
'PRIA ITU' pekik ku dalam hati.
Direktur baru ini seperti nya baru menyadari keberadaan ku, ia nampak terkejut dan mengerutkan dahi sesaat tapi tak berlangsung lama pria itu bisa menguasai dirinya kembali.
Aku hanya bisa tersenyum canggung dan menggaruk pipiku yang tidak gatal , kenapa dari sekian banyak pria di dunia ini aku harus bertemu dia sih batinku dalam hati.
setelah berbasa-basi sebentar ia kembali duduk di kursinya dan kami semua melanjutkan tugas masing-masing. Aku sangat tidak nyaman dengan situasi ini dan waktu itu aku juga belum minta maaf.
tidak terasa sudah jam makan siang , Rina dan Booby sudah keluar lebih dulu karena Direktur Dian bilang ia akan mengerjakan beberapa tugas dan mempersilahkan kami untuk keluar terlebih dahulu.
tak lama kemudian Wira , Gugu dan Ren keluar, tinggal aku dan Direktur Dian yang berada di dalam ruangan.
aku meremas tangan ku yang berkeringat , sebaiknya aku segera pergi dari sini..aku berjalan dengan santai keluar ruangan mencoba menutupi rasa gugup ku.
"tidak ku sangka ternyata kau adalah gadis yang tidak tau terima kasih ya" katanya dengan nada menyindir. oh tuhan cobaan apalagi ini.
aku segera berbalik arah dan tersenyum ke arah nya yaah Walaupun terpaksa " ma..maaf pak Dian , bukan maksud saya seperti itu tapi saya merasa agak canggung pada anda, jika anda berkenan maukah anda menerima tawaran saya untuk makan bersama" kata ku dengan nada bergetar.
aku mulai berkeringat dingin " hey, kau kemari lah" katanya sambil melambai ke arah ku dengan patuh aku segera mendekat ke arah nya, ia lalu menyodorkan sebuah kartu nama " hubungi aku" katanya acuh, lagi lagi aku hanya bisa tersenyum dipaksakan. ia kemudian berlalu pergi meninggalkan ku seperti orang bodoh.
selama jam makan siang aku hanya duduk merenung , rasanya sangat malas walaupun sekedar berdiri. kata-kata direktur Dian masih terngiang di pikiran ku ." bodoh, bodoh" rutuk ku sambil memukul mukul kepala " hei apa yang kau lakukan" tanya seseorang dari depan ternyata itu Ren , ia pasti mengira aku gadis yang aneh sekarang.
Aku hanya menggeleng lemas, tiba tiba sebuah roti ada di depanku . " itu , makanlah aku tau kau tidak pergi ke kantin " katanya cuek lalu pergi. Hey ada apa dengan laki-laki itu, apa dia habis tersambar petir disiang bolong.
yah sayang sekali roti ini padahal enak tapi sekarang aku sedang tidak bernafsu makan. aku lalu memasukkan roti tersebut ke dalam tas ku.
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
Waktu pulang , entah mengapa aku tidak semangat seperti biasanya . aku seakan takut untuk bertemu hari esok . lalu harus ku apakan kartu nama direktur Dian ini , bagaimana cara untuk mengajaknya makan , lalu topik obrolan apa yang harus kubicarakan dengan nya...lalu..lalu...hais lagi-lagi aku memukul kepalaku merutuki betapa bodoh nya aku dalam urusan seperti ini. aku menyerah yang terjadi biarlah terjadi, aku tidak perduli dipikirkan pun tidak akan selesai.
"Ame , mau pulang bareng?" tanya Gugu padaku ,sudah menjadi rutinitas bagi Gugu untuk menawariku pulang bersama.
"tidak usah , aku ada urusan setelah ini" kataku sambil tersenyum kearah nya. Gugu hanya ber-oh ria.