Over My Cat

Over My Cat
Pulang ke Rumah



Nobu teringat akan masa kecilnya dulu ketika bersama ayah ibunya. Dalam benak, ia pernah diajak mereka ke sebuah pasar malam. Ayah dan ibu Nobu memberikan sebuah boneka kucing persis Julian. Kejadian itu, berlangsung saat malam minggu ketika ayahnya libur bekerja. Bertamasya setiap malam minggunya rutin Nobu dan kedua orangtuanya lakukan.


Namun, semua momen berubah saat ayah Nobu mengalami kecelakaan maut. Kecelakaan itu membuat ibunya yang harus banting tulang memenuhi kebutuhan. Perlahan sikapnya mulai berubah pada Nobu, tak seperti hari biasanya. Walau begitu, Nobu tetap berkeinginan untuk pulang ke rumah ibunya. Selain rasa rindu ingin bertemu, juga ingin meminta saran padanya.


Sebelum pergi melaksanakan rencananya, Nobu pergi mengecek uang lebih dulu. Ia pun berjalan kaki ke bilik atm terdekat dari rumah. Dengan uang yang tersisa, Nobu mengambil sebagian uang yang tersimpan. Ia kembali ke rumah dengan berjalan kaki lagi setelah penarikan. "Hai Julian...aku telah mengambil sebagian uangku," kata Nobu memberitahu.


Nobu menaruh uang yang telah ia tarik keatas meja kamar. Julian yang penasaran, ikut mengamati perilaku Nobu pada uang itu. "Kita akan pulang ke rumah nenek Julian. Menyenagkan?" tanya Nobu. "Meow...grrr...errr...meow...miauw..." jawab Julian menanggapi pertannyaan tersebut. Nobu segera membagi seluruh biaya transportasi dan kebutuhan mendesak lainnya.


Berpikir akan tinggal sebentar di rumah ibunya, Nobu mempersiapkan pakaian. Mulai dari kaus, jaket, celana, pakaian dalam, dan lain sebagainya. Tak lupa, ia juga menyiapkan alat mandi dan perwatan Julian. Ia menaruh seluruh barang-barangnya tersebut masuk ke dalam koper. Ia akan membawa koper itu untuk pulang ke rumah nanti.


Nobu juga baru terpikirkan bahwa rumah ibunya jauh dari perkotaan. Itu artinya, Nobu harus membawa sendiri makanan untuk Julian disana. Ia pun kembali menata ulang isi kopernya dan menaruh bungkusannya. Karena keberangkatan masih beberapa hari, Nobu menaruh kopernya disamping lemari. Dan Nobu kembali beraktifitas di rumah seperti biasa terlebih dahulu.


...****************...


"Apa kau yakin ingin pulang ke kampung halamanmu?" tanya Kenta. "Um...aku tak yakin. Kemungkinan, aku akan melakukannya," jawab Nobu.


"Jika kau merasa ragu-ragu, kenapa masih meneruskan niatmu itu?"


"Karena...aku ingin menemui ibuku. Ia sendirian di rumah sekarang."


"Kau ingin menemaninya? Atau berkunjung?"


"Kupikir, berkunjung sudah cukup bagiku."


Kenta kembali bertanya pada Nobu mengenai uang sakunya untuk pergi. Nobu bilang, uang sakunya ia cukupkan sebisa mungkin biaya transportasi. Kasihan pada Nobu, Kenta mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantungnya. "Ini, tambahan uang untukmu sebagai modal transportasi," ucap Kenta menyodorkan. "Tak perlu repot-repot Kenta. Aku sudah mengaturnya," balas Nobu.


"Ambilah...aku tahu, kau cukup membutuhkannya. Jangan memaksaku untuk memberikannya."


"Tapi...kau terlalu banyak membantuku. Bagaimana aku harus membalasmu nanti?"


"Kau terlalu polos Nobu. Sudah...ambilah sekarang dan segera berangkat."


Mata Nobu berkaca-kaca melihat kegigihan Kenta yang mau membantunya. Ia pun bergegas pergi dan memesan tiket kereta kelas ekonomi.


Merasa lapar dan butuh tempat istirahat, Nobu menjajal masuk kedai. Ia berusaha merogoh tasnya dan mengecek uang di dalam dompet. Hm, uangku tersisa sedikit. Bagaimana ya? pikir Nobu menimbang-nimbang. "Permisi, Tuan. Bolehkan aku meminta sesuatu?" tanya Nobu dengan sopan. "Kau mau pesan apa anak muda?" tanya si pemilik kedai.


"Tuan, aku tidak memiliki uang. Bolehkan aku meminta makan dan tempat tinggal sehari? Aku berjanji akan melakukan apapun," pinta Nobu. Si pemilik kedai mencoba memperhatikan Nobu dari atas sampai bawah. Ia juga menanyakan berbagai alasan kenapa Nobu menginginkan hal tersebut. Melihat Nobu sepertinya jujur, ia putuskan tuk memberi ijin Nobu.


"Terimakasih banyak, Tuan. Anda sangat berjasa untukku," tutur Nobu senang. Seharian ia bekerja disana dan petangnya membersihkan kedai bersama-sama. Ia juga diberi makan malam serta ruangan kecil tuk beristirahat. "Ayo Julian, kita tidur. Besok...masih harus berjalan," ujar Nobu. Julian menuruti perintah itu dan segera terlelap di samping Nobu.


Keesokan paginya, Nobu berpamitan pada pemilik kedai, lalu mengucapkan terimakasih. Nobu dan Julian mulai berjalan kaki menuju rumah sang ibu. Seraya melangkah, Nobu mengabari Kenta bahwa dirinya sudah hampir sampai.


Kenta, aku sudah di kampung. Ini perjalanan yang menyenangkan sekali.


Tak lama, Kenta membalas dengan kata-kata bersyukur untuk Nobu.


...****************...


Tok...tok...tok...tok...tok...Nobu mengetuk pintu rumah ibunya. Tak lama, keluar sosok wanita berambut putih dengan wajah terkejut. Tahu anaknya pulang, ia malah memasang raut sengit menatap Nobu. Nobu yang sudah merasa akan disambut begitu, hanya bisa diam. "Mengapa kau pulang? Apa kau sudah kaya raya?" tanya ibunya.


Mendapat respon seperti itu, hati Nobu langsung hancur berkeping-keping. Seketika, ia merasa rendah diri dan tak berguna bagi ibunya. "Aku kemari karena...karena...aku...dipecat Ibu," jelas Nobu terbata. "Huh? Apa? Kau tak memiliki uang? Bagaimana?" tanya ibunya beruntun. "A-aku dikeluarkan kantor atas kesalahan orang lain," terang Nobu.


Tak terima dengan pernyataan Nobu, sang ibu langsung memberikan tamparannya. "Dasar bodoh! Aku membesarkanmu untuk mendapatkan uang Nobu," maki ibunya. "Apa yang musti aku lakukan? Aku membutuhkanmu ibu," balas Nobu.


"Membutuhkanku? Apa maksudmu? Harusnya kau sadar diri setelah ayahmu meninggal. Kau yang memberikanku uang, jadi aku tak perlu repot bekerja."


"Aku tahu, aku juga selalu mengirimu uang, 'kan? Tapi untuk saat ini, aku membutuhkan dukungan dan semangat dari kasih sayangmu."


"Aku tak peduli Nobu. Aku tidak peduli! Sekarang pergilah dari sini dan jangan kembali jika kau tak memiliki uang untukku."


"Tapi ibu...tunggu dulu. Aku akan mencari perkejaan lain sesegera mungkin. Aku berjanji akan mendapatkan uangnya untukmu, Ibu. Ibu...ibu..."


Ibunya pun menutup pintu dengan keras tepat di muka Nobu. Nobu yang masih berusaha, terus mengetuk pintu dan memanggil ibunya. Karena tak tahan dengan suara yang ditimbulkan, Ibu Nobu menghampirinya. Ngik...pyar...pyar...terrr...sang ibu melempar piring kearah Nobu.


"Pergi dari sini Nobu! Pergi...pergi!" sentak ibunya mengusir Nobu. Nobu pun pergi dari sana sembari menjinjing barang yang dibawa. Ia kembali memesan tiket ke kota, pulang ke rumahnya sendiri. "Tak kusangka Julian, ibu akan semarah itu padaku," tutur Nobu. "Meow...grrrr...meow...arrr..." jawab Julian bingung apa yang terjadi.