
"Kenapa kamu masih di sini, jangan jadikan saya alasan kenapa kamu bolos kantor hari ini. Pergi." Karenina masih saja pongah meskipun laki-laki itu telah menolongnya semalam, membawanya segera ke rumah sakit meskipun tunangannya begitu sakit hati melihat Rega yang sengaja menggendong tubuh tak sadarkan diri Karenina di depan mata. Lalu sekarang, Rega masih bersikukuh berada di sebelah Karenina dengan alasan menjaga—titipan dari Rahadian.
"Kamu di sini sama siapa?" Rega yang duduk di sisi ranjang terlihat sedih, ia paling tak bisa sembunyikan perasaannya jika berhadapan dengan perempuan itu, kendati sikap Karenina sangat tak acuh—bahkan menatapnya saja enggan. "Kamu juga belum makan."
Tubuh lemah dengan kening dibalut kain kasa itu terbaring di ranjang ruang inap VIP salah satu rumah sakit besar Jakarta, kepalanya terus menatap ke arah jendela di sebelah kanan tanpa ingin melihat laki-laki di sisi kirinya. Harusnya Rega bisa prediksi semua, tapi ia terlalu keukeuh dan bertahan di sana. Harusnya Rega pikirkan perasaan Salma, bukannya mengurusi Karenina yang jelas tak peduli dengan kehadiran laki-laki itu, anggap saja bola mata Karenina tak bisa lagi melihat seorang Rega.
"Di sini banyak suster, saya juga masih punya dua tangan buat ambil makanan saya. Apa penjelasan itu masih kurang memuaskan Anda, Tuan Rega?" Karenina menoleh, tatapan dinginnya tepat menghunus netra Rega. "Saya nggak butuh kamu di sini, mending pergi sekarang—atau saya nggak akan makan sampai keluar dari rumah sakit ini." Bukankah ancamannya cukup konyol, tapi lucunya Rega putuskan mengalah, ia tak punya hak memaksa tetap berada di sana.
"Oke." Rega pasrah, ia beranjak hampiri Karenina yang kembali alihkan pandang. "Aku bakal pergi, jaga diri baik-baik, Karen." Tangan kanannya sudah terangkat bersiap usap kepala Karenina, tapi ia luruhkan saat keraguan menghampiri, Rega tak bisa apa-apa lagi. Ia melangkah tinggalkan ruangan itu bersama rasa kecewa yang tak bisa dikekang, meski kakinya terasa berat meninggalkan tempat itu.
Semalam saat kecelakaan itu berlangsung, van hitam yang mengejar Karenina kabur begitu saja tanpa pikirkan kondisi pemilik mobil di dalamnya, bagian depan mobil ringsek parah, orang-orang yang kebetulan berada di dekat TKP tampak panik, kebetulan mobil yang Rega kemudikan melewati jalan sama dan menepi usai mengenali plat nomor milik Karenina.
Mungkin Rega-lah yang paling panik usai melihat kondisi Karenina dengan banyak darah meluncur di keningnya, ia sampai tak peduli pada Salma yang hanya diam ketika sang tunangan memapah tubuh Karenina ke mobil Rega. Sekalipun air mata Salma jatuh, semua tak mampu mengubah keadaan, Salma yang mengalah dan memahami jika Rega sepanik itu karena harus menolong Karenina meski hati Salma takkan menipu jika tebakannya mungkin benar: mungkin Rega bisa sepanik itu karena masih mencintai Karenina, jika perempuan itu bukan Karenina, apa mungkin Rega tetap lakukan hal yang sama dengan rasa panik memuncak?
Luka dibalas luka, mungkin seperti itu permainan yang tengah dipertaruhkan oleh semesta.
Perempuan itu kini bisa menarik napas lega, tapi rasa nyeri tiba-tiba menyerang usai menyadari sekalipun dirinya terbaring di rumah sakit—ternyata sang ayah tetap lebih memilih sibuk dengan urusan kantor ketimbang menjaga sang putri, jadi Karenina selalu bisa memastikan jika setiap kata yang keluar dari bibir Rahadian dalam upaya agar hubungan mereka lebih baik adalah omong kosong, semua nol besar. Lalu, meminta Rega untuk menjaganya selama seharian, bukankah itu keputusan terburuk? Sedangkan Karenina juga miliki kuasa untuk usir laki-laki itu dengan lontaran kalimat sarkas yang menyayat hati. Memang banyak orang yang tak memahami sikap Karenina sejauh itu.
Kepalanya kembali menoleh tatap jendela dengan jarak sekitar satu meter dari ranjang tempatnya terbaring, kepala masih terasa sangat sakit pun wajah pucat yang dibiarkan tetap begitu tanpa peduli dengan saran dokter, harusnya Karenina makan sarapannya, tapi masih utuh tergeletak di permukaan laci kecil sisi kanan ranjang.
Derit pintu terdengar, tapi kepalanya tetap menghadap ke jendela saat pikiran Karenina seolah bisa menebak siapa yang datang.
"Apa omongan saya kurang jelas tadi? Saya nggak butuh kamu di sini, apa perlu saya minta suster panggilkan keamanan buat usir kamu dari sini?" Kalimat panjang yang Karenina lontarkan tanpa menatap lawan bicaranya berhasil membuat si lawan bicara tersenyum miring, ia menunduk tatap sebuket bunga mawar biru bercampur lily putih di tangan kanan.
"Lagi marah sama siapa, sampai gue juga jadi sasaran." Suara familier itu membuat Karenina menoleh, ia menelan ludah begitu tahu kalau yang masuk ruang rawatnya bukanlah Rega, melainkan Denial.
Oke, mungkin bencana kedua datang.
Kepala Karenina kembali menoleh pada jendela, sepertinya tak ada yang lebih menarik selain pemandangan di luar sana—apalagi ruang VIP yang Karenina singgahi berada di lantai tujuh, jadi ia bisa melihat pemandangan Jakarta serta gedung pencakar langitnya dari atas—ketimbang melihat manusia bernama Denial yang lebih suka menggoda dan membuat mood perempuan itu makin ambruk.
Kaki-kaki Denial bergerak mendekat, empunya masih saja tersenyum meski sikap penghuni kamar tetap saja sebeku kutub utara. Bukan Denial namanya jika tak bisa mencairkan suasana, ia letakan buket bunga yang dibawanya pada perut Karenina, tangan lain bergerak menarik kursi agar lebih dekat dengan ranjang sebelum hempas pantat di sana.
"Ini orang lho yang datang, kok cuek gitu?" Denial perhatikan keadaan sekitar sampai netranya terhenti pada nampan berisi makanan rumah sakit yang belum tersentuh tangan Karenina. "Nggak mau sembuh, ya?" Ia berdecak dan beranjak, membungkuk bersama dua tangan merangkum wajah Karenina seraya gerakan kepala empunya agar tak lagi menoleh pada jendela—melainkan tatap lawan bicaranya. "Jangan kayak gitu, darl."
"Singkirin tangan kamu, kepala saya sakit," tutur Karenina, refleks Denial luruhkan tangan dan kembali duduk. "Kamu kenapa bolos kerja, mending kamu balik ke kantor. Saya masih bisa urus diri sendiri."
"Gue emang niatnya bolos, tapi papa lagi sehati, dia kasih izin libur gue sehari karena harus jengukin elo. Papa gue sayang banget sama sekretarisnya, gue jadi curiga." Denial tersenyum miring seraya menyipit seolah simpulkan sesuatu, sedangkan Karenina seakan tak terpengaruh dengan pikiran buruk laki-laki itu.
Karenina beranjak duduk, ia singkirkan buket bunga dari Denial di sisi bantal. Perempuan itu berniat turun dari ranjang, membuat Denial buru-buru beranjak mendekat.
"Mau pipis." Perempuan itu tetap turun seraya menarik tiang penyangga infusnya. Ia melangkah pelan tinggalkan Denial yang kini mengusap tengkuk, hampir saja Denial berpikiran macam-macam.
Saat Karenina kembali, ia bukan menghampiri ranjangnya dan beristirahat di sana—melainkan sofa hitam yang terletak di dekat jendela, tempat itu sudah menjadi incarannya sejak kelopak mata terbuka. Denial kerutkan kening saat Karenina hanya diam mematung tatap keadaan di luar kaca tebal, tangan kirinya terus memegangi tiang penyangga infus, rambut perempuan itu cukup kumal berantakan pun lebih mengerikan ketika bibir pucatnya semakin kering, ia terlihat layaknya mayat hidup.
Ekor mata Denial melirik pada nampan berisikan makanan Karenina, ia beranjak seraya raih benda itu dari permukaan laci, kakinya bergerak hampiri Karenina yang masih terpaku di sana.
"Kalau nggak duduk nanti capek, bukannya badan elo lemah? Mau sampai kapan diri gitu," ucap Denial yang kini duduk di sofa dan letakan nampan di permukaan meja, ia menengadah perhatikan Karenina.
"Kalau duduk, saya nggak akan lihat di luar sana."
"Kan bisa lihat lain kali, lagian ini bukan rooftop, nggak asyik pemandangannya. Nanti kalau udah sembuh gue ajakin ke rooftop." Karenina hanya bergeming seraya telan ludahnya menatap laki-laki itu, ia mengalah duduk di sebelah Denial. "Ada sisir nggak, sih? Itu rambut apa ijuk berantakan kayak gitu." Kenapa Denial jadi sensitif sekali, sampai urusan rambut dia ikut campur, jawaban Karenina hanya sebuah gelengan, si pemilik saja cuek bebek.
Laki-laki itu berdecak tinggalkan Karenina sendirian di ruangannya, entah apa yang merasuki Denial kali ini, mungkin saja salah satu arwah rumah sakit yang membuatnya agak ribet sampai komentari penampilan orang sakit. Karenina enggan memusingkan, mumpung Denial pergi—tubuhnya beranjak lagi—berdiri perhatikan suasana di luar kaca, beberapa atap bangunan terlihat jelas.
Lima belas menit berlalu, Denial kembali juga. Laki-laki itu berdecak saat melihat Karenina kembali berdiri, apa telinga perempuan itu tuli?
"Bengal banget dikasih tahu, badan lemes diri aja terus." Ia lebih mirip ibu-ibu yang memarahi anaknya, kini Denial berdiri di belakang Karenina, tangan-tangannya sibuk kumpulkan semua rambut Karenina sebelum keluarkan sebuah ikat rambut merah dari saku celana—yang sengaja ia beli saat keluar tadi, begitu cekatan Denial mengikat rambut Karenina hingga dekapan perut dari belakang membuat tubuh mungil di depannya menegang.
Embusan napas Denial menggelitik kulit leher Karenina, perempuan itu hanya bisa menutup mata netralkan detak jantung yang tak keruan.
"Makan, ya. Biar cepet sembuh, biar bisa balik lagi ke kantor. Gue sepi kalau nggak ada elo," bisikan merdu itu semakin membuat tubuh Karenina lemas saja, inginnya merosot. Kini Denial lepas dekapannya, ia mengitari Karenina dan tarik pelan tangannya agar duduk, Denial raih nampan di permukaan meja. "Makan, ya?" Bola matanya penuh harap, Karenina mengangguk saja.
Kini sendok berisi makanan masuk perlahan ke mulut Karenina, setidaknya ia miliki sedikit semangat ketika Denial datang meski menggunakan paksaan. Mungkin Karenina mulai terbiasa dengan karakter laki-laki asing yang menerobos hidupnya dalam jangka semalam saja, memangnya siapa yang tahu kalau selanjutnya akan ada cerita bergariskan alinea hingga memenuhi rak buku suatu hari nanti. Siapa menyangka jika hadirnya Denial sedikit mengurangi rasa sakit, meski bagi Karenina ketulusan laki-laki itu masih bias.
Lima suapan tiba-tiba Denial tak melanjutkan, ia terpaku pada eboni Karenina yang meredup, tak menyukainya. Tangan kanan Denial loloskan sendok pada piring berisikan sisa salad sayuran, tanpa alihkan fokus—tangan kanan Denial bergerak sentuh wajah Karenina, mengusapi pipinya.
"Lo tahu, gue suka semua yang melekat di tubuh lo, setiap centi yang elo punya. Gue suka bola mata yang sering datar ini." Denial sentuh kelopak mata Karenina yang terpejam. "Hidung lo." Telunjuknya beralih menyusuri tulang hidung Karenina dan berakhir di sudut bibir. "Terus, bibir mungil ini. Gue mau apa pun yang ada sama diri elo, Karenina." Denial beranjak saat semua tangannya menangkup wajah pucat Karenina, ia mendekat ketika sorot mata itu terus saja menghipnotisnya agar maju, nampan yang sempat dipangkunya pun jatuh berantakan di lantai.
Mereka semakin lekat saja saat posisi Denial lebih tinggi hingga sentuhan lembut merenggut bibir Karenina, tangan kiri Denial menahan tengkuk perempuan itu saat ia semakin mendorongnya hingga perlahan tubuh Karenina terbaring di sofa. Biar saja saat jarum infus yang menancap tiba-tiba lolos dan alirkan darah dari punggung tangan Karenina.
Tak peduli pada rasa sakit yang menggerogoti keningnya, Karenina hanya ingin lupa sejenak saja, ia hanyut pada aktivitas mereka. Kedua tangannya sampai mencengkram kerah kemeja Denial bersamaan kaki kanan terangkat menekuk di sisi sofa—memberi batas pada dua kaki Denial yang kini diapit paha Karenina.
Denial melepas bibir pucat itu, ia menjauhkan wajah, tapi Karenina seakan tak rela dan menaik kerah kemeja Denial hingga bibir mereka saling terpaut lagi. Sentuhan lembut Denial seakan menjadi candu bagi Karenina, menjadi hal yang tak perlu dikekang lagi, menjadi sesuatu yang disebut terbiasa.
Banyak sumber memberi tahu kalau cinta ada karena terbiasa.
***