
Nobu membuka mata pelan-pelan karena pelipis kanannya terasa basah. Ia pun menengok kearah tersebut dan mendapati Julian duduk disana. "Meow...meow...meow...grrrr...rrrr...rawrrr...," keluh Julian pada Nobu. "Kau kenapa? Menunggu ya? Tunggu sebentar ya..." ucap Nobu lirih. Nobu mengumpulkan nyawa terlebih dahulu sebelum beranjak dari tempat tidurnya.
Ia mengelus kepala, telinga, serta leher Julian untuk membangun suasana. "Kau tahu? Ini hari keberuntunganmu Julian, hehe--" kata Nobu terkekeh, "nanti, aku akan mengajakmu pergi jalan-jalan dan membeli barang, makanan, serta alat kebutuhanmu. Menyenangkan, 'kan? Pastinya akan seru ya? Oh iya, sebelum itu...kita mandi dan sarapan tuna lagi."
Nobu telah menjelaskan cukup lebar tentang kegiatan mereka hari ini. Ia pun bergegas menyiapkan pakaian dan mandi bersama dengan Julian. Mereka terlihat begitu akrab bahkan di momen pembersihan diri tersebut. Selesai mandi, Nobu memasak sekaleng tuna dan membagikannya pada Julian. Nobu dan Julian sarapan bersama secara nikmat hingga merasa kenyang.
"Oke. Kita sudah mandi dan sarapan. Saatnya pergi," jelas Nobu. Karena belum memiliki kandang jinjing, Nobu memasukan Julian ke tas. Restleting tas itu ia buka, lalu menempatkan Julian senyaman mungkin. Nobu membiarkan tasnya terbuka untuk Julian agar udara tetap masuk. Ia menjinjing tas tersebut tidak dibelakang tapi ke depan tubuhnya.
"Udara pagi ini sangat sejuk ya Julian," terang Nobu senang. Ia memacu pelan sepeda motornya agar Julian nyaman dan aman. Mereka berdua berkeliling kota tuk mencari dimana toko hewan berada. Dari kejauhan, terlihat rambu lalu lintas menunjukkan lampu warna merah. Nobu memelankan lajunya dan berhenti tepat di belakang garis putih.
"Lihat...rambu lalu lintas. Gunanya mengatur jalan persimpangan," Nobu memberitahu. Setelah lampu menyalakan warna hijau, Nobu kembali menjalankan sepeda motornya. Butuh wakti 38 menit sampai Nobu menemukan tempat yang dituju. Ia mendapati toko hewan bernama "Katofur" di kanan pertigaan jalan. "Kita sudah sampai Julian. Ayo...kita pergi kesana," ajak Nobu.
"Selamat datang di Katofur, Tuan!" sambut salah satu pegawai wanita. "Eh...i-iya. Um...bisakah mendapat sedikit bantuan?" tanya Nobu.
"Tentu saja, Tuan. Apa yang anda butuhkan? Kami akan menyiapkannya."
"Aku membutuhkan kandang kucing jinjing berwarna putih atau abu-abu."
"Ah...baiklah. Kemari, saya akan tunjukkan pada anda kandang-kandangnya.
Sang pegawai menuntun Nobu ke salah satu ruangan yang berbeda. Tempat itu, berisi banyak jenis kandang dari terkecil hingga terbesar. Setelah puas melihat-lihat, Nobu mulai mempertanyakan harga setiap kandang. Akhirnya, ia memilih salah satu kandang yang sesuai dengan kantongnya. Tidak terlalu murah apa lagi malah, cukup sederhana dan berkualitas.
Melihat daftar belanjaannya, Nobu bertanya kembali mengenai tempat pembuangan kotoran. Si pegawai menunjukkan ruangan yang lain lagi khusus kotak pasir. Sama seperti sebelumnya, harganya beragam dan ukurannya yang berbeda-beda. Masih setia dengan isi kantongnya, Nobu memilih yang sedang saja. Ia pun berhasil mendapat dua benda yang dibutuhkan oleh Julian.
Ini saatnya, memilih makanan terbaik untuk kucing kesayangan Nobu tersebut. "Apa ada yang anda butuhkan lagi, Tuan?" tanya si pegawai. "Yup...aku butuh makanan kucing. Kau menyediakannya?" tanya Nobu padanya.
"Tentu saja, Tuan. Kami memiliki sebanyak 3 jenis makanan kucing. Yang pertama makanan kering, kedua semi basah, dan ketiga basah."
"Untuk makanan kering, biasanya hanya mengandung 6 sampai 10% air. Harganya juga sangat terjangkau dari 2 jenis makanan yang lainnya. Sedangkan makanan semi basah, mengandung setidaknya sekitar 35% air didalamnya. Nah...untuk makanan basah, kandungan airnya paling tinggi mencapai 75%."
Nobu bertanya kembali tentang harga diantara ketiga jenis makanan tersebut. Sang pegawai pun memberitahu harga ketiganya dan menunjukkan kualitasnya juga. Karena bagi Nobu makanan yang terpenting, ia membeli jenis termahal. Akhirnya, ia mendapatkan barang atau benda-benda dalam daftar kebutuhan. Dan proses transaksi hampir selesai, tinggal menancap gas, pergi lagi.
"Sebentar lagi, aku akan mengajakmu ke salon Julian," kata Nobu. Mereka kembali melakukan perjalanan ke sudut kota tuk menemukan salon. Ketika akan menyebrang jalan, Nobu tak sengaja melihat seekor kucing. Kucing itu nampak ditendang-tendang oleh seorang pria berbaju hitam. Tak terima dengan pemandangan tersebut, Nobu bergegas menghampiri pria itu.
Ia mematikan mesin motornya dan memakirkan dekat kucing malang tersebut. Walau tahu Nobu mendekatinya, si pria tetap tak menggubris kedatangannya. "Hei, berhenti! Apa yang kau lakukan?" tanya Nobu menahan emosi. "Kau siapa? Apa itu penting bagimu, huh?" jawab si pria. Nobu mencoba memperhatikan si pria dan melihat kedalam mata merahnya.
"Kau mabuk ya? Berhentilah menendang-nendang kucing itu!" sentak Nobu. Tak terima diberitahu orang lain, si pria langsung meluncurkan bogem. Pukulan mentah tersebut menuju tepat ke pipi Nobu dengan lancar. Tak hanya disitu, Nobu yang sudah jatuh tersungkur, tetap dipukuli. Merasa Nobu dalam bahaya, Julian bergegas menghapiri si pria mabuk.
"Rrrr...raarre...grrrr..." suara Julian seraya mencakari kepala si pria. Si pria pun gelagapan dan pergi dari sana secepat mungkin. Nobu yang telah babak belur, hanya bisa terdiam merenungi keadaannya. Akhirnya, Julian datang pada Nobu, lalu menjilati pelipis bagian kanan. Sedangkan kucing yang telah ditolong Nobu, entah kemana melarikan diri.
"Meow...grrr...rawrrr...rrrr..." ucap Julian merasa iba pada Nobu. "Maaf ya Julian, aku malah babak belur begini. Tapi...akan aku usahakan kau berada di salon setelah ini, oke? Aku tak ingin karena hal ini, kau tak jadi menikmati perawatan. Sebentar, biarkan aku duduk sejenak...lalu berdiri," jelas Nobu perlahan.
...****************...
"Selamat da...Tu--an...anda kenapa?" tanya salah seorang pegawai. "Aku jatuh sampai terguling tadi. Tidaklah penting..." jawab Nobu menenangkan.
"Kemari, Tuan. Dudulak disini. Saya akan mengambilkan air untuk anda."
"Tak perlu, Nona...aku kemari, agar kucingku terawat dengan baik. Ini Julian...berikan pelayanan terbaik untuknya, aku akan segera kembali."
Julian keluar dari salon itu dan pergi ke rumah sakit. Di rumah sakit, ia mendapatkan service pembersihan dan penutupan luka. Setelahnya, ia diberikan beberapa macam obat untuk penyembuhan lebih cepat. Proses selesai, ia kembali ke salon untuk menjemput kucingnya, Julian. Brum...ia menyalakan motornya dan memanaskan mesin dulu sebelum berangkat.
Perjalanan akhirnya terasa lancar setelah peristiwa kekerasan yang ia alami. Ingatan itu masih membekas bahkan saat di lampu merah. Tak lama, ia sampai juga di salon, lalu membayar biaya perawatan. "Hi Julian, kau nampak tampan sekali. Kemari-kemari," kata Nobu. Ia segera memasukan Julian ke kandang jinjing dan membawanya pulang.