OPSO

OPSO
EMPAT



Adrien menghembuskan nafasnya lelah. Semua dokumen untuk hari ini sudah ia tandatangani.


"Tania, apa saya ada rapat hari ini?"


"Tidak pak, tapi anda ada pertemuan dengan perusahaan THOMAS CORP tentang kerjasama perusahaan kita."


"Ya terimakasih."


Adrien segera menutup teleponnya. Tangannya memainkan bolpoin yang ada di mejanya itu, pikirannya melayang kemana-mana. Dan karena itu ia teringat akan wanita yang sudah memikat perhatiannya sejak kemarin.


Wanita yang cantik dan menggoda imannya. Apakah wanita itu akan datang sendiri kesini? Ke perusahaannya untuk menemuinya? Ralat untuk melakukan kerjasama tapi toh sama saja bukan karena nantinya mereka bertemu. Ah Adrien sangat tak sabar ingin bertemu dengan Aluna.


Adrien terus melirik jam tangan yang ada di lengannya. Ia tampak gelisah menunggu seseorang yang seharusnya sekarang sudah datang ke ruangannya. "Kemana dia, kenapa tidak datang juga." Gumam Adrien mengetuk-ngetuk pena miliknya pada meja.


'Tok tok tok'


"Masuk."


"Maaf pak, Nona Aluna dari Thomas Corp sudah tiba."


"Suruh dia masuk." Suruhnya yang langsung dilaksanakan oleh sang sekretaris.


"Silahkan masuk Miss."


Aluna langsung masuk kedalam ruangan tersebut ketika pintu dibukakan oleh sekretaris Adrien.


"Selamat pagi pak Adrien."


"Pagi, selamat datang di perusahaan kami. Apa kita langsung membicarakan kerjasama kita?" Tanya Adrien dengan senyum tampannya.


"Ya tentu saja. Aku masih banyak pekerjaan setelah ini." Tukas Aluna yang langsung duduk di salah satu sofa yang tersedia diruang kerja Adrien.


Adrien pun memakluminya karena memang ia tahu kenyataannya, Ia dan Aluna mempunyai profesi dan tanggungjawab yang sama atas perusahaan keluarga mereka. Tanpa berbasa-basi lagi Adrien segera memulai pembicaraan dengan profesional.


"Terimakasih atas kerjasama ini. Saya harap semua sesuai dengan apa yang kita inginkan." Ucap Adrien menutup pembicaraan resmi itu.


Aluna mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu saya pamit." Aluna bangkit dari duduknya dan akan berjalan menuju ke pintu, tetapi tarikan ditangannya tentu saja membuatnya harus berhenti.


"Ada apa lagi? Apakah ada hal yang lupa anda katakan?" Adrien menggeleng pelan dan menarik Aluna dalam pelukannya tanpa berkata apapun.


"Aku merindukanmu." Tanpa waktu lama Adrien segera melakukan apa yang ia inginkan sejak wanita yu masuk ke ruangannya. 


Aluna yang sangat terkejut dengan pelukan pria itu semakin terkejut karena ciuman menggebu yang tiba-tiba ini. Setelah tersadar ia mengambil tindakan dengan mencoba melepaskan diri dari pria yang baru dikenalnya ini. Dirasa nafasnya sudah habis pria itu melepaskan ciuman mereka.


Aluna langsung mengambil nafas banyak-banyak ketika ciuman pria itu berakhir. "Anda sungguh tidak sopan! Ini dikantor, jangan merusak reputasiku!"


"Ruangan ini kedap suara honey, jadi tenanglah. Tak akan ada seorangpun yang akan mendengar atau membicarakan kita." Aluna menggeram kesal pada ucapan pria ini yang seolah-olah mereka akan melakukan sesuatu.


"Jangan seperti pria brengsek tuan muda Arga, apa yang Anda lakukan ini sangatlah tidak sopan. Apalagi jika mengingat saya adalah kolega anda, bisa saja saya membatalkan kerjasama kita."


Adrien sama sekali tidak mengindahkan ucapan Aluna. "Kau tidak akan pernah melakukan itu."


Suara ponsel berdering kecil, berhasil membuat pelukan Adrien agak melonggar. Aluna yang merasa ponselnya berbunyi segera mengambilnya.


Disana tertera nama wanita yang di percaya oleh keluarganya sejak ia masih kecil. Dengan pertanyaan dalam benaknya ia segera mengangkat telfon itu.


"Iya hallo mbok."


"Sudah dibawa kerumah sakit?" Kekhawatiran begitu terpampang jelas diwajah cantik itu.


"......"


"Sekarang bagaimana keadaannya?"


"....."


"Yaudah aku langsung kesana. Tolong kirim alamatnya ya mbok."


Tanpa memperdulikan Adrien yang ingin bertanya. Aluna segera mengambil tasnya dan berlari keluar ruangan tersebut.


Perasaanya begitu ketakutan sekarang, rasa akan kehilangan yang tak ingin diulanginya seperti terulang kembali. Perasaan ini membawa Aluna hingga ia tak memperdulikan berapa kecepatan mobil yang ia dikendarainya saat ini. Hanya ada satu orang yang ada dalam pikirannya saat ini yaitu Kevano.


Tak perlu waktu berjam-jam hingga ia sampai di pelataran rumah sakit besar milik salah satu kerabatnya itu sesuai dengan alamat yang ia terima.


Kamar VVIP menjadi tujuannya tanpa bertanya pada receptionis lagi. Di sebuah ruang tunggu yang berada di depan sebuah ruangan ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.


"Mbok, gimana keadaan Kevan?" Wanita paruh baya itu tampak terkejut dengan kehadiran nona mudanya.


"Non, sudah sampai toh. Den Kevan sudah baik-baik saja setelah dua hari demam. Kata dokter anak bayi memang rentan sakit." Aluna mendengarnya dengan seksama.


"Dua hari mbok? Kenapa gak kasih tau aku??"


"Saya juga awalnya mau kasih tau non, tapi nyonya besar melarang. Katanya takut mengganggu kesibukan non Luna." Aluna mendengus tak suka akan tindakan semena-mena ibunya.


"Aku mamanya mbok. Aku juga punya hak untuk tahu bagaimana kondisi anak aku. Dimana mama sekarang?"


"Nyonya dan tuan besar ada didalam non." Aluna mengangguk paham dan segera masuk ruang rawat.


Yang pertama kali dilihatnya adalah pemandangan mengenaskan yang sudah dua kali ini ia lihat. Dan itu berhasil mengiris hatinya.


"Kevan.." lirihan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Hatinya merasa hancur berkeping-keping melihat apa yang ada dihadapannya ini.


Seorang bayi mungil yang bahkan baru saja lahir satu bulan lalu kini tertidur lelap dengan peralatan yang tak seharusnya ada di tubuh mungilnya yang membuat semua orang terutama seorang ibu merasa hancur hatinya.


"Kenapa bisa begini ma? Mbok bilang Kevan demam. Tapi kenapa peralatannya harus sebanyak ini?"


"Kevan memang demam. Tapi dia juga masih terlalu mungil dan lemah walau hanya sekedar demam, jadi harus diberi dukungan yang lain agar sembuh." Ujar ibunya yang sedang memotong buah dengan tenangnya.


"Lalu kenapa mama baru membiarkan mbok beri tahu aku setelah dua hari Kevan sakit? Aku mamanya. Aku berhak untuk tahu apapun tentang anak aku ma." Protesan yang dilancarkan Aluna tidak terlalu mempengaruhi ibunya.


"Kamu juga jangan lupa jika mama adalah neneknya." Tandas sang ibu.


"Nak, mama tidak ingin membuat kamu khawatir. Apalagi pekerjaanmu begitu berat dan membebankan, Kevan hanya sakit seperti bayi biasanya. Sebentar lagi juga akan baik-baik saja." Sambung sang ayah yang penuh dengan kasih sayang sedikit melunakkan hati Aluna.


"Sesibuk apapun aku, akan aku lakukan semuanya untuk Kevan. Jadi aku mohon ini adalah kali terakhir mama dan papa begini dengan aku tentang Kevan." Aluna mengecup pipi bayi mungil itu tanpa menganggu tidurnya.


"Dan sudah aku putuskan bahwa Kevan akan tinggal dirumahku setelah pulang dari rumah sakit." Pernyataan itu berhasil menyentak ketenangan sang mama.


"Jangan berbuat macam-macam Lun, kamu tidak tahu apapun tentang mengurus bayi. Kevan tidak akan mama biarkan diurusi oleh kamu jika hanya untuk percobaan awal. Kamu juga sibuk gak usah sok mau ngurus anak." Aluna menggeleng tegas.


"Aku akan bawa mbok kerumah dan keputusanku final. Aku juga bisa atur semuanya, mama gak usah khawatir."


Like and Comment guys!!!