
Untuk acara konferensi pers sebelum makan siang nanti, Aluna hanya ditemani oleh salah satu temannya yang menjadi pengacara pribadi juga Ian asistennya. Acara itu akan dilaksanakan di Aula perusahaan dengan batasan waktu setengah jam dan tiga buah pertanyaan.
Aluna sudah siap dengan setelan kerja seperti biasanya tanpa ada yang spesial sama sekali, untuk riasan wajahpun Aluna hanya memakai pelembab dan lipstik berwarna nude. Sang asisten sudah memberitahukan bahwa lima menit lagi acaranya akan dimulai, dengan dagu yang terangkat Aluna memasuki ruang pertemuan dan duduk dengan anggunnya dikursi yang sudah di persiapkan.
"Acaranya bisa dimulai sekarang." Ian menganggukan kepala atas perintah atasannya dan langsung menatap juru bicara yang sudah siap untuk membuka sesi ini.
"Maaf saya terlambat." Suara itu berhasil membuat semua orang mengalihkan perhatiannya. Adrien masuk dengan setelan kerjanya diikuti asisten dan pengacara pribadi, tanpa banyak bicara pria itu mengambil kursi yang berada tepat disebelah Aluna yang seharusnya diduduki oleh pengacara wanita itu. Disisi lain Aluna membelalakan mata tak percaya bahwa pria tidak tahu malu ini datang dengan lancangnya kemari.
"Silahkan dilanjutkan," Adrien berkata demikian pada si juru bicara yang masih terpaku pada kedatangannya atau mungkin ketampanannya? Huhh padahal si juru bicara itu seorang pria.
Dengan tergagap sang juru bicara mengucapkan kalimat-kalimat pembuka dan mempersilahkan pada dua orang yang bersangkutan untuk menyelesaikan bagiannya. Adrien dengan tanggap mengambil sebuah mic yang sudah tersedia di hadapannya dan menatap semua orang yang hadir tanpa ragu.
Sebelah tangannya ia gunakan untuk menggenggam kedua tangan Aluna yang berada dipangkuan wanita itu, seolah melarangnya untuk berbuat lain. "Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kehadiran teman-teman media dalam konferensi pers ini, dan untuk hari ini setelah beberapa minggu berita tidak sedap tentang saya dan juga wanita disamping saya ini kami memutuskan untuk memperjelas semuanya."
"Saya dan Aluna sudah menikah," Aluna menatap pria disebelahnya ini terkejut, tetapi menyadari blitz kamera yang terus menyorot mereka tanpa henti Aluna hanya bisa menjaga ekspresinya. Dan tangan pria itu menggenggamnya erat dibawah meja seakan menguatkannya dan menyuruhnya untuk tetap menurut. "Bahkan kami sudah memiliki seorang anak."
Aluna sudah tidak bisa lagi memahami maksud dari Adrien, mengapa semua yang pria itu ucapkan semakin menjalar kemana-mana dan terlalu berkhayal. "Kami sudah menikah di Manhattan dan hanya dihadiri keluarga inti. Setelah kelahiran anak kami, istri saya memutuskan untuk kembali ke negara ini dengan saya yang menyusulnya beberapa bulan kemudian karena harus menyelesaikan beberapa urusan di Manhattan."
Dengan percaya dirinya Adrien menatap para wartawan dan terus berbicara yang nyatanya omong kosong menurut Aluna seakan meyakinkan. "Kami memang sedang sibuk-sibuknya mengurusi perusahaan keluarga masing-masing, oleh karena itu kami jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Jadi wajar-wajar saja rasanya saya bertemu dengan istri saya tanpa perlu disinggungkan dengan berita yang macam-macam."
"Kami akan menetap disini untuk waktu yang tidak ditentukan, oleh karena itu kami baru-baru ini merundingkan tentang peraturan di negara ini tentang pasangan yang sudah menikah dan memiliki seorang anak. Bahwa harus punya kartu nikah dan lain sebagainya, tetapi karena terlalu sibuk kami banyak menunda hingga menyebabkan rumor publik seperti yang terjadi saat ini."
Adrien menatap sang juru bicara seolah menyuruhnya untuk membuka sesi bertanya yang langsung ditangkap maksudnya. Saat sesi bertanya dibuka rata-rata semua wartawan mengangkat nomor kursinya. Adrien mempersilahkan salah satu secara acak. "Maaf sebelumnya jika lancang, tapi apa alasan Anda dan Miss Thomas dalam menyembunyikan kebenaran pernikahan kalian?"
"Kami tidak menyembunyikan, hanya ingin menjaga privasi saja. Apalagi kami sudah lama tidak tinggal disini, rasanya begitu berlebihan jika kami terlalu menggembar-gemborkan hal ini."
"Pernikahan kami hampir berjalan dua tahun dan anak kami baru berusia lima bulan."
Aluna merasa semua ini semakin memuakan tetapi ia tidak bisa berbuat apapun karena ada kamera dimana-mana tengah menyoroti dirinya. "Lalu Tuan apa rencana Anda dan keluarga kecil Anda setelah ini?"
"Mungkin kami akan melaksanakan pernikahan ulang supaya diakui secara resmi baik negara maupun agama disini. Untuk selanjutnya tunggu kabar baiknya saja."
Tiga pertanyaan sudah selesai dan para wartawan dengan terpaksa harus meninggalkan tempat tanpa ada sesi foto. Adrien masih menahan Aluna dikursi yang sudah mereka duduki beberapa saat ini, Aluna kali ini dengan berani menatap Adrien dengan penuh kesal lain dengan Adrien yang tersenyum penuh kemenangan. "Persiapkan dirimu dan beritahu keluargamu bahwa aku akan datang kerumah untuk melamarmu."
Setelah berkata demikian Adrien mengecup pipi Aluna hingga wajah wanita itu tak terlihat kamera yang tanpa henti terus menghujani meski para wartawan sudah dipaksa keluar dari ruang Aula. Aluna menggeram kesal dan menonjok perut pria didepannya sebal. "Aku tidak percaya kau bisa begitu lihainya berbohong di depan semua orang, dan aku semakin membenci kenyataan bahwa kau dengan lancangnya merusak semua rencanaku."
Adrien menatap wanita didepannya ini dengan wajah mengejek, "aku sudah tahu apa yang akan kau sampaikan jika aku tidak segera datang. Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi dan berakhir menyakiti hatiku karena ucapan kasarmu bahwa kita tak ada hubungan apa-apa."
"Aku sudah mencintaimu sedalam ini dan menerimamu sepenuh hati tidak mungkin aku mau menyerah hanya karena pernyataanmu tentang status kita pada publik. Dan sekarang semua sudah berpihak padaku juga semua orang sudah tahu bahwa kau adalah milikku, jadi yang perlu kau lakukan adalah hilangkan rasa gengsimu untuk mengakui kau juga punya perasaan yang sama denganku."
Setelah berkata demikian Adrien langsung menyerang Aluna tanpa peduli bahwa diruangan itu masih ramai orang dan para pengawal masih sibuk mengusir para wartawan yang tak akan menyia-nyiakan kesempatan mengambil gambar. "Jadilah istri yang penurut, setelah bekerja aku akan pulang kerumah dan membawa mainan untuk Kevan. Aku sangat merindukannya."
Aluna yang masih shock dengan semua ini hanya terdiam membeku tak memperdulikan bahwa pria itu dengan kurang ajarnya mengecup kening Aluna. "Aku mencintaimu."
Lalu pergi begitu saja diikuti sorotan kamera dari para wartawan yang tadinya tidak mau keluar ruangan. "Aku membencimu. Dasar brengsek." Tersadar dari pikiran kacaunya Aluna bangkit dan meninggalkan Aula dengan wajah padam akibat marah menuju ke ruangannya.
Vote and Comment guys!!!