Over My Cat

Over My Cat
Sebuah Tawaran



Pagi ini, Nobu pergi ke pasar tradisional terdekat dari rumah. Ia berniat membeli bahan makanan untuk sarapan pagi hari ini. Disana, ia membeli sayur bayam, 1 kg telur dan lainnya. Selain itu, ia juga membeli bumbu-bumbu masak sebagai persediaan. Setelah mendapatkan seluruh daftar banhan, Nobu kembali pulang jalan kaki.


Sesampainya di rumah, ia menaruh barang belanjaannya ke atas meja. Ia menguraikannya, lalu menyimpan beberapa bahan ke dalam lemari penyimpanan. Ia hanya menggunakan bumbu dan bahan yang dimasak pagi ini. Nobu berencana tuk memasak sayur berkuah, yakni sayur bayam jagung. Dalam proses pembuatannya, ia membutuhkan sekitar 30 menit proses masak.


Makanan pun siap dihidangkan dan disantap bersama-sama dengan Fujita. Nobu segera memanggil temannya tersebut ke meja makan dan sarapan. Ditengah-tengah sarapan, Fujita teringat saat sekolah bersama Nobu dulu. Ia mulai bercerita ketika pertama kali bertemu Nobu di kantin. Nobu yang mendengar Fujita mengisakan cerita itu, meresponnya cukup senang.


Nobu juga mengingatkan Fujita akan peristiwa jatuhnya Nobu di tangga. Fujita memberikan reaksi tawa pada Nobu dan membayangkan ulang kejadiannya. Nobu pun ikut tertawa lebar melihat respon dari Fujita tersebut. Percakapan mereka terus berlanjut mengenai kejadian-kejadian konyol yang lainnya. Mereka berdua benar-benar menikmati obrolan itu dan mengenangnya kembali.


"Ngomong-ngomong, kucingmu sepertinya tidak suka dengan kehadiranku," ungkap Fujita. "Eh...serius? Um...Maaf ya, ia agak sensitif," terang Nobu.


"Siapa nama kucingmu itu Nobu?"


"Namanya Julian, kucing domestik jantan."


"Oh...dari mana kau membelinya?"


"Um...aku tidak membelinya Fujita. Aku mendapatkannya dari sahabatku yang sudah meninggal beberapa hari lalu."


Setelah mengungkapkan rasa hatinya, Fujita kembali bertanya sesuatu pada Nobu. Yakni perilaku kucingnya tersebut atau Julian dalam berkegiatan sehari-hari. Nobu pun menjawab Fujita santai dan menjelaskan segala rutinitas dengan Julian. Mulai dari pagi saat sarapan hingga beristirahat malam hari. Kali ini, Fujita hanya mendengarkan penjabaran Nobu dan mengangguk pelan.


Lama-kelamaan, topiknya mulai berganti mengenai kehidupan masa kini mereka. Cerita diawali dari Fujita mengenai perantauannya ke daerah Nobu tinggal. Disini, ia berusaha mencari pekerjaan yang menyediakan lowongan sesuai kemampuannya. Dan ia menemukan sebuah perusahaan percetakan kertas dan mendaftar kesana. Fujita pun diterima dalam perusahaan tersebut dan mendapat jabatan sedang.


"Wah...selamat ya Fuji. Kau sudah masuk posisi," ucap Nobu. "Terimakasih Nobu. Aku juga tidak menyangka akan mendapatkannnya," balas Fujita.


"Ku harap kau selalu beruntung Fujita. Karena, saat ini, aku baru saja menghadapi pengusiran oleh ibuku sendiri."


"Huh? benarkah Nobu. Malang sekali. Memang, bagaimana ceritanya?"


Nobu membeberkan seluruh kejadian itu.


Untuk menyudahi segala kesedihan, Nobu segera mengganti topik pembicaraannya lagi. Fujita pun menyambutnya dengan baik karena sahabatnya terlihat tak nyaman. Ia menjelaskan tentang perusahaannya bekerja di daerah dekat rumah Nobu. Perusahaan tersebut baru saja bediri pada beberapa tahu yang lalu. Nobu mencoba memahami setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Fujita.


Cukup merasa didengarkan, Fujita bertanya pada Nobu tentang pekerjaannya sekarang. Nobu menjawab pertanyaan itu dengan jujur dengan kondisinya saat ini. Ia menjabarkan tentang pemecatan yang pernah ia alami di kantor. Ia juga menjelaskan alasan dirinya dikeluarkan dari pekerjaan saat itu. Dan diujung cerita, ia malah kembali agak sedih setelah memberitahunya.


Fujita merasa iba dengan Nobu yang terus-terus mengalami cobaan. Ia langsung merubah mimik wajahnya menjadi agak sedih mengetahui ceritanya. Fujita mencoba membantu meringan kesedihan serta kemalangan yang menghantui Nobu. Ia pun memikirkan solusi bagaimana bisa mengatasi hal-hal tersebut. Berpikir cukup lama, akhirnya terlintas juga ide di benak Fujita.


"Posisi yang lowong adalah administrasi. Sepertinya, itu cukup cocok untukmu."


"Ah...mungkin saja. Jadi, haruskah aku mendaftar ke bagian itu?"


"Jika kau bersedia...tentu saja, kau harus mendaftar kesana segera."


Fujita melanjutkan percakapannya mengenai tugas-tugas seorang admin di perusahannya. Ia mulai dari mengurus berbagai dokumen yang harus dikerjakan nanti. Ia juga menjelaskan dokumen-dokumen apa saja yang akan dikumpulkan. Selain itu, Fujita memberikan contoh pada Nobu tentang surat-suratnya. Ia pun menjabarkan kegiatan seorang admin setiap harinya di perusahaan.


"Kau perlu untuk melayani kebutuhan karyawan di kantor," tutur Fujita. "Oh...begitu ya. Kebutuhan seperti peralatan dan lainnya?" tanya Nobu. Fujita mengangguk dan memaparkan sedikit mengenai apa saja kebutuhan karyawan. Mulai hal paling dasar hingga hal-hal yang butuh perhitungan. Nobu berusaha mendengarkannya secara seksama dan memahami seutuhnya perlahan-lahan.


"Tapi sebelum itu, aku harus mengungkapkan ini padamu," kata Fujita. "Ada apa Fuji? Apakah itu sangat penting?" tanya Nobu kembali.


"Tentu saja Nobu...hanya saja, aku kurang nyaman untuk membicarakannya."


"Um...aku bisa mengatasinya. Kurasa..."


"Sungguh? Jadi, kau tidak keberatan?"


"Tidak...tidak, santai saja Fujita."


"Oke, kita mulai dari penerimaan."


Fujita memaparkan bagaimana perusahaannya bekerja memasukkan karyawan yang dibutukan tersebut. Yakni, dibagi jadi dua antara masuk jalur luar dan dalam. Tentunya, jalur dalam lebih efisien ketimbang jalur luar penuh seleksi. Syarat yang diperlukan adalah membayar orang dalam untuk memasukan pelamar. Yaitu, Nobu yang telah ditawari oleh Fujita masuk ke perusahaannya.


"Berapa biaya yang dibutuhkan untuk menjadi pekerja tetap?" tanya Nobu. "Murah saja...hanya 50.000 yen satu kuota," jawab Fujita. Nobu pun memikirkannya terlebih dahulu sebelum benar-benar menyetujui Fujita. Melihat wajah Nobu yang ragu-ragu, Fujita mencoba meyakinkan Nobu. Ia melancarkan kata-kata manis dan iming-iming gaji besar.


Melihat keadaannya yang membutuhkan pekerjaan, pada akhirnya Nobu menyetujui Fujita. Ia pun ijin pamit untuk menjual cincin emasnya sebentar. Dengan wajah sumringah, Fujita mempersilahkan Nobu dan setia menunggu di rumah. Nobu bergegas pergi dan mencari toko emas yang pernah dikunjunginya. Sesampainya di toko tersebut, Nobu memantapkan diri untuk melepaskan barangnya.


"Ini modalnya Fujita. Ku harap, aku mendapatkan posisinya," ujar Nobu. "Tenang saja kawan. Kau tak akan kecewa, percayalah!" pungkas Fujita. "Drink...drink...telepon Fujita berbunyi, ia minta ijin tuk mengangkatnya. Setelah percakapan cukup panjang, Fujita pamit cepat pulang pada Nobu. Dengan harap-harap cemas, Nobu mengangguk dan melihat Fujita pergi.


"Meow...meow...grrr...errr...terrr..." kata Julian mengerang pada Nobu. "Ada apa Julian? Kau sangat sensitif sekali sepertinya," terang Nobu. Tak ingin ambil pusing, Nobu masuk ke kamar dan rebahan. Kegiatan itu diikuti oleh Julian, lalu tidur di samping Nobu. Sekarang, Nobu tinggal menunggu hasil kerja baru dari temannya Fujita.