Over My Cat

Over My Cat
Pesan Terakhir Tania



Datanglah ke rumahku pada pukul setengah tiga sore nanti Nobu. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu tentang hal-hal penting, kurasa.


Nobu mengamati isi pesan tersebut sembari menaikkan alis tinggi-tinggi. Ia menelaah setiap kata dan berencana tuk membalas kalimatnya segera. Nobu pun mempersiapkan jari-jemari keatas keypad di layar ponselnya.


Um...Apakah sepenting itu? Jika iya, baiklah. Aku akan kesana.


Dan saat ini, waktu masih menunjukkan pukul 11:00 siang. Itu berarti, Nobu memiliki 3 1/2 jam waktu luang. Hal itu ia manfaatkan dengan menonton video perkembangbiakan mahluk hidup. Salah satu pengisi acaranya adalah Mia Khalifa, bintang favorit Nobu.


Selain itu, ia juga melakukan aktifitas lain seperti memesan makanan. Nobu membeli sekotak bento berisi sushi, onigiri, bacon dan omelet. Setelah orderan datang, ia langsung menyantapnya dengan lahap sampai habis. Kegiatan-kegiatan lain ikut menyusul hingga jam pertemuan semakin dekat. Nobu bergegas mengambil kunci motor dan pergi ke rumah Tania.


Dalam perjalanan, sekelebat ingatan melintas cepat di pikirannya tiba-tiba. Nobu kembali sadar bahwa Tania memiliki penyakit berat yang dideritanya. Ia mendapatkan sebuah firasat aneh tentang kehidupannya di masa depan. Jangan-jangan...kata Nobu dalam hati menduga kejadian esok hari. Ia berusaha menambah lagi laju sepeda motor secepat dan sebisanya.


...****************...


"Akhirnya kau datang juga Nobu. Duduklah di sampingku," pinta Tania. Nobu berjalan mendekat seraya melepas jaket hitam yang ia kenakan. "Ada apa? Tak biasanya kau menyuruhku datang mendadak," tanya Nobu.


"Aku juga tak tahu. Hanya saja...perasaanku ingin melihatmu sekarang."


"Um...oke. Lalu, apa yang akan kita bicarakan? Tentang kucing?"


Mendengar kata "kucing" dilontarkan Nobu, Tania meresponnya dengan tawaan kecil. Tania pun pergi ke ruangan lain, lalu keluar membawa sesuatu. "Perkenalkan, namanya Julian. Ia kucing jantan jenis domestik," jabar Tania. "Kucing yang lucu. Hi Julian, aku Nobu Takashi," tutur Nobu.


"Aku harap, kau mau memeliharanya ketika aku sudah tiada nanti."


"Hm? Apa maksudmu? Kau bercanda, 'kan? Itu sangat lucu Tania."


"Apa aku terlihat bercanda Nobu?"


"Ta-tapi...bagaimana mungkin Tania?"


Dengan seksama, Tania menjelaskan perlahan-lahan tentang kondisinya pada Nobu. Tania memberitahunya mengenai diagnosis dokter akan tipisnya harapan hidup. Tania merasakan tanda-tanda kematiannya yang semakin dekat serta tak terelakkan.


Dan benar saja, setelah 3 hari pertemuan mereka, Tania meninggal. Ia mengalami kompilasi cukup berat, sampai-sampai membuatnya meregang nyawa. Rasa kehilangan begitu menyelimuti suasana hati terdalam Nobu saat ini. Ia seakan tak percaya pada apa yang menimpa sahabatnya tersebut. Namun, takdir tetaplah takdir, Nobu berusaha tegar untuk menghadapi kenyataan.


"Maaf Julian, kita musti kehilangan Tania," terang Nobu pada Julian. Julian yang notabene seekor kucing, hanya menggesekan kepalanya ke Nobu. Nobu pun memperhatikan mata Julian sebagai bagian dari penenangan diri. Ia juga mengelus lembut bulu di badan dan kepala Julian. Tujuannya, mengenang kembali masa-masa indah tentang Tania di kehidupannya.


"Tania pernah berkata padaku mengenai suatu hal yang ia cinta. Aku mengerti sekarang apa yang ia maksud itu, yakni dirimu. Ia sering membicarakan dirimu, tapi aku tak pernah diijinkan melihatmu. Tapi, pada akhirnya, ia menunjukkannya dan merupakan saat terakhir hidupnya. Sungguh mengejutkan, 'kan? Julian?" papar Nobu panjang lebar pada Julian.


...****************...


"Ma-maaf Pak Makoto. Saya akan segera kesana sesegera mungkin."


"Cepat! Atau kau kupecat hari ini juga Nobu! Dasar pemalas!"


Tut...tut...tut...tut...tut...sambungan telepon langsung diputus seketika. Nobu yang cukup terkejut akan hal tersebut, baru teringat sesuatu. Petang kemarin, ia ketiduran di kamar Tania dan belum pulang.


Pikirannya pun tambah panik tak karuan hingga terjedot pintu lemari. Bagus sekali keberuntungan yang datang hari ini...suara hati Nobu. Nobu bergegas mempersiapkan sarapan untuk Julian dan pergi mandi selepasnya. Karena tak memiliki pakaian lain, Nobu mengenakan pakaian yang sama. "Julian, maaf harus meninggalkanmu sebentar. Baik-baik ya..." kata Nobu.


Walau berat hati, Nobu berkewajiban melaksanakan tugas-tugasnya sebagai karyawan. Ia memaksakan diri berangkat kerja dan membiarkan Julian sendiri seharian. Tak lupa, Nobu mengunci rumah Tania agar Julian tetap didalam. Segera, ia memasukkan kunci dan memanaskan mesin motor, lalu pergi. Nobu benar-benar memacu motornya pada kecepatan yang cukup tinggi.


...****************...


"Karena kau terlambat, akan aku tambahkan tugasmu," terang Pak Makoto. Brek...ia menaruh kasar tumpukan berkas keatas meja kerja Nobu. "Ba-baik, Pak Makoto. Sesuai perintah anda," ucap Nobu tergagap. Nobu bergegas mengambil berkas-berkas tersebut dan mengerjakannya sebaik mungkin. Nobu begitu fokus pada pekerjaannya sampai waktu makan siang tiba.


Ia dan temannya, Kenta, pergi ke kedai terdekat dari kantor. Mereka mencoba cari tempat duduk ternyaman dan memesan beberapa makanan. "Nobu, kenapa kau akhir-akhir ini sering terlambat?" tanya Kenta. "Um...karena aku mengurusi pemakaman sahabatku yang meninggal," jawab Nobu.


"Memang...sahabatmu itu tak memiliki keluarga? Sampai kau harus melakukannya?"


"Yah begitulah...aku dan ia memang sangat jauh dari keluarga. Itu mengapa, biasanya kami saling membantu satu dengan yang lainnya."


"Lantas...jika kau meninggal, siapa yang akan mengurus pemakamanmu nanti?"


"Huh? Kau mencoba bergurau padaku ya? Bagaimana denganmu sendiri Kenta?"


Petanyaan dari Nobu membuat Kenta tertawa puas dan lepas mendengarnya.


Nobu dan Kenta pun melanjutkan makan siang seraya diikuti bercandaan. Dan tak terasa, makanan dan minuman mereka berkurang sampai habis. Akhirnya mereka kembali ke kantor, lalu mengerjakan tumpukan dokumen-dokumennya. Nobu mulai fokus bekerja dan berusaha melupakan hal diluar kepentingannya. Namun, ditengah kefokusannya, ia teringat Julian sendirian didalam rumah Tania.


Tanpa pikir panjang, Nobu mengebut pekerjaannya agar cepat pulang menemuinya. Pukul 21.40 malam, pekerjaan kantor baru saja ia selesaikan. Nobu bergegas melakukan absensi print dan pergi ke rumah Tania. Brum...brum...suara tarikan gas motor Nobu terdengar cukup kencang. Ia menjalankan motornya dan kembali ngebut untuk yang kedua kalinya.


Sesampainya di rumah Tania, ia merangsek masuk mencari keberadaan Julian. "Pus...pus...Julian...dimana kau? Aku datang Juli," panggil Nobu. Tak mendapat jawaban dari Julian, Nobu segera mengelilingi isi rumah. Saat melewati kamar mandi, terlihat Julian sedang tertidur diatas keset. Tak tega mengetahuinya, Nobu membawa Julian pulang ke rumah sebenarnya.