
“Karenina, aku mau bicara sama kamu, lima menit aja,” pinta Rega yang sengaja menunggu kedatangan Karenina di area parkir kantor, ia yang awalnya masih duduk di balik kemudi—langsung keluar saat melihat mobil Karenina memasuki area parkir, setelahnya menunggu Karenina sampai keluar dari mobilnya.
Perempuan itu diam perhatikan ekspresi yang lebih dominan pada rasa takut dan kecemasan, pernah Karenina melihat ekspresi yang sama terakhir kali saat ia melihat Rega serta Salma bergandeng tangan di depannya tepat di hari hubungan mereka berakhir, mungkin saat itu Rega benar-benar ketakutan untuk menghadapi Karenina dan jelaskan hubungan dengan Salma. Lantas ekspresi yang sama kali ini untuk apa?
“Lima menit aja.” Rega memohon, Karenia akhirnya mengangguk seraya tatap arlojinya.
“Lima menit dari sekarang.”
Rega menarik napas panjang lebih dulu, ia tatap lekat eboni yang baginya masih saja bersinar meski telah digantikan kebencian. “Aku tahu apa yang Denial lakukan sama kamu di hari Denial pulang ke Jakarta, kalau alasan pelampiasan karena hubungan kita—”
“Cukup!” Karenina angkat tangan kanan. “Saya nggak punya waktu kalau kamu mau bahas ini, saya permisi.” Ia bersiap pergi, tapi Rega menahan lengannya.
“Aku cuma mau kamu tahu satu hal, Karen. Dia nggak pernah tulus sama kamu, dia cuma incar sesuatu dari kamu, dia nggak layak dapatkan kamu.”
Karenina tepis kasar tangan Rega. “Dia siapa dia! Mau apa pun yang terjadi sama saya—semua itu—bukan urusan kamu lagi, Rega. Kamu urus hidup kamu, saya juga begitu. Jangan bicara lagi.” Ia mendorong Rega hingga tubuh laki-laki itu membentur pintu mobil, Karenina beringsut pergi tinggalkan Rega yang kini semakin lemas saja, rasa takut laki-laki itu terus membuncah, ia takkan bohong kalau sampai detik ini pun perasaannya masih akan sama pada perempuan dingin itu.
Rega menendang pintu mobil sebelum remas rambut frustrasi. “Gimana biar kamu percaya kalau Denial itu ********!”
—
Daun maple masih saja berjatuhan di lantai, setelah sempat absen kemarin Karenina baru melihat tanaman itu lagi. Ada sepercik rasa nyeri melihat mereka hanya tergeletak tanpa makna, jatuh tanpa benar-benar ingin jatuh, dihempas dan harus pasrah.
Perempuan itu masih berdiri di ambang pintu sembari tatap pot maple yang masih utuh di posisinya. Perkataan Rega sama sekali tak menjadi pengisi kepala Karenina pagi ini, jika sudah hilang rasa percaya yang berat pada seseorang, maka ia tak butuh pengakuan apa-apa lagi saat menganggapnya sebuah omong kosong yang pantas dibuang ke tempat sampah.
“Pagi.”
Karenina tersentak mendengar bisik seseorang di dekat telinga kanan, deru napasnya membuat tubuh itu meremang. Karenina memutar arah dan dapatkan setangkai bunga anyelir atau carnation pink yang miliki makna tersendiri.
“Sebentar lagi Januari, ya ... biarpun masih dua mingguan lagi, tapi bunga ini lambang kelahiran Januari. Kalau di Korea Selatan, orang-orang bakal kasih anyelir ini ke siapa pun yang mereka sayang,” jelas Denial sebelum sematkan bunga itu pada telinga kanan Karenina, “mungkin elo ....” Denial membungkuk dekatkan wajahnya, tapi ia menelan ludah saat Karenina melangkah pergi.
Tangan Denial mengepal, tapi kembali mengendur saat ia selalu mengingat kunci menghadapi Karenina adalah sebuah kesabaran yang besar.
Perempuan itu letakan crossbody bag abu-abunya di meja dan duduk seraya loloskan anyelir dari telinga dan tatap Denial yang masih belum ingin mundur, laki-laki itu mendekat berdiri di sisi meja seraya masukan kedua tangan ke saku celana.
“Kamu ada urusan apa pagi-pagi di ruangan saya.” Karenina raih tas sekadar keluarkan ponselnya, sesekali ia lirik wajah dengan lebam kebiruan di pelipis kanan, tapi bibirnya tak sudi menanyakan kenapa.
“Sambut elo yang udah masuk kerja lagi, apa perlu gue pasang balon di atas sama kembang api biar lebih meriah?” Alis kiri terangkat, senyum miring yang menyebalkan terukir.
Karenina berdecak. “Mending kamu balik ke ruangan kamu, saya juga banyak urusan.” Ia buka laptop seraya lirik Denial yang masih pamer senyum menyebalkannya.
“Boleh aja, tapi ada syaratnya biar gue bisa pergi dengan perasaan riang gembira.”
“Apa?”
“Nanti siang makan bareng gue di luar, bonceng motor gue mumpung lo lagi pakai celana.” Bola mata Denial bergerak turun pada celana katun abu-abu yang Karenina kenakan, baru hari ini ia lihat Karenina pakai celana panjang ke kantor.
“Saya—”
“No choice, Baby.” Ia membungkuk kecup pipi kiri Karenina tanpa izin sebelum melenggang keluar dari sana, tangan Karenina kini mengepal tanggapi perlakuan Denial tadi.
Dari ujung kaki hingga kepala, otot sampai tulang pun isi hati dan otak dari seorang Denial Nuraga sepertinya menjengkelkan, kloning Zian Nuraga yang satu itu memang cukup bebal sejak kecil, batu saja tak bisa lebih keras dari kepala Denial jika ia sudah menginginkan sesuatu. Harus dan wajib!
Karenina buang emosinya lewat helaan napas, ia putuskan urus pekerjaannya ketimbang memusingkan syarat yang Denial ajukan tadi, toh sudi atau tidak—tetap saja endingnya Karenina yang akan mengalah oleh sebuah paksaan.
—
Jam sembilan pagi hingga dua belas siang sudah Denial lewati dengan perasaan tenang, ia bahkan sama sekali tak beranjak dari kursinya sejak memberikan syarat pada Karenina pagi tadi, jutaan kembang api seolah meletup riang di dada. Kopi bahkan tak masuk list yang harus Denial realisasikan hari ini, sebab yang ia nanti hanyalah jam makan siang di luar.
Kini tiga jam yang terasa panjang sudah Denial lewati dengan perasaan lega, ia matikan komputer dan beranjak rapikan berkas-berkas yang sempat dikerjakannya. Denial lirik arloji yang tunjukan pukul dua belas siang, waktu yang ia nanti-nantikan seperti anak kecil menunggu kado ulang tahun.
Ia hampiri pintu, tapi belum sempat tangannya terangkat menyentuh kenop—rupanya seseorang sudah lebih dulu membuka dari luar, dia Brisia.
“Selamat siang, Pak Denial. Saya ke sini mau—”
“Ajak makan siang?” terka Denial, “tapi, saya mau makan di luar.”
“Di mana? Sama siapa?” Brisia tampak kecewa, tali tote bag di tangan kiri ia remas kuat-kuat.
“Di mana atau sama siapa itu privasi, permisi ya.” Denial melenggang begitu saja lewati Brisia yang hanya bisa pasrah mengalah kalau hari ini ia sedang tidak beruntung, bangun pagi dan memasak dengan sang mama di rumah yang dibawanya ke kantor agar bisa diberikan pada Denial hanyalah wacana saja. Brisia angkat tote bag dengan tatapan murung, ia buang benda itu pada tempat sampah di dekat pintu sebelum tinggalkan ruang kosong milik Denial.
Karenina sendiri masih berkutat dengan berkas-berkas yang kini ia cek lagi meskipun jam istirahat sudah berlangsung, ia terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa waktu.
Pintu terbuka perlihatkan sosok Denial dengan kening berkerut tanggapi pemandangan di depannya.
“Jam lo salah, ya?” Laki-laki itu mendekat—ambil alih berkas-berkas dari tangan Karenina—menutup laptop dan duduk di meja. Ia tatap arlojinya. “Kalau jam gue udah jam dua belas lewat, kalau punya elo gimana?” Alisnya terangkat.
Karenina berdecak. “Kamu bisa kan turun dari meja.”
“Oh iya, sori.” Senyum menyebalkannya kembali dipamerkan, ia beranjak saat Karenina juga beranjak seraya raih ponsel yang tergeletak di sisi laptop. “Nggak lupa sama syarat tadi pagi, kan?”
“Nggak.”
“Jadi—”
“Jalan sendiri-sendiri.” Karenina melengos tanpa permisi, sedangkan yang ditinggalkan hanya bisa pasang smirk seraya melangkah ikuti Karenina.
Mereka masuk lift, Karenina menjaga jarak sejengkal tanpa peduli dengan lirikan manusia di sisi kirinya. Mereka hanya berdua di sana, beruntungnya tak sampai lima menit akhirnya tiba di lantai dasar dan pintu lift terbuka.
Namun, tatapannya terperangkap pada seseorang yang berdiri dengan perempuan di sebelahnya, tangan mereka saling menggenggam.
Karenina sendiri membeku, tatapannya sayu. Denial mulai membaca situasi gila itu, ia sematkan buku-buku jarinya pada celah kosong tangan Karenina dan menariknya keluar dari lift.
“Hai, Denial, Karenina,” sapa Salma terdengar cukup kaku, ia kikuk mengatakannya saat menyadari kalau tatapan Rega terus menghunjam Karenina meski sang tunangan berada di sisi.
“Eum, hai, Salma. Kita permisi dulu, ada janji makan di luar,” sahut Denial seraya lirik Rega, ia tarik Karenina begitu saja tinggalkan momen mengerikan itu.
Salma sendiri terus menoleh perhatikan interaksi Denial dan Karenina sebelum mereka menghilang di balik pintu lobi, baru setelahnya Salma ajak Rega masuk ke lift.
Tentu saja momen tanpa diduga itu meninggalkan sesuatu yang membekas di benak masing-masing, Salma bisa membaca potensi kalau Rega masih begitu mencintai mantan kekasihnya, ia masih butuh waktu yang panjang agar membuat Rega mengerti kalau mereka adalah satu. Terkadang banyak orang yang masih terperangkap dalam kubangan luka tanpa peduli cara temukan jalan keluar sebelum menyadari kalau seseorang pasti sanggup menariknya ke permukaan tanpa peduli kalau sosok yang ditolongnya belum berdamai dengan masa lalu, hanya waktu yang tahu.
Salma pun begitu, ia masih terus yakin kalau badai lekas berlalu, pelanginya masih bersembunyi di satu masa.
—
“Ayo naik. Tunggu apa lagi?” tanya Denial yang sudah bertengger di motornya, ia bingung saat Karenina masih saja diam melamun tanpa berniat duduk di jok belakang.
Perempuan itu masih membatu, gerai mahkotanya bergerak disapa angin hingga beberapa helai jatuh menutupi sebagian wajah, tapi si pemilik seolah tidak peduli saat pikiran dan tubuhnya sedang tidak saling mendukung.
Apa ini, kenapa rasanya masih sakit. Kedua tangannya terkepal kuat, amarah berlomba-lomba menggapai dirinya.
Denial berdecak, ia turun dari motor setelah sadar kalau ia tengah hadapi sosok patah hati. Tangannya terangkat tepikan rambut yang mengganggu wajah sendu itu.
“Ngapain mikirin dia terus, lo jangan nyiksa diri sendiri dong. Tuh, dia udah ada yang punya. Move on, dong!” bujuk Denial, “atau, lo mau pacaran sama gue aja?” Ia berkedip gemas berharap Karenina sudi mengubah ekspresi wajahnya, intuisi gila yang tiba-tiba muncul.
“Saya nggak mau makan siang, bisa kita pergi ke tempat lain?”
—