OPSO

OPSO
SEPULUH



Adrien pulang kerumah orangtuanya setelah mendapat telfon langsung oleh sang ayah. Selama Adrien tinggal disini, dirinya sangat jarang pulang kerumah orangtuanya. Selebihnya ia selalu tidur di apartemen atau menginap di rumah Aluna. Tetapi setelah pernyataannya yang sudah disiarkan beratus kali dilayar kaca tentu saja sebagai orangtua, orangtua Adrien meminta penjelasan langsung atas perbuatan anaknya.


"Adrien omong kosong apa yang kau ucapkan ini? Seluruh anggota keluarga kita juga rekan bisnis papa dan mama menanyakan kebenaran yang terjadi sebenarnya pada kami." Zeth membuka suaranya sesaat setelah anaknya itu sampai dan duduk nyaman dihadapannya.


"Itu hanya untuk meyakinkan media pa, dan aku serius dengan ucapanku." Adrien menatap kedua orangtuanya bergantian, "aku akan menikahi Aluna."


"Apa kamu mencintainya Adrien? Atau ini hanya tentang pernikahan bisnis?" Menatap mata sang ibu langsung Adrien seolah ingin meyakinkan.


"Aku mencintainya ma, dan aku sudah pikirkan baik-baik semua ini sebelum mengambil keputusan. Dan yang aku harapkan adalah kerjasama kalian untuk merestui hubungan kami."


Zeth menghela nafasnya, jika sudah begini apa yang harus ia lakukan selain menerima dan mendukung putera semata wayangnya ini. Ingin dihalang-halangi pun untuk apa jika takdir sudah berkehendak, lagipula Adrien akan menikah dengan wanita dari keluarga baik-baik dan cukup dikenalnya.


Lalu tatapan Zeth teralih pada istrinya, "Bagaimana menurut Mama?" Manta menganggukkan kepalanya mantap, ia akan setuju-setuju saja jika Adrien bahagia dan menikah tanpa paksaan.


"Mama setuju."


Adrien menghela nafasnya lega, setidaknya orangtuanya tidak mempermasalahkan tentang status Aluna yang merupakan wanita beranak satu yang tak bersuami. "Baiklah, aku mau lusa papa dan mama bersiap untuk melamar Aluna."


"Kamu sudah memberitahu nona muda Thomas kan?" Tanya ibunya memastikan. Adrien mengangguk mantap.


"Sudah, Mama tidak perlu khawatir."


"Lalu apa rencanamu setelah ini?"


"Tentu saja kami menikah dan mengurus semua surat-surat penting agar pernikahan kami legal dan hidup bahagia." Jawaban Adrien setidaknya menghilangkan rasa khawatir Manta pada puteranya itu sebagai seorang ibu. Manta tahu benar sepak terjang anaknya ini dalam dunia asmara, Adrien ini seorang cassanova dan playboy ulung.


Wajar sekali rasanya jika Manta was-was dengan masa depan Adrien yang suka gonta-ganti wanita. Manta hanya takut anaknya hanya punya rasa sementara dan menelantarkan istrinya kemudian hari, tetapi jika anaknya itu sudah seyakin ini tentu saja Manta tak bisa melarangnya untuk segera membangun rumah tanggga disaat usianya sudah cukup matang.


"Jangan kecewakan Mama." Adrien mengangguk dan tahu pasti maksud sang ibu. Setelah pembicaraan mereka usai, Adrien segera menuju kamarnya dan memutuskan untuk menginap.


Sama halnya dengan Aluna yang terus di teror oleh seluruh keluarganya yang tentu saja terkejut melihat semua berita mengenai dirinya dan juga Adrien. Meski ingin menghindar, Aluna harus tetap menjelaskan semua ini kepada anggota keluarganya demi tidak adanya kesalahan pahaman.


"Aluna, Mama tidak percaya dengan semua berita yang tersebar juga ucapan pewaris Arga. Tapi bisakah kamu jelaskan yang sebenarnya?" Sebegitu ingin tahunya sang Mama mendatanginya langsung dirumah seorang diri.


"Ma, kemarin seharusnya Aluna hanya akan bicara sendiri dan menjelaskan semuanya dengan benar. Tetapi tiba-tiba Adrien datang, mengatakan sebuah karangan bohong dan Aluna tidak bisa berbuat apapun. Aluna tidak bisa menghentikannya ataupun mengancamnya karena terlalu banyak media yang menyorot dan berakibat menjelekkan nama keluarga kita."


Sang ibu menatapnya penuh pengertian, dan menepuk punggung tangan putrinya. "Maafkan Mama tidak bisa berbuat apa-apa untukmu."


"Tidak apa ma, Aluna akan menyelesaikan semua ini. Aluna akan bicara dengan Adrien melakukan negosiasi atau apapun, setelah semua selesai Aluna akan meminta seluruh keluarga kita berkumpul lalu menjelaskan duduk masalahnya."


Mariana kembali menatap putri satu-satunya, "Nyonya Agra tadi menghubungi Mama dan memberitahu bahwa mereka akan datang besok lusa kerumah untuk melamarmu."


"Itu tidak akan terjadi, kami tidak saling mencintai Ma. Dia hanya terobsesi dan aku tidak mau membiarkan obsesinya menang dan mengorbankan perasaanku juga Kevan."


Melihat Aluna yang keras kepala menolak seperti ini membuat Mariana bingung, ia ingin sekali melihat putrinya bahagia dan memilik pendamping. Dan ia rasa Adrien adalah pilihan yang baik karena ibu pria itu adalah sahabat baiknya, tapi jika Aluna seperti ini bagaimana cara Mariana untuk membujuknya.


"Aluna pikirkan baik-baik ucapan Mama waktu itu, Kevan butuh seorang ayah meskipun kamu selalu menampik kenyataan itu. Kamu butuh pendamping dan hidup bahagia."


Aluna menatap wajah ibunya yang seperti orang memohon dan meminta. "Ma, Aluna sudah bahagia. Aluna merasa cukup dengan adanya Kevan dihidup Aluna."


"Mama tahu, Mama sangat berterimakasih karena kamu menyayangi Kevan dengan begitu besarnya dan bersikap seperti seorang ibu. Tapi Aluna pikirkan masa depanmu, setidaknya masa depan Kevan yang jika ia tahu ia tak punya sosok ayah disisinya. Cinta bisa tumbuh seiring waktu nak, percaya ucapan Mama."


Menatap Mamanya penuh kekalutan sungguh Aluna tak bisa berpikir jernih, "Itu sudah kewajiban Aluna menyayangi  Kevan, sudah tugas Aluna untuk selalu menjaga Kevan disisi Aluna tanpa kekurangan satu apapun. Tapi menikah masalah lain Ma, menikah bukanlah perkara mudah. Aluna akan menikah, dan itu akan terjadi nanti saat Aluna menemukan seseorang yang Aluna rasa pantas menemani Aluna mengarungi kehidupan hingga mati."


"Menikah memerlukan cinta Ma, dan Aluna tak merasakan itu dengan Adrien. Menikah membutuhkan kepercayaan dan kesetiaan, tetapi tanpa cinta dua hal itu tak akan bisa dipegang teguh. Ini hanya akan menjadi pernikahan hitam diatas putih, komitmen kosong tanpa keyakinan."


Mariana menghela nafas, ia tak bisa memaksakan sang anak sesuai keinginannya. "Yasudah, kamu pikirkan dulu semuanya baik-baik, secepatnya kamu nanti beritahu Mama apa jawaban kamu." Aluna mengangguk mengiyakan dan bangkit dari duduknya.


"Oke, Aluna ke kamar dulu ya Ma." Aluna menaiki anak tangga setelah sang ibu mengizinkannya, dalam otak Aluna terus berpikir bagaimana caranya agar ia bisa lepas dari masalah ini sebelum terlambat dan semakin sulit diselesaikan.


Dan sebuah ide muncul dikepalanya, tanpa sadar membuat Aluna tersenyum ragu. Ide yang muncul dikepalanya ini sangat berbahaya dan penuh pengorbanan, tetapi mengingat keberhasilannya mungkin Aluna harus mempertimbangkannya kembali. Sepertinya ia benar-benar butuh membersihkan diri dan beristirahat supaya pikirannya jadi jernih dan lebih efisien diajak berpikir.


Vote and Comment guys!!!