau tinggal sendiri itu nyaman, ya."
"Tergantung, kalau yang badung kayak gue sih nyaman-nyaman aja." Jesslyn terkekeh. "Kenapa mikir kayak gitu, bosan di rumah aja?"
Karenina menggeleng. "Nggak apa-apa, seenggaknya bebas aja mau seperti apa."
Jesslyn menjentik jari. "Itu poin pentingnya, gue bisa bebas ngapain aja tanpa perlu dengar ocehan mama sama papa, intinya jaga diri juga sih. Tapi kalau lo mau tinggal bareng sama gue juga nggak apa-apa kok, ada kamar kosong di atas."
"Nathan kenapa?" Ekspresi Jesslyn berbeda, ia benarkan posisi duduknya.
"Jadi saya ke sini karena—"
***
Sebuah amplop berisikan surat pengunduran diri milik Karenina tergeletak di meja kerja milik Zian, sepagi itu hal yang tak disangka-sangka membuat pikirannya mulai tak keruan.
Zian berkali-kali menghela napas panjang ketika amati lagi surat dari sekretaris yang sudah dua tahun bekerja dengan kompeten untuknya, tak ada angin apalagi topan—kenapa tiba-tiba Karenina putuskan resign hari ini, kepala Zian mulai berdenyut nyeri, apa ia melakukan sebuah salah hingga Karenina putuskan mundur?
Ditatapnya perempuan berkemeja merah yang masih berdiri di depan meja kerjanya, Zian beralih lagi perhatikan surat pengunduran diri di tangan kanan, ia berharap bola matanya tak salah melihat, atau paling tidak bukan nama Karenina yang tertera di sana.
"Kenapa? Kenapa tiba-tiba mau resign?" Kosa kata akhirnya terucap dari bibir Zian.
"Maaf, bukan karena saya nggak menghargai usaha Bapak selama ini. Semua masih nyaman buat saya jalani, tapi akhir-akhir ini banyak hal yang agak sulit diungkapkan." Karenina berkata setenang mungkin.
"Karenina, kalau memang ada keluhan tolong bicara. Jujur, saya nggak sanggup kalau kamu resign dari sini, gimana saya cari pengganti kamu nantinya."
"Nggak ada keluhan kok, Pak. Sikap Bapak ke saya selalu baik, saya nggak pernah tersinggung soal apa pun. Saya cuma mau istirahat aja dari urusan kantor, mungkin saya butuh refreshing."
Kali ini Zian menghela napas berat, ia letakan kertas itu di permukaan meja. "Oke, sekarang kita bicara antara saya sebagai teman almarhum mama kamu, bukan antara bos dan sekretaris. Tolong jujur ke om, ada apa sebenarnya? Om paham sikap kamu, nggak mungkin kalau baik-baik aja terus kamu mengundurkan diri."
Perempuan itu menelan ludahnya, ekspresi yang Zian tampilkan benar-benar serius seolah tengah membaca isi pikiran Karenina. "Karenina serius nggak ada apa-apa."
"Atau karena mau pindah ke kantor papa kamu itu?" Karenina menggeleng. "Terus apa? Jujur om ngerasa ada yang salah di sini, apa ada hubungannya sama Denial?" Tiba-tiba ingatannya seputar sikap Denial saat pulang ke rumah semalam terapung jelas. Denial yang bersungut-sungut ketika ditanyai oleh Zian atau bahkan Anne, Denial yang enggan makan malam di rumah pun bolos kantor hari ini, sikap anak laki-lakinya sangat aneh usai pulang semalam, seperti uring-uringan tanpa daya hidup.
"Nggak ada apa-apa, Denial juga bukan alasannya." Mati-matian Karenina menahan kubangan air mata yang mengepung ketika wajahnya memanas. "Soal kontrak, Karenina siap kalau harus kena denda kok. Nggak apa-apa, ini keputusan bulat Karenina, Om. Maaf. "
Bahu Zian merosot, ia merasa melakukan sebuah kesalahan pada almarhum Liliana karena tak bisa menjaga buah hatinya. "Kalau itu mau kamu, ya sudah. Om bisa apa, Karenina? Kamu masih hutang jawaban soal hari ini sama om."
"Makasih kalau Om benar-benar bisa paham keputusan ini, Karenina beresin semua barang-barang Karen dulu, permisi." Penuh semangat perempuan itu keluar dari ruang kerja Zian, pemiliknya justru pusing berkunang-kunang hadapi situasi tak terduga itu, sikap santun nan lembut tanpa celah yang selalu Karenina perlihatkan selama bekerja cukup membuat Zian tak rela melepaskan sekretarisnya.
"Kalau ini semua ada hubungannya sama Denial, kamu nggak akan lolos dari papa."
***
Sebuah kotak di permukaan meja mulai terisi oleh barang-barang Karenina, ia telah memikirkan keputusan resign hari ini dengan matang semalam—terlebih usai membagi kisah sedihnya pada Jesslyn, usai memecahkan tali yang meranggas hingga terhubung sampai utuh. Kini Karenina paham seperti apa skenario yang telah Denial rangkai, meski terkaan memang tak sepenuhnya menjadi sebuah kepastian.
Sekilas bola matanya memperhatikan keadaan ruang kerja yang telah dua tahun ia huni, ada banyak kenangan tertuang di sana meski terpaksa ia tinggalkan. Bola matanya berhenti mengitari saat terpaku pada pot bonsai maple yang tak lagi miliki daun, telah meranggas tak bersisa.
Ia ingat alasan hadirnya tanaman musim semi itu di sana pun sebuah janji yang pernah mengikat kelingkingnya. Sesak masih sanggup menyelinap di dada. Ia melangkah hampiri tanaman yang tak lagi dipenuhi daun merah sebelumnya.
Karenina berjongkok, sorot matanya meredup. "Kamu nggak perlu ikut, tetap di sini sampai musim semi selanjutnya, wakili janji yang nggak akan pernah terjadi."
***