
Aroma cappucino dari satu sachet kopi instan yang baru Karenina seduh menguar nikmat memenuhi dapur rumahnya pun menelusup keluar lewat ventilasi pintu dapur yang sengaja Karenina tutup, nyatanya aroma khas itu membaui indra penciuman orang lain yang kebetulan berada di rumah Minggu ini.
Cangkir putih bergambar hati merah muda tampilkan kopi yang tengah Karenina aduk menggunakan sendok teh, ia menikmati aroma kopi yang bisa dihirup sesuka hati, sama seperti irama detak jantungnya. Sedikit melenakan dalam kesunyian, cukup menenangkan dalam ketiadaan.
Piring ceper kecil berisikan sepotong brownies yang ia ambil dari kulkas akan temani si kopi setelahnya, menjadi sedikit buai kedamaian bagi pemiliknya, paling tidak—cukup menenangkan syaraf-syaraf yang kaku setelah menghadapi dunia.
Karenina berhenti mengaduk kopi, ia letakan sendok di sisi cangkir sebelum tarik salah satu kursi dari bagian meja makan. Cangkir kopi serta piring ceper yang semula berada di permukaan panel—kini berpindah hampiri permukaan meja makan.
Karenina duduk di sana, diangkatnya cangkir yang masih menguarkan uap panas—menyapu kulitnya dengan ramah, ia tiup pelan sebelum menyesapnya satu teguk saja, sekadar meluruhkan rasa hangat melewati kerongkongan hingga sentuh lambungnya.
Helaan napas kembali berlangsung, intensitas hujan sore itu masih deras tanpa tekanan guntur, setidaknya beberapa orang menghabiskan waktu Minggu mereka di rumah dengan lelap panjang, atau berkumpul dengan keluarga bersama kopi—seperti yang Karenina ingini, tapi semua seperti mimpi.
Bola matanya bergerak tatap pintu saat indra pendengarannya mendengar suara derit benda itu, perlahan terdorong pelan hingga munculkan sosok Rahadian yang tetap membuat ekspresi Karenina datar. Kini cangkir kopi diletakannya, bibir seolah hilang rasa.
"Boleh papa duduk?" Suara Rahadian mengawalinya. Sebuah anggukan membuat pria itu melangkah—sebelum akhirnya menarik kursi, ujung dengan ujung, itulah posisi mereka sekarang. Bentuk meja persegi panjang dengan enam buah kursi, empat diantaranya tertata adil di sisi kiri-kanan, sisanya ada di ujung utara dan selatan. "Kopi yang kamu buat baunya enak, boleh papa—"
"Ya." Suara Karenina begitu lirih, nyaris tak terdengar saat gemuruh petir menyembunyikannya. Ia beranjak hampiri panel, menengadah bersama gerakan tangan terangkat yang membuka pintu kabinet di atasnya, meraih satu sachet kopi rasa yang sama seperti milik Karenina.
Rahadian begitu tenang memperhatikan putri semata wayangnya sibuk menyeduh kopi, ia amati dari ujung kaki hingga kepala, semua tampak sempurna saat wajah cantik almarhum Liliana diwariskan pada putri mereka. Pada akhirnya singgah sesuatu yang membuat Rahadian menarik napas berat, ada nyeri meradang di ulu hati, keputusasaan serta rasa bersalah menyelinap tanpa permisi.
Cangkir baru telah tergeletak di depan Rahadian tanpa adanya sepotong brownies, Karenina kembali duduk di tempat semula tanpa memedulikan kegiatan sang ayah.
"Kita lama nggak seperti ini." Suara Rahadian kembali mengudara, tangan kanan bergerak menyentuh cangkir kopi sebelum meniup uap yang perlahan menyingkir, dua teguk cappucino meluruh nikmat lewati kerongkongan, ada hangat yang dirindukan—meski ingin lebih dari secangkir kopi, tapi lebih pada memperbaiki tali kekeluargaan antara keduanya. Secangkir kopi dan hujan masih sama, hanya hal sederhana pada akhirnya.
"Ya, Karenina pikir Papa udah lupa—soal siapa kita." Bola matanya meredup, ia hanya menafsirkan kekecewaan yang sejak lama singgah dalam jiwanya, mendekap erat tanpa ingin melepaskan—kecuali seseorang sudi mengubah cara berpikirnya, mengajak Karenina pada titik terang yang lebih baik perihal bagaimana mereka.
"Papa minta maaf, bukan soal papa lupa, tapi—"
"Sengaja?" Karenina angkat cangkir dan teguk kopinya seraya lirik ekspresi sendu sang ayah.
"Papa nggak sengaja."
"Lalu apa?" Suara gelas yang diletakan cukup kasar terdengar, air kopi yang masih tersisa memenuhi sisi cangkir hingga meluruh sentuh permukaan meja. "Karenina udah paham, meski enggak dipaksa, tapi semua terpaksa. Papa tahu kenapa?"
"Karen, papa pasti perbaiki semuanya biar nggak ada jarak antara kita." Rahadian mencoba bernegosiasi, tapi sadarkah ia jika setiap upaya yang mungkin akan dilakoninya hanya berakhir sia-sia.
"Perbaiki apa? Yang mana? Papa baru sudi duduk berdua sama Karenina setelah oma pulang ke Palembang, besok kalau oma pulang, kita semakin renggang sampai selamanya. Itu benar, kan?" Bilur baru kembali membaret, pelupuk mata Karenina terasa panas saat air hujannya mendobrak ingin dihunjamkan, mendung kembali hiasi wajah bersama murung yang singkirkan suasana hangat—saat ia pikir secangkir kopi bisa membiuskan kepenatan hari-harinya, tapi sebuah upaya dari baik-baik saja yang diikrarkan sang ayah terdengar seperti angin lalu yang meliuk mengitari Karenina hingga sejuk melanda—sebelum akhirnya pergi tanpa suara.
"Papa nggak pernah bermaksud seperti ini, Karen. Semua keterbatasan papa, mari kita mulai dari awal."
Bola mata seakan menyala saga, membawa tenang pada air mata yang lagi-lagi dialirkan. Karenina beranjak seraya alihkan pandang, ia seka air mata yang terasa tak berguna.
"Apa? Jangan anggap Karenina ini seperti mama waktu itu, Karenina nggak akan sanggup kalau menerima semua kebencian oma yang jelas diwariskan buat Karenina. Permisi." Perempuan itu melenggang tinggalkan meja makan, tapi langkahnya terhenti di ambang pintu bersama kepala yang menoleh. "Karenina cuma butuh hubungan antara kita lebih baik, coba ingat berapa tahun hubungan kita seperti ini? Sejak mama meninggal, Papa lebih berubah lagi, Karenina nyaris nggak kenal sama ayah sendiri. Mau Karen sederhana, jadi Papa yang bisa mengayomi putrinya dan enggak memaksa sesuatu yang nggak pernah Karen ingini, bukannya pendekatan sama Rega waktu itu juga Papa turut serta, kan?"
***
Setiap orang diciptakan dengan kadar kesabaran yang berbeda-beda, ada yang tipis dan mudah emosi tanpa berpikir panjang lebih dulu, ada pula yang lebih senang melapangkan sabar mereka hingga tiba masa semuanya benar-benar menjerat pada titik di mana seseorang akhirnya lelah, sabarnya seseorang yang pintar menyembunyikan kekesalan justru lebih mengerikan saat ia hilang kendali, saat titik kontrolnya berada di batas paling rendah.
Sedikit pelampiasan setelah menahan sabar lebih dari sepuluh tahun lamanya, ia bukan robot atau peliharaan yang selalunya wajib mengikuti perintah si tuan, ia bukan patung yang hanya bisa diam ketika orang-orang sibuk membaret luka atau menikamnya tanpa peduli seperti apa sakit di akhir, seperti apa ia menahan perih mengakar hingga tali sabar yang ia retas sejak lama akhirnya meranggas.
90KMJ sudah melampaui batas maksimal kendaraan di jalan raya—yang harusnya 80KMJ, tapi Karenina tak peduli dengan perilaku pelanggarannya sekarang, jarum pendek arloji baru mendekati angka delapan malam, jalanan basah menyapa semua pengendara nan telah memperingatkan rasa waspada bagi mereka agar tak mempercepat laju kendaraannya, tapi Karenina seperti buta mata pun hati, rasa emosi meluap di dada, membuat ketenangan yang biasanya ia pamerkan terkoyak hebat.
"*Karena kamu nggak mau kerja di kantor papamu, jadi dekati Rega, dia satu kantor sama kamu, kan?"
"Kamu pacaran sama Rega? Lebih jauh lagi, banyak untung yang didapatkan."
"Kamu udah enggak suci! Pantas Rega maunya tunangan sama gadis lain! Apa bedanya kamu sama Liliana*!"
Beberapa dialog menyakitkan muncul seperti slide yang terus bergeser di memori Karenina, ia merasa hidup hanya untuk bernapas, bukan menikmati apa yang bisa dilakoninya sesuai kehendak sendiri. Pion atau bidak catur adalah dirinya, melangkah satu demi satu papan agar mencapai tujuan meski banyak penghalang, menjadi sosok yang tidak tahu malu hingga ia jatuh pada lubang yang dibuatnya sendiri.
Miris!
Ia begitu mengerikan tanpa perlu memamerkan, ia merasa paling bodoh atas permainan rasa yang dibuatnya sendiri.
Rega hanyalah omong kosong, laki-laki itu mungkin yang merasa paling bersalah karena sudah meninggalkan Karenina dalam kehampaan, tapi Karenina-lah yang lebih dominan pada permainan rasa sekaligus kepiawaiannya menipu hingga karma akhirnya datang, Karenina dikalahkan oleh keputusan orangtua Rega yang singkirkan hubungan mereka.
Emosi memang takkan pernah berujung apa-apa, hanya kepuasan yang bias. Culas dibalas culas, mungkin aroma kepalsuan tercium keluarga Rega, ketulusan Karenina dipertanyakan saat mereka tahu siapa Karenina sebenarnya—anak yang dilahirkan karena hamil di luar nikah, terkadang martabat keluarga juga dijunjung tinggi, Salma-lah yang jadi pilihan terbaik.
Karenina pikir semua yang dilakukan perihal hubungan bersama Rega adalah pembuktiannya agar sang oma bungkam, agar sang oma tak menekannya dengan berbagai macam keinginan yang tak bisa Karenina lanjutkan. Sebab hidup bersama Rega mungkin menjadi patokan terakhir agar orang-orang tak memandangnya sebelah mata, tapi Karenina tak bisa memaksa apa-apa jika Tuhan yang telah atur semua, ia pasrah ketika harapan kecilnya luluh lantah.
"Argh!" Pekikan Karenina mengudara bersama pijakan kakinya pada rem mobil, benturan kening pada kemudi membuat bagian tubuh itu terlihat kebiruan. Ia telat menginjak rem mobil saat sebuah van hitam tiba-tiba berhenti di depan mobilnya yang melaju dengan kencang, untung saja tak sampai menyentuh van hitam di depannya.
Kepalanya terangkat pelan kala pening melanda, membuat suasana seperti samar di pelupuk mata. Tangan Karenina mengusap kening kebiruan itu sekarang, meski tak terlalu jelas, tapi bola matanya masih sanggup menatap sekitar dua orang pria keluar dari van hitam—yang kini hampiri mobilnya, salah satu dari mereka mengetuk jendela sisi kiri.
"Keluar." Suara datar nan dingin pria berpawakan tinggi besar dengan jaket kulit cokelat yang membalut tubuhnya kini menelusup indra pendengaran Karenina.
Perempuan itu menoleh, ia tak sudi sekadar turunkan kaca jendela. Tangannya sibuk memutar kontak mobil meski pening benar-benar mengganggu.
"Keluar atau saya pecahkan kaca mobilnya." Suara itu kembali terdengar, pria lainnya berdiri dengan tatapan mengerikan di depan kap mobil, seolah awasi gerak-gerik Karenina.
"Kalian siapa gangguin saya!" Karenina putar perseneling seraya mundurkan mobilnya.
"Jangan ke mana-mana!" Suara pria di sisi jendela mulai meninggi, ia melangkah ikuti laju pelan mobil Karenina sebelum benar-benar menyingkir saat kendaraan itu maju dengan kecepatan tinggi, kabur tinggalkan masalah yang menghadang.
"Dapatkan dia hidup-hidup!" seru pria yang semula berdiri di depan kap mobil—kini berbalik cepat masuk ke van hitam mereka pun pria yang sempat menggretak Karenina.
Mereka siapa, mereka mau apa. Karenina semakin tak bisa berpikir logis sekarang, van hitam ternyata masih membuntuti, ia kuasai kemudinya dengan tangan kanan saja saat tangan kiri terus memijat kening, tak peduli jika harus mengarahkan mobilnya asal bahkan meliuk di antara kendaraan lain dengan cukup berbahaya.
Caci maki dari pengemudi lain sama sekali tak mengusik rasa frustrasinya, sekarang lebih dominan pada ketakutan. Karenina tak pernah menghadapi situasi yang memicu adrenalin tinggi, ia bukan pengemudi mobil yang bisa berselancar tanpa rasa takut di jalan raya, yang dihadapinya kali ini sangat berbahaya.
"Mereka butuh apa," gumam pelan terucap saat bola matanya melirik spion sisi kanan, van hitam masih mengejar, tapi sedetik kemudian Karenina hilang kendali saat ia memutar kemudi begitu asal—ketika truk besar menghalangi laju kendaraannya, kini kening Karenina tak hanya kebiruan, tapi juga alirkan warna merah pekat setelah pemiliknya membentur lagi kemudi bersamaan kaca bagian depan retak-retak usai mobilnya menabrak sebuah gardu listrik di sisi jalan, bagian kap mobil keluarkan asap yang membumbung tinggi bersamaan Karenina tak lagi sadarkan diri.
***