
Dan disinilah aku sekarang , di sebuah warung makan pinggir jalan tak jauh dari kantor , sepertinya perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi buktinya sudah berulang kali 'dia' mengeluarkan suara dan untung saja pelanggan-pelanggan disini tidak menyadarinya bisa malu nanti.
Aku meringis pelan ketika perutku tiba-tiba sakit mungkin ini efek karena belum makan dari pagi. akhirnya pesanan ku datang Seblak makaroni , dari aromanya saja sudah membuat air liurku mau menetes , tanpa basa-basi aku segera duduk di sebuah bangku panjang yang sudah disediakan.
Aku makan dengan lahapnya tapi sesekali perutku terasa sakit , aku tidak memperdulikannya dan segera menghabiskan Seblak ku , tak kusangka waktu telah menunjukkan pukul 21.15 aku harus segera pulang.
Di tengah perjalanan menuju halte rasa sakit diperut ku tiba-tiba muncul rasanya nyeri hingga ke punggung , aku segera berjongkok dan meremas perutku "akhh" rasa sakitnya semakin menjadi-jadi , setelah ku rasa sakitnya sedikit barkurang aku mencoba berjalan tapi rasa sakit itu tiba-tiba datang lagi dan sekarang malah lebih buruk dari yang tadi , " ughh" aku juga tidak bisa minta tolong pada siapapun.dengan sekuat tenaga aku berjalan tapi tiba-tiba tubuhku limbung ke belakang dan semuanya berubah menjadi gelap.
OTHER SIDE
Obsidian POV
Hari pertama aku bekerja di kantor pusat sebagai direktur tidaklah buruk kecuali satu hal 'gadis itu' , beberapa kali tatapan kami bertemu tapi sepertinya ia sangat canggung. entah mengapa aku merasa aneh dengan gadis itu tidak biasanya aku menolong orang yang baru aku kenal dan rela membelanya.
Sudahlah biarkan saja , kenapa aku jadi penasaran ?...aku pulang sedikit larut karena ada tugas yang belum terselesaikan.
jalanan sedikit lenggang tapi dari kejauhan aku melihat sosok yang familiar , ia tengah berjalan di trotoar dengan langkah terhuyung-huyung , bukankah dia adalah 'gadis itu' kenapa ia terlihat seperti orang mabuk. segera aku menepikan mobilku tapi belum sempat aku menutup pintu ia sudah jatuh tersungkur.
aku segera berlari kearahnya " hey kau kenapa " tanyaku sambil menepuk-nepuk pipinya tapi tidak ada respon , sepertinya ia pingsan tanpa pikir panjang aku segera membopongnya menuju mobilku.
dengan kecepatan tinggi aku melajukan mobilku ke rumah sakit terdekat sesekali aku melihat wajahnya , wajahnya terlihat pucat dengan bibir sedikit membiru. aku berdecak kesal kenapa setiap bertemu dengan gadis ini selalu saja ada hal buruk yang terjadi , dan yang membuatku tambah kesal adalah aku tidak bisa mengabaikannya.
setibanya di rumah sakit ia langsung dibawa ke UGD aku menunggu di luar dan ketika seorang dokter keluar aku segera menemuinya.
"Pasien mengalami peradangan pada tukak lambung" kata dokter.
"Apakah tidak apa-apa dokter?" tanyaku lagi.
"Tidak apa-apa , setelah ia sadar anda boleh membawanya pulang . Kalau begitu saya doakan istri anda lekas sembuh , Permisi".
Aku terdiam mendengar ucapan sang dokter . istri ya , padahal aku tidak ada keinginan untuk menikah.
End Of Obsidian POV
Aku membuka mata perlahan , hal yang pertama ku lihat adalah sebuah langit-langit berwarna putih dan aroma obat yang kuat. Aku mencoba duduk tapi tiba-tiba kepalaku terasa sedikit sakit.
"Ugh" ucapku sedikit merintih.
"Sudah sadar?" tanya sebuah suara bariton yang sedikit serak di sebelahku.
Aku terperanjat , bukankah itu Direktur Dian kenapa ia ada disini. seakan mengerti kebingunganku ia segera berkata "kau pingsan di trotoar dan aku menolongmu" katanya datar.
aku memaki diriku dalam hati , lagi-lagi kenapa Direktur Dian sih yang menolongku.