Phospenes

Phospenes
DIKECUP REMBULAN.



Sudah pukul lima sore, tapi surya sama sekali belum tunjukan tanda-tanda kemuning yang sering ditunggu banyak orang. Katanya senja, tapi datang sejenak saja.


Cakrawala masih cerah kebiruan, seperti warna perasaan seseorang, mungkin saja jika ia sedikit mengekspresikannya kali ini, tapi katatonik adalah rupa yang tak bisa Karenina singkirkan, ia menyukainya—sama seperti saat menyukai desau angin sore yang meliukan tirai tipis jendela kamarnya ketika si pemilik tengah duduk di sofa seraya membaca sebuah novel terjemahan. Novel Where She Went karya Gayle Forman menjadi pengisi waktu yang apik kala Karenina menikmatinya dengan secangkir susu jahe yang sempat dibuatnya sendiri, lima belas menit lalu sebelum pantatnya terhempas nyaman di permukaan sofa.


Kain kasa tiada lagi melingkari keningnya saat plester luka menjadi peran pengganti, dua hari merasa terisolasi dari dunia luar saat ia terus terbaring di ranjang rumah sakit, beruntungnya pagi tadi Karenina diizinkan pulang bersama segudang nasihat dokter. Lucunya, perempuan itu enggan buka mulut pada sang ayah perihal alasan kecelakaan beberapa waktu lalu, tentang van hitam yang menguntitnya hingga ia celaka. Jadi, Rahadian tetap anggap musibah yang menghampiri putrinya adalah kecelakaan tunggal karena kecerobohan.


Biar saja berpikir demikian, toh Karenina enggan memusingkan. Ia lebih suka menghirup dalam-dalam aroma susu jahe yang hendak diteguknya meski tak sepanas tadi, uap telah menyingkir terbawa desir angin.


Tok-tok-tok!


"Masuk aja," ucap Karenina tanpa alihkan tatapannya dari alinea romansa yang ia baca.


Derit pintu terdengar hingga muncul sosok Parmini yang enggan melangkah lebih jauh dari batas ambang pintu.


"Maaf, Mbak. Ada tamu di depan," tutur Parmini.


"Siapa?" Bola matanya masih berfokus pada bait-bait kata.


"Nganu, laki-laki yang pernah ke sini waktu itu. Saya nggak tahu namanya."


Kali ini fokus bola mata Karenina berpindah pada netra milik Parmini, terkaan terlintas di kepalanya. "Ya, sebentar lagi saya keluar."


"Permisi, Mbak." Parmini tinggalkan kamar Karenina, sedangkan pemiliknya melipat ujung lembaran kertas novel sebelum menutupnya dan letakan benda tebal tersebut di permukaan sofa. Ia beranjak tinggalkan kamar, berharap yang mengisi pikirannya kali ini tiada samar.


Laki-laki dengan jaket kulit cokelatnya masih berdiri di depan ambang pintu dengan posisi membelakangi, sebuah lolipop merah tengah dinikmatinya.


Sentuhan pelan pada bahu kiri membuat Denial refleks menoleh, seulas senyum menghias wajah.  "Hai, udah sembuh, ya."


Guratan tipis juga muncul di sana, tapi nyaris tak terlihat. "Iya."


"Coba cek dulu." Denial loloskan lolipop dari bibir, ia sedikit membungkuk sejajarkan tingginya dengan Karenina, netra pekatnya berfokus pada plester di kening perempuan itu seolah sok meneliti sesuatu di sana, padahal yang terjadi setelahnya adalah—sebuah kecupan lembut di bagian luka Karenina. "Nah, besok pasti sembuh, jadi bisa berangkat ke kantor. Oke?" Denial menengakan tubuh bersamaan tangan terangkat usapi puncak kepala Karenina. Ternyata ia cukup tak peduli dengan perasaan Karenina saat ini, sikap yang pendiam justru samarkan kegilaan degup jantung yang meradang, biaskan wajah bersemu merah yang acapkali datang ketika seseorang merasa senang. Mungkin begitu, Karenina perlu belajar cara berekspresi di depan orang lain.


"Udah makan?" Pertanyaan sederhana yang terdengar istimewa. "Kalau belum, kita bisa pergi—"


"Udah." Cukup mengecewakan bagi Denial, tapi lega saat ia tahu perempuannya menjaga diri dengan baik. "Ah ya, gue ke sini karena mau menunaikan janji. Ingat nggak?"


"Ingat."


"Apa? Kalau benar dapat dua gratis satu." Pipi sisi kiri tampak mengembung oleh lolipop di bibirnya, membuat Denial begitu menggemaskan.


"Kamu ada hadiah kopi atau apa?"


"Masa kopi? Gue nggak bisa bikin kopi seenak buatan elo, hadiahnya itu ...." Saat wajah Denial kembali mendekat, Karenina refleks mundur selangkah, ia tak ingin rasakan kembang api meledak dalam dada. "Kok—"


"Katanya mau menunaikan janji."


Oke, Denial kalah.


"Ya udah sekarang aja. Mumpung suasana lagi bagus, langitnya cerah." Denial menoleh tatap kapas-kapas yang menggantung di angkasa, biru secantik samudra.


"Kamu pulang kerja langsung ke sini?"


"Iya. Jadi, kita let's go sekarang. Pakai motor gue, mobil elo di bengkel, kan? Nggak romantis kalau gue bawa motor—terus elo naik taksi, apa kata cicak di dinding."


Perut Karenina tiba-tiba kaku ketika pemiliknya menahan tawa. "Saya ambil cardigan dulu." Perempuan itu memutar arah tinggalkan Denial yang kini tersenyum puas.


"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Gitu kan, Rega?" Smirk muncul setelahnya.


***


Kaki yang terbalut sepasang ballet flats abu-abu kini telah menapak anak tangga terakhir sebelum pemiliknya mematung sejenak tatap kemuning yang digilai sejuta umat manusia di muka bumi. Sunset, satu kata sederhana yang membius bola mata, timing terindah untuk mengukir sebuah kenang bersama sosok tersayang.


Entah berapa puluh anak tangga yang sudah Karenina pijaki bersama Denial tadi, ia takkan bohong jika kakinya terasa ingin patah, tapi empunya keukeuh menolak kala Denial tawarkan sebuah punggung padanya.


Namun, rasa lelah yang hinggap sekejap lenyap tatkala eboni terangnya semakin bersinar jua, melenakan layaknya seberkas gradasi oranye yang memikat banyak pandang mata.


Sebuah atap pencakar langit yang terbengkalai konstruksinya menjadi tempat paling tepat bagi Denial merealisasikan janjinya di rumah sakit beberapa waktu lalu.


Sebuah rangkum tangan mengisi celah kosong di antara jari-jari Karenina, tepat ketika kepala perempuan itu menoleh—ia merasa melihat panorama sama dari bola mata Denial, ada senja bersemayam di pelupuk mata.


"Ini lebih bagus dari yang di rumah sakit, kan?" Tangan lain terangkat cubit pipi Karenina. "Lihat aja, Tuhan baik banget kasih kesempatan kayak gini buat kita, jangan disia-siain."


"Apa?" Rambut yang diikat tinggi menyisakan sedikit surai ketika angin menariknya pelan, lolos hingga mengusik rupa elok pemiliknya. Karenina melepas rangkum tangan Denial dan bergerak tinggalkan laki-laki itu, ia melangkah lebih jauh hampiri sisi atap gedung, berdiri di sana seraya memperhatikan nuansa cakrawala sore yang menyambutnya.


"Saking senangnya sampai nggak ada ucapan terima kasih?" Si pemilik suara berdiri di belakang Karenina. "Senja sama hujan apa bedanya, ya?" Laki-laki itu sok polos atau sok puitis kali ini, ia ikut duduk di sisi Karenina.


Perempuan itu tak miliki kosa kata untuk dilontarkan, netranya fokus menikmati pemandangan. Detik-detik semakin menerjang, mengikis kemuning yang harus tenggelam, jutaan manusia menelan kekecewaan untuk kesekian kali, lagipula swastamita tak datang setiap hari, bukan? Jika angkasa mengabu, siapa yang lebih berhak disalahkan.


Jarum pendek arloji Denial semakin bergerak mendekati pukul enam, sang kemuning semakin tenggelam seraya mengantarkan pekat yang siap menghunjam, membiarkan penguasa lain bertahta pada waktunya sebentar lagi.


Helaan napas kembali berlangsung, ada kelegaan melapang dada, sebuah ketenangan seolah mengusir duka sejenak saja.


"Kita hitung, yuk!" ucap Denial seraya menyelipkan surai manusia di sebelahnya.


"Satu, dua, tiga—" Surya telah tenggelam, menyingkirkan pijar dunia yang harus mundur—bersembunyi hingga esok kokok ayam memanggilnya lagi, suara adzan maghrib samar terdengar menghias indra pendengaran mereka, tapi Karenina masih ingin bertahan di sana usai redup jingga membuatnya semakin bungkam saja.


"Kita pulang, anginnya makin kenceng kalau di sini terus. Nanti malah elo nggak sembuh-sembuh," ujar Denial, bukannya mengikuti perintah laki-laki itu—Karenina justru sandarkan kepalanya di bahu kiri Denial, berharap sanggup melepas rasa lelahnya sejenak di sana.


"Hujan sama senja itu berbeda, buat apa kamu tanya." Jawaban yang harusnya Karenina lontarkan sejak tadi justru baru sanggup diucapkannya, tadi sunset membungkam bibir mungil itu.


"Buat gue sama aja."


"Terserah kamu."


"Karenina." Si pemilik nama menoleh, ada redup sama di mata Denial yang mirip redupnya jingga, seperti bias perihal rasa sedih, luka dan amarah. "Hwanghon-eun neoya, neodo bigawa. Mereka sama, lo punya semuanya. Jangan-jangan elo—" Denial membeku saat tangan kiri Karenina menyentuh pipi kanannya.


"Jangan sering bertutur kata manis buat saya, setiap perempuan pasti tersipu atas semua yang kamu ucapkan, tapi jangan terus-terusan begini, saya nggak punya pintu buat diketuk." Ia luruhkan tangannya, beranjak begitu saja tinggalkan Denial.


"Maksudnya apa, Karenina Hasan!" Denial membentak.


Langkah Karenina terhenti tepat di tengah persegi tersebut, ia bergeming hingga Denial menghampirinya.


"Maksudnya apa?" Kali ini suara Denial lebih rendah, ia sungguh tak bisa meraba isi pikiran Karenina.


"Jatuh sekali itu wajar, tapi kalo selanjutnya masih ada kejatuhan yang lain—" Karenina tersenyum masam, ia menggeleng. "Saya nggak mau, selama ini saya diam buat perhatikan semua sikap kamu, saya tahu kenapa. Tapi ... mundur aja."


"Apa, tapi apa?" Kerutan di dahi tercipta, suasana mulai menegang saat rembulan semakin merambah puncaknya.


"Apa omongan saya sama sekali nggak bikin kamu paham? Saya nggak sanggup paksa buat dorong, tapi juga nggak bisa buat bertahan, jadi lebih baik kamu yang mundur."


"Lo ngomong apa, sih! Apa hal kayak gini nggak berarti buat elo?" Tanpa aba-aba Denial menangkup wajah Karenina, membuat gerakan pelan nan memabukan pada bibirnya, tapi tak sampai satu menit Karenina mendorongnya hingga mundur beberapa langkah.


"Ini bukan permainan!" Kali ini perempuan dengan cardigan maroon yang membentak.


"Gue tanya, apa hal itu sama sekali nggak bikin elo ngerasain sesuatu, Karenina? Apa nggak ada gejolak lain, hah?" Tentu saja Denial ingin protes.


"Saya pernah bilang dari awal, apa yang pertama kali kita lewati—tolong lupakan, kenapa kamu meneruskan. Kenapa kamu kasih saya list kosong tentang banyak harapan yang masih samar?"


"Jadi, ini soal keraguan elo ke gue? Apa yang bikin elo ragu, Karenina?"


Hanya helaan napas yang sudi Karenina bagi, bibirnya lelah berbicara, kenapa Denial tak bisa diajak bernegosiasi perihal pelik hidup yang tak ingin ia tebalkan, apa Denial tak tahu rasa sakit dari sebuah kejatuhan?


Jika bisa, biar hati Karenina yang berbicara kali ini. Ia takkan bohong perihal senang selama beberapa waktu, tapi ia juga takkan sanggup membayangkan seperti apa sakit di belakang. Terlebih mengingat sebuah kisah yang Jesslyn bagi beberapa waktu lalu, perihal teman Nathan beserta alasan kepulangannya ke Jakarta, sebab bukan tentang masa kuliah yang sudah usai saja, tak sesederhana itu.


Karenina melenggang begitu saja, tangannya mengepal kuat saat air mata tiba-tiba jatuh, ia memang munafik menjalani beberapa hari ke belakang. Sok polos, sok menikmati alur—padahal sedang membantu belati menikam tubuh sendiri.


"Hei, jawab!" Denial bergerak cepat merengkuh tubuh perempuan itu dari belakang, memeluknya lebih erat tanpa ingin melepaskan. "Jawab Karenina, lo itu kenapa?"


"Namanya Benaya." Karenina menarik napas yang kini semakin sesak saja. "Saya lebih suka dikecup rembulan daripada kamu, seenggaknya dia masih bisa saya temui besok. Kalau kamu ... ada Benaya."


Tubuh Denial terasa lemas usai mendengar nama yang disebut Karenina, dekapannya pada perempuan itu pun melonggar seiring tangan Karenina yang juga menyingkirkan. Kini mereka benar-benar terlepas, berdiri memperlihatkan siluet masing-masing di bawah cahaya bulan.


Karenina memutar tubuh, bola matanya memerah dan basah, telunjuknya mengarah pada bulan. "Saya lebih berharap dikecup rembulan daripada bibir laki-laki yang simpan sejuta kebohongan." Kini tak ada lagi yang mengekang perginya langkah kaki itu, ternyata rasa kecewa turut diseretnya bersama sebongkah luka baru.


Denial hanya mematung, tubuhnya terasa begitu kaku, netra pekatnya terus menatap kepergian perempuan itu.


Kenapa gue yang harus kalah, Benaya.


***


Apa?


*Hwanghon-eun neoya, neodo bigawa : Senja adalah kamu, hujan juga kamu.