
Seorang pemuda tampan yang mengenakan jas hitam berkacamata hitam kini baru saja sampai di tanah kelahirannya.
Cello Adrien Arga pemuda tampan yang ketampanannya selalu dipuja para kaum hawa. Tatapannya tajam membuat semua orang tunduk akan perintahnya. Sudah beberapa menit ia menunggu jemputan, tak lama dari itu seorang pemuda berjas coklat menghampirinya.
"Maaf tuan muda mobil Anda sudah menunggu." Ujar laki-laki itu sopan, Adrien mengangguk sekali dan berjalan mendahului lelaki tadi.
Hari ini adalah hari pertamanya disini setelah beberapa tahun lalu ia mengurus perusahaan keluarganya di Eropa. Awalnya ia ingin menolak kembali ke tanah kelahirannya karena ia sudah terlalu nyaman disana. Tetapi orangtuanya memilki seribu alasan agar ia pulang.
Selepas kedatangannya kemari, orangtuanya mengatakan akan membuat pesta sambutan akan kedatangannya malam ini. "Jo nanti malam pestanya dimulai jam berapa?" Tanya Adrien pada orang kepercayaan papanya itu.
"Jam 7 malam tuan muda." Jawab Johan. Adrien hanya membalasnya dengan gumaman saja, dan tatapannya teralih ke pemandangan jalan yang dilewatinya. Sesampainya dirumah, Adrien disambut hangat oleh kedua orangtuanya.
"Ya ampun sayang mama kangen banget sama kamu." Ujar Manta memeluk erat putera semata wayangnya itu.
"Benar, sudah lama kamu tinggal disana dan sudah sepantasnya kamu pulang sekarang." Lanjut Zeth menepuk nepuk bahu anaknya.
"Iya ma, pa. Adrien juga rindu pada kalian." Balas Adrien.
"Yasudah, sekarang kamu istirahat dulu. Nanti malam akan ada pesta megah untukmu." Suruh Zeth tak ingin bantahan. Adrien mengangguk dan langsung menuju kekamarnya.
Disinilah Adrien berdiri diantara para pembisnis yang menjadi kolega papanya. Cukup banyak di pesta penyambutannya ini para tamu undangan mengikut sertakan pasangan mereka, Adrien yang belum terlalu kenal dengan mereka hanya bisa mengeluarkan senyum tipisnya kepada mereka yang mengajaknya bicara.
Kini ia sedang berkumpul dengan para pembisnis muda seperti dirinya dan ada juga diantara mereka yang merupakan teman sewaktu di sekolahnya. Entah apa yang di bicarakan oleh mereka, Adrien hanya bisa ikut bergabung saja walaupun tak mengeluarkan suara sama sekali.
"Hey Cello apa kau sudah bertemu dengan kolega tuan Zeth yang sangat cantik dan seksi itu?" Tanya Tommy. Membuat Adrien mengernyitkan kening bingung karena tak tahu apa yang dibahas kali ini. Ia tak mengerti ucapan temannya itu.
"Tidak. Aku baru sampai tadi siang jadi aku belum pernah bertemu dengan wanita yang kalian maksud."
"Huh sayang sekali bung kau belum bertemu dengannya. Kau tahu dia merupakan wanita yang paling diminati pembisnis muda seperti kita tidak tidak bahkan pembisnis yang sudah tua pun tak segan segan untuk memperistrinya, yaaa walaupun rumornya dia sudah memiliki seorang anak diluar nikah." Jelas Andrew.
"Benarkah? Memangnya secantik apa dia hingga kalian begitu berminat dengan wanita itu? Bahkan kalian suka dengan wanita yang sudah mempunyai ekor hanya karena dia?" Tanya Adrien menaikkan satu alisnya.
"Kau tahu dia bukan hanya sangat cantik tetapi tubuhnya uuhh sungguh menggoda iman. Kau tahu kan jika yang lebih nikmat adalah yang berpengalaman." Jelas Andrew lagi dengan nada menggebu-gebu.
"Kulitnya putih mulus, tak ada satupun goresan di tubuh indahnya. Tonjolan yang bulat sempurna ditempatnya." Lanjut Andrew.
"Hey bro, bukan hanya tubuh dan wajahnya tetapi juga nama keluarga, harta yang berlimpah dan otaknya yang pandai." Timpal Jerry.
"Sepertinya kalian benar benar berminat dengan wanita itu tetapi kenapa kalian hanya memujinya dibelakang? Kenapa kalian tidak langsung bicarakan saja dengannya? Bukankah kalian penakluk wanita?" Tanya Adrien dengan nada meremehkan.
"Hey jaga bicaramu kawan, bukannya kami tak bisa menaklukkannya. Tetapi dia sulit untuk digapai." Bela Tommy.
"Terserah kalian sajalah, aku ingin bertemu dengan tamu yang lain." Saat Adrien membalikkan badannya matanya tertuju pada seorang wanita yang kini menjadi pusat perhatian.
Wanita yang memakai gaun merah panjang tak berlengan bagian dada agak rendah, punggungnya pun terekspos sempurna. Bahu mulusnya begitu nampak tanpa ada penghalang, gaun sepanjang mata kaki tetapi terdapat belahan di sebelah kanannya sampai dengan paha mulusnya. Begitu pas ditubuh langsingnya.
Wajahnya dipoles dengan make up natural dan lipstik merah pekat. rambutnya di gulung keatas hingga leher jenjangnya begitu nampak. Hells setinggi 10cm berwarna merah pula begitu menggoda.
Adrien terus memperhatikan gerak gerik wanita yang telah menarik dunianya itu. Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, sontak Adrien terkaget dan menoleh pada seorang yang mengagetkannya itu.
"Dia cantik dan mempesona bukan?" Tanya Tommy, Adrien hanya bisa tersenyum tipis membalas perkataan Tommy. Ia tak bisa menangkis perkataan Tommy yang benar adanya.
"Namanya adalah Queen Aluna Thomas seorang CEO muda yang cantik dan menggoda. Dia lah wanita yang kami bicarakan tadi." Jelas Tommy lagi, Adrien mengangkat alisnya tertarik.
"Kau lihatkan tadi semua laki laki disini menatap dia dengan tatapan kagum dan nafsu secara bersamaan?" Tanya Andrew. Adrien menatap sosok yang tengah mereka bicarakan ini, hingga ia nampak melamun.
"Hey bro? Bro?" Panggil Andrew.
"Eh..ya?" Adrien tersadar dari pikirannya.
"Ada apa denganmu bro? Sedang berfantasi liar dengan tubuhnya Aluna?" Celetuk Jerry.
"Tidak. Aku hanya berpikir saja, wajar jika wanita secantik dia menjadi incaran para pembisnis disini." Alibi Adrien yang dipercaya oleh yang lain.
Teman-temannya melanjutkan perbincangan mereka. Tetapi Adrien tak memperdulikan mereka. Matanya hanya tertuju pada wanita itu, wanita yang cantik dan yang membangkitkan gairahnya. Kini gadis itu tengah berbincang dengan ayahnya.
"Adrien, kemarilah son." Suara papanya membuat Adrien terkesiap dan menghampiri papanya itu.
"Kenalkan Nona Aluna ini adalah anak saya Cello Adrien Arga." Mereka pun berjabat tangan. Adrien menatap intens wanita dihadapannya ini. Lembut tangan Aluna benar-benar terasa ditangannya yang besar, membuatnya ingin merasakan kulit yang lain.
Aroma bunga mawar dan lavender menguar dari tubuh Aluna membuat Adrien sangat menikmati waktu ini. Jantungnya tak hentinya berdetak tak karuan membuatnya asing dengan perasaan ini.
Ditatap mata Aluna. Mata bulat hitam yang indah itu, serta wajahnya yang jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat. Bagaikan para bangsawan kerajaan, Adrien mengecup punggung tangan Aluna yang halus dan kembali ia tatap matanya lebih intens lagi seakan-akan tak mau kehilangan momen ini.
Adrien terus menatap mata indah itu tanpa ada bosannya, tetapi wanita dihadapannya ini segera memutus kontak mata mereka dan menggerakan tangannya sedikit seakan meminta untuk dilepas dari genggaman Adrien. Dengan rasa kecewa yang tiba-tiba menyelinap dihatinya Adrien melepaskan genggaman tangan tersebut.
Tidak hanya disitu kekagumannya Adrien akan wanita cantik dihadapannya ini, tapi ia sudah bertekad dalam hati akan memilki wanita ini.
Kali ini mungkin aku akan melepasmu tapi jangan harap kau bisa lepas dariku untuk yang ke dua kalinya. You're mine.
Like and Comment guys!!!