
^^^"Selamat pagi pemirsa, kembali lagi kami menemani aktifitas anda dengan berita-berita terkini dan aktual dalam "Berita Satu".^^^
^^^Berita pertama datang dari seorang wanita dari Chūrippu yang ditipu puluhan ribu yen karena tawaran pekerjaan pada Senin, 25 Maret 2024. Ia melaporkan kejadian tersebut tepat setelah..."^^^
"Meow..." ucap Julian pada Nobu.
"Sebentar lagi makanannya akan siap. Sabar dulu Julian," balas Nobu. Nobu bergegas memperlebar lubang sebuah kaleng untuk mengeluarkan tuna didalamnya. Hingga beberapa saat, kaleng tersebut terbuka dengan aroma laut memenuhinya. Segera, ia mengambil wadah atau piring plastik Julian diatas rak. Nobu pun menuangkan 2 lembar daging tuna keatas piring Julian.
"Apakah tuna itu cukup untuk mengisi perutmu Julian?" tanya Nobu. Julian tak menggubris Nobu karena lebih fokus pada makanan dihadapannya. Terlihat, Julian begitu lahap menyantap sarapan yang baru saja terhidang. "Makan yang banyak ya, aku ingin menonton tv," papar Nobu. Nobu meninggalkan Julian di dapur dan pergi ke ruang tengah.
^^^"Penipuan tersebut mengangkibatkan kerugian hingga jutaan yen dengan jumlah korban mencapai 15 orang. Penipuan berkedok lowongan kerja itu diperkirakan telah berlangsung selama 1 tahun lebih.^^^
^^^Polisi masih menyelidiki dan mengumpulkan bukti serta saksi yang terlibat atas penipuan tersebut. Para korban meminta kepada pihak yang berwajib untuk memuntaskan dan menangkap pelaku..."^^^
Penipuan berkedok lowongan kerja? pikir Nobu teringat akan sesuatu hal. Fujita! teriak Nobu dalam hati terpikirkan dengan teman sekolahnya itu. Tak mau menyangka yang tidak-tidak, Nobu mencoba mengalihkan pikirannya. Ia mengatakan pada diri sendiri bahwa Fujita tak mungkin melakukannya. Mengingat, Fujita terlihat begitu iba pada Nobu tentang kehidupannya kemarin.
Untuk memastikannya, Nobu mencoba mengirimkan pesan pada Fujita mengenai keadannya.
Fujita, apa kabar? Bagaimana perjalananmu kemarin? Apakah berjalan dengan lancar.
Pesan pertama telah diketik dan segera ia kirimkan pada Fujita. Sampai 4 jam berlalu, Fujita masih tidak membalas pesan Nobu. Nobu kembali menguatkan keyakinan diri bahwa Fujita tak akan menipunya.
Untuk memastikannya lagi, ia mengetik pesan yang berbeda untuk Fujita.
Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana pekerjaanmu sekarang? Apakah berjalan baik?
Hingga 2 jam berlalu, pesan Nobu tak kunjung mendapat balasan. Perasaan gugup pun muncul dari dalam benak Nobu saat ini. Ia memutuskan untuk menelepon Fujita dan meminta beberapa jawaban darinya.
...Maaf...nomor yang anda tuju sedang sibuk. Tekan angka satu......
Panggilan Nobu tak tersambung, lalu muncul pemberitahuan dari operator seluler. Apakah ia masih sibuk sekarang? tanya Nobu pada dirinya sendiri. Akhirnya, Nobu memilih menunggu setengah jam tuk menghubungi Fujita lagi.
...Maaf...nomor yang anda tuju tidak terdaftar. Tekan angka dua......
...****************...
"Halo...bagaimana kabarmu Kenta? Aku begitu merindukan dirimu," ungkap Nobu. "Iya, halo. Aku baik Nobu. Ada apa gerangan?" tanya Kenta.
"Um...aku hanya...butuh teman bicara. Kau yang tepat untukku."
"Ah, baiklah. Jadi...apa yang ingin kau katakan sekarang Nobu?"
"Fujita? Apa kau serius Nobu?"
Nobu mulai menceritakan awal pertemuan Fujita datang ke rumahnya kemarin. Ia memberitahu hal-hal apa saja yang mereka diskusikan berdua. Salah satunya mengenai lowongan pekerjaan di perusahaan tempat Fujita bekerja. Lalu, disambung dengan pesan-pesan Nobu yang tak dibalas Fujita. Sampai nomornya yang sudah tidak terdaftar dan tidak dapat dihubungi.
Kenta yang mendengarnya, hanya bisa menghela napas dan menenangkan Nobu. Karena bagaimana pun, hal tersebut telah terjadi dan tak bisa diulang. Dengan kebaikan hati, Kenta mengirimkan sejumlah uang pada Nobu. Ini merupakan kesekian kalinya, Nobu terus menerus dibantu oleh Kenta. Walau sempat menolak bantuan tersebut, Kenta tetap memaksa Nobu menerimanya.
"Kenapa kau begitu baik padaku Kenta? Kenapa bisa?" tanya Nobu. "Karena kau sudah ku anggap sebagai kembaranku Nobu," jawab Kenta.
"Tapi...bagaimana aku bisa mengembalikan uang-uangmu ke depannya nanti?"
"Kau tak perlu mengembalikannya Nobu. Anggap saja ini sebagai balasan karena kau banyak membantuku saat dikucilkan oleh teman-teman dulu."
Seketika, Nobu menangis tersedu-sedu karena terharu dengan kebaikan Kenta. Kenta pun kembali menenangkan Nobu agar terus semangat, pantang menyerah. Ia berpesan pada Nobu untuk menjaga kesehatan dan tidur cukup. Tak lama setelah percakapan tersebut, Kenta menutup sambungan teleponnya segera. Ditengah derai air mata yang terus mengalir, Julian menghampiri Nobu.
"Walau hidupku kacau, tak diduga Kenta sangatlah baik..." ujar Nobu. Seperti memahami kesedihan dari Nobu, Julian berusaha menggesek-gesekkan kepalanya. Dengan gesekan lembut tersebut, mampu meneduhkan pikiran Nobu yang berkabut. Perlahan, ia mulai meredakan tangisannya dan membelai lembut kepala Julian. "Maafkan aku Julian. Aku benar-benar terbawa suasana," kata Nobu.
"Baiklah...sekarang aku ingin mencurahkan isi hatiku padamu," terang Nobu. "Mewe...meow...grrr...arr...ter..." tanggap Julian terhadap pernyataan Nobu.
"Dulu, ketika Tania masih hidup...ialah yang selalu berada disisiku. Ia adalah perempuan yang periang dan murah senyum kepada siapapun. Aku benar-benar menyukai kepribadiannya. Hingga suatu saat, ia meninggal."
Nobu merasa sedih atas kejadian tersebut tapi berusaha mengikhlaskannya pergi. Dan ketika menemukan Julian, itu merupakan harapan baru bagi Nobu. Selama bersama Julian, semangat Nobu terus menggebu dalam meyelesaikan tugas. Hari-harinya terasa lebih cerah ketika memandang dan melihat Julian. Produktifitasnya meningkat serta banyak hal menyenangkan lain yang menghampiri kehidupannya.
Kesenangan awal itu perlahan sirna, ketika ia dipecat dari kantor. Ia yang tak tahu menahu, hanya pasrah menerima keputusan tersebut. Ia pun pergi dari sana, dan menyepi sendiri dengan Julian. Sampai suatu saat, Kenta memberitahukan kenyataan pahit dari pemecatan itu. Nobu tak dapat berkutik dan lagi lagi pasrah dengan keadaannya.
"Kau ingat ketika seorang rentenir datang kemari Julian?" tanya Nobu. "Meow...grr...ar...terrr...meow...," jawab Julian terhadap pertanyaan tersebut.
"Tak pernah kuduga, Tania memiliki hutang begitu banyak. Dan lebih parahnya, harus aku yang membayarnya. Oh...sungguh tragedi yang indah. Bahkan ketidak beruntungan lain, ikut masuk ke kehidupanku yang hambar."
"Meow...arr...grrr...meow...meow..."
"Oh iya, sebelum hal-hal tersebut, aku pernah menyelamatkan seekor kucing dari tendangan seorang pria. Dan hasilnya, malah aku yang terkena bogem mentah dari tangannya. Cukup mengerikan bukan...iya, 'kan?"
"Meow...meow...meow...meow...meow..."
"Asal kau tahu...itu sangat sakit Julian. Sakit...sakit sekali."
Mencurahkan isi hati masih dilakukan Nobu hingga jam malam tiba. Mendengar ocehan-ocehan Nobu tak kunjung berhenti, Julian sempat ketiduran. Nobu yang tak menyadarinya, tetap melakukan sesi curhat pada Julian. Sampai benar-benar larut malam, ia menyuruh Julian untuk tidur. "Sekarang, tidurlah Julian sudah--" ucap Nobu terhenti, "sudah tidur ya?".