
"Kau dipecat!" tegas Pak Makoto pada Nobu yang merasa kebingungan. "Salah saya apa, Pak? Saya tidak melakukan apapun," terang Nobu.
"Apa kau bilang? Tidak melakukan apapun? Lihat berkas-berkas ini!"
Eh...kenapa banyak coretan disana, "Saya tidak melakukannya, Pak Makoto!"
"Lalu itu apa Nobu?! Jelas-jelas itu dokumen yang kau kerjakan! Sekarang, aku tidak mau tahu. Pergi dari sini dan bawa seluruh barang-barangmu! Cepat!"
"Pak Makoto..." ucap Nobu lirih. Dengan terpasangnya raut wajah sendu, Nobu bergegas mengemasi peralatan kantornya. Ia memasukkan segala benda ke dalam tas ransel hitam miliknya. Nobu tak sanggup berkata-kata maupun menerjemahkan isi hatinya sekarang.
Ia pun mulai menancap gas dan pulang kembali ke rumahnya. Perjalanan ia lalui dengan rasa sedih dan kacau di pikirannya. Ia tak mampu berpikir jernih karena kejadian yang terus berdatangan. Rasa hati ingin menabrakan diri, namun ia teringat kucing kesayangannya. Nobu berusaha kuat, setidaknya sampai di dalam rumah bersama Julian.
...****************...
Sesampainya di rumah, Nobu meneteskan seluruh air matanya pada Julian. Nobu memeluk erat-erat tubuh Julian seraya mengeluarkan tangis sesenggukan. Bukannya mendapat respon yang hangat, Nobu malah dicakar oleh Julian. Alasannya, karena Nobu terlalu kuat memeluk Julian sampai lehernya tercekik. Nobu pun kaget karena kedua kalinya ia mendapat serangan Julian.
Nobu pun memutuskan untuk berlali ke kamar dan menutupi wajahnya. Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri dan Julian juga. "Tak kusangka akhir ceritaku seperti ini Julian," keluh Nobu kecewa. Melihat Nobu yang berbeda dari biasanya, Julian mencoba mendekati dirinya. Julian berusaha menenangkannya dan bilang, "Meow...rrrr...rrrr...miauw...arrgg..."
"Aku dipecat Pak Makoto atas kesalahan yang tak aku perbuat. Padahal lukaku belum sembuh, dan ditambah peristiwa malang ini Julian. Apa yang musti kulakukan Julian?"
"Rrrr...meow...miauw...grrr...terrr..."
"Padahal aku memaksakan diriku untuk bekerja, dan sekarang...apa yang kudapat dari hasil jerih payahku?"
"Meow...rrrr...grrr...miaw...terrr..."
Kling...sebuah pesan singkat baru masuk dari posel pintar Nobu. Karena perasaannya masih kacau, Nobu belum berkeinginan untuk membuka pesannya. Dan pada siang harinya, pesan-pesan terus berdatangan secara berkala. Penasaran dengan pesan-pesan tersebut, akhirnya Nobu membukanya satu persatu.
• Nobu kau kemana? Kenapa tidak masuk hari ini? Ada apa?
• Kau dipecat ya? Bagaimana mungkin?
• Nobu, tolong bacalah pesanku sekarang!
• Nanti malam, aku akan mengunjungimu.
• Ayolah Nobu, jawab pesanku ini.
Karena terlalu banyak pesan masuk, Nobu sesegera mungkin membalasnya.
• Oke!
Lalu, ketika malam tiba, Kenta sungguh datang ke rumah Nobu. Nobu pun mempersilahkan Kenta masuk dan memberinya teh beserta camilan.
"Ada apa denganmu Nobu? Dengar-dengar, kau dipecat..." ujar Kenta. "Ya...benar. Aku dikeluarkan oleh Pak Makoto...Kenta," jawab Nobu.
"Memang, apa yang salah denganmu?"
"Di rusak ya? Hm...aneh."
"Ya begitulah. Dan sekarang hasilnya..."
Kenta membalas pernyataan Nobu dengan rasa prihatin atas kejadian tersebut. Ia juga berusaha menawarkan bantuan pada Nobu dengan hal kecil. Tak lupa, Kenta memberikan sedikit uang pada Nobu sebagai perhatiannya. Nobu pun sangat berterimakasih dan bersyukur memiliki teman seperti Kenta. Kenta membalas Nobu dengan senyum akan rasa iba yang menimpanya.
"Jujur, aku ingin mengatakan tentang sesuatu padamu Nobu," kata Kenta. "Eh...kenapa? Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Nobu.
"Sebenarnya...aku...memiliki dugaan tentang bos dan karyawan baru itu."
"Karyawan baru? Himawari maksudmu? Kenapa?"
"Mereka memiliki hubungan spesial, Nobu."
"Kau bergurau, 'kan? Itu lucu..."
"Aku mengatakan yang sejujurnya padamu."
Kenta memberitahu tentang dirinya yang mengetahui hubungan terlarang mereka itu. Kenta yang saat itu akan menyerahkan hasil tugas, tak sengaja menguping pembicaraan diantara Pak Makoto dan Himawari. Kurang lebih seperti ini...
Aku menginginkan posisi Nobu, Tuan. Bisakah kau memberikannya padaku?"
Tentu saja...apapun akan kulakukan untukmu, sayang. Besok aku memecatnya.
Seperti kenyataan yang tak nyata, Nobu tak langsung percaya padanya. Ia hanya menganggap lalu perkataan dari Kenta dan mengalihkan topik. Kurang puas karena Nobu tak percaya, Kenta menunjukkan bukti pesan. Pesan singkat tersebut berisi ucapan pedas Tuan Makoto tentang Nobu. "Apa ini? Kenapa kau menyembunyikannya dariku, Kenta?" tanya Nobu terkejut.
"Aku tak ingin menyakitimu. Itu kenapa aku menyembunyikannya," jelas Kenta. Sekarang, Nobu hanya bisa menahan amarah dan kesedihannya saat ini. Semuanya telah terjadi, tak ada harapan disana untuk kembali lagi. Nibu telah memasrahkan segala kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. "Sudahlah Kenta. Aku ingin beristirahat sebentar lagi," ujar Nobu memberitahunya.
"Ah begitu ya. Baiklah...aku akan pulang sekarang. Selamat malam."
"Terimakasih kau rela berkunjung kemari dan memberikan bantuan padaku, Kenta."
Pintu rumah Nobu segera ditutup, dan ia bergegas membaringkan diri. Ia tak habis pikir dengan jalan kehidupannya yang sangat acak. Mencoba berpikir ulang, seluruh peristiwa yang menimpanya setelah adanya Julian.
Nobu pun menatap kearah Julian yang tak tahu apa-apa. "Julian, maaf aku berpikir jahat padamu, tapi aku--" ungkap Nobu, "tidak pernah seburuk ini sebelumnya. Apakah ini karena...kau Julian? Um...kurasa tidak. Atau...iya? Aku tak tahu. Ku harap, kau tak marah setelah aku mengungkapkannya padamu. Hehe...ya, 'kan?"
Nobu kembali menatap langit-langit kamarnya dan menata ulang perasaannya. Ia berusaha mendatangkan kepositifan didalam hati serta pikiran liarnya. Tak terasa, malam semakin larut, itu saatnya untuk mengisi ulang energi. Agar Julian mudah terlelap, Nobu mengelus kepala dan lehernya bersamaan. Tentu saja, menggunakan kedua tangannya secara beganti-gantian atas bawah.
"Nikmat, 'kan? Hm...andai saja aku juga merasakannya..." kata Nobu. Ia masih mengelus bulu Julian sembari menatap mata langit malam. Ia melihat bintang-bintang yang berserakan di langit dengan indahnya. "Julian...aku tak tahu, kenapa banyak hal terjadi. Mulai dari kehilangan Tania, dipukul orang mabuk, sampai dipecat. Hm..." ungkap Nobu.
Ia kembali membayangkan kejadian-kejadian tersebut sampai kelelahan dan ketiduran. Sedangkan Nobu yang biasanya tidur lebih dulu, malah lebih terjaga. Ia masih penasaran dengan isi pikiran manusia, khususnya temannya Nobu. Sebagai seekor kucing, yang ia ketahui hanyalah makan dan tidur. Memang apa lagi yang dibutuhkan manusia, pikir Julian pada Nobu.
Agar dirinya ikut terlelap, Julian mencoba mengelilingi setiap sudut ruangan. Setelah cukup lelah berjalan, ia kembali berbaring dekat tubuh Nobu. Terkadang masih buka tutup kelopak matanya, Julian berpikir tentang Nobu. Kira-kira, apa yang diinginkan manusia ya, pikir Julian kembali. Ah sudahlah batin Julian yang sudah kelelahan ingin tidur segera.