
"Mwehehe...kau kenapa Nobu? Nampaknya banyak beban," tanya Kenta geli. "Yah, bebanku adalah...kau bertanya padaku. Paham?" jawab Nobu sengit.
"Hei...santai bung. Maaf...maksudku bukan mengejekmu. Jadi, ada apa?"
"Aku baik. Hanya sedikit luka, tak berarti itu membunuhku, 'kan?"
"Tapi, kau terlihat memiliki lebam. Siapa yang menghajarmu?"
"Orang mabuk."
"Ehem," deham seseorang dibelakang Kenta dan Nobu secara tiba-tiba. "Aku membayar kalian bukan untuk berbicara, paham?" terang Pak Makoto. "Maaf, Pak! Kami kembali bekerja," kata Nobu dan Kenta serentak. Setelah mendapat ucapan maaf, Pak Makoto meninggalkan bilik mereka berdua. "Bagus...kita dalam masalah sekarang. Ya, 'kan?" ucap Kenta berbisik.
Kenta dan Nobu pun kembali berkerja seperti hari-hari bisanya. Tak terasa, waktu makan siang mulai mendekat dan menggerayangi pikiran. Dan ketika waktunya tiba, Kenta dan Nobu pergi ke kedai. "Bagaimana dengan pekerjaanmu Nobu? Kau bisa melakukannya?" tanya Kenta penasaran. "Ya...lumayanlah. Walau harus menahan sakit sesekali," jawab Nobu malas.
"Lalu...bagaimana kabar kucingmu? Apa ia juga memiliki kondisi sepertimu?"
"Tidak. Justru, ia malah lebih baik dari pada sebelum-sebelumnya."
"Sungguh? Malangnya dirimu Nobu. Haha...ku harap kau cepat sembuh."
"Terimakasih atas harapan palsunya, Kenta."
"Hei...aku bersungguh-sungguh. Hehe..."
Mereka kembali menyantap makan siang dan bergegas kembali ke kantor.
Di kantor, Nobu bekerja sambil sesekali pergi ke kamar mandi. Tujuannya, untuk mengganti perban dan buang air kecil maupun besar. Seharian bekerja, membuat Nobu merasa lelah lebih cepat dari biasanya. Ia memutuskan ke dapur untuk membuat kopi dan memakan camilan. Ketika di pintu dapur, ia tak sengaja berpapasan dengan seseorang.
"Eh...maaf, Nona. Silahkan...jalan terlebih dahulu," ucap Nobu mempersilahkan. Si wanita itu hanya tersenyum menanggapi perkataan yang disampaikan Nobu. Wanita tersebut juga melewati Nobu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Merasa agak canggung, Nobu bergegas melakukan kegiatan yang ia inginkan. Ia membuat kopi seraya mengambil sedikit camilan di dalam toples.
...****************...
"Perhatian-perhatian! Hari ini adalah hari istimewa, dimana kalian akan melaksanakan lembur untuk kepentingan perusahaan. Untuk itu, dimohon kerjasamanya, terkhusus untuk Nobu, Kenta, Mino, Hiro, Daisuke---" ujar Pak Makoto, "dan bagian administrasi. Dan juga, saya akan memperkenalkan karyawan baru. Ia bernama Himawari Sora."
"Terimakasih atas perkenalannya Pak Makoto," ungkap Himawari.
Para karyawan duduk kembali di bilik masing-masing setelah pemberitahuan. Kesempatan itu dimanfaatkan Kenta untuk berbisik pada Nobu atas kekesalannya. "Lihat si pria tua itu, ia menyuruh kita lembur Nobu. Itu adalah hal yang sangat menyebalkan. Errr..." tutur Kenta kesal. "Sudahlah, anggap saja ini bonus kita. Kurasa..." tanggap Nobu meredamnya.
Selepas percakapan singkat tersebut, tak disangka Himawari mendatangi bilik Nobu. "Hai Nobu...kita bertemu lagi. Perkenalkan, aku Himawari," kata Himawari. "Um...i-iya. Ada apa kau kemari?" tanya Nobu canggung.
"Aku kemari untuk menyerahkan berkas-berkas pada 3 Januari kemarin."
"Ah...tentu saja. Terimakasih, Himawari. Kau baik sekali. Dan sekarang?"
"Um...kau pulang dengan siapa nanti malam? Bisakah kita bersama?"
"Bersama...eh, a-aku pulang dengan Kenta. Apa itu baik?"
"I-iya..."
Percakapan akhirnya selesai, Himawari meninggalkannya. Nobu kembali pada pekerjaannya dan mengumpulkan berkas yang diberikan Himawari.
...****************...
"Jadi...dimana tempat tinggalmu Himawari? Dekat sini ya?" tanya Kenta. "Ya...tidak jauh dari sini. Bagaimana denganmu?" tanya Himawari kembali.
"Sama, hanya saja di depan pertigaan sana aku akan belok."
"Oh...kalau aku, masih lurus lagi. Apa kau juga Nobu?"
"Eh...um, i-iya. Aku masih lurus lagi," jawab Nobu."
"Ah...oke. Hampir sampai. Hati-hati kalian. Daaa..." ujar Kenta.
"Dada...kau juga Kenta. Terimakasih ya," kata Himawari cukup keras. Dengan rasa aneh, Nobu dan Himawari berjalan beriringan tanpa berbicara. Mereka terus berjalan pelan sampai-sampai keheningan terasa agak menyeramkan. Karena suasana tersebut, Nobu berinisiatif untuk mengungkapkan sesuatu pada Himawari.
"Aku...aku...memiliki kucing bernama Julian, domestik jantan," tutur Nobu. Merasa ucapannya tak berelasi, Nobu kembali diam tanpa memperhatikan Himawari. Hal serupa juga dilakukan oleh Himawari, yakni diam tanpa kata. Hal itu tetap berlanjut, hingga melewati gerbang depan rumah Himawari. "Aku sudah sampai Nobu. Ini rumahku, hehe..." kata Himawari terkekeh.
"Ah...iya. Selamat malam untukmu Himawari. Selamat beristirahat," iring Nobu. Seperti reaksi sebelumnya, Himawari hanya tersenyum dan pergi begitu saja. Namun, ekspresi itu yang ditunggu Nobu agar ia cepat pulang. Sekarang, ia sendirian menuju rumahnya dengan lampu redup sepanjang jalan. Tak lama, Nobu mulai terpikirkan akan keadaan Julian di rumah.
Hingga beberapa saat berlalu, Nobu sampai juga di depan rumah. Ia bergegas masuk dan mencari keberadaan Julian di setiap ruangan. "Halo Julian...aku pulang! Apa kau merindukanku bro?" tanya Nobu. "Miaow...meong...mauw...rrrr...meow..." jawab Julian sumringah menanggapi Nobu. Mereka pun berpelukan layaknya sahabat yang telah lama tidak bertemu.
"Aku merindukanmu Julian. Maaf ya, aku pulang terlambat karena bos memberikan tugas bertumpuk-tumpuk padaku."
"Meow...rrrr...meow...meow...grrr..."
"Iya...iya...aku juga. Apa kau lapar? Mau makan lagi?"
"Maung...maung...maung...meow...rrrr..."
"Oke...akan aku siapkan untukmu."
Nobu segera melepas pakaian kantor dengan kaus dan celana pendek.
Lalu, membuat menyiapkan piring, air, dan makanan basah untuk Julian. "Bagaimana rasanya Julian? Enak, 'kan?" tanya Nobu seraya mengelus kepalanya. Melihat Julian makannya lahap, Nobu menarik dan menghela napas panjang. Bahkan, ia sampai terpikirkan untuk mencari pekerjaan baru yang lainnya. Tapi ia belum tahu, pekerjaan apa yang cocok untuk dirinya.
"Sebenarnya aku kasihan padamu. Karena...untuk makan, kau harus menungguku. Aku ingin keluar dari pekerjaan itu, tapi aku belum tahu alternatifnya. Melihat, sepertinya aku tak memiliki bakat. Kurasa..." keluh Nobu. Julian tidak terlalu menanggapi Nobu, ia hanya fokus pada makanannya. Sampai santapannya habis, Julian malah tidur meninggalkan Nobu terjaga sendirian.
Kira-kira...apa yang harus aku lakukan ya? pikir Nobu. Karena badannya cukup lelah, akhirnya Nobu ikut tertidur menyusul Julian. Malam itu benar-benar malam yang membingungkan bagi kehidupan Nobu. Di satu sisi ia masih membutuhkan uang, satu sisi Julian. Ia tak bisa memilih salah satu, lebih penting, diantara keduanya.
Apalagi, di tambah dengan luka-lukanya karena peristiwa pemukulan kemarin. Rasa sakitnya berkali-kali lipat musti ia hadapi malam ini. Yang ia tahu hanyalah, ia musti bertahan demi kelangsungan hidupnya. Ia cuma berharap, akan ada hari cerah di waktu esok. Selain itu, untuk Julian juga sebagai sumber kebahagiaan ke duanya.