
Aku merutuki diriku dalam hati , lagi-lagi kenapa Direktur Dian sih yang menolongku.
Aku kemudian mengumpat dalam hati , untung-untungan sudah ditolong dasar gadis tidak tau diri makiku dalam hati.
Aku tersenyum kaku kearah Direktur Dian "Terima kasih pak Dian , anda sudah menolong saya lagi entah bagaimana cara saya membalas anda" kataku menunduk sambil meremas ujung kemejaku.
Pak Dian kemudian melirik jam dipergelangan tangannya " sekarang jam 2 pagi , kau mau tetap disini atau kuantar pulang?" tanyanya.
Aku menelan ludah susah payah , aku tidak boleh merepotkan pak dian lagi "Aku mau pulang saja" kataku pelan.
"Baiklah kalo begitu ayo" kata pak Dian mengulurkan tangannya dan membantuku turun.
Kami kemudian berjalan ke basement parkir rumah sakit , walaupun perutku sudah tidak sakit tapi badanku masih lemas.
Pak Dian yang tau aku belum sembuh benar segera membawakan tasku dan membukakan pintu mobil untukku. Aku sedikit tidak nyaman dengan perlakuan pak Dian walau bagaimanapun kan dia tetap bosku.
Aku menunjukkan alamat Apartemen ku kepadanya dan ia nampak sedikit menyerngit "oh..kau tinggal di sana rupanya" katanya seakan mengerti.
Aku memiringkan kepala ku " kenapa pak?" ia kemudian tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa, hanya saja Apartemenku berada di kompleks itu juga" katanya. aku mengangguk.
"Tidurlah jika kau masih mengantuk" katanya lagi , aku menggeleng mana bisa seperti itu.
"tidak , aku tidak mengantuk..emm pak Dian tagihan rumah sakitnya.."ucapan ku langsung terpotong.
"Sudahku bayar kau tidak usah memikirkan itu , besok kau ambil cuti supaya kesehatanmu pulih total" katanya masih dengan nada datar.
"Aku tidak menerima penolakan" katanya tegas , aku hanya bisa terdiam dan menghela nafas pasrah.
Aku menatap pak Dian dengan tatapan aneh , kata Rina , pak Dian itu orang yang dingin dan ketus tapi faktanya berbanding terbalik , yah walaupun ku ia sedikit jutek tapi sejauh yang ia lakukan padaku ia orang yang baik dan dia juga lumayan tampan.
Ngomong-ngomong soal tampan , pak Dian itu orang sangat tampan , tinggi badannya proposional , tubuhnya atletis , gestur wajahnya tegas dan jangan lupa tatapan matanya yang seperti seekor elang , ia terlihat seperti model daripada seorang Direktur.
"Kenapa kau melihatku?" tanyanya . aku yang ketahuan memandangi wajahnya langsung menunduk dengan wajah sedikit memerah..uuh malunya aku.
"Ti..tidak apa-apa"kataku sedikit gugup. oh astaga pasti sekarang aku terlihat seperti orang bodoh.
Tak lama kemudian kami sudah sampai di Apartemenku , aku mengucapkan banyak terima kasih dan hanya ditanggapi datar oleh pak Dian..dasar orang yang menyebalkan untung tampan.
Tapi ketika aku akan berbalik tiba-tiba Direktur Dian memanggilku "Eh , Ame ?.." katanya dengan sorot mata ragu "iya pak".
"Bisa tidak kau jangan memanggilku pak jika kita hanya berdua itu sangat formal , panggil saja Dian" kata pak Dian.
"i..iya pak..eh maksudku Dian" kataku gugup , pak Dian hanya tersenyum kecil , ia kemudian pergi.
Aku memegang dada merasakan detak jantung yang berdebar-debar , kenapa sih pak Dian berbicara seperti itu , apa dia tidak berfikir jika aku salah mengartikan bagaimana...ck, apakah dia juga seperti itu pada setiap wanita yang ia temui...hey lalu apa urusannya denganku.
aku melangkah ke dalam Apartemen dan tetap mencoba untuk positif thinking . Sudahlah yang berlalu biarlah berlalu..
OTHER SIDE
"Gadis yang menarik..."