
Author POV
Mentari telah menampakkan sinarnya dan sang Dewi malam pun telah kembali ke peraduan , suara cicit burung dan gemerisik jalanan kota telah terdengar tapi hal itu tak serta merta membangun seorang gadis cantik dari lelapnya alam mimpi.
Gadis itu malah asik mendengkur.. baiklah kita tinggal kan saja gadis cantik ini karena mungkin dia tidak akan bangun dalam beberapa jam ke depan.
Di tempat lain.
"Apakah laporan tentang pemasaran produk otomotif sudah selesai?" tanya sebuah suara dengan nada tegas.
Rina maju sambil membawa sebuah berkas tentang laporan pemasaran produk otomotif kepada Direktur Dian. Dian yang sudah paham dengan konsep yang disampaikan bawahan nya tersebut mengangguk.
"Baiklah aku akan keluar sebentar untuk melaporkan hasil pemasaran , kalian boleh keluar jika sudah jam makan siang" kata Direktur Dian kemudian keluar.
Direktur Dian adalah orang yang perfeksionis dan ulet walaupun sikapnya baik tapi ia selalu menuntut yang terbaik kepada bawahannya , buktinya saja sekarang baru dua hari Direktur Dian menjabat mereka sudah diberi proyek yang lumayan besar.
"Yosh...aku sudah selesai" ucap Wira sambil merentangkan tangannya, ia nampak tersenyum puas.
"aku juga.." kata Gugu menyusul , mereka semua tampak sangat bersemangat.
Booby menyerngit seakan baru menyadari sesuatu " kemana Ame ?" tanyanya sambil celingukan.
"Kemana saja kau..Ame itu sakit" kata Wira , Booby terkejut.
"eh , benarkah ? " tanyanya lagi.
"iya , tadi pagi dia mengirim pesan padaku" Kata Gugu dengan raut wajah sedih.
Rina langsung menimpali " sakit apa? " , Gugu hanya menggelengkan kepala tanda tak tau.
"tapi kenapa aku tidak melihat surat izin..dan sepertinya Direktur Dian juga tidak mempermasalahkan itu" kata Booby yang seperti melihat sebuah kejanggalan , mereka hanya bisa mengangkat bahu tidak tau.
"Bagaimana jika besok kita ke rumah Ame , lagipula besok kan weekend sekalian juga menjenguknya" kata Rina seolah memberi Ilham.
"Bagaimana denganmu Ren , kau ikut tidak" tanya Booby.
Author POV end
... ...
Aku meregangkan badanku yang masih kaku karena efek bangun tidur , beberapa kali aku menguap dan mengucek-ucek mataku melihat handphone yang terdapat di nakas samping , jam 14.17 ugh sudah hampir sore ternyata.
Aku melangkah kan kaki ke kamar mandi sekedar untuk mencuci muka lalu makan dari pagi tadi aku belum makan . setelah mengirim pesan pada Gugu tadi pagi aku langsung tertidur kembali.. Bagaimana ya reaksi pak Dian jika aku tidak meminum obat tepat waktu begini...
Aku jadi tersenyum sendiri mengingat perkataan pak Dian.. memikirkannya saja membuat jantungku berdetak dengan kencang.
Aku kemudian merogoh ponsel di kantong jaket ku dan mengirim pesan.
"selamat sore pak Dian , ini saya Ame". Ame mengetik pesan tersebut dengan perasaan harap-harap cemas , setelah yakin aku segera mengirim pesan tersebut. tak lama kemudian...
"iya Ame, ada apa?...hey sudah kubilang jangan memanggilku pak jika itu informal".
Aku menghela nafas.. ternyata tidak semenakutkan perkiraan ku , aku kemudian mengetik pesan kembali. "bisakah kita bertemu besok , saya belum membalas kebaikan anda.. barangkali anda berkenan saya mentraktir anda". aku langsung mengirimnya.
"sudah kubilang jangan terlalu formal..memangnya kau sudah sehat total untuk keluar?"
Aku menelan ludah gugup sebenarnya keadaan ku belum sepenuhnya baik apalagi aku baru makan sekarang dan rasa sakit itu juga tiba-tiba muncul , jika aku sampai memaksakan diri aku bisa membuat Direktur Dian repot jika terjadi apa-apa.
"Sebenarnya belum begitu baik sih"
"kalau begitu kau jangan memaksakan diri untuk keluar.. bagaimana jika aku saja yang ke Apartemenmu , kau bisa membuatkan makanan untukku"
Aku membulatkan mata..what ke Apartemen ku??.. tidak-tidak bukanya aku tidak bisa masak , tapi aku merasa sungkan dengan pak Dian mungkin Apartemen ku tidak sebanding dengan Apartemennya.
Aku menghela nafas pasrah lalu mengetik beberapa kalimat..huuuh
"Baiklah".