Over My Cat

Over My Cat
Rumah Baru Julian



"Selamat datang di rumah baru Julian!" teriak Nobu menyambut Julian. Julian yang baru bangun dari tidurnya, tersentak kaget mendengar suaranya. Ia pun langsung berlari ke ujung ruangan dan mendesis ketakutan. Melihat ekspresi tak terduga dari Julian, Nobu segera minta maaf. "Eh...maaf Julian. Kau terkejut ya? Hehe..." tanya Nobu terkekeh.


Perlahan, Nobu mendekati Julian dan berusaha untuk meminimalisir keterkejutannya tadi. Bukannya tenang, Julian malah lari dan hampir saja memecahkan barang. Melihat perilaku Julian berubah 180°, Nobu mencoba menenangkannya sebisa mungkin. Walau sedikit cakaran ia dapat, akhirnya Nobu berhasil menangkap Julian. "Hey dude, tenanglah kawan. Chill mate," kata Nobu meredakan gerakannya.


Dengan elusan di kepala dan lehernya, Julian pun mulai tenang. Nobu melihat mata Julian untuk meyakinkan semua baik-baik saja. "Seperti ini lebih baik. Oh ya...kau lapar?" tanya Nobu. Tak disangka, Julian mau menaggapi perkataan Nobu sejak pertemuan mereka. "Meow...rrrrr" balas Julian atas pertanyaan yang dikatakan oleh Nobu.


Merasa istimewa, Nobu bergegas menyiapkan tuna segar tuk sarapan Julian. Ia menaruh tubuh Julian ke lantai, lalu pergi ke dapur. Ia membuka lemari es dan mengambil kaleng tuna varian rasa. Tak mau berlama-lama, Nobu langsung membawa semuanya ke Julian. "Jadi...Julian, kau pilih yang mana bro?" tanya Nobu penasaran.


Julian mengamati ke empat kaleng tuna di hadapannya dengan seksama. Pertama, ia mengendus-endus kaleng satu sampai kaleng yang terakhir. Kedua, ia mengitari kaleng-kaleng tersebut dan menggesek-gesekan kepalanya. Ketiga, ia mulai menggigit kertas kemasan salah satu kaleng tersebut. "Kau memilih yang ini? Selera yang bagus Julian," papar Nobu.


Segera, Nobu mengambil pembuka kaleng dan mengambil piring kecil untuknya. Selepasnya, ia menaruh selembar tuna ke atas piring itu. Dengan lahap, Julian memakan tuna tersebut dengan raut gembira di wajahnya. "Kau sangat menyukai tunanya ya? Haha...aku juga," tutur Nobu. Butuh waktu beberapa menit hingga tuna itu dapat terkunyah sempurna.


"Sekarang, aku harus mandi dan bersiap-siap kerja," kata Nobu menjelaskan. Nobu pun bergegas menyelesaikan urusannya dan mengucapkan selamat tinggal. "Baik-baik di rumah ya, Tuan Julian. Dada..." ucap Nobu. Nobu kembali meninggalkan Julian sendirian di dalam rumah tanpa teman. Entah mengapa, Julian merasa kesepian tanpa kehadiran Nobu di sisinya.


Dari jendela, Julian melihat kepergian Nobu menggunakan motor hitam kesayangannya. Walau baru sehari semalam, Julian merasa nyaman dengan kehadiran Nobu. Ia masih sama sikapnya seperti temannya yang lama, yakni Tania. Tak mau berlarut-larut, Julian mencoba mengitari isi rumah Nobu. Mulai dari ruang tamu sampai ke bagian paling belakang, dapur.


...****************...


"Akhirnya kau bisa berangkat tepat waktu. Ada apa?" tanya Kenta. "Tak tahu. Mungkin efek senang muncul dalam diriku," jawab Nobu.


"Senang? Kau mendapat kekasih baru? Atau dapat tambahan uang? Haha..."


"Tidak juga. Um...ini semua karena kucing baruku. Namanya Julian."


"Oh begitu...baguslah. Jika itu membuat kerjamu menjadi lebih baik."


Percakapan Nobu dan Kenta berakhir bersamaan dengan selesainya makan siang. Mereka kembali ke bilik masing-masing tuk mengerjakan tugas harian. Hari ini, perasaan Nobu lebih stabil dari pada hari sebelumnya. Ia juga lebih santai mengerjakan dokumen yang menumpuk di mejanya. Hal itu, membuat kepositifan untuk kawan-kawan di sekelilingnya juga.


...****************...


"Hai Julian. Lihatlah...aku sudah pulang. Ada apa denganmu bro? Apa kau baik-baik saja? Ku harap kau tak keberatan saat aku meninggalkanmu sendirian dirumah tuk pergi bekerja," jabar Nobu. Ternyata, Julian masih tak mau menanggapi seluruh penjelasan dari Nobu. Nobu yang merasa aneh pada keadaan tersebut, mencoba berpikir kembali.


...****************...


Nobu membasuh kedua kaki, tangan, dan mukanya sebelum berangkat tidur. Ketika hendak istirahat dan memejamkan mata, Nobu teringat dengan Julian. Ia pun kembali bangkit, lalu mencarinya di sudut-sudut ruangan. "Kau disini Julian...mari aku gendong," tawar Nobu padanya. Nobu segera menggendong tubuh Julian dan membawanya masuk ke ruang tidurnya.


"Maafkan aku Julian karena belum bisa menjadi teman yang baik. Kau tahu? Kebutuhan sehari-hari hanya bisa didapatkan dari pekerjaan. Itu kenapa aku harus meninggalkanmu dan bekerja demi mendapatkan upah. Dan kau, mendiamkanku lagi sekarang setelah mendapat jawaban pertama darimu. Aku menginginkan tanggapan darimu seperti kau membalas perkataannku tadi pagi."


"Meow...rrrr...meow...meow...meow..."


"Iya aku tahu...terlebih, aku sudah menghadiahimu dengan tikus manian. Apa itu kurang bagimu Julian?"


"Meow...arrrr...rrrr....meow...grrr..."


"Eh...tunggu dulu. Kau menjawabku?"


Nobu baru sadar bahwa Julian membalas setiap kalimat yang disampaikannya. Akhirnya, Nobu kembali sumringah dan mengecup bulu di kepala Julian.


Nobu dan Julian pun menikmati langit gelap beserta bintang-bintangnya. Mereka saling bersenda gurau hingga waktu menunjukkan hampir tengah malam. Lalu, Julian tertidur setelahnya meninggalkan Nobu yang masih setengah sadar. Nobu mencoba memposisikan tubuh lemas Julian ke samping kanan badannya. Terlihat, Julian sangat pulas hingga tak terasa dipindahkan oleh Nobu.


Rasa sayang diantara mereka pelan-pelan mulai tumbuh layaknya sahabat. Nobu merasa begitu beruntung dapat bertemu dengan Julian saat ini. Julian seperti membawa berkah tersendiri bagi kehidupannya yang cukup membosankan. Dalam hati, Nobu berjanji tuk terus merawat dan menjaga Julian. Ia tak mau kehilangan seorang sahabat ke dua kalinya lagi.


"Julian, memang kita baru saja bertemu dalam jangka waktu singkat. Tapi, asal kau tahu...aku merasakan kehadiran seorang sahabat sepertimu. Hal itu membuatku bersemangat dalam menjalakan pekerjaan kantor yang menumpuk. Mungkin, kau salah satu sumber kebahagiaan baruku Julian..." bisik Nobu. Nobu kembali mengecup kening Julian, lalu menutup perlahan mata lelahnya.


Butuh 30 menit bagi Nobu agar bisa tidur dengan nyenyak. Setelahnya, ia tidur ngiler sampai membasahi tiap sudut diatas bantalnya. Walau biasanya itu jarang terjadi, hanya pada saat tertentu saja. Ketika ia benar-benar lelah bekerja atau sangat nyaman hidupnya. Dan ia mendapatkan opsi kedua, yakni kenyamanannya dengan sahabat barunya.


Julian, seekor kucing jantan domestik yang ia dapat dari temannya. Bahkan, Nobu sempat bermimpi memandikan Julian di kamar mandinya sendiri. Lalu, memberi makanan cukup mewah untukknya dan merelaksasi punggung berbulunya. Lucu memang, namun sebegitu dalam ikatan diantara Nobu dan Julian. Bersyukur mendapat teman sekaligus penyemangat baru yang membantunya dalam pekerjaan.