Phospenes

Phospenes
MEREMUK ELEGI.



"Aku minta maaf, aku sama dia ... aku sama dia mau tunangan, Karen. Aku minta maaf karena enggak kasih tahu kamu lebih dulu, aku--"


"Pengkhianat nggak pernah pantas dimaafkan, semoga sabar ini selalu dilapangkan."


Dunia begitu picik saat mempermainkan hati seseorang dengan mudahnya tanpa pandang bulu meski ia sudah kumpulkan banyak luka sepanjang hidupnya, dunia seolah segaja menambah setiap jengkal rasa sedih yang Karenina miliki agar lebih bertumpuk dan menyiksa. Dunia sukses melakukannya!


Awan sengaja mengabu, desau angin menari di antara kelamnya nuansa sendu siang itu, meliuk mengitari sosok yang bersimpuh menunduk di depan makam sang ibu.


Bahunya bergetar, bahasa tubuh yang menyiratkan sebuah tangisan meski ia berharap hanya dirinyalah dan Tuhan yang tahu sekarang, tapi laki-laki yang bergeming di dekat pintu masuk pemakaman jelas memahami sikap perempuan yang kini ekspresikan wajah melankolisnya tanpa berharap Denial akan tahu.


Sorot mata Denial meredup bersamaan tangan terkepal amati gerak-gerik perempuan yang sejak lima belas menit belakangan belum juga beranjak dari posisinya, akan sebanyak apa air hujan yang Karenina tumpahkan di depan makam Liana siang ini.


Lalu, kenapa Denial tak berhak tahu?


Tak ada yang senang melihat tangisan orang lain--kecuali jika ia adalah orang yang sengaja mengharapkannya menangis di depan mata seraya terkekeh ala orang gila, dan Denial tak masuk dalam koloni itu. Ia masih waras, tapi kakinya seolah tak bisa diajak berkoalisi menghampiri Karenina saat ini, ia masih membeku tanpa bisa menghentikan waktu.


Terkadang dunia terlalu banyak bercanda, mempermainkan siapa-siapa tanpa peduli sakit nantinya. Dunia terlalu asyik tertawa di atas derai air mata, terlalu bangga membuat euforia lara dalam benak siapa-siapa meletup tiada tara. Terlalu masa bodo pada mereka yang ingin hilang setelahnya.


"Karen minta maaf, ma. Karen mulai capek, nggak sanggup lagi," rintih suara parau itu di sela tangisnya, tangan kiri mengusapi batu nisan, sedangkan sisanya mencengkram kuat lutut tertekuk miliknya. "Karenina lebih suka kalau kita tukar posisi sekarang, biar tahu siapa yang bakal lebih nyaman di sana? Kalau orang meninggal jelas nggak akan ngerasain sakit hati berkepanjangan, kan, ma?"


Denial memejam seraya hela napas panjang, sepertinya ia juga mulai sesak meski tak merasakan sakit yang menguliti tiap centi tubuh Karenina, tapi melihat sikap itu sekarang seolah membuatnya ikut tersiksa.


Denial masih memejam rasakan pertukaran napasnya dengan udara sekitar, angin lembut membuai bersamaan jatuhnya dedaunan serta kamboja putih yang tumbuh di sudut-sudut tempat itu.


Elegi begitu terasa meski bukan pertama kali bagi Karenina, ia sudah berkali-kali hadir ke tempat yang sama sekadar mengutarakan rasa lelah meski tak kunjung berhenti, bumi masih berotasi, jadi kisah Karenina juga turut mengitari.


Kelopak mata Denial terbuka, ia tatap sekali lagi perempuan yang masih keukeuh dengan posisinya sebelum tubuh itu mengubah arah putuskan hampiri motor yang terparkir di sisi jalan.


Kini sebatang rokok menjadi penenang meski hanya sejenak, setidaknya menguatkan sampai ia benar-benar bisa menghadapi perempuan yang terlihat beranjak seraya tepis air matanya, tapi wajah sembap tak mudah tersingkirkan dalam beberapa menit saja.


Acara makan siang gue berubah sesedih ini, batin Denial amati gerak-gerik Karenina yang melangkah pelan keluar dari area pemakaman, sedangkan ia sendiri bertengger di motornya.


Batang rokok yang masih tersisa ia buang ke aspal sebelum menginjaknya hingga tak berbentuk lagi, kepulan asap terakhir menguar di udara.


"Udah?" tanya Denial begitu Karenina berdiri di dekatnya, "nggak capek?"


"Ma-af."


Kening berlipat menghiasi ekspresi Denial, ia perhatikan wajah sembap itu lebih lama--berharap memahami apa pun yang mungkin terucap dari bibir Karenina.


"Maaf buat?"


"Saya yang naif." Bibir mungil itu lontarkan suara lirih, tapi cukup jelas di telinga Denial. "Maaf kalau saya begini di depan kamu."


"Nggak apa-apa." Denial putuskan turun dari motor, berdiri di depan Karenina seraya tatap lekat eboni yang lebih mirip abu-abu langit jika hendak turun hujan, mirip angkasa yang murung.


Tangan kirinya menarik lengan Karenina sebelum berakhir dalam dekap lembut Denial, ia tak perlu tahu semua yang Karenina alami, tapi ia percaya pada semua yang terlihat oleh bola matanya, percaya pada kinerja otak dan benak saat menafsirkan kalau perempuan itu tidak pernah baik-baik saja sejak pertama kali mereka dipertemukan.


"Nangis aja, jangan sungkan. Cuma ada gue, tapi gue punya rentang tangan sama bahu kosong kalau lo emang butuh," tutur Denial, ia sandarkan dagunya di puncak kepala Karenina, tangan yang sempat usapi punggung kini merambat usapi kepala.


Tangis itu kini terdengar menyayat saat telinga Denial mendengarnya lebih jelas, bahkan tarikan napas Karenina seolah berat hingga tubuhnya tiba-tiba meluruh bersimpuh di depan Denial.


"Hei." Denial ikut berlutut, ia tangkup wajah Karenina saat pemiliknya benar-benar tak bisa alihkan air mata. "Gue nggak mungkin pulangin elo ke kantor kalau keadaan kayak gini, bisa-bisa semua orang mikir ada KDRT di antara kita, padahal yang jahatin elo bukan gue."


"Maaf ...." Hanya satu kata yang berhasil meluncur, air matanya disapu pelan oleh ibu jari Denial pun pemiliknya yang tiba-tiba menunduk kecup pelan kening perempuan itu.


"Ada gue, ada gue di sini, jangan sungkan," bisik Denial, lembut nan cukup menenangkan.


"Kalau lo mati, nanti gue yang bantu nguburin." Dialog saat pertama kali mereka bertemu di area parkir diskotek seakan berdengung di telinga Karenina, menjadi bisik yang terdengar merdu.


"Denial, kamu enggak benci sama saya, kan?" tanya Karenina terdengar rancu.


"Benci kenapa? Ayo berdiri dulu." Denial bantu Karenina bangkit lagi.


"Terkadang banyak orang menilai seseorang dari luar atau dari omongan orang lain, terkadang semua hal buruk yang orang lain bicarakan jadi suatu pertimbangan buat diri sendiri menilai siapa pun yang baru kamu temui," jelas Karenina.


Denial tersenyum, ia selipkan anak rambut Karenina yang mengumpul di dekat pelipisnya. "Nggak, gue percaya sama yang lagi gue jalani."


"Itu bukan omong kosong?" Mendengar Karenina terus berbicara dari hati ke hati seakan menyiratkan sesuatu yang lain bagi Denial.


"Gue juga nggak suka omong kosong. Kalau lo butuh, gue ada di sini." Denial angkat tangan kanan Karenina, perlihatkan kelingkingnya sebelum lakukan janji kelingking. "Kayak gini, kan? Kayak gini janjinya?" Anggukan Karenina cukup dimengerti. "Lo boleh bersikap dingin sama siapa pun, Karenina. Tolong ... berhenti bersikap kayak gitu ke gue, jangan anggap gue orang lain sekalipun kita emang kenal belum cukup lama. Gue mau jadi yang paling paham soal elo, mau jadi apa pun yang lo mau."


Karenina mengangguk lagi, sekarang setiap keping puzzle yang Karenina bagi mulai bisa Denial rangkai satu per satu.


***


"Kamu masih sayang sama Karenina?" Suara Salma memecah keheningan sejak ia dan Rega langsungkan makan siang di ruangan tunangannya itu, matab redup Salma seolah tafsirkan rasa putus asa yang terus menggelayut saat ia merasa belum sanggup mengubah pendirian Rega.


"Apa nggak punya pertanyaan lain?" Rega letakan alat makannya di piring yang masih sisakan makanan, pertanyaan Salma membuat napsu makan siang Rega mendadak hilang.


"Sebelum kamu berubah, aku cuma punya pertanyaan itu," aku Salma, ia selipkan buku-buku jari kirinya di antara celah jemari kanan Rega, keduanya duduk di sofa dekat pintu ruangan Rega.


"Semua perlu proses, jangan paksa aku, jangan bikin aku jadi mikir yang enggak-enggak, mending kamu berpikir gimana cara biar hubungan kita bertahan lama, aku takut capek soalnya." Rega loloskan erat genggam Salma sebelum beranjak keluar dari sana--meninggalkan Salma yang rasakan tikaman belati baru menusuk dadanya.


"Kalau dia masih ada di hati kamu, kapan aku bisa masuk ke sana, Ga? Kapan ada kesempatan buat aku, kenapa bukan aku yang kamu lihat," lirih Salma saat menunduk kepalkan tangannya seraya jatuhkan air mata.


Banyak orang sibuk melukai, banyak juga yang coba menyembuhkan luka sendiri. Ada yang mencoba harapan baru pada orang lain, ada yang masih diam dengan belum berdamainya hati terhadap masa lalu saat tangan lain mencoba meraihnya penuh perjuangan.


Banyak kisah kepalsuan, drama pelik yang tak berkesudahan, bilur luka menjadi sayatan paling tajam pun air mata yang jadi ujung penderitaan.


***