OPSO

OPSO
DELAPAN



Aluna harus membersihkan namanya dari media, dan dengan bantuan asistennya semua itu akan terealisasikan. Tetapi sebelum itu, ayahnya menelpon dan menyuruhnya untuk berkunjung ke rumah orangtuanya hari itu juga. Dengan otak penuh pertanyaan, sepulang dari kantor ia menuju kerumah keluarganya membiarkan Kevan dijaga oleh pembantu rumah tangga kepercayaan keluarga Thomas.


Disana sudah ada ibu dan juga ayahnya yang seakan-akan menunggu kehadirannya. "Ma, Pa." Aluna mengecup pipi orangtuanya lalu duduk disofa yang kosong. "Jadi, ada apa?"


Mamanya menatap Aluna khawatir seraya menggenggam tangan anaknya tiba-tiba, "kamu benar sedang dekat dengan pewaris Arga Group?" Aluna menatap sang ibu tak paham. Jadi ia disuruh datang kemari hanya untuk ditanyakan perihal ini?


"Tidak, Mama. Pasti Mama lihat beritanya dimedia, semua itu hanya rumor." Tapi ucapan Aluna nampaknya tak berpengaruh pada sang ibu.


"Mama tau dia benar-benar kerumah kamu, Mama juga tahu kalo pak Sapto yang kasih alamat rumah kamu ke pewaris Arga Group. Yang mau Mama tanyakan apa benar kalian berada dalam sebuah hubungan?" Aluna memutar matanya malas, mamanya sangat ingin tahu sekali sampai-sampai menyelidiki semua ini tidak seperti dirinya yang tak peduli sama sekali.


"Tidak Ma, kami memang sedang memiliki proyek untuk lima bulan. Mama jangan percaya pada media ataupun yang Mama tidak tahu jelas kebenarannya." Mamanya tampak kecewa mendengar penjelasan Aluna. "Atau Mama memang mengharapkan yang lain?"


Ibunya itu malah tersenyum kecil dan menggeleng. "Kamu tahu kan bahwa Kevan juga butuh seorang ayah? Mama hanya berpikir mungkin Kevan akan sangat bahagia jika memiliki seorang ayah. Mama juga tahu bahwa pewaris Arga Group begitu perhatian pada Kevan selayaknya seorang ayah. Mama senang kalian dekat, apalagi pewaris Arga Group memang menyukaimu kan?"


Aleah menghela nafas pelan, "Ma, Kevan baik-baik saja karena masih ada aku. Dia tidak butuh apapun, ia sudah dilimpahi kasih sayang dari Mama dan Papa juga seluruh keluarga kita. Apalagi yang kurang? Dan untuk pewaris Agra Group, Mama tidak perlu berharap lebih ia hanya ingin mendapatkan lalu setelahnya ia lupakan. Jadi jangan berharap banyak." Lalu tatapan Aluna jatuh pada sang ayah, "Papa ingin bicara sesuatu sebelum aku pulang? Kevan aku tinggal bersama mbok hari ini. Aku tidak ingin terlalu lama pergi dan meninggalkannya."


"Bagaimana dengan perusahaan?"


"Sejauh ini baik-baik saja, tetapi media sangat bisa menjadi masalah karena namaku menjadi tidak baik lagi." Sang ayah mengangguk paham, "Aku dan asistenku sudah merencanakan sesuatu untuk membungkam media."


"Jika pakai cara kotor pun pasti akan sulit dihilangkan. Satu dibungkam yang lain akan bercuap, dan begitu terus menerus hingga berita terus berkembang dan menjalar kemana-mana. Jadi lebih baik lakukan wawancara resmi dan semua akan terlihat jelas."


Aluna pulang dengan otak yang terus berpikir, dalam mengambil keputusan Aluna tak bisa gegabah karena untuk masalah ini bukan hanya dirinya yang akan terkena efeknya. Ada Kevan, keluarganya dan juga perusahaannya jangan lupakan tentang pria itu. Aluna mendengus sebal saat memikirkannya.


Mau tidak mau ia harus memikirkan kebaikan untuk pria itu juga perusahaannya, setidaknya sebagai balasan karena pria itu selalu bersikap baik dan memanjakan Kevan. Aluna tak mau lagi berurusan dengan pria itu, karena Aluna yakin sekuat apapun pria itu berusaha Aluna tak akan pernah jatuh cinta. Aluna terlalu takut akan rasa itu, cinta akan membawa ketakutan. Ketakutan akan kehilangan. Dan Aluna tidak ingin hatinya kehilangan lagi untuk kesekian kalinya. Sudah cukup ia merasakan kehilangan dan tak mau mengulang rasa itu lagi karena Aluna tak yakin ia sanggup.


Oleh karena itu ia selalu menjaga baik-baik perasaan keluarganya juga keselamatan mereka, kesehatan mereka meskipun ia terlihat tak peduli sama sekali. Sesampainya di rumah, ia disambut tawa Kevan yang tergelak seakan senang ibunya pulang. Rasa lelah dan beban pikiran Aluna seolah hilang saat mendengar dan melihat wajah bahagia bayinya. Ia sangat bersyukur memiliki Kevan disisinya sebagai anaknya. Kevan adalah pengobat rindunya dan permata hatinya yang akan ia jaga sepenuh hati dengan seluruh kemampuannya. "Kevan senang ya Mommy pulang?"


Aluna mengecup seluruh wajah Kevan sayang hingga bayi itu tergelak lagi karena geli dengan menepuk sisi wajah Aluna. Dalam hati Aluna selalu berdoa untuk kebaikan putranya, selalu ia panjatkan tanpa henti. Bukan tidak tahu Aluna tentang rumor dirinya yang sudah mempunyai anak semenjak menjadi pemimpin perusahaan ayahnya, ia tahu tapi ia tak mau menyangkal dan menutupi toh mereka tak tahu Kevan karena bayi itu tak pernah pergi dari rumah ini sejak kepulangannya dari rumah sakit beberapa bulan lalu.


Sebagai ibunya Aluna berjanji akan terus menjaga privasi Kevan karena bayi itu tak ada sangkut pautnya dengan semua masalahnya. Masalah Aluna hanyalah masalahnya seorang diri, ia tak butuh bantuan dari siapapun untuk menyelesaikannya.


Ditempat lain Adrien tengah menatap sebuah acara gosip yang membicarakan tentang dirinya dan juga kedekatan Aluna. Mereka memang bukan selebritis, tetapi mereka disorot karena kedudukan yang mereka punya diperusahaan terbesar negara ini. Wajah mereka yang cantik dan tampan juga usia yang masih muda tentu saja menjadi daya tarik dan menjadi perbincangan hangat.


Sudah satu minggu sejak Aluna mengusirnya dan Adrien sama sekali belum bertemu dengan Kevan juga ibunya. Bisa saja Adrien kembali kesana dengan muka tebalnya, tetapi ucapan wanita itu sedikit mengoyak egonya dengan meragukan cintanya. Sejauh tuduhan wanita itu, perusahaan mereka baik-baik saja tetapi nama baik mereka memang harus dipertanyakan keadaannya.


Semua orang tahu mereka masih muda dan lajang, apa yang dilakukan seorang pria lajang dirumah wanita yang lajang juga? Tentu kebanyakan jawaban adalah pikiran jelek seseorang. Dari informan nya Adrien tahu bahwa Aluna akan mengadakan konferensi pers besok. Dan setelah dipikir-pikir Adrien harus mengacau sedikit besok karena ia tahu Aluna akan mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaannya sebagai pria yang sudah jatuh cinta.


Dengan cepat Adrien mengambil ponsel disakunya dan menghubungi seseorang, biarlah apa yang akan ia katakan nanti menjadi kontroversi di negeri ini yang penting Adrien akan mendapat buah dari usahanya selama ini. "Aku butuh bantuanmu datanglah, aku dikantor."


Like and Comment guys!!!