
"Makan yang lahap Julian. Sekarang, kita musti berhemat," kata Nobu. Sembari menunggu Julian menghabiskan sarapannya, Nobu mengumpulkan dulu pakaian kotornya. Ia berniat untuk mencuci dan mengeringkan pakaian-pakaian tersebut setelahnya. Nobu segera mengambil keranjang khusus pakaian kotor, lalu menaruhnya disana. Ia pun membawa keranjangnya ke ruang cuci dekat kamar mandi.
Sampai disana, ia memisahkan antara pakaian bewarna dan pakaian putih. Agar lebih efisien baginya, ia mendahulukan pakaian putih lebih dulu. Ketika pakaian putih sudah dibersihkan, baru pakaian bewarna yang dicuci. Lalu, ia mencari deterjen dan pelembut yang ia gunakan biasanya. "Eh...habis. Hm...aku harus membelinya kalau begitu," gumam Nobu.
Ia kembali ke ruangan dimana Julian sedang menyantap nikmat makanannya. "Julian, aku pergi sebentar ya? Untuk membeli deterjen," pamit Nobu. Julian hanya menengok sejenak kearah Nobu dan melanjutkan sarapan paginya. Nobu begegas pergi dengan mengendarai motor hitam kesayangannya ke minimarket. Di minimarket, ia membeli beberapa produk deterjen sekaligus pewangi pakaian.
Sebelumnya, Nobu membandingkan harga dan wangi kesukaannya, baru dibeli. Setelah mendapatkan barang yang ia inginkan, Nobu kembali menancap gas, pulang. Ketika hampir mendekati rumah, terlihat seorang pria misterius berdiri disana. Nobu pun mempersilahkan ia masuk dan duduk di ruang tamu. "Silahkan, Tuan. Aku akan mempersiapkan teh dan camilannya..." sambut Nobu.
Nobu berjalan ke dapur, lalu menyiapkan camilan dan teh untuknya. Seraya menyusun jamuannya, Nobu memikirkan suatu hal tentang pria tersebut. Ia merasa bahwa pernah bertemu dengannya ketika di kediaman Tania. Akan tetapi, wajahnya terlihat samar-samar dan memiliki aura misterius. Merasa cukup berpikir, Nobu membawa hidangannya ke meja ruang tamu.
"Ini teh hijau dan camilan untuk anda Tuan," tutur Nobu. Si pria misterius tersenyum sembari mengambil teh buatan Nobu tersebut. Slurp...suara sruputan dari si pria menikmati minuman hangat itu. Puas membasahi kerongkongannya, ia menaruh cangkir teh hijaunya keatas meja. "Terimakasih...namaku Hamada, asisten Tuan Hideyoshi," ungkap Hamada pada Nobu.
Hamada kembali mengangkat cangkir teh hijaunya, tapi dibarengi dengan cemilan. Kres...camilan itu ia santap perlahan-lahan, lalu menyeruput tehnya. Setelah menikmati roti kering tersebut, Hamada menaruh teh hijaunya lagi. "Kau adalah teman dekat dari Nona Tania, 'kan?" tanya Hamada. "Be-benar, Tuan. Ada apa dengan Tania?" tanya Nobu kembali.
Dari kantung jas yang dikenakannya, Hamada menarik sebuah amplop putih. Amplop itu memiliki pita merah pada penutupnya serta tertulis kata. Untuk Nobu, ini pesanku untukmu sebagai seorang sahabat yang baik. Hamada memberikan amplop berpita merah itu, lalu dibuka oleh Nobu. Aku memiliki sisa hutang pada Tuan Hideyoshi, tolong bayarkan ya!.
Nobu yang membaca isi amplop tersebut terkejut akan kata-katanya. Ia tak menyangka bahwa temannya itu menghadiahi dirinya dengan hutang. Ia pun sampai lemas menghadapi hal yang datang tak terduga. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, Nobu tak habis pikir mengalaminya. "Tapi bagaimana mungkin kau mengetahuiku diriku ini siapa?" tanya Nobu.
"Karena Nona Tania pernah memperlihatkan foto-fotomu padaku--" jawab Hamada, "ia juga meminta padaku untuk berlaku baik padamu Tuan Nobu."
"Um...lalu, apa hutang yang dimiliki Tania pada Tuan Hideyoshi?"
"Hutang dari ayahnya yang telah meninggal dunia 1 tahun lalu. Selain itu, hutang rumah yang telah ia tinggali selama ini."
"Memang...berapa besaran angkanya, Tuan?"
Hamada menunjukkan sebuah kertas perjanjian. Melihat angka yang begitu fantastis, Nobu hanya bisa menelan ludah. Ia tak dapat membayangkan bagaimana harus membayar hutang-hutang tersebut. "Oh ya, satu lagi...ia berhutang biaya pengobatan," tambah Hamada. Mendengar hal tersebut, pernapasan Nobu serasa tercekat di tengah tenggorokannya.
"Bagaimana aku harus membayar hutangnya?" tanya Nobu seraya menahan tangis. "Kau tak perlu khawatirnya, Tuan. Hanya 3% saja," balas Hamada.
"Um...3%? Maksudmu, hanya sisa 3% untukku membayar hutang-hutangnya?
" Ya...benar. 3% dengan total uang sebesar 300.000 yen..."
Mulut Nobu menganga mengetahui angka itu, bahkan ia hampir pingsan.
"Lalu...apa aku terlihat peduli Tuan Nobu?" balas Hamada sengit.
"Bagaimana jika pembayarannya ditunda bulan depan? A-atau minggu depan?"
"Tidak ada ketentuan bagi kami untuk mengulur hutang terlalu lama."
"Ayolah...Tuan. Atau aku membayarnya, tapi dengan nilai lebih kecil. Mungkin, kau bisa menagihnya ke teman dekat Tania yang lain."
Hamada menghelas napas panjang mendengar pernyataan-pernyataan yang dilontarkan Nobu. Ia memejamkan mata layaknya orang yang berpikir dan menimbang keputusan. Disela-sela suasana tegang tersebut, datang Julian menaiki paha Nobu. "Um...maaf, Tuan. Aku akan membawa kucingku dulu..." ujar Nobu. Nobu menggendong Julian kedalam dan memberitahu tentang keadaannya saat ini.
"Julian...aku sedang dalam bahaya sekarang. Jadi diamlah," pungkas Nobu. "Meow...grrr...rrr...ew...grrr..." ucap Julian tak terima dengannya.
"Hei...ini bukanlah main-main Julian. Baik...baik...maafkan aku. Dan sekarang, aku harus mengurungmu terlebih dahulu di kandang, oke?"
Nobu bergegas mengandang Julian dan memberinya sedikit camilan dan air.
Lalu, ia kembali menemui Hamada yang sendirian di ruang tamu. Nampak, ia masih berpikir akan negosiasi masa pembayaran 'dari Nobu. Nobu pun hanya memperhatikannya sampai Hamada selesai dengan pikirannya sendiri. Setelah cukup lama terdiam, Hamada membuka mata dan mengatakan sesuatu. "Sepertinya aku memiliki solusi lain untukmu, Tuan Nobu," kata Hamada.
"Apa itu? Apakah lebih baik? Aku harap begitu..." ungkap Nobu.
"Kau memiliki jam tangan yang terbilang baru bukan, Tuan Nobu?"
"Um...aku...i-iya. Jam itu baru 3 bulan lalu."
"Aku akan menyitanya, Tuan Nobu."
"Apa! Ta-tapi...itu kebutuhanku."
Tak memiliki pilihan lain, Nobu memberikan jam tangan barunya tersebut.
Dengan berat hati, Nobu menyerahkan seraya menahan perasaannya yang kacau. Karena nominalnya kurang mencukupi, Hamada kembali melihat barang-barang Nobu. Dan yang ia temukan adalah kendaraan roda dua milik Nobu. Walau sempat menolak untuk menyerahkannya, Nobu akhirnya pasrah memberikan motornya. Barang-barang kesayangan dan berharga Nobu lepas karena sahabatnya, Tania.
Hamada terlihat memanggil mobil pickup untuk mengangkut motor hitam tersebut. Begitu semuanya telah sesuai posisi, Hamada pergi dari rumah Nobu. Nobu pun kembali masuk dan bergegas mengeluarkan Julian dari kandangnya. "Hai Julian...apa kabar? Hah...hilang sudah asetku," ujar Nobu. Nobu mencoba memeluk Julian untuk meredam kekalutan pikirannya saat ini.