
"Gue ...." Denial tersenyum miring. "Gue mau kopi."
"Nanti Bi Parmi yang buatkan."
"Nggak, pokoknya enggak." Denial menggeleng kuat seperti anak kecil yang menolak mentah-mentah.
"Ya udah, kalau gitu kamu aja yang buat. Saya yang lihat," ujar Karenina.
"Nggak. Gue maunya lo yang bikin, gue yang lihat."
Kerutan mulai tercetak di kening Karenina. "Kalau kamu mau kopi, kenapa nggak ke kafe aja. Kenapa ke rumah saya? Kamu ini kenapa?"
Denial bersidekap. "Ya emang kenapa? Suka-suka gue, kan tahu sendiri kalau gue suka sama kopi yang lo buat. Karena elo nggak masuk, jadi gue samperin ke rumahnya langsung."
"Se-niat itu?" Tatapan intens Karenina seperti mencari kesungguhan di sudut mata Denial, dan laki-laki itu mengangguk tanpa ragu. "Oke, ikut saya ke pantry."
Seperti anak ayam yang telah temukan induknya, kini Denial mengekor di belakang Karenina, seulas senyum terpatri saat keresahannya hari ini benar-benar dilunturkan setelah melihat perempuan itu meski keadaannya kurang sehat. Setidaknya usaha Denial tinggalkan kantor tidak sia-sia meski lima belas menit lagi jam istirahat akan berlalu, mungkin saja dia justru enggan memusingkannya meski setumpuk tugas benar-benar menjerit ingin lekas diselesaikan.
Bi Parmi terlihat memindahkan satu sendok kopi bubuk pada cangkir yang telah ia siapkan di permukaan panel belakang. Ia menoleh saat melihat putri majikannya dan si tamu tiba-tiba masuk pantry.
"Ada apa, Mbak?" tanya Bi Parmi sebelum tangannya terangkat membuka pintu kabinet di atas panel, ia meraih toples kecil berisikan sedikit gula. "Wah iya, baru ingat kalau gula mau habis."
"Beli aja, kopinya saya yang buat," ujar Karenina yang telah berdiri di sebelah Parmini, "uangnya ada nggak?"
"Masih ada kok yang dikasih bapak."
"Ya udah beli aja, hati-hati nyebrang jalannya ya. Tengok kanan-kiri." Karenina terdengar seperti menasihati anak kecil.
"Iya, Mbak. Bibi tinggal dulu ya." Bi Parmi pun tinggalkan dapur, kini hanya ada dua manusia yang kembali diserang kesunyian.
Otak Denial kembali simpulkan satu hal: Karenina juga ramah dengan pembatunya. Mungkinkah Denial harus menjadi penjual mie ayam atau pembantu dulu agar Karenia sudi bersikap manis dengannya?
Denial tampak memperhatikan Karenina, perempuan itu masukan dua sendok teh gula pada cangkir yang telah diisi bubuk kopi oleh Parmini tadi. Tangannya beralih raih termos air panas yang terletak di sebelah tempat sendok.
Kini aroma kopi menguar kuat saat minuman panas itu diaduk oleh Karenina. Ia baru menoleh seraya ulurkan segelas kopi itu pada Denial, seperti tukang warteg saja.
"Ini, kopi yang kamu minta."
Bukannya meraih cangkir itu, Denial sibuk bergeming tatap lekat pemilik eboni yang hampir seharian membuatnya pusing tujuh keliling karena tak ada kabar.
Karenina letakan cangkir kopi di permukaan panel sebelum tangannya bersidekap. "Kamu ini kenapa? Mending kamu minum kopinya, terus balik laki ke kantor." Ia lirik jam dinding di atas pintu. "Kamu pasti telat sampai di sana, kamu mau kena tegur?"
"Gue mau di sini aja, sama lo," aku Denial, laki-laki itu kini lebih berani mengungkap perasaannya saat ingatan tentang perilaku Rega kemarin membuatnya kembali kesal, bekas ** di leher Karenina pun sengaja ditutup dengan plester luka. Menatap benda itu ternyata sanggup membuat tangan Denial mengepal, bahkan tatapan tajamnya menghunjam.
"Terserah kamu. Saya mau istirahat, itu kopinya kalau mau diminum." Karenina melengos lewati laki-laki itu, ketika kakinya telah melewati ambang pintu pantry barulah Denial memutar tubuh dan putuskan ikuti langkah Karenina.
"Lo sama pembantu aja? Yang lain pada ke mana?" tanya Denial basa-basi, kakinya mulai menginjak anak tangga pertama, sedangkan Karenina sudah di anak tangga ke-empat.
"Oma pergi, papa sibuk sama bisnisnya." Langkahnya terhenti dan memutar tubuh. "Kenapa kamu ikuti saya?"
"Gue tamu, tapi lo cuekin. Gue harus gimana sekarang?"
"Saya lagi sakit, kamu lihat sendiri, kan?"
"Oke, gue antar ke kamar, terus gue minum kopinya. Habis itu gue balik ke kantor, jangan kasih alasan buat nolak."
Tanpa katakan apa-apa Karenina kembali memutar tubuh dan lanjutkan langkah, persetan dengan Denial yang keukeuh dengan pendiriannya untuk lakukan semua yang diucapkannya tadi.
Lagipula, jika Karenina tak mengikuti keinginan Denial bisa saja laki-laki itu takkan kembali ke kantor, dan Karenina tak ingin menjadi alasan membuat Denial seperti karyawan pembangkang di kantor ayahnya sendiri.
Tangan Karenina terangkat membuka pintu, ia masuk dan sisakan sedikit ruang sekadar melihat Denial yang kini berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kamu, sekarang saya udah di kamar. Mending kamu tepatin omongan kamu tadi," ujar Karenina.
"Nggak suka banget gue datang ke sini, ya." Bola mata Denial tak bisa beralih dari plester penutup luka di leher Karenina.
"Bukan apa, saya lagi nggak enak badan. Maaf kalau kamu merasa saya enggak hargai kamu, saya benar-benar perlu istirahat." Karenina mendorong pintu, tapi tangan kanan Denial justru menahannya--bahkan mendorong pintu hingga Karenina mundur beberapa langkah, kini Denial berhasil masuk kamar perempuan itu, ia tutup bahkan menguncinya tanpa peduli tentang pikiran buruk Karenina sekarang.
"Karenina, lo tahu nggak kalau sesuatu yang udah gue klaim jadi milik gue ternyata diacak-acak sama orang lain, gue bakal marah, gue enggak terima." Denial berkata seraya masukan tangannya ke saku celana, dia masih memunggungi Karenina.
Namun, perempuan itu sama sekali tak menyahut, ia melangkah hampiri pintu sekadar angkat tangan bersiap memutar kunci.
"Jangan," lirih Denial seraya menahan tangan Karenina, kini ia menoleh seraya arahkan tangan Karenina ke wajahnya sebelum kecupan lembut itu terjadi.
Memang hangat, suhu tubuh Karenina cukup kentara.
"Kamu sebenarnya mau apa." Ekspresi dingin itu kembali muncul, Karenina tarik tangannya hingga lolos dari genggam Denial.
"Gue udah bilang kalau gue nggak suka sesuatu yang udah gue klaim milik gue malah diacak-acak orang lain." Tiba-tiba saja Denial menarik plester luka yang menutupi bekas ** dari Rega hingga ruam kemerahan itu benar-benar jelas. Namun, tangan kanan Karenina terangkat menutupi lehernya.
"Ini bukan urusan kamu. Mending kamu pulang, jangan ganggu waktu istirahat saya."
Denial mengernyit. "Apa sebenarnya elo malah menikmati yang kemarin? Jadi, artinya gue malah ganggu waktu elo buat bersenang-senang sama Rega?"
Plak!
Kesabaran Karenina juga ada batasnya, emosi yang membumbung tadi membuat tubuhnya semakin lemas saja hingga ia putuskan mundur dan duduk di tepi ranjang seraya netralkan pernapasannya.
"Semarah itu?" Denial menyeringai, ia sama sekali tak ingin mengalah dan putuskan hampiri Karenina. Ia membungkuk seraya berbisik, "Gue tahu kalau dia nggak pernah nyentuh elo, yang pertama itu gue, kan? Masih ingat memori waktu lo mabuk di klub malam setelah putus sama dia, Karenina Hasan?"
Karenina angkat wajahnya. "Saya juga udah bilang, lupakan semuanya, anggap nggak pernah terjadi apa-apa."
"GIMANA BISA SEGAMPANG ITU!" Denial dorong tubuh lemah Karenina hingga terbaring di ranjang, ia merangkak di atasnya dan berdiri dengan lutut seraya tahan kedua tangan Karenina di sisi kepala.
Petir kembali berdentum seolah mendukung kemarahan Denial, saat itu juga hujan kembali turun dengan sekali aba-aba saja. Ternyata hujan yang sejak pagi berlangsung bukanlah akhir untuk hari ini, mereka hanya beristirahat sejenak sebelum kembali mengguyur bumi Jakarta.
Tatapan katatonik Karenina berubah, kali ini terlihat sayu, ia hanya diam saja dengan perlakuan Denial sekarang. Tenaganya tak bisa berbuat banyak saat tubuh itu benar-benar lemah, bibirnya juga tak ingin lagi melontar kata. Karenina nikmati saja tatapan dingin Denial yang menghunusnya.
"Karenina, gue sayang sama lo," aku Denial, "gue nggak tahu kenapa begini, tapi gue selalu mau lihat elo setiap hari, mau lo baik-baik aja. Juga, gue nggak mau ada Rega lain di kehidupan elo selanjutnya. Maaf kalau sikap gue semena-mena sama perempuan yang mungkin nggak akan pernah buka hatinya buat gue, **** ini emang cuma anak kecil yang berbuat seenaknya." Denial menarik napas. "Gue nggak mau Rega sentuh elo lagi, di bagian mana pun. Malam panjang itu, lo udah jadi punya gue, Denial Nuraga."
"Denial--" Tak ada kesempatan bagi Karenina melontar kosa kata selanjutnya, sebab bibir Denial telah menguncinya. Tangan laki-laki itu merambat naik hingga mampu selipkan buku-buku jarinya dengan milik Karenina, berubah menjadi genggam erat dari keduanya.
Petir kembali berdentum, tapi pejam mata keduanya artikan kalau mereka tak terusik oleh apa pun, bahkan genggam keduanya lebih erat lagi.
Saat Denial melepas ciumannya, kelopak mata Karenina terbuka.
"Karenina Hasan, neon nae kkeoya amudo naege gajyeogal su eobs-eo. Gue nggak mau kurang ajar terus-terusan dan tambah bikin elo sakit hati, gue nggak akan sentuh kalau elo nggak izinkan." Denial menyingkir, ia bantu Karenina hingga duduk lagi, laki-laki itu kini menekuk lutut di depan Karenina. "Gue balik ke kantor sekarang, maaf kalau tadi bentak elo. Lekas sembuh ya." Ia beranjak dan membungkuk kecup kening Karenina sebelum melangkah tinggalkan kamar itu.
Karenina sendiri menunduk seraya angkat tangan kanan yang kini ia sentuhkan di dada, terkepal pelan.
Apa semua laki-laki bisa dipercaya?
***
*neon nae kkeoya amudo naege gajyeogal su eobs-eo : kamu milikku, tak ada yang bisa mengambilnya dariku.